Terpaksa Menikahi Pria Tua

Terpaksa Menikahi Pria Tua
TMPT - 26


__ADS_3

Sekalipun bodoh, Lana sangat tahu bagaimana seorang Raul itu sebagai manusia. Dia adalah wujud dari semua umpatan badjingan yang dibenci wanita, kecuali soal wajahnya.


Lana sangat berterima kasih karena Yuda khawatir padanya. Itu membuat Lana lega, karena setidaknya masih ada satu orang baik nan tulus sekalipun dia tidak mungkin bisa menolong Lana. Tapi, Lana tidak bisa berhenti.


Pada akhirnya Raul benar, bahwa Lana perempuan jahat. Padahal sudah terima uang dari pria tua itu tapi Lana tidak menjalankan tugasnya, malah lari ke pelukan anak tirinya.


Lana tidak pantas ditolong oleh Yuda.


"Lo beneran enggak punya HP?" Begitu tanya Yuda sebelum dia ingin pergi.


"Iya." Lana mengangguk. "Tapi nanti kayaknya aku mau minta sama Raul."


Ekspresi Yuda terlihat rumit saat dia mendengarnya, namun orang itu pergi karena tujuannya cuma melihat Lana sebentar. Dia berkata kalau Raul tahu, mungkin Lana akan dalam masalah lagi jadi dia datang diam-diam.


Untungnya memang Raul tidak tahu, tapi Lana lupa kalau rumah yang ia tinggali ... adalah rumah suaminya.


Tidak sulit berita soal kedatangan Yuda masuk ke telinga Dewi.


"Enggak cuma nolak ngerawat suami kamu yang sakit," Dewi beranjak mendekati Lana, "tapi sekarang punya selingkuhan juga?"


Jelas Lana menyangkalnya. Bagaimana bisa ia punya waktu berselingkuh kalau Lana harus memuaskan semua keinginan Raul yang tidak masuk akal itu?!


"Bu, saya enggak—"


Plak!

__ADS_1


Tamparan keras di wajahnya membungkam semua pembelaan Lana. Gadis itu tercengang memegangi pipinya, tapi cuma bisa terdiam kosong.


Sakit, begitu pikir Lana. Sangat sakit. Bahkan Tante Imania tidak pernah menampar Lana.


"Enggak cuma manfaatin anak saya," bisik Dewi, "kamu juga mulai ngerasa jadi tuan putri? Ah, mungkin karena saya nyuruh kamu bersih-bersih? Mirip Cinderella kan? Disiksa habis-habisan sampe Ibu Peri Tolol dateng nyelametin dia. Gitu, kan?"


Lana menunduk takut. Kenapa ini semua seolah jadi salahnya? Memang benar Lana sudah curang. Ia berjanji akan menikahi pria itu asal diberi uang banyak, namun malah dia sekarat gara-gara Lana meminta bantuan Raul.


Tapi yang memegang uangnya bukan Lana! Yang menikmatinya juga bukan Lana! Lalu kenapa harus Lana yang melakukan semuanya?!


"Kamu enggak bisa nipu saya, Lana." Dewi mencengkram rambutnya, memaksa Lana agar mendongak. "Ayo bilang. Jangan cuma berani ngomong di kepala kamu. Kamu mau ngomong sesuatu kan?"


Lana meringis. Air matanya berlomba-lomba jatuh membasahi pipinya. Tapi di saat bersamaan, kemarahan juga menguasai Lana.


Ia lelah. Ia sungguh sangat lelah dengan semua ini.


Dewi mendengar tapi dengan sengaja tuli. "Ngomong yang keras."


"Saya enggak mau sama dia!" teriak Lana akhirnya. "Saya enggak sudi sama dia! Kenapa saya salah?! Ibu kan juga sama! Padahal jijik sama dia! Padahal enggak suka sama dia! Tapi demi uangnya Ibu rela jadi istri! Emangnya beda Ibu sama saya apa?!"


Dewi menyeringai. "Kapan saya bilang saya enggak sama kayak kamu?"


Eh?


"Emang saya juga sama. Saya ngelakuin ini buat uang. Buat diri saya sama Raul, anak kesayangan saya."

__ADS_1


Kalau begitu kenapa dia malah berbuat jahat pada Lana! Seharusnya kan dia mengerti bahwa Lana hanya berusaha bertahan dengan caranya sendiri!


"Kamu penasaran kenapa saya begini?" Cengkram Dewi pada rambutnya tiba-tiba menjadi sangat kuat sampai Lana menjerit.


Bukannya kasihan, Dewi justru semakin menyakitinya, bahkan membiarkan kukunya tertancap pada kepala Lana.


"Kalau itu orang mati, saya sama Raul pasti ditendang jauh-jauh dari perusahaan." Dewi menyambar rahang Lana yang sibik menangisi kepalanya. "Saya punya uang, punya banyak tabungan uang gelap selama saya jadi istri dia. Tapi, ngapain saya harus biang gunung emas di sini cuma karena kamu?"


Ketika Lana pikir itu semua sudah selesai, Dewi ternyata kembali menarik rambutnya, memaksa Lana untuk kembali berteriak histeris.


"Dan yang paling bikin saya benci sama kamu, Lana," entah sejak kapan Dewi memegang gunting dan mengarahkannya ke rambut panjang Lana, "itu karena kamu berani gangguin anak saya."


"Jangan!" jerit Lana saat merasa rambutnya terpotong. "Ampun, Bu. Ampun. Saya minta maaf."


"Padahal Raul selalu paham omongan saya," gumam Dewi tanpa peduli bagaimana rintihan Lana dan terus memotong rambutnya asal-asalan. "Padahal dia enggak pernah mentingin orang lain lebih dari saya."


Dewi sangat tahu anaknya menyukai perempuan berambut panjang.


Dewi masih ingat bagaimana lembut dan tulus Raul saat menyisir rambut panjang Dewi, mengepangnya tanpa alasan, lalu berkata, "Rambut Mama yang paling cantik. Buat aku, Mama yang paling cantik."


Tapi kemudian dia terlena pada mainanya. Dia terlalu menyukai mainannya sampai-sampai dia sering tersenyum mengabaikan ibunya sendiri.


Cuma karena perempuan tidak penting!


Dewi tidak membenci Lana awalnya dan cuma ingin bersikap tegas. Tapi sekarang berbeda. Dewi membencinya dan suatu saat ia benar-benar akan memastikan gadis ini hilang dari dunia. Terutama dari hadapan Raul.

__ADS_1


*


__ADS_2