
ceklek.
Livy berjalan menuju sofa, sambil kedua matanya menelisik seluruh sudut kamar, mencari sosok Aldrich yang tidak terlihat di dalam kamar tersebut.
" Kemana dia perginya," Gumam Livy yang terkejut melihat lima panggilan tak terjawab dari Petrik dan sebuah pesan di ponselnya.
Aku tunggu di tempat biasa sayang, bisakah kau datang, ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan mu, Di kafe black white.
Tanpa berpikir lama-lama, Livy bergegas keluar dari mansion, karena memang dirinya sudah berpakaian dan mengenakan jaket hangat nya. Namun sesampainya di depan pintu, sudah ada Aldrich yang membukakan pintu mobil untuknya.
" Aku berpikir, makan malam diluar tidaklah buruk...." Dengan memasukkan sebelah tangannya disaku celana Aldrich berkata dengan wajah datar menatap kearah Livy.
Deg
Livy yang terkejut dengan perlahan berjalan mendekati Aldrich yang nampak mencurigakan. Ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada Aldrich jika ingin bertemu dengan Petrik.
" Tapi..." Livy memutar otaknya berpikir mencari alasan yang tepat untuk menolak ajakan makan malam Aldrich.
__ADS_1
" Masuk..." Teriak seorang pria dengan suara kerasnya dari dalam mobil. Sontak membuat Livy yang terkaget langsung menundukkan wajahnya kearah pintu mobil yang terbuka, dan ternyata Aldrich sudah berada didalam mobil tengah menatapnya dengan tajam.
" Baiklah.." Dan mau tidak mau Livy pun masuk dan duduk di samping Aldrich. Yang mulai melajukan mobilnya keluar dari halaman mansion. Setelah merasakan mobilnya bergerak, Livy mengambil ponsel dan mengirimkan pesan pada Petrik.
chat
Livy
: Petrik. Jalanan begitu padat, kemungkinan aku datang sedikit terlambat tidak apa-apa, kan?
Petrik
Livy
: Thanks, bye sweety 🤗
Setelah membalas pesan Livy menatap keluar jendela mobil dengan perasaan tidak menentu. Di tempat lain ada Petrik yang sedang menunggu nya. dan saat ini ia bersama Aldrich akan dinner. Entah mengapa Aldrich malam ini terlihat aneh, Livy merasa ada yang tidak beres kenapa acaranya bisa terjadi secara bersamaan.
__ADS_1
.
.
" Ayo turun..." Setelah mobil yang mereka tumpangi sampai di depan kafe Black white, Aldrich membawa Livy masuk kedalam kafe dan memesan beberapa makanan. Aldrich sengaja memilih meja paling pinggir dekat jendela agar bisa memandangi keindahan kota dimalam hari dari tempat nya saat ini.
" Ini serius, kau memesan sebanyak ini." Pekik Livy, menunjuk puluhan piring makanan di atas meja. " kita cuma berdua tuan, siapa yang akan memakan ini semua?" Ujar Livy tak percaya memperhatikan seluruh sudut kafe yang ia rasa tidak asing tersebut.
" Inikan kafe black white." Batin Livy teringat akan sesuatu, tidak mungkin kan kalau mereka satu kafe dengan Petrik, pikir Livy. " Apa istimewanya tempat ini, aku pikir selera mu kurang berkelas." Sindir Livy dengan gugup melihat sekelilingnya dan detik itu juga pandangan matanya terhenti pada seorang lelaki di meja pojok ruangan terlihat pria itu beranjak berjalan kearah dirinya dan Aldrich.
" memangnya kenapa? Apa ada masalah dengan Kafe nya? Kita bisa mencari kafe lain bila kau menginginkan nya," Ujar Aldrich tersenyum penuh arti, melipat kedua tangannya di dada.
" Kau mendengar ku tidak.." Seru Aldrich dengan kesal, karena Livy hanya diam melamun saja mengacuhkan ucapan nya.
Livy yang tersadar hendak membuka mulutnya, tubuhnya semakin bergetar saat melihat Petrik yang sudah berada disisi mejanya terlihat jelas raut wajah kecewa pria itu.
" Maaf Tuan, apa seperti itukah caramu memperlakukan wanita?" Petrik berbicara dengan keras menatap punggung pria itu, ia tidak menyukai pria itu berani membentak kekasihnya Livy.
__ADS_1
" Petrik..."
Livy berbicara dengan wajah paniknya menyadari suasana di sekitar mulai menegang. Terlihat dari sorot mata tajam kedua pria itu terasa begitu mencekam.