Terpaksa Menikahi Seorang Mafia

Terpaksa Menikahi Seorang Mafia
part 30


__ADS_3

Tawa Aldrich pecah menggelegar memenuhi ruangan kamar. Barusan, Ia membuka handuknya dengan sengaja dan tanpa dosa hingga membuat Livy syok dan melarikan diri kedalam kamar mandi. Baru kali ini ia bisa merasakan sebahagia ini tertawa dengan lepas dan itu berkat Livy.


Suara deringan ponsel di atas sofa mengalihkan perhatian Aldrich yang sedang tertawa. Perlahan Pria itu mendekati sofa karena penasaran siapa orang yang menelpon istrinya.


Sedang, Livy yang berada didalam kamar mandi tak henti- hentinya menggerutu dengan semua umpatan untuk suaminya yang konyol.


" Oh my God! Itu tadi belalai gajah atau apa? Aku harus mencuci mataku ini dengan bunga tujuh rupa."


Dengan merilekskan tubuh nya dengan berendam di bathtub dengan air hangat guna menetralisir perasaan syok yang baru saja terjadi. Untuk sesaat ia termenung, tidak terdengar lagi suara tawa suaminya di luar sana, apakah Aldrich pingsan karena kelamaan tertawa? pikirnya terheran tapi ia tak mau ambil pusing memilih menikmati terapinya.


.


.

__ADS_1


Berbeda dengan Livy dan Aldrich yang tengah sibuk dengan kegiatan mereka. Di kediaman Janson yang berlantai dua itu tampak seorang wanita terlihat gelisah sedang menunggu kepulangan suaminya. Dan kegelisahan itu sirna ketika melihat lelaki yang dinantinya berjalan kearah dirinya disofa.


" Kau belum tidur? hari ini aku sangat lelah kumohon jangan berdebat." Ucap Janson setelah mencium pipi Melisa.


" CK, apa seorang istri tidak boleh menyambut suaminya pulang." Melisa berdecak melipat tangannya di dada." Ah iya, aku lupa jika kau tidak pernah peduli dengan ku dan Livy. karena hanya si jal lang itu yang ada di hatimu." Sindir Melisa dengan sinis.


" Mel...." Janson memasang wajah datar, ia tak habis pikir, tidakkah istrinya itu tahu, dia rela membiarkan sekertaris nya rapat sendirian di hotel dengan pak Al hanya demi menjaga perasaan wanitanya yang ia cintai. Meskipun ia pernah menyelingkuhi.


Tak bisa berkata lagi Melisa semakin menangis dalam pelukan Janson. Melisa membiarkan Janson mencurahkan perhatian nya yang ia rindukan selama ini dan sisi lain ia juga mencemaskan keberadaan putrinya.


" Aku sudah menelpon semua teman-temannya? Tapi tidak ada satupun dari mereka yang tau dimana Livy?" Melisa menyeka air matanya dan menatap lesu Janson.


" Termasuk Ana juga?"

__ADS_1


" iya. Janson?"


"Aku rasa ada yang salah? Walaupun kecelakaan itu sangat tidak mungkin dan beritanya pasti berita nya akan tersebar di media. " Janson berhenti sesaat menatap ponselnya yang berdering." Sebentar," lalu ia mengangkat panggilan teleponnya.


" Hallo Tuan Janson, saya Roky ingin menyampaikan pada Anda jika Tuan Aldrich ADC Group bersedia bertemu dengan Anda" Jelas Roky dengan tegas di seberang sana.


Keberuntungan bagi Janson, Dia berniat menelpon perusahaan ADC Group justru dari pihak mereka lebih dulu menghubungi nya.


" Kabar yang sangat saya harapkan Tuan Roky. beritahu saja dimana tempatnya dan kapan? ." Jawab Janson, ada rona bahagia di wajah nya membuat Melisa menatap penuh selidik pada suaminya.


" Baik, Saya kirim alamat nya," Setelah berucap Roky menutup panggilan nya kemudian mengirim Sherlock dimana nantinya mereka akan bertemu.


Janson pun langsung membaca pesan yang dikirim oleh Roky. Melisa sedari tadi meminta penjelasan dari suaminya yang tak kunjung dijawab.

__ADS_1


__ADS_2