
Raul itu anak yang ekspresif. Akan sangat kentara kapan dia sedih kapan dia marah dan kapan dia senang. Makanya teman-teman Raul langsung bisa menyadari perubahan besar Raul ketika dia masuk kampus hari ini.
Matanya benar-benar tajam menatap semua hal. Ekspresi Raul yang biasanya ramah dan santai kini malah terlihat menakutkan hingga teman-temannya ragu mendekat.
Padahal Raul termasuk salah satu pelawak di tongkrongannya, tapi sepanjang hari dia cuma menghadiri kelas seperti anak baik-baik, duduk di kantin sendirian, tak bergaul dengan siapa pun.
"Udah putus dari Lana kali, yah?" bisik teman Raul yang melihatnya dari meja lain. "Itu anak kan bakal badmood kalo lagi enggak ada mainan. Berarti Lana udah kadaluarsa."
Yuda memutuskan beranjak, mendekati Raul daripada berbisik-bisik dari kejauhan.
"Lana apa kabar?" tanya Yuda seolah itu bukan apa-apa.
Raul meliriknya tajam, kemudian menatap kosong lagi pada piring makanan.
"Lo putus sama Lana? Berarti sekarang udah boleh gue deketin, kan?" Yuda melancarkan provokasi.
Yang ternyata langsung dibalas oleh Raul. Pemuda itu bergumam, "Back off."
"Sekarang lo main raja-rajaan di sini, hm? Lo kira gue bakal dengerin kalo lo nyuruh gue pergi? Gue bukan monyet."
Raul bangkit dan kentara terlihat malas. "Bukan gitu," ucapnya mendekati Yuda. "Cuma gue—"
Tinjuan Raul melayang begitu saja.
"—lagi mau bantai orang."
Pertengkaran tak terelakkan. Meskipun Yuda bukan jenis orang yang suka bertengkar, sebagai laki-laki dia menolak mundur dari pukulan tanpa alasan.
Mereka berdua berguling-guling di lantai, menyebabkan keributan bahkan setelah berusaha dilerai. Raul yang paling menggila. Bukannya sadar harus berhenti, dia justru memukuli orang-orang lain yang tidak ada hubungannya, hingga kericuhan besar terjadi.
__ADS_1
Tentu saja, kejadian itu membuat Raul dan Yuda dipanggil ke ruang rektor. Keduanya duduk tertunduk dengan wajah penuh luka, mendengarkan ocehan Pak Rektor di sana.
Raul menunggu Mama datang karena pastinya rektor memanggil beliau. Tapi saat pintu terbuka, justru suara lain yang terdengar.
"Raul."
Anak itu mendongak, tercengang melihat Lana. Keberadaan Lili di belakang Lana sudah menjelaskan kenapa dia bisa datang.
Tanpa berpikir panjang, Raul bangkit, pergi memeluk gadis itu.
"Lana," bisik Raul lemah. "Maaf, Lana. Aku emosi."
Tatapan Lana tertancap pada Yuda saat tubuhnya dipeluk oleh Raul. Wajab babak belur pemuda itu terlihat sangat parah dan sakit.
Lana khawatir padanya. Ingin melepaskan Raul dan bertanya pada Yuda apa dia baik-baik saja. Namun Lana sadar tidak mungkin bisa melakukan itu.
Sementara itu, Yuda melihat bagaimana mata Lana mengkhawatirkannya. Padahal Yuda yang khawatir padanya dan agak sedikit menyesal karena mungkin ia malah terlalu khawatir pada orang bodoh.
Lana membawa Raul pergi sementara Lili menyelesaikan urusan dengan Pak Rektor. Dia bilang tugas Lana cuma menghibur Raul agar dia kembali baik-baik saja.
*
Lana tidak tahu mau membawa Raul ke mana, jadi sementara Lana pergi ke depan universitasnya, duduk di kursi yang disediakan di sana.
"Kamu kenapa berantem?" tanya Lana karena memang ia penasaran. "Raul, jangan bilang kamu masih marah soal rambut aku?"
"Hm." Raul menunduk memegangi tangan Lana. "Aku enggak bakal pernah lupa."
Maniak ini, demi Tuhan! Kalau dia membuat masalah karena Lana, itu sama saja seperti semua jadi salah Lana!
__ADS_1
"Raul, kalo kamu ngelampiasin marah ke orang lain cuma karena rambut aku, itu kayak bilang ke aku kalau rambut aku sekarang jelek banget."
Raul tersentak. "Lana, maksud aku bukan—"
"Emang aku sejelek itu yah sekarang?" Lana menyentuh rambitnya yang kini harus pendek nyaris menyentuh telinga. Harus sependek itu untuk merapikan segalanya, padahal rambut Lana bahkan sudah melewati pinggang.
Tapi daripada itu, Lana sebenarnya menggunakan cara Raul yang biasa. Trik manipulasi di mana dia 'menyerang' ke satu titik terus-menerus.
Entah berhasil atau tidak, Lana hanya ingin dia berhenti.
"Emangnya enggak bisa yah aku jadi Lana kalo rambut aku pendek? Sejijik itu kamu sama aku?"
"Lana." Raul menggenggam kedua tangannya erat. "Bukan. Bukan kayak gitu. Cuma aku—"
"Kalo ada cuma, berarti emang jelek kan?"
"Bukan ...." Raul terlihat kesulitan sendiri. Meringis, menggigit bibirnya, lalu menggeleng-gelengkan kepala sendiri. "Bukan," ulangnya kemudian, lebih tegas. "Lana imut. Bukan jelek."
"Kalo gitu," Lana tersenyum merayu, "udah kan? Aku masih cantik. Rambut aku bakal tumbuh lagi. Kamu enggak perlu marah, kan?"
Saat itu, Lana pastinya tidak tahu, bahwa apa yang dia perbuat akan mengundang sebuah 'gelombang' sangat besar dari Raul.
Anak muda itu terpaku menatap wajah Lana dan tak bisa melupakan senyum yang barusan dia berikan.
Obsesi di benak Raul tumbuh tak terkendali. Untuk pertama kali setelah sekian lama, pemuda itu kembali tersenyum, bahkan tertawa memegangi wajah Lana.
"Aku sayang Lana," bisik Raul serupa anak kecil.
Bukan bisikan sayang sebagai lawan jenis, melainkan sayang dari seorang anak yang sangat menyukai boneka imut pemberian ibunya.
__ADS_1
*