
Dengan memaksakan diri Livy membuka ke-dua matanya lalu membuka pintu mobilnya .
" Ada apa lagi Neck, kau baru saja masuk kedalam hotel, kenapa balik lagi kesini, mengganggu ku saja." Sentak Livy hendak memaki Neck kembali Tapi tidak jadi saat melihat pria yang ia kenal tengah berdiri di samping mobil dan sedang menatapnya dengan wajah datar. " Aldrich kau..." Cicit Livy lalu menundukkan wajahnya."mampus deh gue."
" Neck.Neck, cepat keluar," Ucap Aldrich dengan suara datar.Ia menahan Livy yang ingin menghindar darinya. Livy pun hanya bisa pasrah saat Aldrich menyeretnya keluar mobil dan membawanya masuk kedalam mobil Lamborghini milik Aldrich yang berhenti di pinggir jalan.
" Aldrich. Tapi Neck gimana, masa dia di tinggalin begitu saja, kasihan dong." Protes Livy menengok kebelakang melihat gedung hotel yang mulai tak terlihat lagi dari pandangannya karena mobil mereka sudah melaju." Huhu rencana ku? Aaa hancur sudah berantakan usahaku, dasar nih pria brengsek bener." Gerutu Livy dalam hati tangannya terkepal dengan erat.
" Jangan mengumpat ku seperti itu. Atau kau memang menyukai Neck." Ada seringai licik dibibir Aldrich saat melihat Livy termakan oleh ucapan nya.
" Huek...." Livy menjulurkan lidahnya seolah tengah memuntahkan cairan dalam perutnya." Sekali lagi kau menyebut nama Neck. Aku batalkan kontrak nya." Ancam Livy tanpa berpikir.
" Kau yakin mau membatalkan kontrak kita." Sahut Aldrich tersenyum miring. Dalam hitungan ketiga Aldrich menebak Livy pasti berkata, tidak. " Satu, dua,ti-"
" Aku hanya bercanda Tuan, Ah sudah lah aku lelah," sela Livy dengan cepat. Tidak mungkin dia membatalkan kontrak itu. lalu nasib keluarganya bagaimana?. Ia sudah berkorban sejauh ini jadi tidak mau menyia-nyiakan kesempatan.
__ADS_1
" Aku tidak keberatan jika kau menginginkan nya."
" Tidak ya tidak." Balas Livy lagi dengan cepat sambil melirik tajam Aldrich. Tampak seringai tipis di wajah Aldrich tanpa Livy ketahui.
" Kenapa? bukannya kau lebih senang bisa bebas dan tidak perlu melahirkan anak untuk ku," Sindir Aldrich semakin suka menggoda wanita di sampingnya itu.
Livy menoleh dan tersenyum manis semanis mungkin.
" Aku tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya padanya." Batin Livy." Hei tuan brengsek, kau sungguh luar biasa mengatur hidup ku harus begini harus begitu kalau bukan karena kakek aku malas menjadi istri mu.Idih amit-amit." Olok Livy mengalihkan pembicaraan.
" Benarkah, seharusnya kau berterima kasih padaku, sudah memberi mu tempat tinggal dan nafkah untuk mu, hidupmu terjamin. Aku pikir ulang memberi mu nilai ." Goda Aldrich sembari memarkir kan mobilnya di garasi mansion karena mereka sudah sampai.
" Ayo turun..." Setelah mencabut kunci mobilnya Aldrich turun dari mobil meninggalkan Livy yang masih terdiam di tempatnya.
"pletak.." Tanpa rasa kasihan Aldrich menyentil kening Livy sedikit keras dan sontak saja membuat Livy langsung mengadu kesakitan.
__ADS_1
" Aw! sakit pria brengsek... huh lama-lama bisa tua aku tinggal bersama nya." Umpat Livy yang sudah berjalan dibelakang Aldrich ikut masuk kedalam mansion.
Aldrichy yang berjalan didepan Livy menaiki tangga itu ia menyeringai tipis saat mendengarkan umpatan Livy. " Dasar gadis jadi-jadian." Ia membuka pintu kamarnya kemudian mulai melepaskan satu persatu baju yang melekat di tubuhnya.
Sementara Livy yang ikut masuk kedalam kamar hanya bisa tertegun menatap tubuh gagah dan berotot Aldrich yang di depan matanya tersebut.
" Itu daging atau roti tawar yang menempel di tubuhnya. Oh my God." Livy memejamkan matanya saat Aldrich berjalan kearah nya." Ih... Livy kau sudah tidak waras menginginkan pria brengsek itu." Dan Livy hampir terjengkang kebelakang ketika membuka matanya Aldrich sudah berdiri dihadapannya tanpa jarak sedikitpun.
" Aaaakh...." Teriak Livy sembari menutup matanya dengan telapak tangan.Namun ia merasa tubuhnya baik-baik saja tidak terjatuh atau pun sakit melainkan sangat nyaman dan hangat dan ia segera membuka ke-dua matanya kembali.. " Aaa... minggir kau." Livy kembali berteriak saat Aldrich memeluknya sambil menatap lekat wajahnya membuat jantung nya berdetak naik turun.
Aldrichy semakin merapatkan tubuhnya dengan tubuh Livy. " Kenapa jantung ku berdebar." Gumam Aldrich." Siapkan baju ganti untuk ku, Livy." Bisik Aldrich dengan suara beratnya lalu berlalu pergi masuk ke kamar mandi.
" Oh ya tuhan! hampir saja aku tidak bisa bernapas. Hih dasar suami dingin, sangar, datar, galak." Gerutu Livy mengelus dadanya sembari membuka pintu lemari pakaian lalu mengambil satu setelan baju piyama dan menaruhnya keatas kasur. Tanpa ia menyadari Aldrich tengah menguping dibalik pintu kamar mandi dan tentunya mendengar semua umpatan dirinya.
Aldrich berjalan ketengah lalu menatap dirinya di cermin dengan rileks Ia menikmati air swower yang mengguyur dan membasahi seluruh tubuh kekar nya.
__ADS_1
" **** me. Apa istimewanya dia, tidak bohay, apa lagi seksi, tapi kenapa setiap berdekatan dengan nya dia selalu bangun." Gerutu Aldrich menatap kebawah dimana benda pusaka nya berdiri tegak dan mau tidak mau ia harus menidurkannya dahulu.