Terpaksa Menikahi Pria Tua

Terpaksa Menikahi Pria Tua
TMPT - 22


__ADS_3

Suasana hari Raul jelas terlihat baik. Pemuda itu bahkan bersiul-siul, bernyanyi lagu cinta seperti seorang remaja yang baru saja dapat pacar. Ekspresi Raul tentunya mengundang perhatian Dewi sebagai mamanya.


"Bukannya kamu udah mau bangunin Papamu?" tanya Dewi ketika sore hari dia mengajak anaknya duduk berdua, khusus untuk bicara tentang suaminya. "Kamu tau sendiri harus gimana, kan?"


Raul malah asik memotong kue di piringnya, tetap tersenyum menikmati.


Soal cerita Raul pada Lana, itu sungguhan. Pada kenyataannya, sekalipun Papa adalah pemegang kekuasaan tertinggi dalam perusahaan, ada sangat banyak orang juga terlibat. Cuma karena Papa adalah bos dan semua miliknya, bukan berarti itu tidak bisa diambil secara legal.


Orang-orang sudah mendengar keadaan Papa. Mereka berspekulasi jika umur pria itu hampir habis dan sebentar lagi perang perebutan posisi akan terjadi. Karena Raul itu anak suami Dewi sebelumnya alias bukan siapa-siapa, tidak ada yang mengakui Raul sebagai penerus. Apalagi Raul sendiri tidak pernah terjun dalam urusan itu.


Papa tidak pernah memberinya pekerjaan dan bahkan tidak menganggap Raul sebagai anaknya.


Mama Dewi akan ikut dalam perebutan kekuasaan itu dan coba mempertahankan Raul sebagai pewaris. Tapi karena sekarang kekuasaannya kurang, Mama jelas tidak mau jika Papa sampai mati.


"Lana bilang enggak mau hamil," balas Raul santai.


Yang dibalas oleh murka.


"Mama enggak main-main!" teriak Mama Dewi. "Mama enggak peduli soal mainan kamu tapi kalo gini terus, bisa-bisa omongan Mama juga enggak ada yang dengerin! Kamu mau jadi gelandangan, hah?!"


"Gelandangan," gumam Raul setengah tertawa. "Mama kan udah ngumpulin uang diem-diem. Mau diusir juga masa sih gelandangan?"

__ADS_1


"Jadi kamu tenang begini karena ngira uang kita udah banyak? Itu bahkan enggak bisa nutupin makan kamu!"


"Loh, loh, Mama. Kenapa jadi aku? Kan Mama yang enggak puas." Raul tahu balasannya akan membuat Mama kesal, jadi buru-buru diraih tangan wanita itu, menggenggamnya lembut. "Aku sayang Mama."


Raut wajah Dewi seketika memerah, siap menggetok kepala Raul. Tapi Raul tahu kelemahan Mama akan selalu menjadi Raul itu sendiri.


Maka sekalipun marah, Dewi menarik napas, membuang kemarahan itu lewat embusan napasnya.


"Aku kan selalu bilang sama Mama, jangan terlalu pusing mikirin masa depan. Muka Mama jadi banyak keriput gara-gara ngurusin yang belum jadi. Mending Mama ke klinik."


"Raul, please," ucap Dewi, menahan kesalnya luar biasa.


"Mama yang please. Udahlah. Aku ngerti Mama kesel soal masalah di kantor, tapi ujung-ujungnya enggak bakal ada masalah selama Papa masih napas. Mau Papa sekarat kek, mau Papa jungkir balik kek, selama masih idup ya masih aman."


"Pake mulut," jawab Raul sambil berpose imut.


Pada akhirnya Dewi tidak bisa menahan diri dan menampar wajah anak itu.


Tapi Raul malah tertawa geli, mencium tangan Dewi.


"Mama jangan lemah gitu dong." Raul akhirnya serius menanggapi. "Mama tuh perempuan paling hebat yang paling aku sayang. Mama selama ini ngelakuin semuanya buat aku dan Mama, biar kita bahagia. Masa cuma gara-gara orang ngancem sama pistol mainan, Mama takut setengah mati? Enggak, kan?"

__ADS_1


Dewi menghela napas, sedikit lebih tenang mendengarnya.


"Mama butuh anak dari Lana," gumam Dewi, balas memegang tangan anaknya. "Dia harus ngelahirin anak laki-laki seenggaknya satu dari Papamu. Habis itu terserah kamu mau ngapain dia, juga terserah kamu mau ngapain Papa. Mati pun Mama enggak peduli."


Raul memiringkan wajah, mengamati Mama Dewi teliti. "Jadi Mama pengen ngambil anak Lana? Bukan lagi strategi bikin Papa terpaksa milih aku?"


Rencana Dewi awalnya membiarkan Papa menikahi Lana lalu memastikan Lana tidak akan pernah hamil. Dengan begitu, Papa pasti akan mulai mempertimbangkan Raul sebagai penerusnya, mau tidak mau.


Tapi sekarang Mama mau mengambil strategi berbeda? Tidak buruk juga sih, hanya saja ....


"Enggak, ah." Raul melepaskan tangan Mama. "Lana sekarang punya aku. Kan udah aku bilang, ambil aja kalo aku udah bosen. Sekarang belum."


"Raul, kamu bisa main sama dia, ngapain kek terserah kamu, habis dia ngelahirin. Itu aja. Ayolah."


Raul menopang dagu. Sebenarnya ia paham rencana Mama mungkin cukup efektif. Bahkan kalau pengaruhnya sedikit, tapi kalau ditambah kekuasaan Mama dan sedikit rencana licik, kemungkinan besar mereka akan memegang kekuasaan sepenuhnya.


Tapi ....


"Aku cuma mau Raul."


Begitu kata Lana, kan?

__ADS_1


Raul menyeringai. "Aku suka Lana yang sekarang, Ma."


*


__ADS_2