
POV Aldrich
Saat aku sedang diperjalanan menuju kantor pelatihan militer, asisten Jack menelpon ku mengatakan bahwa kakek jatuh sakit tanpa berpikir panjang aku langsung memutar balik arah mobilku menuju mansion untuk melihat bagaimana keadaan kakek.
Dadaku terasa sesak saat melihat kakek yang biasanya terlihat sehat dan tegas saat memarahi ku kini tengah terbaring lemah tak berdaya dengan selang infus di tangan nya.
" Kakek....." Aku berusaha tetap tegar. Aku pandangi wajah kakek ku yang sudah tidak lagi muda seperti dulu. Beliaulah yang merawat ku sejak usiaku 8 tahun setelah kedua orang tuaku sudah tiada.Jadi, Aku berjanji apapun yang kakek inginkan pasti aku akan mengabulkan nya. Karena hanya dia yang aku punya di dunia ini.
" Aldrich... berjanjilah...." Pinta Abraham penuh harap dengan suara lirih nya sambil menggenggam tangan Aldrich agar aktingnya kelihatan nyata. Sebenarnya jauh di lubuk hatinya ia berbohong atas riwayat penyakitnya hanya dengan cara beginilah Aldrich mau menuruti permintaannya untuk membuatkan cicit untuknya.
Dan Aku mengerti kemana arah pembicaraan kakek barusan, Cicit?.
" Aku janji. Kakek harus cepat sembuh, jangan berpikiran macam-macam, Apa kakek meragukan kemampuan ku ini, aku pasti mengabulkan keinginan Kakek." Janji ku dengan tersenyum pada Kakek ku.
****
Dan setelah perbincangan ku dengan kakek beberapa saat lalu, Aku putuskan membuat surat perjanjian pernikahan kontrak dengan Livy. Selain tujuan ku untuk memberikan cicit untuk kakek, tentu saja untuk membalas perbuatan Livy karena Livy telah menghancurkan rencana ku bertepatan saat tragedi kecelakaan dimalam itu.
Tapi, saat Aku mendengar Gadis itu mengeluhkan nasibnya yang buruk karena bertemu dengan ku dan terjebak Menikah dengan seorang mafia membuatku ingin tertawa dan bersemangat menjerat Gadis biasa dan juga cerewet itu dengan pernikahan ini.
Namun, ada satu hal yang menarik perhatian ku warna mata birunya Gadis cerewet itu terlihat begitu indah dan cantik yang selalu menghipnotis ku untuk terus menatapnya. Namun, seperti ada kesedihan dibalik manik biru tersebut. Yang mana aku tidak terlalu memperdulikan hal itu.
Dan kenapa aku tidak menjadikan Rosya sebagai ibu dari Anakku kelak, tentu saja aku tidak sudih karena dia hanyalah wanita yang mengincar harta dan kemewahan ku saja, Apalagi dia berani bermain api di belakang ku, aku sangat membenci wanita yang suka berselingkuh.
.....
__ADS_1
" Bos.. Perusahaan Janson Drc menanyakan kapan dia bisa bertemu dengan anda." Dengan hati-hati Roky bertanya karena sudah berjam-jam bosnya itu hanya diam saja, dengan mata yang tajam setelah membaca surat dari kakek Abraham.
Suara berat Roky membuat Aldrich tersadar dari lamunannya, lalu Aldrich pun membuang napas dengan kasar.
" Kau atur saja waktunya, dan cepat kau bawa Livy pulang ke mansion sekarang." Perintah Aldrich. Ingin marah tapi pada siapa? Kakeknya pergi ke Itali tanpa memberitahunya.
Flash back on
" Kakek bagaimana keadaan mu...?" Seru Aldrich bersemangat ingin memberi tahu kabar gembira, tapi semangat itu berubah kepanikan saat kakeknya sudah tidak ada didalam kamarnya.
Roky yang baru memasuki ruangan itu langsung terkena amukan dari bosnya. Dan juga beberapa ancaman dari bosnya.
" Saya tidak bohong bos, kakek tidak memberitahu apapun pada saya kalau beliau pergi berobat ke luar," Kilah Roky, rasanya ingin sekali Roky tertawa keras saat melihat wajah memerah bosnya yang sedang menahan marah dan bimbang, tapi tidak mungkin juga dia mengatakan yang sejujurnya apa yang sedang terjadi pada bosnya.
" Ini bos, saya menemukan surat ini di meja. " Roky menyerahkan selembar kertas pada bosnya, Aldrich langsung saja merebut surat itu dan mulai membacanya.
Maafkan kakek pergi tanpa menunggu mu dahulu, kau jangan cemas kakek di Itali berobat ditempat teman kepercayaan kakek yang bekerja sebagai dokter di sini, kakek ingin secepatnya sembuh dan kembali pulang menimang cicit, jadi sering-seringlah bergumul bersama istri mu biar Livy cepat hamil.
Semoga berhasil cucuku*
flash back and.
.
.
__ADS_1
.
.
Livy yang dikawal oleh tiga bodyguard Aldrich itu sudah sampai dipanthouse. Wanita itu duduk dengan santai di sofa sambil memegang ponsel di telinganya.
"Nici, nanti cepat kabari aku kapan ayah akan pergi meeting, dan ingat kata-kataku tadi," Jelas Livy.
" Siap nona." Jawab Nici patuh.
" Bagus, kembalilah bekerja Aku titip ibuku Nici." Livy berucap dengan wajah sendu. Tidak mau berlarut dalam kesedihan ia harus memikirkan cara untuk membuat ayahnya tersadar akan perbuatannya. Dan tentunya dengan bantuan dari bodyguard nya yang lumayan tampan itu.
" Kalian bawa dia ke mobil..."
Suara yang terdengar tegas itu mengagetkan Livy yang sedang memainkan ponselnya seketika ia mengangkat wajahnya dan membeku di tempat.
" K-kau... siapa?" Tanya Livy dengan nada terbata dan terkejut melihat sosok pria cukup terbilang tampan berwajah Chinese itu tengah menatap dirinya aneh.
Sedangkan bodyguard yang berada di dekat sofa hanya diam mereka bingung harus berbuat apa.
" Kenalkan. Aku Jack." Sapa Jack dengan ekspresi biasa saja seraya mengulurkan tangannya kearah Livy yang diam saja." ternyata cantik juga istri bos, pantas kakek langsung menikahkan gadis ini." Jack berbicara sendiri dalam hati.
" A-aku Livy, siapa kau? dari mana kau tau alamat rumah ini, kau bukan penculik kan, atau perampok, maaf kalau mau merampok kau salah sasaran, pemilik rumah ini tidak ada disini!" Rentetan pertanyaan keluar dari mulut Livy yang berwana merah muda itu. Hingga membuat jack yang memperlihatkan gerak bibir Livy langsung tertawa kecil.
" Ternyata benar rumor yang beredar, jika istri jadi-jadian dan super cerewet bos memang nyata. Menarik." Gumam Jack ada senyum tertarik pada nona manis di depan matanya ini. " Mari ikut dengan ku pulang ke mansion nona," Jack berbicara dengan nada tegasnya.
__ADS_1
" Mansion?" Beo Livy dengan wajah bingung nya, perasaan Aldrich tidak berkata apa-apa dengan nya tadi waktu bertemu." Maksud anda apa tuan Jack?" Livy yang masih bingung memasukkan ponselnya kedalam tas nya.