
Sepertinya kalau Lana bilang Raul adalah anak manja mamanya, itu tidak salah. Lima hari lamanya Lana menangis akibat rambutnya, tapi ketika ia keluar, Lili justru mendatanginya untuk memberitahu kondisi Raul.
"Mas Raul enggak mau keluar kamar, Mbak." Begitu kata Lili. "Terakhir Mas Raul makan itu lusa kemarin. Itupun cuma beberapa suap aja. Sekarang udah enggak mau. Saya takutnya Mas Raul kenapa-napa."
Kenapa Lana harus peduli padanya, adalah apa yang mau Lana ucapkan tapi tahu tidak mungkin. Ia membutuhkan Raul untuk bertahan hidup di sini, tidak peduli bagaimana Raul itu.
Lili berkata bahwa Dewi belum pernah pulang sejak Raul menolak mobil dan motor barunya. Satu-satunya harapan mereka agar Raul mau makan adalah Lana, karena itulah Lana harus pergi melihatnya.
Mau tak mau Lana datang membawakan Raul makanan, membuka pintu kamarnya hanya untuk disambut kegelapan.
"Raul."
Pria itu sedang duduk seolah tengah meratapi kematian. Saat melihat Lana, ekspresi Raul menjadi pahit.
"Lana," panggilnya penuh kesedihan.
__ADS_1
Hati Lana terbakar. Pria sialan ini bersedih karena bonekanya tidak indah lagi. Tapi itu lebih baik daripada harus pria tua yang satunya.
"Raul." Lana bisa menahan perasaan pada Raul dan tersenyum palsu. "Aku bawain kamu makanan."
Pemuda itu justru memegang tangan Lana, meletakkan keningnya di sana putus asa. "Rambut Lana," gumam dia lirih. "Rambut Lana."
Jemari Lana bergetar ketika ia menangis. Tentu saja ia menangis jijik pada bagaimana orang ini hanya peduli pada rambut. Namun Lana memanfaatkan tangisan itu seolah-olah ia bersimpati pada Raul.
"Jangan sedih," bisik Lana memegang tangan Raul di wajahnya. "Jangan sedih, Raul. Rambut aku bakal panjang lagi buat Raul. Aku janji."
"Tapi bakal lama," balas dia seolah tak bisa menunggunya lagi. "Lana, rambut Lana cantik. Lana imut sama rambut Lana. Tapi Mama ngerusakin rambut Lana. Aku yang salah."
Wajah Raul terlihat sangat kecewa. Dia memegangi wajah Lana dan kembali terlihat sulit bernapas.
Lana-nya. Lana-nya yang imut dan menggemaskan. Lana-nya yang manis dan cantik. Raul tidak bisa melihat dia berubah di tangan orang lain.
__ADS_1
"Harus gimana?" Jemari Raul tampak bergetar hebat saat terus menyentuh Lana. Dia terlihat agak tidak waras memandangi bonekanya yang telah berubah. "Harus gimana biar Lana balik lagi? Harus sama. Harus Lana. Harus gimana, Lana?"
"Raul—"
"Kenapa?" gumam Raul, tak lagi sadar dia mencengkram wajah Lana. "Kenapa mesti rambut Lana? Kenapa enggak yang lain? Enggak, enggak boleh yang lain juga tapi kenapa mesti rambut Lana?"
Orang gila. Dia orang gila.
"Raul." Lana menangis akibat cengkram di wajahnya, tapi ia memegang tangan Raul lembut. "Emang aku sejelek itu sekarang?"
Raul tersentak. Cengkramannya seketika lepas dari wajah Lana. Dia terengah-engah, menutup wajahnya sendiri. Tapi kemudian Raul kembali mendongak, menatap Lana lebih tenang.
"Enggak." Raul menggeleng. "Lana masih imut. Lana selalu imut."
Raul meraih punggung Lana, memeluknya erat. "Lana selalu jadi Lana," bisik dia lemah. "Aku cuma enggak terima Lana berubah bukan karena aku. Aku cemburu. Aku cemburu banget."
__ADS_1
Bibir Lana bergetar saat ia berusaha tersenyum pada orang gila itu. "Kalo gitu sekarang kamu makan, yah?" pintanya agar mereka berhenti membahas rambut.
*