Terpaksa Menikahi Seorang Mafia

Terpaksa Menikahi Seorang Mafia
part22


__ADS_3

" Woah.. Kalian berdua sangat romantis sekali, ya." Puji Livy dengan senyum mengejeknya. Dia merasa muak berlama-lama berada diantara dua pria itu yang membuat otaknya berpikir menyimpang.


" Diam kau...!" Bentak Aldrich dan Roky bersamaan lalu menatap tajam kearah Livy. Karena tidak menyangka bisa-bisanya wanita cantik didepan mereka ini menyebutnya penyuka sesama jenis.


" Why? Aku hanya bercanda." Decak Livy memutar bola matanya dengan malas. Namun, degup jantung Livy berdetak tak beraturan disaat Aldrich tengah menatap dirinya dengan tatapan begitu dingin dan Livy pun menundukkan wajahnya takut." Tuan, apa yang mau kau lakukan?" Pekik Livy sambil menggigit bibirnya untuk berusaha tetap tenang.


Aldrich hanya diam tanpa mengalihkan tatapan matanya pada Livy." kau pergilah," titahnya sembari memberi isyarat pada Roky agar mengusir orang-orang yang ada di sekitar gedung.


Dan mau tidak mau Roky pun pergi dari sana meninggalkan bosnya Aldrich dan Livy hanya berdua di tempat tersebut."Aahk giliran yang enak-enak dia mengusir ku, aku harap keputusan mu tidak salah bos," Gerutu Roky kemudian memerintahkan para anak buahnya untuk mengosongkan area gedung tersebut dari kerumunan orang-orang. Beberapa menit kemudian semuanya beres dan aman tidak ada orang yang berada di halaman itu selain mereka berdua.


Setelah Roky pergi keduanya tak ada yang bersuara mereka masih sibuk dengan pikirannya masing-masing.


" Tuan, Livy.." Panggil Livy dan Aldrich secara bersamaan dan kini tatapan mata mereka saling mengunci. kemudian keduanya menarik napasnya secara bersama.


" Jadi, sebenarnya apa mau mu Tuan?, aku sangat butuh nilai itu untuk nilai tambahan skripsi ku, aku tidak mau dosen ku nanti kecewa, ya walau memang aku ini cerdas dan kau yang curang." Pinta Livy sembari memberikan sebuah buku pada Aldrich untuk menuliskan nilai disana.


" Cih, kau menyalahkan ku." Aldrich berdecak kesal mendengar ucapan Livy yang menyindir dirinya. " Itu hal mudah, kau hanya tinggal baca dan tandatangani surat kontrak ini, maka dengan senang hati aku memberimu nilai," Ucap Aldrich menyeringai sembari menaruh map berwarna biru ketangan Livy tanpa berniat mengambil buku yang di berikan oleh Livy. Lalu kembali menatap kearah depan tanpa ekspresi.


Livy pun memicing kan matanya.


" Surat kontrak?" Beo Livy merasa was-was ketika ia tersadar dihalaman itu sudah tidak ada siapa-siapa, hanya ada dirinya dan Aldrich lalu kemana perginya orang-orang tadi? bagaimana bisa hilang dalam sekejap.


" Apa aku melewatkan sesuatu tentang Aldrich, aku harus mencari tau siapa suamiku ini, tapi bagaimana caranya?" Batin Livy dengan berpikir keras. dia harus meminta bantuan pada siapa untuk menyelidiki tentang Aldrich sementara pria itu sangat berpengaruh dan misterius. Contohnya saat ini dan pria itu bisa mengusir orang-orang dalam hitungan menit. Tentunya hanya orang berkuasa yang bisa melakukannya.

__ADS_1


" Yes right, kita buat kesepakatan bersama, aku pikir tidak ada salahnya aku memberimu nilai terbaik dan kau membantuku melahirkan cucu untuk kakek, bagaimana?"


" What! cucu maksudmu aku mengandung anak mu begitu," Pekik Livy menatap tak percaya kearah Aldrich.


" Of course," Pria itu membenarkan ucapan Livy dengan raut wajah datarnya.


" Gila kau! Aku tidak mau, mana mungkin aku mengandung anakmu, melahirkan, aaaa! Reputasi ku bisa hancur di kampus, menikah dengan mu saja aku terpaksa, kau sangat gila tuan!" Seru Livy sembari memukul Aldrich dengan tasnya karena teramat kesal. dia belum siap harus menjadi seorang ibu selain itu dia masih ingin berkarier. Belum lagi rencananya memperbaiki hubungan kedua orang tuanya.


" Awh, berhenti!" Pekik Aldrich sembari menangkis dan menangkap tasnya lalu menariknya dengan kuat hingga Livy menabrak dada bidang nya.


" Ah! Menyingkir lah," ujar Livy reflek mendorong tubuh Aldrich agar menjauh dari nya.


" CK, kau pikir hanya kau yang terpaksa, apa kau lupa kau sudah menyebabkan pekerjaan ku terbengkalai malam itu, jadi anggap saja itu sebagai kompensasi," Ucap Pria itu berdecak sengit dengan muka dinginnya. saat kembali teringat dia telah gagal menangkap musuhnya dan berakhir dengan menikahi Livy karena desakan dari kakeknya.


Livy menghela napas berat. Jujur, dia masih bingung, bagaimana caranya menyelesaikan dan menghadapi setiap masalah demi masalah yang menghampiri dirinya.


" Livy Janson!" Sentak Aldrich dengan suara keras hingga membuat Livy tersentak kaget kemudian berbicara dengan lantang sampai air ludahnya keluar mengenai wajah Aldrich.


Bukan tanpa alasan Aldrich memanggil Livy dengan sebutan itu, karena dia baru tahu tadi pagi setelah membaca data Livy di ponselnya siapa Livy dan ternyata Livy seorang mahasiswi fakultas teknologi dan nama lengkap Livy Janson yang tentunya tertera di kartu identitas mahasiswa yang mengait indah di leher wanita itu.


" Apa pria brengsek!" Livy sontak menutup mulutnya dengan tangan nya saat melihat Aldrich sangat marah sembari mengusap mukanya yang terkena air ludahnya. " Maaf, kau mengagetkan ku," cicit Livy merasa malu.


" Lupakan," Aldrich memberikan pena pada Livy, Aldrich sudah memantapkan diri untuk mengambil keputusan ini demi kakeknya, masalah bagaimana dia mencintai atau tidaknya dengan Livy itu urusan belakangan.

__ADS_1


" Kau memaksaku," Wanita itu menatap penuh selidik kearah Aldrich sembari mulai membaca satu persatu surat perjanjian yang diberikan oleh Aldrich.


Isi Poin dari surat perjanjian.


*1.Pihak 1 Aldrich selalu benar. pihak 1dan 2 di larang mencampuri urusan pribadi masing-masing. pihak 1 akan memberikan nilai akademik untuk pihak 2 dan juga memenuhi kebutuhan finansial pihak 2. selama tinggal bersama.


2.pihak 2 harus memberikan anak pihak 1 dan hubungan intim tidak terbatas sampai pihak 2 hamil, setelah itu tidak ada hubungan intim sampai anak lahir.



jika pihak 2 bisa menjalankan poin ke2 dengan baik maka pihak 1 membantu semua masalah pihak 2.



Livy mengepalkan tangannya sambil meremas sisi berkas itu dengan kuat, ia merasa isi dari poin surat perjanjian kontrak sangat merugikan dirinya. Aldrich hanya melirik sinis dengan ekor matanya kearah Livy, dia sudah menduga Livy pasti tidak menerima dengan apa isi poin kontrak yang dibuatnya.


Dari arah jauh lebih tepatnya didalam gedung Roky yang tengah mengintip dari jendela kaca besar di balik tirai. Roky yang hendak menarik sedikit tirai itu di urungkan karena panggilan telepon di ponselnya.


" Hallo bos--"


" Kau sudah bosan hidup, ya Roky!" Ancam Aldrich sembari menatap dengan tatapan dinginnya kearah gedung yang dimana Roky berada. Kemudian menutup ponselnya.


glek

__ADS_1


Roky segera masuk kedalam sambil menelan air ludah nya susah payah saat dia melihat kemarahan di wajah bosnya. " Jeli banget tuh matanya bisa tau aku disini." Gerutu Roky menghela nafasnya.


__ADS_2