
Begitu hanya tersisa mereka berdua dalam kamar, Raul menatap wajah Lana dengan senyum yang berbeda. Itu bukan senyum sinis, juga bukan senyum manis.
Itu hanya senyum yang menunjukkan bahwa Raul senang bermain-main dengan emosi dan ketakutan Lana.
"Lana ternyata enggak polos, yah." Raul menyinggung bagaimana Lana sengaja duduk di pangkuannya. "Segitu enggak sukanya denger Papa sembuh?"
Lana tidak lagi menyembunyikan rasa takutnya. "Jangan," bisiknya memelas. "Plis, Raul. Jangan. Aku enggak bakal ngulang lagi. Kalo aku salah, kamu boleh marah, bentak aku atau mukul juga enggak pa-pa. Asal jangan bangunin dia."
"Jahat yah Lana. Padahal suaminya tapi kok enggak mau banget Papa sembuh. Kasian loh Papa." Raul berbicara seakan-akan bukan dirinya yang membuat pria itu sekarat.
Tapi Lana tidak punya hak untuk menyinggung bagaimanapun kebohongan Raul. Hak Lana itu cuma mengemis dan memohon pertolongan dia, setidaknya sampai Lana bisa lari bersama Luna.
Nanti. Nanti Lana akan pergi baik dari pria tua itu ataupun pria breng-sek ini.
__ADS_1
Sekarang belum bisa.
"Mama bilang kalau ada masalah di perusahaan." Raul memegang pinggang Lana dan memeluknya sambil mengamati wajah lemah gadis itu. "Lana pasti enggak ngerti yah. Mau aku kasih tau?"
Lana merasa Raul masih ingin melihatnya terisak-isak. Demi memuaskan ifu, Lana mendorong dirinya semakin terlihat menyedihkan agar Raul puas.
"Jadi, Lana," ucap Raul mengusap-usap punggungnya, "simpelnya sekarang orang-orang pada berebut posisi CEO di perusahaan Papa. Ada CEO di sana, tapi dia orangnya Papa. Terus ada prang jahat, orang yang kerja di bawah Papa tapi pengen ngambil kekuasaan Papa, dia pengen ganti CEO-nya. Kalau CEO diganti, besar kemungkinan kekuasaan Papa jadi berkurang, bahkan sampe perusahaan Papa diambil."
Lana tidak mengerti dan tidak mau mengerti. Ia cuma mau menangis karena pada akhirnya Raul cuma mau itu.
Badan Lana menggigil pada kata hamil. Ia bahkan tidak bisa melihat pria itu, jadi bagaimana bisa hamil?
Tangan Lana mencengkram kuat pakaian Raul, sesak napas oleh tangisannya.
__ADS_1
"Aku enggak mau," rintih Lana. "Aku enggak mau hamil."
"Eh? Kok gitu?" balas Raul seolah-olah dia sangat tidak menyangka. "Lana, denger. Kalau Lana enggak hamil, enggak ngelahirin anak, nanti perusahaan Papa diambil sama orang yang bukan keluarga kita. Kalo kayak gitu, nanti pelan-pelan uang kita bakal berkurang. Lana enggak boleh egois dong. Kalo anak Lana lahir, nanti Lana bakal punya banyak uang. Malah, nanti kalau anak Lana udah besar, Lana bakal jadi yang paliiiiiing kaya di keluarga kita."
Wajah Lana memerah oleh tangisannya. Ia menggeleng-gelengkan kepala, gemetaran mendengar omong kosong Raul.
Persetan soal perusahaan! Lana tidak mau melakukan hal semacam itu!
"Lana, denger. Perempuan yang cuma nangis mohon-mohon sesuatu demi perasaannya, enggak peduli logikanya, itu perempuan paling bodoh, paling jijik, paling enggak pantes ada di dunia. Lana enggak bokeh jadi kayak gitu," ucap Raul sangat bijaksana.
Tapi saat Lana sekarat oleh rasa takutnya, memohon seperti gadis menjijikan yang tidak peduli pada apa pun selain perasaannya sendiri—justru Raul tersenyum.
"Aku jadi sakit ngeliat Lana kayak gini." Raul menarik punggung Lana dan memeluknya penuh kesedihan. "Jangan nangis, Lana. Aku sayang banget sama Lana. Okelah kalau Lana enggak mau. Aku enggak suka maksa-maksa Lana. Lana berhak ya milih hamil dari siapa. Lana enggak mau kalo Papa."
__ADS_1
Lana tidak mau dengan siapa pun. Ia cuma mau pergi dan hidup tenang dengan Luna.
*