
Setelah menghubungi Roky agar datang ke lokasi di jalanan sekitar Kafe black white dan memasangkan seltbeth untuk Livy, Aldrich kembali fokus kearah depan dan menajamkan matanya menyetir mobilnya.
" Bertahanlah Livy, aku akan membantu mu nanti." Lirih Aldrich, melirik Livy yang penampilannya terlihat berantakan dan wajahnya lesu akibat obat perangsang.
Dan tak butuh waktu lama, mobil hitam milik Roky pun terlihat sudah melaju di belakang mobil Aldrich, dan bisa di dengar dengan jelas di belakang sana sedang beradu tembak dan saling kejar-kejaran dengan mobil sedan berwarna hitam yang dikendarai seorang preman asing yang merupakan orang suruhan Petrik.
dor
dor
dor
Terdengar suara tembakan dengan keras nya memekakkan suasana jalanan kota di malam ini saling bersahutan.
" Bos, Aku akan membereskan mereka, jadi pergilah." Ucap Roky lewat alat komunikasi di telinganya, sambil menembaki mobil hitam di depannya bersama Jack yang membabi-buta ikut menyerang.
" Habisi mereka!" Sarkas Aldrich dengan dinginnya. melirik sinis mobil di belakang nya yang kewalahan menghindari serangan dari Roky dan Jack.
__ADS_1
" Beres bos." Aldrich menekan tombol on off di alat komunikasi di telinganya yang biasa digunakan setiap ia berkendara. Roky dan Jack pun melanjutkan melakukan penyerangan terhadap mobil preman asing itu.
Aldrich semakin mempercepat mengemudi mobilnya supaya cepat sampai di mansion. Membiarkan kedua anak buahnya menghabisi pria malang itu. Setelah melihat suasana kacau terjadi di tengah jalanan yang sepi dan sebuah mobil preman asing itu terguling-guling dan terbakar dilahap habis oleh api yang menyala meluap-luap melalui spion kemudinya.
"Arrgh! Kenapa kau selalu berurusan dengan para penjahat, Tuan?" Teriak Livy ketakutan, menutupi telinga nya, karena kembali syok mendengar suara mengerikan seperti malam dia bertemu Aldrich pertama kali.
" Livy kau tenanglah," Aldrich hendak memegang tangan Livy yang gemetar namun ditepis oleh Livy.
" Jangan sentuh Aku." Sentak Livy dengan emosi, karena jika kulitnya bersentuhan maka rasanya sangat menyiksanya dan menginginkan hal lebih. Aldrich pun tak menampik dia juga merasakan hal sama.
****
Ah.
Livy mendesah kecil, tatkala Aldrich berhasil menyentuh titik sensitif ditubuh moleknya yang sudah sama-sama polos tanpa sehelai benangpun, begitu pun juga dengan Aldrich Kini keduanya saling memangut dengan ganasnya diatas ranjang queen king size itu.
" Aku tidak tahan lagi." Bisik Aldrich dengan suara seraknya, ia memandangi dalam wajah istrinya yang terlihat lesu dan pasrah berkabut gairah.
__ADS_1
" Aldrich..." Livy menatap lekat wajah Aldrich dengan mata penuh hasrat keinginan.
" Aku akan melakukan nya." Aldrich kembali mencium Livy dengan rakus dan menuntut. Livy tak kuasa menghindar dan ikut membalas ciuman Aldrich, ini memang pertama baginya, rasanya begitu nikmat untuk dilupakan terlebih dia terbawa efek mabuk dan menikmati setiap sentuhan yang Aldrich berikan.
Dengan kabut gairah yang memuncak Aldrich mulai melakukan penyatuan dan memasuki milik istrinya, dan hal itu pun membuat Livy yang awalnya mendesah kini menjerit dan menangis.
" Sakit...!" Pekik nya, air matanya keluar begitu saja dikedua sudut matanya dan membasahi kedua pipinya yang berkeringat itu. Tanpa sadar Aldrich mengecupi bola mata istrinya penuh kasih, meskipun dibawah pengaruh obat, dia masih bisa membedakan dialah pria yang pertama memasuki istrinya.
" Kau..." Aldrich tak mampu berkata-kata lagi, Istrinya ternyata masih bersegel, dengan hasrat nya yang menguasai hingga Livy pun mengangguk mengiyakan setiap rayuan yang keluar dari mulut manis Aldrich. Keduanya yang di bawah pengaruh obat itupun nampak nya melupakan apa yang akan terjadi esok harinya.
Dingin nya cuaca di malam hari itu menjadi penyemangat bagi Aldrich dan Livy melakukan kegiatan percintaan panas mereka hingga Livy pun menerima nya dengan terus mendesah tak karuan di bawah kendali Aldrich, dan Aldrich pun melakukan berkali-kali t mendapat pelepasannya tanpa rasa lelah semalaman.
......
Prang....
Beberapa waktu kemudian, Disebuah ruang kerja yang cukup gelap itu, Petrik begitu marah dan membanting setiap semua barang-barang yang berada di sekitar ruangan nya itu, setelah mendapat kabar bahwa anak buahnya ternyata mampu dilumpuhkan dengan begitu mudah oleh Aldrich.
__ADS_1
" Sialan! Bagaimana bisa anak buahnya secepat itu membantunya." Umpat Petrik mencekeram gelas dipegangnya hingga pecah dan mengeluarkan setetes darah segar dari tangan nya.
" Kau yang mengibarkan bendera perang, Aldrich!" Geram Petrik, beranjak keluar dari ruangan nya.