
" Hallo kek, mereka sudah sepakat sesuai rencana kakek," Lapor Roky dengan suara yang tegas.
" Good Roky kau memang patut diandalkan," Kakek Abraham tersenyum.
" Haha, tentu saja kek aku kan cucu kedua kakek hehe," Canda Roky terkekeh sembari meminum minumannya.
" Kau terus jaga mereka selama aku berada di Itali, kau tidak lupa tugasmu kan," Ujar kakek Abraham mengingat kan Roky akan rencananya.
" Siap kek, serahkan pada ku semua pasti beres, aku akan kesana sekarang mengambilnya," Balas Roky sembari beranjak pergi dari tempat tersebut.
" Baiklah." Kakek Abraham pun menutup ponselnya lalu memerintahkan kepada anak buahnya untuk menjaga mansion nya sampai cucunya nanti datang, kemudian diapun masuk kedalam mobilnya dan segera pergi menuju Bandara.
Roky kembali teringat saat dulu dirinya di tunjuk menjadi tangan kanan Aldrich diwaktu usianya masih menginjak remaja, dan disaat itulah kakek Abraham menjadikannya dari bagian dari keluarga Abraham untuk mendampingi Aldrich dalam menjalankan bisnis. Kakek Abraham pun sudah menganggap Roky seperti cucunya sendiri.
☘️☘️☘️☘️
Setelah menutup ponselnya, Aldrich kembali duduk di samping Livy yang masih diam membisu dengan ruat wajah yang tak bisa ditebak.
" Aku tahu kau pasti keberatan dengan syaratnya bukan!"Ucap Aldrich dengan menjentikkan jarinya didepan wajah Livy membuat Livy yang masih melamun itupun tersentak kaget, langsung mengedipkan matanya.
Livy menarik dan membuang napas nya dengan kasar.
" Ya, Aku masih bingung, aku merasa diriku ini seperti seorang gadis yang TERPAKSA MENIKAHI SEORANG MAFIA, coba kau pikir, aku bertemu dengan mu saat kau sedang mengejar orang jahat bukankah itu seperti Mafia dan aku di paksa menikah hari besok nya, tragis sekali hidup ku ini bukan, tuan!" Livy berbicara dengan wajah sendu tak bersemangat, mengingat kejadian awal dirinya bertemu dengan Aldrich, pria yang sekarang menjadi suaminya dan memintanya untuk memberikan anak tanpa ada cinta di antara mereka. Rasanya Livy saat ini berada di titik paling terendah.
" Pletak..." Aldrich menyentil kening istrinya dengan keras yang cerewet itu karena berkata nyeleneh, meskipun memang benar kenyataanya dia seorang Mafia, tapi tidak mungkin juga ia memberi tahu siapa dirinya yang sebenarnya pada Livy.
__ADS_1
" Aw.... Sakit tuan," Pekik Livy mengerucutkan bibirnya sembari mengusap jidatnya yang pastinya sudah memerah karena di sentil oleh Aldrich.
" Itu hukuman untuk mu karena ucapan mu tidak masuk diakal," Ujar Aldrich dengan suara datarnya.
" Ish... kau itu tidak bisakah bersikap--"
" Tidak!" Sahut Aldrich dengan cepat.
" Sudah jangan banyak bicara, cepat apa keputusan mu aku masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan," lanjut Aldrich menatap lekat wajah wanitanya dengan dalam. Lagi-lagi ia terpikat dengan mata biru milik Livy yang membuatnya ingin terus menatapnya.
Livy yang ditatap begitu dekat membuat detak jantung nya berdebar kencang dan bola matanya berputar-putar berusaha menghilangkan rasa kegugupannya.
Livy mendorong muka Aldrich dengan telapak tangannya agar menjauh dari wajahnya." Oke... Aku terima tawaran dari mu," jawabnya dengan cepat sembari tangannya mendorong muka Aldrich dengan telapak tangannya agar menjauh dari wajahnya.
" CK, tidak sabaran sekali kau ini, tapi aku minta satu hal padamu tuan, tidak ada hak mu memisahkan aku dari anakku nantinya." Pinta Livy dengan menanda tangani surat itu lalu ia berikan pada Aldrich dan menatap intens wajah pria tersebut.
Ya, Livy bertekad menerima perjanjian kontrak tersebut daripada dirinya tidak mendapat nilai mapelnya, meskipun dalam hati ia belum siap menjadi seorang ibu yang nantinya pasti tidak bisa berkarier seperti umumnya wanita single dan keinginan nya untuk menjadi seorang polwan yang handal menembak yang bisa bertugas di dunia Militer. Semua cita-citanya itu harus di kuburnya dalam-dalam.
Aldrich segera mengambil berkas itu dari tangan Livy dengan membalas tatapan Livy dengan senyum penuh arti. " Terserah kau saja." Balas Aldrich menoleh pada Roky yang sudah berada di sana, kemudian Aldrich mengambil ponselnya, langsung mengirim pesan singkat pada bodyguard nya.
" Bagiku kau tidak lah penting Livy aku hanya butuh dirimu untuk membuat kakek tetap bertahan hidup lebih lama bersamaku dengan adanya penerus ku nantinya yang kau kandung," Batin Aldrich menyeringai setidaknya dengan cara membuat Livy terpaksa menikahi dirinya dan hamil sedikit memberi pelajaran untuk Livy karena wanita itu sudah menggagalkan rencana dimalam itu, ya, walaupun tujuan lainya demi sang kakek.
" Mari tuan kita harus pergi." Ucap Roky dengan tersenyum pada Livy, namun senyum itu menghilang saat melihat ekor mata Aldrich yang meliriknya sangat tajam setajam pisau.
" Kau itu seperti jelangkung yang tiba-tiba muncul dan pergi..." Seloroh Livy membalas sapaan Roky dengan senyuman manis tanpa mempedulikan ekspresi wajah Aldrich yang dingin seperti tak suka melihat keakraban dirinya dan Roky.
__ADS_1
" Cih, sama pria lain tebar pesona, tapi dengan ku dia tidak pernah tersenyum," Sungut Aldrich dalam hatinya. " Tutup matamu atau kau sudah bosan hidup!" Ancam Aldrich pada Roky sembari berdiri dari duduknya.
" Orang kok galak, sangar lagi. Apa dia itu tidak bisa bersikap lembut sama orang," Gumam Livy dengan raut wajah sinis nya. Tapi itu hanya sesaat karena sekarang Livy nampak bingung dan ketakutan setelah melihat tiga pria mengenakan pakaian hitam tengah berjalan kearah mereka. " Eh tunggu tuan, bagaimana sama nilainya." Seru Livy menahan langkah Aldrich yang hendak pergi dari tempat tersebut, sembari membuka pesan masuk dari Petrik di ponselnya lalu menatap kearah ke-tiga bodyguard itu yang ada di hadapannya.
Aldrich pun langsung berhenti tanpa membalikkan badannya. " Mereka bertiga akan menemani kemampuan kau pergi,"Ada senyum licik dibibir nya. "Kalian bertiga jaga perempuan itu," Setelah mengatakan itu pada bodyguard nya Aldrich kembali berjalan dengan raut wajah tak terbaca dan meninggalkan Livy yang masih kebingungan di tempatnya berdiri.
Sedangkan Roky yang mengikuti Aldrich dari belakang sambil mengedipkan sebelah matanya pada Livy sebelum melangkah pergi. Dalam hatinya Roky sedang tertawa terbahak bahak melihat kecemburuan bosnya yang menjaga image nya didepan Livy.
"Roky! Kau sudah bosan hidup, ya!" Sarkas Aldrich yang mengetahui Roky tengah menggoda Wanitanya.
" Eh, masih ingin hidup bos," Sahut Roky menahan rasa ingin tawanya dengan menatap punggung tegap bosnya yang berjalan didepan nya.
Livy yang ditinggalkan oleh Aldrich hanya bisa menatap kepergian kedua pria itu dengan tatapan kesal bercampur bingung.
" Heh, dia itu selalu saja seenaknya," Gumam Livy memandang ke-tiga bodyguard nya yang sedang menatap pada dirinya dengan tatapan ramah dan sopan. jika dilihat dari dekat lumayan tampan bodyguard itu, sebuah ide pun muncul di benaknya Livy.
" Tunggu dulu, aku bisa memanfaatkan tiga pria itu untuk...?" Livy tengah berpikir sembari menatap kearah bodyguard itu dengan senyum penuh arti membuat ke-tiganya menjadi panik dan ketakutan seraya saling pandang dengan temannya.
" Apa yang sedang direncanakan sama nona ini"
" Oh sshhht! Apa dia ingin memakan kita hidup-hidup"
" Sialan tuan Aldrich mengumpankan kita pada nona psikopat ini"
Ketiga bodyguard itu saling melirik dengan raut wajah teramat panik dan mereka menelan salivanya dengan bersusah payah. Membuat Livy yang melihat wajah ketakutan mereka tertawa keras dan menggoda mereka dengan gaya anggun nya.
__ADS_1