
" Livy Janson!... Sayang!..." Bentak Aldrich dan Petrik serentak tanpa mereka aba-aba.
" Bersikap lah sewajarnya Livy." Ucap tegas Aldrich pada Livy, yang langsung di tatap tak suka oleh Petrik.
Livy yang masih mengkhayal menjadi seorang bidadari hanya senyum-senyum sendiri dan tersadar ketika tangannya dilepas begitu saja. Livy kembali mengangkat kedua tangannya.
" Loh kok berhenti Ayo lagi, Aku mau lagi." Pinta Livy tersenyum lebar sembari menahan rasa panas didalam tubuhnya.
" Kau jangan aneh-aneh, sudah ayo pulang aku akan mengantarmu sayang. Lihatlah
pipimu merah." Usul Petrik yang menemukan cara untuk membawa Livy pergi dari Aldrich secepatnya. Meskipun benar adanya Livy memang nampak demam terlihat jelas dari wajah nya yang memerah.
" Tunggu dulu." Dengan sekuat tenaga menyembunyikan hawa panas di tubuhnya Aldrich menahan langkah Petrik dan Livy." Selangkah kau pergi bersama pacarmu. Kau tidak lupa kan, kekasih mu ini tidak akan pernah mendapat nilai akademik dari ku. Bukan begitu Livy." Ancam Aldrich menyeringai tipis.
gleg
Bersusah payah Livy menelan salivanya. Bukan karena takut putus dari Petrik melainkan nilai tambahan skripsi nya lebih berharga ketimbang hubungannya dengan Petrik yang baru seumur jagung tersebut.
Tidak dengan Petrik, pria itu nampak emosi mendengar ancaman dari Aldrich. Dia menebak musuhnya itu berniat memonopoli hubungan nya dengan Livy berkedok penilaian skripsi.
__ADS_1
" Petrik kumohon mengertilah, Aku harus pulang dengan nya. plis." Dengan pipinya yang semakin merah entah karena apa, Livy memasang puppy eyes nya dan membuat Aldrich terbakar emosi. tidak tahu mengapa ia tidak senang Livy memperlihatkan sisi menggemaskan nya di hadapan pria lain selain dirinya.
Bertambah nya hawa panas menjalar Aldrich membuka tiga teratas kancing kemejanya karena kegerahan. " Aku hitung sampai 3." Sinis Aldrich sambil berjalan perlahan dengan senyum licik diwajahnya. " satu.. dua.. tiga-"
" Tunggu..." Teriak Livy mengejar langkah Aldrich yang melangkah keluar dari Kafe. " Aku pergi dulu Petrik, sampai bertemu di kampus da...." Livy melambaikan tangannya kearah Petrik lalu kembali berlari kecil menyusul Aldrich ke mobilnya.
" Bangsat kau Aldrich!" Umpat Petrik tangannya terkepal kuat." Apa yang sedang kau rencanakan? Aku tidak akan menyerah dan membiarkan Livy menjadi milikmu dia hanya milikku. milikku!" Teriaknya menarik perhatian para pengunjung kafe melihat kearah nya. Namun, itu hanya sesaat karena setelah di intimidasi oleh Petrik mereka kembali ke meja masing-masing.
Petrik tersenyum devil sambil menghubungi seseorang." Hallo... Cepat keluar dan beri dia peringatan. ingat jangan sampai wanita ku terluka. kalian mengerti!" Setelah memberi perintah tanpa menunggu jawaban dari balik telepon Petrik langsung menutup panggilan telepon nya dan segera pergi dari kafe.
Tidak disadari oleh mereka sedari tadi ada seorang pria sedang memperhatikan interaksi mereka dari ruang pantry kafe yang digunakan para weiters untuk menyiapkan menu. Terlihat seorang weiters kafe wanita, tampak gembira menerima amplop putih dari sosok pria berpakaian serba hitam.
" Pergilah dan itu sudah termasuk bayaran tagihan pelanggan tadi." Ucap lelaki itu merapatkan topinya guna menutupi wajah tampan nya.
" Baik Tuan." Wanita itu tersenyum sembari memandangi punggung gagah Roky yang mulai menjauh.
" Kena kau Bos. Dan seperti nya tugasku bertambah berat." Gumam Roky kepiriran tentang kenyataan Livy dan Petrik ternyata berpacaran.
"blam "Suara decitan pintu mobil ditutup.
__ADS_1
" Menurut mu apa rencana mu ini bisa berhasil." Tanya Jack setelah Roky sudah duduk di kursi penumpang di samping nya sembari melajukan mobilnya dengan perlahan mengikuti dari kejauhan mobil Bosnya Aldrich.
Roky melepas topi serta maskernya sembari mengangkat kedua bahunya dengan santai.
" Aku tidak tahu. Tapi sepertinya berhasil, bukanya kau melihatnya sendiri tadi? bagaimana bos kita marah dan menggunakan akal bulusnya menggaet Livy supaya jauh dari pacar nya Petrik." Ungkap Roky terkekeh." Aku hampir tak mempercayai nya. Baru kali ini Bos perhatian dengan seorang wanita berlebihan." Lanjutnya lagi, ia kembali teringat akan sikap Aldrich yang tidak begitu mengurus permasalahan percintaan hingga sang kakek pun merasa bingung mencarikan jodoh untuk Bosnya itu.
.
.
.
.
" Aku berfikir Anda itu terlalu picik tahu. Selalu saja mengancam dan mengatur ku harus begini begitu. huh!" Omel Livy pada Aldrich lalu memilih melihat kesamping Jendela mobil dengan membuka jaket hangat nya hingga menyisakan tangtop yang melekat di tubuh mungil Livy. Dinginnya AC mobil tak menyurutkan rasa aneh di tubuhnya itu bisa mereda.
" CK, ck. Hei apa-apaan kau ini. Pakai lagi jaket mu." Dengan mengeratkan cekalan di setir kemudi, Aldrich yang ingin emosi itu tidak jadi, ia justru terkejut saat melirik Livy yang mulai bertingkah aneh. " Apa jangan-jangan dia juga ikut terangsang? Astaga dia meminum minuman ku? Oh God!" Pekik Aldrich dengan menahan pipinya yang terasa panas.
" Aku tidak mau! Bisa lebih cepat sedikit tidak? Aku ingin cepat mandi menghilangkan gerah ku ini." Pinta Livy, Ia menggertakan giginya dan menggigit bibirnya sendiri untuk mengurangi rasa gejolak aneh yang menguasai tubuhnya.
__ADS_1
" Bajingan! siapa mereka?" Umpat Aldrich saat menatap kearah spion mobilnya dan melihat ada sebuah mobil sedan hitam melaju mengikuti di belakang mobilnya.