Terpaksa Menikahi Pria Tua

Terpaksa Menikahi Pria Tua
TMPT - 37


__ADS_3

Suasana hati Raul nampajnya sudah baik pagi. Terbukti dari bagaimana pemuda itu pagi harinya mengajak Lana untuk sarapan bersama di taman, bahkan repot-repot menyuruh pelayan meletakkan meja berisi banyak hiasan.


Lana berbinar-binar melihat buah-buahan yang ada di meja. Matanya menatap Raul berharap segera disuapi, tapi pemuda itu malah menopang dagu.


"Raul?"


Dia tersenyum misterius. "Lana jadi gendut."


Ibarat sebuah meteor mendadak jatuh ke atas kepalanya, Lana tercengang sekaligus kena mental. Sebagai seorang gadis, jelas saja Lana sensitif pada kata 'gendut'.


Spontan saja Lana meraba wajahnya, terutama pipinya, untuk memastikan apa itu benar atau tidak.


"Lana enggak percaya? Dagunya Lana udah ada dua."


Nyawa Lana mendadak tercabut. Air matanya mendadak banjir bukan karena Raul tapi karena kecewa pada dirinya sendiri.


Sialan! Seorang gadis desa hanya punya kecantikan untuk bertahan di kota. Bagaimana bisa ia merusak semua itu karena terlalu banyak makan?


Tidak, itu bukan salah Lana! Itu salah Raul yang terlalu sering menyuapinya makanan enak walaupun Lana memang tidak menolak!


"Loh, Lana kenapa nangis? Aku suka Lana gendut."


Lana tetap menangis sebab rayuan laki-laki itu semuanya dusta.


"Malah sebenernya aku sengaja," ucap Raul, mencubit pipi Lana. "Aku dari kemarin penasaran gimana Lana kalo rada gendut. Ternyata makin imut."

__ADS_1


"Bohong," balas Lana tanpa sadar. Ia terus menangis karena sekarang harus diet atau hancur sudah satu-satunya senjata yang ia punya.


"Lana, Sayang, dengerin aku." Raul mengarahkan wajah Lana agar menatapnya. "Cowok itu enggak suka cewek Korea."


"Eh?"


"Cewek Korea emang cantik sih, tapi kayak kentang goreng. Yang suka sama mereka cuma perempuan. Kalo laki-laki itu sukanya perempuan cantik yang 'ada isinya'."


Wajah Lana seketika merah. Cara Raul menekankan kata 'ada isinya' itu benar-benar terdengar cabul sampai Lana menarik wajah, buru-buru berpaling.


Hah, sudah. Jangan dengarkan kedustaan.


"Aku enggak mau makan lagi," gumam Lana ngambek.


"Heeeeeeh? Padahal aku udah nyiapin makanan buat Lana."


"Ayolah. Lana tuh imut kalo gendut."


"Aku enggak gendut!"


"Gendut." Raul tertawa, tiba-tiba mencubit pinggang Lana. "Tuh kan, gendut."


"RAUL!"


Raul malah menarik kursinya lebih dekat, sekaligus mulai memegang garpu. Nampaknya dia sudah siap menyuapi Lana makanan.

__ADS_1


Tapi Lana terlanjur tidak mau. Ia tidak mau gendut. Pokoknya tidak mau.


"Lana, ada perempuan yang kalo gendut dia jelek." Raul menarik dagu Lana pelan sambil tangannya yang lain menyodorkan potongan mangga. "Ada juga perempuan yang kalo gendut malah cantik. Nah, Lana tuh tipe kedua. Jadi enggak perlu kurus-kurus banget."


Lana menutup mulutnya dan menggeleng. "Enggak mau. Aku mau kurus."


Pemuda itu malah sangat menikmati rengekan Lana seolah-olah itu sebuah komedi menyenangkan. Raul tetap mendesak, berharap Lana terus makan agar bertumbuh besar.


Ketika tontonan yang sebenarnya tidak layak antara anak dari istri lama pemilik rumah dengan istri baru sang pemilik bermesraan, semua orang hanya diam tak berkomentar.


Tapi Dewi tidak suka membiarkan semua hal itu terjadi. Dewi dapat melihat bahwa Raul sedikit berubah dari biasanya.


Sesuka apa pun Raul pada mainannya, dia tidak akan pernah duduk tertawa-tawa melihat mainannya memberontak. Raul itu benci ditolak, benci diberi kata 'tidak' bahkan jika cuma bercanda.


Tapi dia malah tertawa seolah menikmati jika itu Lana.


"Bu, tamu Ibu katanya sudah di depan. Langsung saya bawa masuk?" ucap pelayan yang menghampiri Dewi.


Senyum di wajah Dewi langsung berkembang. Matanya yang sempat redup kembali bersinar saat menoleh. "Suruh Lana yang jemput. Itu kan keluarganya."


"Baik, Bu."


Kebencian Dewi pada Lana sangat kuat sejak dia merebut perhatian Raul. Jika saja bisa, sekarang juga Dewi mau membunuhnya.


Namun Raul akan semakin marah jika itu terjadi, maka dari itu Dewi cukup puas saat melihat raut wajah Lana sekarang.

__ADS_1


Senyum yang tadi menghiasi wajahnya seketika redup mendengar bahwa keluarganya 'datang' dari kampung, cuma untuk 'melihat' kondisinya.


*


__ADS_2