
Livy terdiam, sebenarnya Livy tidak ingin menuduh sembarangan terhadap seseorang, tetapi setelah tahu pria tua itu mengenal ibunya, Livy sangat yakin jika malam itu, dialah Pria yang berduaan dengan sang ibu dirumahnya.
" Jadi dia Ayahmu?" Tanya Livy pada Ana dengan tajam.
" Iya Livy, dia ayahku Dico, yang waktu itu aku ceritakan padamu. Ada apa?" Jawab Ana dengan wajah bingung melihat Livy yang terlihat emosi.
deg
Livy menatap jijik pada Dico dan Ana secara bergantian.
" Ana kau tahu, dialah pria yang merusak keluarga ku. Aku tidak menyangka dunia ini ternyata begitu sempit. Padahal Anda punya Putri, tapi kenapa anda tidak berperilaku mencerminkan kebaikan, dasar pria tidak bermoral." Ucap Livy dengan suara meninggi membuat semua orang tercengang mendengar nya.
Dico memberi isyarat pada Ana untuk diam tidak menjawab ucapan Livy. Dico mengerti Gadis itu sedang emosi menganggap dirinya pria pebinor Padahal yang sebenarnya dia hanya membantu Melisa pada malam itu.
" Tunggu sebentar Livy, seperti nya kamu sudah salah paham. Saya tidak seperti yang kamu pikirkan, Ibumu Melisa waktu itu-"
__ADS_1
" Cukup. Aku tidak sebodoh itu, Aku bisa lihat mana yang sedang berakting dan sungguhan. " Potong Livy dengan cepat. " Ana aku kecewa padamu!" Livy berteriak sambil menahan tangisnya kemudian berlari kecil menuju kampus meninggalkan mereka semua. Aldrich melihat raut wajah sedih Livy hanya berekspresi datar dan dingin.
" Livy tunggu dulu...." Teriak Ana. " Ayah aku harus pergi, Ayah berhutang penjelasan dengan ku nanti." Setelah berkata begitu Ana langsung berlalu pergi menyusul Livy ke kampus.
" Maafkan saya atas kejadian ini, seperti itulah sikap ABG jaman sekarang, berbicara tanpa disaring dahulu asal bicara. Tapi ngomong-ngomong, bagaimana bisa kamu bisa bersama Livy teman putriku, Al?" Ucap Dico merasa bersalah membuat suasana menjadi menegang. Dan juga Dico merasa penasaran dengan Aldrich dan Livy yang terlihat memiliki hubungan dekat, terlihat dari cara Aldrich yang tidak mengalihkan tatapan matanya samasekali pada Livy tadi. Padahal melihat kesuksesan rekannya itu, Dico berencana mengenalkan ana dengan Aldrich.
" Bukan masalah Kolonel." Sahut Aldrich dengan suara datar. Ia tidak suka Wanitanya tersakiti meskipun ia sendiri tidak tahu seluk beluk yang terjadi sebenarnya, Aldrich akan memastikan mencari tahu penyebabnya.
" Jack... kenapa kau masih disini! Cepat pergi!" Bentak Aldrich dengan tatapan membunuhnya menatap kearah Jack yang hanya diam berdiri ditempatnya.
Tindakannya tersebut pun tak lepas dari perhatian Dico yang semakin bertambah curiga terhadap Aldrich.
" Bagaimana jika kita mencari Kafe terdekat untuk ngopi bareng Tuan, Dico." Tawar Roky setelah di beri kode oleh Bosnya agar segera menyelesaikannya masalah yang sedang terjadi.
" Ide bagus Roky, bukan begitu Al." jawab Dico dengan senyum tipis.
__ADS_1
" Mari kolonel. " Sahut Aldrich mengajak Dico untuk beranjak pergi dari tempat tersebut.
" Mari..."
Mereka pun pergi dari lokasi kampus dengan menaiki mobilnya masing-masing.
.
.
.
Setelah tiga jam mengikuti pelajaran kuliah di kelasnya, Livy kini akhirnya selesai mengikuti mata kuliahnya dan kembali keluar dari kampus, dan baru saja sampai di depan Jack menatap dirinya tanpa ekspresi apapun dan juga temannya Ana sudah menunggu di parkiran dengan wajah menyedihkan.
" Livy plis dengarkan penjelasan dari ku." Pinta ana memohon.
__ADS_1