Terpaksa Menikahi Seorang Mafia

Terpaksa Menikahi Seorang Mafia
part27


__ADS_3

"Menarik, dalam waktu singkat dia bisa berganti mobil. Jack, kau selidiki lagi tentang Petrik secepatnya. " Titah Aldrich. Karena masih penasaran siapa sosok Petrik yang berkuliah di universitas yang sama dengan istrinya. Aldrich yakin hanya orang berkuasa yang bisa bertindak sehebat itu.


" Siap Bos." jawab Jack.


" Bagaimana dengan pesan yang kau kirim." Tanya Aldrich.


" Itu masalah nya Bos, Aku sudah mengirim nya sesuai alamat yang anak buah ku dapatkan, tapi mereka tidak membalasnya dan tidak ada berita apapun di media massa seminggu ini." Balas Jack.


" Kau yakin," Timpal Roky dan dijawab anggukkan kepala oleh Jack.


" Dasar Pria tak berhati nurani, padahal itu anak buahnya tapi dia tidak peduli, kau selidiki terus Jack dan jangan bertindak gegabah. Lalu berkas tuan Janson mana Roky?" Ucap Aldrich memberi tahu.


" O, ya. Aku hampir lupa, tunggu sebentar aku ambilkan dulu." Pekik Roky langsung beranjak keluar mengambil berkas yang sudah ia selidiki beberapa hari terakhir ini. Tak lama kemudian Roky kembali masuk keruangan Presdir lalu memberikan amplop coklat tersebut pada Aldrich." Ini Bos, berkasnya."


" Kerja bagus." Kata Aldrich sambil membaca satu persatu lembar kertas yang berisi data identitas dan informasi sekaligus beberapa foto yang berhasil di cetak dan dilacak oleh Roky melalui hacker nya dengan menggunakan bukti chips yang ada didalam amplop sebelumnya.

__ADS_1


" Mereka berdua sangat mirip tapi mukanya berbeda." Aldrich menatap dua foto di tangan nya. Satu foto Petrik yang sedang mereka cari dan satunya lagi foto Petrik teman sekampus Livy.


" Yang benar Bos," Roky yang penasaran ikut mendekat dan melihat foto itu." Apa mungkin mereka kembar Bos," Tebak Roky memegang dagunya sambil berpikir keras. Apa iya dua Petrik orang yang sama namun wajahnya berbeda.


Aldrich dan Jack yang melihat tingkah Roky itu menjitak kepala Roky secara bersamaan.


" Pletak" Roky pun langsung berteriak.


" What the **** me! apa salahku, kau membuat otak ku yang cerdas ini buyar!" Umpat Roky sambil mengusap kepalanya yang terasa nyeri. Sudah menjadi kebiasaan Bosnya Aldrich dan temannya Jack.Ya Jack, yang bergabung di clan mereka sejak satu tahun silam. Keduanya memang senang sekali mengintimidasi dirinya sejak dulu, Tapi, Roky tak mempermasalahkan hal itu ia menganggap perlakuan itu merupakan kasih sayang mereka terhadap dirinya meskipun caranya mengesalkan.


" Oh.. Ayolah Bos, Jack. Aku ini tidak sebodoh itu asal kalian berdua tau--" belum sempat Roky menyelesaikan ucapannya kedua pria itu lebih dulu menyelanya.


" Telmi...." Sahut Aldrich dan Jack dengan keras. Kemudian ke-tiga pria itu tertawa dengan kerasnya saling menatap tajam satu dan lainnya. Hingga berapa menit tawa mereka terhenti dan suasana di ruangan tersebut berubah tegang dan dingin ketika Aldrich kembali nampak serius membahas topik pembicaraan mereka.


.

__ADS_1


.


Di tempat lainnya Livy yang merasa bosan berada didalam kamar yang cukup luas itu. Sudah berjam-jam Livy hanya tiduran di kasur, bolak-balik bersantai di balkon kamar nya sampai bosan dan akhirnya Wanita itu mengikat rambut pirang nya tak lupa mengenakan jaket kulitnya kemudian memutuskan untuk pergi keluar jalan-jalan mencari udara segar.


" Nona kita mau pergi kemana," Tanya neck. Bodyguard yang Livy sebut lumayan tampan itu sedang mengemudikan mobilnya membelah jalanan kota Amerika yang terasa begitu dingin dimalam hari.Ya, hanya Neck saja yang menemani Livy karena yang lainnya berjaga di mansion.


Livy menoleh lalu seraya berbisik sesuatu di telinga neck yang kemudian wajah neck berubah menegang dan pucat. Dan tanpa berbicara neck langsung menambah kecepatan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke sesuatu tempat. Tak perlu memakan waktu lama mereka kini sudah tiba di sebuah hotel berbintang.


" Kau lihat gadis pendek, jelek makeup nya setebal gunung salju itu neck, yang lagi berjalan bersama pria berumur." Ucap Livy menunjuk kearah seorang wanita dan pria sedang berjalan beriringan memasuki pintu hotel mewah tersebut dengan si wanita bergelayut di lengan si pria tanpa rasa malu.


" Lihat Nona, dia lumayan cantik." Kedua mata Jack mengikuti arah tatapan mata Livy kearah loby hotel. " Lumayan lah bisa cuci mata." Batin Neck berbicara sendiri ia merasa beruntung plus dapat bonus gratis meniduri wanita itu nantinya.


" Cepat turunlah! Aku akan memberimu hadiah fantastis kalau hasil kerja mu memuaskan, kau ingat baik-baik yang kukatakan tadi." Ujar Livy mengedipkan satu matanya pada Nick dan Nick pun tidak berani menganggapnya serius, ia bisa mati berdiri oleh bosnya Aldrich jika hal itu terjadi sungguhan.


Sesuai perintah, Nick segera menyusul Janson dan sekertaris pria itu masuk kedalam hotel dan menyelesaikan pekerjaan nya secepatnya. Ya, dua insan tadi itu adalah Ayah Livy dan sekertaris nya yang bekerja di kantor Janson. Dengan melihat pemandangan menjijikan di depan matanya barusan membuat Livy merasa muak. Livy memilih menunggu di dalam mobil sembari tiduran di jok belakang dengan memainkan ponselnya. Baru saja beberapa menit Livy terpejam, tiba-tiba kaca jendela mobil di ketuk dari luar.

__ADS_1


" Tok..tok..."


__ADS_2