Terpaksa Menikahi Seorang Mafia

Terpaksa Menikahi Seorang Mafia
part 29


__ADS_3

Setelah menyiapkan baju Aldrich, Livy mengambil selimut dan bantal lalu menuju sofa yang ada di ruangan itu, daripada dirinya bosan menghadapi sikap menyebalkan suaminya Livy memilih bermain dengan ponselnya.


"Drrrttt..." Sebuah pesan masuk Livy pun langsung membaca isi pesan dari Neck di ponselnya.


" Nona, sesuai permintaan Anda, semua sudah beres, jangan lupa kirim bonus yang lebih."


" Sempurna... " Gumam Livy tersenyum puas sambil melihat foto Neck yang tengah berpelukan mesra dengan seorang wanita di sebuah kamar hotel dilayar ponsel.


" Perfeck... " Seloroh Livy Ia langsung mengirim foto itu kepada orang kepercayaan nya. Lalu Ia menekan beberapa digit angka lalu mentransfernya ke nomor rekening milik Neck.


" Terimakasih kasih Neck, pekerjaan mu memuaskan." Setelah mengirim pesan tersebut Livy menyandarkan kepalanya di bahu sofa.


.


.

__ADS_1


Ditempatnya, Neck yang berada didalam kamar hotel sedang menatap tak percaya kearah layar ponsel mahal miliknya, Neck membaca deretan angka berjumlah satu miliar rupiah di aplikasi transaksi Dana di ponselnya.


" Ini di luar dugaan ku, Nona memang sangat baik hati. " Dengan wajah berbinar-binar Neck tertawa keras, hingga ia lupa kalau disampingnya ada seorang wanita tengah tertidur pulas. Ia pikir dengan uang sebanyak itu ia bisa bersenang-senang dengan banyak wanita.


" Saya senang bisa membantu Anda, Nona Livy..." Ucap Neck membalas pesan Livy sambil tersenyum lebar.


.


.


" Lihat saja kalau ketemu aku akan memberinya hadiah, dasar bodyguard gila. " Seloroh Livy dengan suara keras hingga membuat Aldrich yang baru saja keluar dari kamar mandi mengerutkan keningnya.


" Siapa yang gila...." Seloroh Aldrich sambil berjalan menuju ranjang.


Suara berat Aldrich mengagetkan Livy yang sedang menatap ponsel kini beralih menatap kearah Aldrich dengan mata tak berkedip sedikit pun.

__ADS_1


"Gleg" Livy menelan salivanya dengan susah payah, saat melihat tubuh Aldrich yang Atletis terpampang nyata didepan matanya, Aldrich hanya mengenakan handuk sebatas pinggang. Perut sixpack dan dada bidang yang berotot itu terlihat menggoda bagi setiap wanita yang melihatnya dan pasti ingin menyentuhnya. Tapi, Livy sadar diri pernikahan yang mereka jalani hanya nikah kontrak yang tidak ada artinya bagi Aldrich maupun dirinya karena tidak ada cinta di pernikahan mereka dan nanti setelah dia melahirkan anak untuk pria itu maka semua itu usai.


" Aku tau Aku ini sangat tampan, jadi berhentilah menatap ku, dan hapus air liur mu itu." Ucap Aldrich tersenyum sinis bercampur geli saat menyadari Livy tak berpaling dari pesonanya.


Livy yang tersadar tangannya reflek mengusap-usap mulutnya dan ternyata tidak ada air liurnya.


" Tidak ada. Idih.. gak usah kepedean deh Tuan. Kau mengerjai ku, ya!" Ujar Livy dengan wajah kesal karena ia telah dikerjai oleh Aldrich. " Dasar pria brengsek." Umpat nya dalam hati sembari merasakan ponselnya bergetar tapi Wanita itu hiraukan.


" Tidak. Kau sangat percaya diri sekali..." Ada seringai tipis di wajah Aldrich lalu Ia hendak melepas handuknya ingin menggoda Livy. Sampai sejauh mana wanita itu tidak tergoda olehnya, padahal banyak wanita di luaran sana yang dengan sukarela menyerahkan tubuhnya untuk dinikmati dan menghangatkan tubuhnya.


" Stop!" Teriak Livy memalingkan wajahnya Ia tidak kuat melihat tubuh gagah Aldrich yang hampir polos itu, Livy tidak munafik otaknya bertraveling liar jika disuguhi pemandangan menggiurkan. " Bisa tidak jangan disini ganti baju nya. Kan, bisa di kamar mandi atau diruang ganti ."


Aldrich tersenyum miring ia merasa puas dan berhasil mengetahui bahwa Livy juga tergoda oleh pesonanya. Aldrich melilitkan handuk nya kembali lalu berjalan kearah Livy.


" Apa kau sudah tidak sabar ingin melakukannya." Bisik Aldrich menggoda Livy.

__ADS_1


__ADS_2