Terpaksa Menikahi Pria Tua

Terpaksa Menikahi Pria Tua
TMPT - 29


__ADS_3

Kalau Lili ditanya siapa orang yang berhasil membuat Raul gila, itu jelas adalah Dewi sendiri. Raul itu besar dengan menyaksikan perjuangan Dewi. Dia sangat mencintai ibunya dan bersedia bersabar demi ibunya.


Tapi, bukankah justru karena itu Raul jadi belajar hal kotor? Dewi melakukan segala jenis cara agar dia dan Raul bahagia. Makanya Raul pun akan melakukan segala jenis cara untuk memuaskan dirinya sendiri.


Termasuk marah pada Dewi.


"Rambut Lana." Ketika kembali ke kamarnya, Raul duduk tertunduk di tepi kasur, bergumam hal sama berulang kali. "Rambut Lana. Rambut Lana. Rambut Lana."


Lili sebagai pelayannya tidak mungkin cuma melihat. Wanita itu datang pada Raul, menyerahkan kotak berisi potongan rambut Lana baik dari bekas potongan Dewi juga dari potongan di salon tadi.


"Seenggaknya Mas liat ini dulu."


Wajah Raul justru sangat sedih. "Enggak sama," ucap dia perih. "Enggak sama, Lili. Enggak mungkin sama!"


"Mau gimana lagi kan, Mas? Bu Dewi juga emosi. Soalnya Mas Raul malah belain Mbak Lana."


Raul mencangkram rambutnya sendiri frustrasi. "Tapi enggak harus ngerusakin rambut Lana!"


Diam-diam, Lili penasaran. Ia tahu Raul memang gila dan kadang-kadang dia bisa sangat tidak waras untuk alasan tidak waras pula, tapi kenapa dia begitu terobsesi pada Lana?

__ADS_1


Memang apa yang menarik dari perempuan itu?


"Rambut Lana." Raul kembali bergumam. "Rambut Lana gimana?"


Lili menghela napas, memutuskan undur diri saja. Sepertinya untuk beberapa waktu kedepan, Raul akan sibuk meratapi rambut Lana yang tidak lagi panjang.


*


Sebagai seorang wanita yang hidup bertahun-tahun bersama Raul, Dewi paling tidak sanggup jika anaknya marah. Dewi adalah wanita yang rela melakukan apa saja demi Raul. Apa saja asal anaknya kembali bersikap baik.


"Mama beliin kamu mobil baru." Dewi mendorong kunci mobil dari salah satu jenis mobil yang ia tahu diinginkan Raul. "Kamu enggak coba mobilnya? Udah ada di depan."


"Raul, Mama juga beliin kamu motor keluaran baru. Ituloh yang warnanya kata kamu cantik banget."


Anak itu masih diam. Padahal dia tidak pernah diam jika Dewi sudah membelikannya sesuatu seperti mobil atau motor. Raul sama saja seperti anak remaja pada umumnya. Dia paling senang kalau disodorkan mobil, motor atau barang-barang seperti game.


"Kamu bukannya mau bikin kamar gaming sendiri? Kamu kurang apa? Mau Mama beliin apa?"


Jantung Dewi berdebar tak karuan. Ia tahu Raul sekarang sungguhan marah. Dia tidak akan mau menoleh dan akan terus menganggap Dewi tidak ada.

__ADS_1


Dewi tidak bisa menjalani harinya seolah baik-baik saja jika Raul marah.


"Sayang." Dewi memegang lengan Raul, mengambil ponselnya untuk ditepikan sesaat. "Mama ngerti kamu marah, Raul. Maafin Mama. Please?"


Raul tersenyum lemah seolah-olah dia mengingat sebuah kematian yang begitu menyakiti hatinya. "I can't," bisik dia rapuh. "You're so mean, Ma. I just can't forgive you."


Kepalan tangan Dewi menguat oleh emosi yang membara. "Kamu beginiin Mama cuma karena Lana?"


"You see? Mama bahkan enggak ngerasa bersalah."


"Raul, Mama—"


"Keluar," gumam Raul nyaris tak terdengar. "Keluar, Ma. Aku lagi enggak pengen ngeliat Mama."


Dewi hanya bisa menggertak giginya dan meninggalkan kamar Raul sesuai kata anak itu.


Kemarahan membara baik di wajah maupun dalam dada Dewi. Semua bukan salahnya tapi salah Lana. Kalau saja dia tidak menggoda Raul, kalau saja dia menjalakan tugasnya saja tanpa mengusik Raul, semua ini tidak mungkin terjadi.


Dia harus bertanggung jawab. Dewi akan membuat dia menyelesaikan masalah yang dia buat ini.

__ADS_1


*


__ADS_2