
"Gitu yah?" gumam Raul, menyimak segalanya. "Lana benci sama keluarga Lana?"
"Bukan urusan benci enggak benci. Aku pengen bebas." Lana tak sadar menjawabnya. "Nanti aku bakal pergi sama Luna berdua. Aku enggak bakal biarin siapa pun nyuruh kita berdua ngelakuin sesuatu yang kita enggak mau."
Tepat setelah Lana mengatakan itu, tiba-tiba Raul menyentuh wajahnya. Ekspresi yang tadi santai dan nyaman kini terlihat rumit. Raul mengamati Lana baik-baik, mengusap sudut bibirnya.
"Lana padahal cuma perlu lari ke aku."
Justru Lana juga mau lari darinya. Malah dia salah satu orang yang paling harus Lana hindari di masa depan!
"Lana," panggil Raul dengan sangat lembut. "Aku bakal jagain Lana dari siapa pun yang nyakitin Lana. Jadi Lana larinya ke aku, yah?"
Ayo berusaha tertawa saja agar dia mengira Lana setuju. Yang penting bagi Lana adalah menjaga mood orang ini agar tidak berubah-ubah.
"Kalau diliat lagi," Raul tiba-tiba mencondongkan tubuhnya, menatap Lana lebih dekat, "Lana jadi cantik karena rambutnya pendek."
Eh?
"Bukan berarti Lana enggak cantik kemarin, tapi beda." Raul terang-terangan menyentuh bibir Lana. "Lana jadi enggak kayak anak kecil lagi."
Apa sebenarnya yang—
"Lana berubah." Ekspresi Raul-lah yang berubah dingin tiba-tiba. Dia menarik tangannya dari Lana sekaligus beranjak dari kursi.
__ADS_1
Tentu saja Lana terkejut. Mengira bahwa Raul menjadi gila lagi karena rambut.
Tapi saat Lana mau mengejarnya, Raul langsung berkata, "Kamu di situ."
Lana mematung kaku layaknya es yang mendadak jadi kristal. Itu bukan karena Raul meninggalkannya sendirian di meja yang masih penuh makanan atau soal Raul dengan cepat menghilang.
Tadi .... Tadi Raul berkata 'kamu'? Bukan 'Lana' tapi 'kamu'?
Perasaan Lana mendadak sangat buruk. Ia seketika yakin bahwa sekembalinya Raul nanti, sebuah musibah akan segera menimpanya.
Di sisi lain, Raul pergi memasuki toilet restoran. Pemuda itu membasuh wajahnya dengan air berulang kali, menatap wajahnya di pantulan cermin.
Tadi ... apa dirinya terangsang?
Tidak, seharusnya tidak. Selama ini Raul selalu bermain bersih. Ia tidak akan pernah tertarik pada 'boneka'nya karena orang normal memang tidak tertarik pada 'boneka'. Tapi kenapa tadi ia mau mencium Lana?
"Wajar kali, ya?" Raul mengelap tetesan air dari wajahnya. "Lagian udah lama gue enggak main cewek."
Itu benar. Pasti bukan karena Lana melainkan karena Raul sudah cukup lama tidak bermain dengan seseorang. Pulang nanti sebaiknya ia memanggil Lili.
Raul menata perasaannya baik-baik, baru kemudian kembali ke tempat Lana berada. Senyum Raul kembai terpasang, kembali ke meja bonekanya ia letakkan.
"Lana."
__ADS_1
Bersamaan dengan panggilannya, Lana mengangkat wajah, membuat Raul tersentak. Dia menangis?
"Hiks." Lana menutup wajahnya sendiri, terisak-isak. "Kamu dari mana? Lama banget."
Jantung Raul berdebar-debar. Pipinya terasa memerah dan panas akibat Lana.
Ah, cantik. Cantik sekali. Bukankah dia sudah sangat sempurna? Dia begitu tahu bahwa Raul lemah pada tangisannya, jadi dia menangis karena mengira Raul sedang marah.
Raul tahu itu. Raul tahu dan ia benar-benar menyukainya.
"Lana."
"Aku kira kamu pergi," isak gadis itu seolah-olah dia benar kesepian. "Aku kira kamu ninggalin aku, hiks."
Raul tertawa kecil. Mengusap kedua pipi Lana yang dibasahi oleh air mata.
"Aku di sini," bisiknga lembut. "Lana jangan takut. Aku enggak kemana-mana."
"Tapi aku takut." Lana mencengkram tangan Raul. kuat-kuat. Nampaknya dia sedikit khawatir tentang tingkah Raul. tadi. "Aku takut. Kamu jangan ke mana-mana."
Ah, Raul sangat suka boneka menggemaskan. Apalagi yang tahu cara memohon.
"Lana enggak mau pisah dari aku?" Raul mengecup kedua tangan gadis itu. "Lana takut yah jauh-jauh dari aku?"
__ADS_1
Padahal seharusnya dia takut terlalu dekat.
*