Terpaksa Menikahi Pria Tua

Terpaksa Menikahi Pria Tua
TMPT - 34


__ADS_3

Lana menjadi terlalu cemas. Bahkan sekalipun Raul ada di depannya, ia tak bisa lupa bagaimana Raul berkata 'kamu' padahal dia selalu menyebut nama Lana sebagai ganti 'kamu'.


Segala hal di hidup Lana itu ditentukan oleh Raul sekarang. Oleh perasaannya. Jadi kalau Lana lengah, hidupnya akan dalam bahaya.


Dalam arti sangat mengerikan.


"Lana masuk aja dulu, yah? Aku mau parkir motor dulu."


Tangan Lana justru memeluk lengan Raul, tak mau melepaskannya.


"Lana?"


"Aku kesepian." Lana hanya punya ini sebagai senjata jadi sebisa mungkin akan ia manfaatkan. "Enggak tau kenapa aku kesepian," bisiknya, "terutama kalo enggak megang tangan Raul."


Setelah sekian lama jadi mainannya tentu saja Lana paham bahwa Raul selalu luluh dengan gadis manja. Dia tipe yang akan senang kalau Lana berkata 'aku enggak bisa jalan jadi gendong'. Dia suka perempuan yang bertingkah bodoh dan seolah-olah tak bisa bahkan untuk makan dengan tangannya sendiri.


Bukankah karena itu dia paling suka menyuapi Lana?


Lihat. Wajahnya langsung tampak berseri, tersenyum menahan tawa. "Lana," gumam Raul, mengusap wajahnya. "Kalo Lana kayak gini, aku jadi ...."


Hm? Kenapa dia berhenti bicara? Jadi apa?


Tapi Raul benar-benar menghentikan ucapannya, melepaskan tangan Lana.


Tentu saja, hal itu membuat Lana panik.


"Raul—"

__ADS_1


"Mama pasti marah karena Lana enggak masak makan malem." Raul berlalu. "Mending Lana masuk. Aku ada urusan sebentar."


Lana menelan ludah. Tak tahu ada apa tapi ini benar-benar berbahaya. Raul untuk pertama kali menghindarinya.


*


Di dalam kamar mandi, di bawah guyuran shower, Raul memeluk dan meremas setiap sudut tubuh Lili. Mereka berbagi kehangatan, tak menahan diri dari apa yang ingin mereka lakukan.


Tapi ....


"Lana." Raul meracau di pundak Lili, memeluk tubuhnya tapi menyebut nama lain. "Lana."


Raul meraih wajah Lili, mencium bibirnya kasar untuk sedikit menghilangkan rasa haus itu. Tapi rasanya begitu sulit. Raul justru semakin kehausan, semakin menginginkan hal yang tak sedang ia genggam.


Saat semua itu selesai, Lili langsung melepaskan diri dari Raul.


Raul tertawa kecil, mengacak-acak rambutnya yang basah. "Aku enggak punya fetish hubungan terlarang, sayangnya."


"Bukannya belum masuk hubungan terlarang?" Lili mendongak, menikmati guyuran shower kamar mandi Raul yang jelas saja lebih mewah dari kamar mandi pelayan. "Toh Mbak Lana juga belum ngapa-ngapain Bapak. Mas Raul punya kesempatan."


Raul terguncang oleh tawa keras. "Lili," panggilnya lembut, namun justru tersenyum dingin. "Kenapa kesannya jadi aku jatuh cinta setengah mati sama Lana? Aku bakal kasih kok dia ke Papa. Nanti."


Padahal seharusnya Lili tahu bahwa Raul tidak pernah menyentuh bonekanya. Raul menyukai kesucian dan tak suka merusak itu bahkan untuk nafsunya sendiri.


"Enggak ada yang ngelarang Mas Raul jatuh cinta sama boneka."


Ekspresi Raul berubah keruh. "Kamu kenapa kesannya nyuruh aku suka sama Lana?"

__ADS_1


"Biar saya bisa bilang 'rasain', mungkin?" Lili mematikan shower, pergi mengambil handuk. "Lagian emang pernah Mas Raul sesuka itu sama boneka? Jelas-jelas Mas Raul tegang karena Mbak Lana."


"Kamu emang enggak ada imut-imutnya," balas Raul mendengkus. "Punya nafsu itu normal jadi bukan karena Lana spesial. Kayak kamu, kan? Nafsu ke aku padahal benci."


"Kok kesannya Mas Raul malah nolak kenyataan?" tanya Lili, tak mau kalah. "Kalo Mas Raul enggak suka biasanya cuma ketawa. Tapi kesannya sekarang nekanin banget ke saya kalo 'Mas Raul enggak suka sama Mbak Lana'. Emang harus yah, Mas?"


Kening Raul berkerut kesal. "Kamu main trik. Sekarang kesannya aku beneran suka. Udah dibilang enggak."


Lili ikut mengerutkan keningnya kesal dan datang menghampiri Raul. Perempuan itu naik ke pangkuan Raul, membiarkan handuknya kembali jatuh.


"Kalo gitu, Mas," Lili berbisik saat tangannya mengusap otot lengan Raul, "bayangin sekarang Mbak Lana di sini, nangis karena Mas Raul mainnnya terlalu kasar."


Raul mencengkram kuat pinggang Lili. "Turun."


"Mbak Lana pasti bakal bilang : ah, Raul, kamunya kasar banget, tapi aku suka."


"LILI!"


Lili tertawa, meninggalkan pangkuan Raul sesuai keinginannya.


"Saya bakal pura-pura enggak tau," ucapnya, "tapi saya enggak tanggung jawab. Mas Raul main solo aja."


Dia ... tegang lagi.


***


bantu author ngembangin karya dengan dukungan kalian, yah ☺

__ADS_1


__ADS_2