
Ketika kembali ke kamarnya, Raul berbaring memandangi mini figure dari karakter imut yang tadi Lana tiru. Bibir Raul tersenyum, memikirkan Lana dan merasa sangat senang karena itu.
"Lana imut banget," gumam Raul seolah memberitahu bahkan jika cuma setan di kamarnya. "Hah, kenapa yah kalo nangis malah tambah imut?"
Lana itu, kalau sedang menangis, jantung Raul berdebar-debar. Raul sangat suka sensasinya. Sangat amat candu dengan sensasinya.
Seperti mendadak Raul kehausan namun ia tak mau minum melainkan hanya perlu Lana. Hanya perlu melihat Lana.
Walau sudah sering mengalaminya dengan orang lain, Raul baru merasakan perasaan sekuat ini. Apa karena dia ibu tirinya, yah? Sensasinya berbeda sebab dia memiliki status lebih dari sekadar asing.
"Mas Raul."
Lamunan Raul terganggu oleh suara ketukan pintu, disusul panggilan akrab dari Lili. Wanita itu membuka pintu setelahnya, tahu kalau Raul mengizinkan.
"Lana udah bersih-bersih?" tanya Raul padanya.
"Udah, Mas. Tapi kayaknya Mbak Lana kepikiran."
Raul terkekeh usil. Membayangkan Lana memikirkannya semalam suntuk, itu sangat-sangat-sangat mendebarkan.
"Ohiya, Mas, saya dateng buat ngingetin. Udah waktunya ngasih Bapak obat."
__ADS_1
"Ohiya? Perasaan baru kemarin," balas Raul, tapi beranjak segera.
Pemuda itu membuka laci tempat tidur, mengambil sebotol serum dan puluhan serum di sana, berisi cairan obat. Obat inilah bentuk rasa sayang Raul pada Papa.
"Pa, ini aku." Raul berbicara lembut ketika memasuki ruangan Papa, di mana pria itu terbaring dengan berbagai jenis peralatan medis. "Aku bawain Papa obat. Biar Papa banyak istirahat."
Raul mengambil suntikan bersih, memindahkan serum ke dalam suntikan lalu dimasukkan ke kantong infus baru yang tersambung ke selang di tangan Papa.
Setelah selesai, Raul mengantongi bekas suntikan itu agar nanti membakarnya secara langsung.
"Enggak imut," gumam Raul melihat pria tua itu. "Hmmm, bukan enggak imut kali yah. Kalo enggak imut kesannya masih agak imut. Bahasa Jepang-nya apa, yah?"
Seakan lampu tiba-tiba menyala di atas kepalanya, Raul menepuk tangan dan tersenyum lebar.
Lalu ekspresi yang sejak awal hanya palsu itu perlahan luntur digantikan oleh senyum dingin. Raul. mengamati ayah tirinya yang cuma terbaring lemah di sana dan tahu bahwa dia akan terus terbaring sampai Raul memutuskan dia boleh bangun.
"Sebenarnya sih, Pa, aku enggak tertarik jadi pewaris. Toh aku sadar diri bukan siapa-siapa. Juga enggak ada serunya," ucap Raul saat membungkuk pada pria setengah mati itu. "Tapi Papa harusnya lebih tau menghargai manusia."
Lili hanya diam mendengarkan Raul berbicara pada orang sekarat. Tentu saja Lili tahu alasan terbesar Raul membantu Lana itu karena kebencian Raul sendiri.
Pria tua itu tidak pernah memperlakukan Raul bahkan sebagai anak dari istrinya. Dia selalu melihat Raul sebagai 'anak haram' yang seharusnya tidak ada. Padahal, Raul bukan anak haram. Raul lahir dari pernikahan normal antara Dewi dan ayahnya.
__ADS_1
Tapi pria tua ini melihat Raul sebagai hama. Dia akan menatap jijik pada Raul jika ada pembicaraan mengenai 'harta warisan' bahkan di depan Mama sekalipun. Menurut dia, Raul selalu mengincar semua hartanya, berharap jadi pewarisnya dan diakui sebagai anaknya.
"Kalo kata orang Jepang, baaaaakaaa." Raul tertawa di depan wajah tua itu. "Sayang banget, Pa, tapi aku punya Mama yang bahkan lebih powerful dari wonder woman. Kalo cuma soal harta, tanpa harus ngemis ke Papa, aku juga punya."
Yah, itu adalah kesalahan pria ini karena sudah salah paham. Padahal kalau dia memperlakukan Raul lebih baik, setidaknya Raul akan menganggap dia sebagai 'orang asing'.
"Ck, diliat-liat lagi emang pantes Lana pingsan. Enggak kebayang perasaan Mama mesti sama kakek-kakek bau kuburan begini," celoteh Raul.
Lili geleng-geleng kepala melihatnya. "Mas Raul, kalo udah selesai, bukannya Mas mau mandi? Mas juga belum makan gara-gara sibuk dandanin Mbak Lana."
"Iyakah?" Raul langsung tertawa cerah. "Lana imut banget makanya susah nginget yang lain."
"Mas enggak bosen ngomong gitu? Saya bosen dengernya."
Raul menghela napas. "Lili enggak imut."
Tapi sesaat kemudian dia tertawa usil pada pelayannya. "Kenapa? Kesel ngeliat mantan kamu ini suka sama cewek imut baru?"
Lili balas tersenyum. "Kalah disuruh milih antara Mas Raul atau mati dimakan buaya, saya lebih milih itu daripada cemburu sama Mas Raul. Kalo udah paham, gimana kalo Mas jalan aja? Biarpun pelayan, saya ini manusia yang sabarnya enggak segunung loh, Mas."
Raul hanya tergelak, berjalan meninggalkan kamar itu sesuai perintah Lili.
__ADS_1
*