
Hari ini, Lana bebas.
Ia akhirnya bisa bernapas lega karena bukan cuma Dewi tidak ada di rumah, Raul juga sibuk di kampusnya. Tadi pagi, pemuda itu bahkan merengek-rengek berkata kalau dia tidak mau jauh dari Lana.
Tentu saja, Lana bersyukur jauh darinya.
Setelah menyelesaikan pekerjaan bersih-bersih yang seluruhnya ditugaskan pada Lana meskipun ada pelayan lain, Lana pun bisa duduk makan es krim di teras.
Ia duduk sambil memikirkan Luna. Beberapa waktu terakhir Lana berharap punya ponsel agar bisa menghubungi bibinya, paling tidak mendengar suara Luna. Apa yang dia lakukan dan apa dia baik-baik saja, Lana ingin tahu.
"Juga soal cosplay." Lana cemberut menusuk-nusuk es krimnya dengan sendok. "Raul dari kemarin enggak puas. Dia mau aku ngelakuin sesuatu tapi enggak mau bilang caranya gimana."
Membayangkan dia membuat Lana emosi. Mendadak gambar hewan di mangkuk es krim jadi terlihat seperti Raul hingga Lana memukul-mukulnya. Paling tidak ia mau membalas dia dalam khayalan.
"Senyum enggak bagus, enggak senyum juga kurang! Maunya apa, sih?! Nyusahin aja!"
Tunggu saja dia. Suatu saat bakal Lana tendang tulang keringnya lalu mengumpati dia sebanyak yang Lana mau.
Tapi nanti.
"Permisi!" teriak seseorang, membuat Lana kaget.
Acara menganiaya Raul dalam khayalan itu terpaksa berakhir karena Lana buru-buru beranjak. Petugas keamanan sedang makan siang di belakang jadi memang tidak ada odang di pos depan.
__ADS_1
Waktu Lana mendekat, ia terkejut mengetahui ternyata dia Yuda.
"Hai." Yuda tersenyum. "Lo gue panggil-panggil enggak nengok. Ngelamunin apa?"
Apa itu pertanyaan wajar yang ditanyakan saat datang bertamu? Oke, tidak. Maksud Lana, buat apa dia ke sini?
"Kamu enggak ke kampus?" tanya Lana balik. "Raul udah pergi dari pagi."
"Gue tau," jawab dia santai. "Ini gue dari kampus. Mampir ke sini buat ketemu lo."
"Eh?"
"Lo enggak pa-pa?" Yuda malah menatapnya lekat dari balik besi-besi pagar. "Gue minta maaf soal waktu itu. Bukannya mau ikut campur, tapi menurut gue lo takut sama Raul. Gue enggak mau sok pahlawan tapi kalo ada orang butuh bantuan, mau cowok mau cewek, ya gue bantuin kan?"
"Kamu," Lana tersenyum tulus, "baik banget."
Sungguh, dia sangat baik. Dari awal, dia baik dan hangat pada Lana padahal mereka orang asing. Lana pikir semua temannya Raul itu jahat tapi kenyataannya, pria ini berbeda.
"Aku enggak pa-pa." Lana kemudian berucap penuh keyakinan karena tak ingin orang baik ini kesulitan. "Aku emang takut tapi enggak pa-pa. Kamu jangan berantem sama Raul. Dia udah bantuin aku juga."
"Raul?" Yuda memiringkan wajah. "Raul baik?"
Nada tanya seakan kalimat itu asing jelas membuat Lana bingung. Ia ikut memiringkan wajah, mengamati Yuda sampai lupa bahwa pagar belum ia bukakan untuknya.
__ADS_1
Tapi Yuda juga terlihat tidak peduli. Dia justru berkata, "Raul bukan orang baik."
"Tapi kamu kan temen Raul." Kalau Raul buruk, kenapa dia mau berteman?
"Enggak ada orang baik di kota, Lana. Atau seenggaknya kurang. Kurang ada." Yuda memegangi besi pagar, mengamati Lana baik-baik. "Gue temenan sama Raul itu bukan karena dia baik. Tapi ya emang karena temen gue sama temen dia temenan. Kalo bilang dia bukan temen gue pun kayaknya bener. Kita cuma sering nongkrong bareng tapi beda prinsip."
Lana mengerutkan kening tak mengerti. Bagi Lana berteman itu berarti kalian saling suka dan nyaman. Tapi bukan bagi Yuda dan Raul?
"Lana." Yuda bergumam pelan. "Sejujurnya gue nganggep lo cewek bodoh yang enggak ketolong."
Lana tersentak.
"Makanya gue, yang enggak suka sama itu, yang sering dibilang sok pahlawan, pengen nolongin lo. Biarpun gue bukan pahlawan beneran."
Lana mengepal tangannya diam-diam saat Yuda mengucapkan hal selanjutnya.
"Raul cuma suka mainan."
Jelas Lana tahu.
"Artinya ada batas waktu Raul main sama orang yang dia anggep mainan. Sampe mainannya menurut dia udah rusak, udah enggak bisa dipake, mainannya bakal dibuang."
Lana juga tahu itu.
__ADS_1
*