
Dewi mematung. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia mendapati sang anak membentak marah.
Padahal Raul sangat menyayangi dan menghormati Dewi. Raul anak baik yang memahami situasi mereka. Dia selalu berbisik 'aku sayang Mama' atau 'makasih, Mama' karena segala yang Dewi lakukan, pasti selalu yang terbaik untuk hidup Raul sendiri.
Tapi dia malah pada ibunya hanya karena rambut? Rambut gadis asing itu?
"Kamu marah sama Mama cuma buat itu?"
"Lana itu punya aku!" teriak Raul murka. "Yang berhak ngapa-ngapain dia itu aku, bukan Mama! Mama udah setuju!"
Emosi ikut menguasai Dewi. Tangannya menggebrak meja, berdiri menatap anaknya. "Jadi kamu teriak-teriak sama Mama cuma karena rambut?! Tinggal pakein dia rambut lain! Kamu kan punya banyak!"
"Itu beda!" Raul tampak sangat emosi sampai dia menendang meja hingga terbalik. "Rambut Lana itu punya aku juga! Harus berapa kali Mama aku kasih tau?!"
"Raul!"
Anak itu mendadak berhenti marah, namun hanya menatap datar. "Mama ngerusak mainan aku."
Wajah Dewi mendadak sangat pucat. Sebagai ibunya Raul, Dewi tahu betul Raul hanya memasang wajah itu saat dia sangat marah. Dan, kalimat itu ... kalimat yang dia ucapkan barusan, Dewi bahkan bisa mendengarnya dalam mimpi.
__ADS_1
"Mama, dia ngerusak mainan aku," ucap Raul kecil di masa lalu.
"Ma, mainan aku rusak," adu Raul remaja dulu.
"Kamu ngerusak mainan saya," kata Raul pada orang yang mengganggunya.
Sudah berulang kali, ribuan kali mungkin, Dewi mendengar itu.
Lebih dari siapa pun Dewi tahu bahwa Raul ... benci mainannya rusak.
"Raul." Dewi melembutkan wajahnya dan bergegas meraih tangan anak itu. "Mama salah. Mama emosi. Mama minta maaf, yah? Mama enggak nyangka kamu juga suka rambutnya. Kalo Mama tau, Mama enggak bakal rusakin. Mama minta maaf."
"Raul, Mama lupa. Mama enggak—"
"Tapi Mama yang bilang orang yang ngerusakin barang kita itu orang jahat." Raul menarik tangannya. "Mama ngerusakin mainan aku. Rambut Lana."
"Raul—"
"Aku tau. Aku tau Mama beda." Raul berbalik. "Aku enggak bakal jadiin Mama musuh. Tapi sebelum rambut Lana balik, aku enggak bakal mau ngomong sama Mama."
__ADS_1
Raul menghampiri Lana yang berdiri diam menyaksikan segalanya. Ekspresi pemuda itu seketika melembut dan memegang tangan Lana bagaikan kaca rapuh.
"Lana, kita ke salon yah? Perbaikin rambut Lana. Enggak pa-pa, nanti bakal balik lagi. Aku bakal pastiin rambut Lana bakal panjang lagi."
Lana terpaku menatap wajah Raul.
Hei, apa hanya perasaan Lana saja? Ataukah memang benar bahwa orang ini—tidak, iblis ini ... apa benar dia marah karena rambut bonekanya menjadi tidak cantik lagi?
Apa hanya perasaan Lana saja bahwa dia sedikitpun tidak peduli soal Lana namun dia hanya peduli pada semua hal yang dia sukai dari Lana?
"Rambut Lana." Raul memegangi rambutnya seolah-olah dia bisa menangis kencang saat ini juga. "Rambut Lana bakal cantik lagi. Aku janji."
Bibir Lana bergetar saat air matanya jatuh kembali. Bagaimana bisa ia berpikir Raul marah demi dirinya?
Dia cuma marah karena mainannya tidak bagus lagi!
"Lana, jangan sedih. Mulai sekarang enggak bakal ada yang berani megang Lana kecuali aku. Aku janji."
Dia sangat menjijikan!
__ADS_1
*