
Raul membawa Lana pergi bersamanya entah ke mana, jadi Lili kembali ke kediaman sendirian lepas melakukan tugasnya. Yah, kalau dipikir-pikir itu bukan tugas Lili juga namun sebagai seseorang yang menemani Raul sejak lama, Lili melakukannya tanpa perintah.
Ternyata saat tiba, di rumah telah ada Dewi yang langsung memanggil Lili.
"Raul berantem sama siapa?" tanya Dewi yang sore-sore malah sibuk menenggak alkohol. Nampaonya kemarahan Raul itu membuat dia sangat frustrasi.
"Temennya, Bu. Katanya Mas Raul duluan yang mulai."
Dewi cengukan, pertanda dia sudah terlalu mabuk. "Terus anak kesayangan saya mana?"
Hah, ini akan sangat panjang, begitu keluh Lili saat menjawab sopan, "Mas Raul belum pulang sama Mbak Lana, Bu."
Ekspresi Dewi langsung keruh. "Dasar enggak tau diri," umpatnya pada Lana. "Dia pikir bisa seenaknya ngambil anak saya? Dia pikir saya besarin Raul buat dia jadi parasit ke anak saya?!"
Lili diam saja.
"Raul enggak pernah marah," racau Dewi. "Raul selalu dengerin saya. Iya kan, Li? Kamu juga tau sendiri kan? Mau gimanapun mainannya, ujung-ujungnya pasti cuma mainan, kan?"
"...."
"Padahal lagi banyak masalah. Lagian bukannya itu nipu namanya? Dia dibeli buat ngelahirin anak, tapi malah selingkuh sana-sini. Perempuan enggak bener."
"...."
__ADS_1
Dewi beranjak dari kursinya, tapi terhuyung-huyung karena mabuk. Wanita itu berusaha keras pindah dari sofa ke meja kerja, tempat di mana dia berkutat beberapa minggu terakhir sejak Tuan Besar sakit.
"Kamu kira saya enggak bsia ngapa-ngapain, Lana?" gumam Dewi, meraba meja susah payah cuma untuk mengambil ponselnya di sana. "Kalo perlu saya ancurin keluarga kamu. Raul itu anak saya!"
Lili tahu ia harus melaporkan pada Raul tentang rencana Dewi. Tapi Lili memutuskan untuk diam saja, pura-pura tidak tahu.
Sampai sekarang Lili masih melihat Raul cuma sedang bermain-main dengan Lana. Jadi sekarang waktunya melihat apa dia agak terlalu berlebihan dalam bermain, ataukah itu hanya perasaan Dewi saja.
Yah, sebentar lagi terlihat.
*
Perubahan mood Raul langsung terlihat begitu dia mengajak Lana pergi makan. Tak tanggung-tanggung, Raul mengajaknya pergi ke tepi pantai, menyewa tempat paling strategis untuk mereka menikmati lautan menjelang gelap, bersama makanan laut yang memenuhi meja.
Lana lemah terhadap makanan enak. Ia melupakan semua kekesalannya pada Raul, hanya mengangguk polos dengan wajah sangat amat nikmat.
Hah, memang segala sesuatu bisa selesai dengan makanan.
"Lana lucu banget." Raul menusuk-nusuk pipi Lana yang masih sibuk mengunyah. "Lana belum pernah makan lobster?"
Makan udang saja terbilang jarang. Selain karena desanya tidak berada di dekat pantai, juga karena lauk pauk itu mahal. Lana lebih sering makan ikan jenis sama berbulan-bulan, baru sesekali diselipi lauk lain.
"Lana, aku mau denger cerita Lana." Raul menopang dagu, berucap sambil tangannya tetap rajin menyuapi.
__ADS_1
Kini, gantian Raul menyumpit daging kepiting.
"Kenapa Lana sampe nikah sama Papa?"
Lana mengerjap. Dalam hati gadis itu kaget mendengar kata menikah.
Karena selama ini Lana selalu jadi mainan Raul, Lana malah sampai lupa jika ia sudah menikah dan sekarang menjadi istri seseorang. Tentu saja, orang itu sekarat berkat Raul atas permintaan Lana.
"Uang," jawab Lana apa adanya. Sedikit kurang semangat mengunyah saat ingat akan hal itu. "Tante pengen punya banyak uang."
"Tante? Yang waktu itu bukan mamanya Lana?"
Lana memiringkan wajah. "Aku kira kamu kenal Tante Ima, soalnya kalian akrab."
"Hm? Enggak tuh. Mukanya aja aku enggak inget." Raul menjawab sambil tersenyum 'hahaha dia tidak penting'. "Jadi yang itu bukan mamanya Lana? Terus mamanya Lana mana?"
Orang ini, dia benar-benar seenaknya dalam bertindak. Bahkan dia cuma menyebut Tante Imania dengan sebutan Yang Itu.
"Bapak sama Ibu udah lama enggak ada," jawab Lana muram. "Aku dibesarin sama Tante, adek aku juga. Makanya waktu Tante bilang aku mesti nikah habis lulus sekolah, aku enggak bisa nolak. Hidup aku itu tanggungan Tante."
Lana tidak pernah bisa melawan, karena itulah ia setuju menikah. Sampai kemudian ia tahu prianya malah sangat tua sampai-sampai Lana muntah.
*
__ADS_1