Terpaksa Menikahi Pria Tua

Terpaksa Menikahi Pria Tua
TMPT - 35


__ADS_3

Lana sulit tidur memikirkan sikap Raul kemarin. Padahal jelas-jelas Lana tidak dimarahi dan bahwa Dewi tidak muncul, tapi kenapa Raul menjadikan alasan itu buat pergi?


Tidak bisa. Kalau seperti ini terus, Lana tidak tahu kapan Raul berubah pikirkan. Ia harus bertingkah lebih baik lagi agar Raul lebih menyukainya.


Tapi bagaimana?


"Sepuluh tahun itu enggak sebentar, Lana." Begitu ucap Lana pada dirinya sendiri. "Baru sebulan lebih. Sementara butuh sepuluh tahun baru bisa pergi."


Artinya kalau Lana tidak mempertahankan Raul sepuluh tahun, segalanya menjadi sia-sia.


Pemikiran itu mendorong Lana untuk beranjak dari tempat tidur, pergi menuju kamar Raul sekalipun sekarang masih jam dua pagi.


Lana mendorong pintu kamar itu terbuka, menemukan Raul tidur dalam selimut hangat. Lana berdiri memandang pria itu, lekat dan lamat-lamat.


Jika dia memperlakukan Lana sebagai mainan, itu tidak masalah. Sebagai gantinya, dia juga harus menjadi 'alat' bagi Lana tetap aman.


Mereka berdua sama-sama saling mempermainkan.


"Raul." Lana naik ke tempat tidurnya, berbaring persis di sisi Raul.


Lana sedang bertingkah seperti peliharaan yang tidak mau tidur sendiri, tapi maunya tidur dengan sang tuan.


*


Tentu saja esok harinya Raul terkejut luar biasa. Entah sejak kapan ia sudah memeluk Lana, mengira bahwa tubuh kecilnya itu adalah bantal guling.


Raul ingin menarik tangannya, menjauh dari Lana sebentar untuk menata perasaan. Tapi wajah Lana yang terlihat polos menggemaskan justru mencegah Raul.


"Aku ngerasain apa sebenernya buat kamu?" Jemari Raul membelai sisi wajah Lana, tak sadar malah tersenyum melihat Lana nyaman.

__ADS_1


Namun sesaat kemudian Raul terkejut pada dirinya sendiri.


Kenapa kesannya Raul jadi memperlakukan dia sebagai wanita? Kenapa Raul jadi seperti orang yang jatuh cinta sungguhan?


Jelas tidak mungkin. Sangat tidak mungkin. Raul tidak pernah berencana jatuh cinta dan ia tidak pernah mau. Yang Raul cintai di dunia ini hanya dirinya dan Mama.


"Ini cuma hormon," bisik Raul, kembali tersenyum membelai Lana. "Cuma karena Lana terlalu imut makanya jadi susah enggak sayang. Iya, kan?"


"Engh." Lana menggeliat, sepertinya terusik karena belaian Raul.


Tapi yang membuat Raul terkejut, gadis itu memegang tangannya kuat, menjadikannya bantal seakan-akan dia susah bernapas tanpanya.


"Raul," bisik Lana dalam tidurnya. "Jangan tinggalin aku."


Raul mengeraskan rahang. Untuk pertama kali ia membenci debaran jantungnya yang disebabkan oleh Lana.


Mudah bagi Raul pura-pura tidak merasakan sesuatu. Tapi untuk perasaan ini, Raul tak ingin.


Sejak awal? Tidak. Bukan sejak awal. Raul tahu di awal masih sama seperti biasanya. Kalau begitu, kemarin?


"Mama." Raul bergumam samar, menyadari segalanya.


Ia harus segera pergi pada Mama dan memberitahunya tentang hal ini. Jika itu Mama, dia pasti bisa mengembalikan Raul ke jalan yang semula.


Raul masih marah. Ia masih sangat kesal sampai rasanya tak bisa bertemu Mama. Tapi, ini penting.


Benar, ayo pergi pada Mama dan mengadu seperti biasa. Karena Raul memang anak Mama sejak dulu sekali.


"Raul."

__ADS_1


Pemuda itu tertegun saat Lana membuka matanya sayu, menatap di sela-sela kantuknya.


"Lana, aku mau—"


"Jangan," bisik Lana serak. "Jangan ke mana-mana."


Raul menelan ludah.


"Aku enggak bisa," lanjut Lana, "kalo Raul pergi."


Sialan, umpat Raul saat tangannya langsung melingkari punggung Lana. Sekarang persetan dengan segalanya karena Raul cuma ingin memastikan Lana berada dalam pelukannya.


"Lana." Raul melirih. "Bilang kalo Lana cuma butuh aku."


Raul benci dirinya sekarang karena Raul tak bisa mengendalikan keinginan besar dalam dirinya mendengar Lana memohon.


"Aku cuma butuh kamu." Lana balas memeluknya. "Cuma kamu. Makanya jangan kemana-mana."


Raul mengubur wajahnya di pundak kepala Lana.


"Makanya peluk aku."


"Aku udah meluk Lana."


"Belum." Lana mendesak tubuh mereka semakin dekat. "Belum semua."


Raul memeluknya seperti ingin menyembunyikan Lana dari seluruh dunia termasuk dari embusan angin kecil.


Dia miliknya. Hanya boleh jadi miliknya seorang.

__ADS_1


*


Bantu author ngembangin karya dengan dukungan kalian, yah ☺


__ADS_2