
"selamat pagi....."
selamat pagi juga evelin, kau ingin minum kopi atau teh?" arra hari ini bangun lebih pagi karna sekarang dia menumpang, arra ingin berbalas budi pada evelin yang telah baik denganya, dan ketika dia sedang membuat sarapan, dia dikejutkan oleh evelin yang menyapanya dari belakang.
"emmmmm hooooaaAAAAAMMMM!!!!!!, minum teh enak kayaknya, tapi aku cuci muka dulu," evelin kemudian berjalan dengan sempoyongan ke kamar mandi yang berada didekat dapur
"baiklah aku siapkan dimeja nanti" arra segera menyiapkan segelas kopi dan 2 potong sandwich, kemudian arra melanjutkan beres beres rumah.
"arra kemarilah!!!!!"
ketika arra sedang menyapu teras rumah evelin memanggilnya, arra pun bergegas menemui arra didapur.
"ada apa evelin? aku sedang menyapu teras tadi."
"lihat jam berapa" evelin menunjuk jam dinding yang berada di samping kiri arra, "kau tidak kuliah? ini sudah siang."
arra melihat jam yang ada di dinding menunjukan pukul setengah sembilan pagi, arra kemudian mengatakan apa yang telah dia pikirkan dari semalam
"evelin aku tidak ingin kuliah lagi, kau tidak perlu menghabiskan banyak uang untuk biaya kuliahku." arra berkata dengan pelan
"wwwwhhHAATTTT!!!! kenapa kau tidak mau kuliah, sudah ku bilang kau tiak perlu memikirkkan biayanya."
"evelin, selama ini aku kuliah karna aku dapat tempat tinggal, lagipula tidak ada yang mernerimaku di sana, lebih baik aku urus rumah sebelum bekerja."
"kau bukan pembantu disni arra, berhentilah bersikap seperti pembantu, aku tidak mau tau, kau harus tetap kuliah, jika kau tidak mau kuliah, lebih baik kau pergi."
"evelin aku tidak mau kuliah lagi, jika kau memaksa lebih baik pergi."
"kenapa kau begitu keras kepala arra, aku memikirkan kebaikanmu, tapi kenapa kau seperti ini?"
"untuk apa aku kuliah lagi, aku tidak mempunyai seorang temanpun disana, aku hanya akan dimaki maki disana, aku hanya anak pelac.r yang dibuang karna sebotol vodka, memang seharusnya aku tidak pernah berada disana," tubuh arra bergetar hebat setelah berkata seperti itu.
evelin segera bangkit dari duduknya dan mendekat ke ara, "arra maafkan aku, aku hanya kau melanjutkan kuliahmu, itu saja tidak lebih" evelin berkata sembari memegang bahu arra, "maaf jika aku terlalu memaksamu."
"aku tidak apa apa evelin, maaf jika aku bicara terlalu banyak."
"santai saja arra, ya sudah selesaikan pekerjaanmu, kemudian mandi, aku mau mengajakmu keluar."
"kemana?" tanya arra heran.
sudah tidak usah banyak tanya, aku mau mandi juga," jawab evelin sebelum kemudian evelin kembali kekamarnya.
arra yang bingung hanya bisa menyelesaikan pekerjaannya yang tersisa lalu kekamarnya untuk mandi dan bersiap siap.
****
"weiiiiissss ada yang baju baru ni," patrice berkomentar dengan senyum menggoda ketika melihat arra masuk kedalam minimarket menggunakan baju yang masih terlihat baru, bahkan arra tampil lebih cantik hari ini dengan gaya rambut bergelombang indah.
"kau habis belanja arra, kok gak ngajak ngajak aku," kata patrice kemudian.
"emmm ini evelin yang membelikannya, kenapa kau melihatku seperti itu, apa aku terlihat aneh," kata arra karna melihat patrice yang melihatnya dari atas sampai bawah.
"tidak, kau terlihat cantik arra, aku sampai tidak mengenalimu jika tidak melihatmu izin dengan miss.sofi tadi hehehe," kata patrice dengan terkekeh pelan.
"berhentilah membual patrice."
__ADS_1
"beneran arra, kau memang terlihat cantik,"
"padahal aku merasa aneh dengan penampilan ini, patrice apa menurutmu tidak aneh jika evelin mebelanjakan begitu banyak pakaian untukku."
"emmm sebenarnya sedikit aneh juga, apa alasannya membelikanmu banyak pakaian."
"aku juga tidak tau alasannya, bahkan dia juga membelikanku beberapa pasang sepatu, tas, make up, handphone, bahkan peralatan untuk memainkan game yang sama dengan yang kau mainkan juga dia belikan."
"kau serius arra?! kau tidak berbohong denganku kan.!!"
"aku tidak berbohong patrice, ini handphone yang baru di belikan olehnya," kata arra sambil memperlihatkan handphone barunya di depan patrice.
"ini" nafas patrice tertahan sebentar ketika melihat handphone baru arra, "arra kau tau ini handphone terkenal dan ini seri terbaru, harganya sangat mahal, dan dilihat lagi, semua yang menempel dibadanmu dari atas sampai bawah semua adalah barang mahal," kata patrice ketika melihat arra lagi.
"emmm benarkah, tadi pagi evelin mengajakku berbelanja, aku tidak tau karna aku tidak ikut membeli handphone itu, aku hanya ikut memilih baju saja, aku ditinggal di salon kecantikan dan ketika evelin kembali membawa handphone itu."
"aneh, kenapa dia terlalu baik denganmu ya, padahal dia membiarkanmu tinggal dengannya saja sudah aneh, sekarang dia membelanjakan dirimu sebanyak itu," kata patrice heran.
"aku juga tidak tau,"
"arra, jika kau belum ingin bekerja jangan mengajak patrice mengobrol, lihat sampai saya yang melayani pembeli," miss.sofi tiba tiba muncul dari balik rak.
"maaf miss.sofi, saya akan mulai bekerja," jawab arra buru buru kemudian pergi keruang ganti.
"kembalilah bekerja patrice, nanti sebelum kamu pulang ajak arra menemui saya, hari ini kalian gajian"
"baik miss.sofi."
patrice kemudian kembali bekerja setelah miss.sofi pergi, setelah arra keluar dari ruang ganti dia memberi tau ke arra jika hari ini gajian, setelah itu mereka kembali sibuk bekerja.
"emmm ini gajimu patrice, karna kamu bekerja dengan baik, ini ada sedikit bonus untukmu," miss.sofi menyerahkan uang yang menjadi gaji dan bonus patrice
"terimakasih miss.sofi," kata patrice dengan tersenyum lebar.
"ya sudah kau boleh pulang, ada yang ingin saya bicarakan dengan arra." kata miss.sofi lagi.
"emmm baik miss," patrice kemudian pergi keruang ganti.
"emmm arra begini, dulu saya menerimamu bekerja disini karna dulu kondisimu tidak baik, tapi sekang kondisimu berbeda, jadi mulai besok kau tidak perlu bekerja disini lagi," miss.sofi tidak berbasa basi setelah patrice pergi.
"miss.sofi kenapa tiba tiba seperti ini, apa saya melakukan keslahan, saya mohon biarkan saya tetap bekerja disini," kata arra dengan wajah memelas.
"maaf arra, pajak yang ditetapkan pemerintah semakin tinggi, saya tidak bisa mengeluarkan uang untuk menggajimu lagi, bahkan jika ibu patrice adalah kenalan saya, patrice juga akan saya pecat.
"jika begitu biar saya digaji separuh seperti dulu miss.sofi, saya mohon,,,, saya butuh pekerjaan ini," arra berkata dengan mata yang telah berkaca kaca.
"maaf arra, keputusan saya sudah bulat, mulai besok anda tidak perlu bekerja lagi di sini."
"emmm baiklah miss.sofi," kata arra dengan terisak dan kepala menunduk.
"yasudah ini gaji dan bonusnya, terimakasih sudah bekerja dengan baik disini," jawab miss.sofi dengan menyodrkan uang ke arrah arra, arra hanya mengangguk pelan dan pergi kembali bekerja tanpa mengatakan apapun, miss.sofi hanya menghela nafas pelan ketika arra sudah kembali bekerja.
*****
setelah pulang dari bekerja, arra langsung mengurung diri dikamar, ketika evelin mengajak untuk makan malam arra bilang dia tidak lapar.
__ADS_1
didalam kamar arra sedang memainkan handphone barunya, dia sedang menyimpan nomor patrice, ketika dia ganti baju di minimarket sebelum pulang, dia menemukan secarik kertas yang berisi nomor patrice disela sela lipatan bajunya.
setelah menyimpan nomor patrice, arra kemudian menelpon patrice, tapi setelah deringan tetakhir berakhir, tidak ada jawaban juga.
karna tidak ada jawaban, arra kemudian berjalan ke kamar mandi untuk mandi, namun ketika dia ingin beranjak, handphonenya berdering, dan nama patrice tertera disana, arra segera mengangkat telfon dari patrice.
"hallo patrice"
"halo arra, ini nomormu, aku kira siapa tadi"
"emmm patrice aku ingon cerita, aku tadi dipecat oleh miss.sofi."
"serius!!!! kok bisa?"
"ia miss.sofi bilang pajak yang diberikan pemerintah lebih tinggi."
"emm untung aku juga tidak dipecat juga, tapi pasti sepi jika tidak ada kamu di minimarket."
"emmm aku juga tidak tau patrice, aku curiga itu hanya alasan miss.sofi untuk memecatku."
"kenapa kau bicara begitu, emang berita di televisi memang pemerintah menaikkan pajak 4 kali lipat untuk usaha dan bangunan."
"benarkah, tapi anehnya tadi siang evelin juga memaksaku untuk berhenti bekerja, aku pikir dia yang membuat miss.sofi memecatku."
"aku rasa tidak seperti itu arra, sudahlah tidak perlu kau pikirkan, lebih baik kau nikmati saja waktumu dirumah evelin."
"emmm sebenarnya aku ingin tetap bekerja, aku tidak mau terus bergantung dengannya."
"sudahlah arra, nikmati saja apa yang dia kasih padamu, toh kamu juga tidak pernah memintanya, eh tapi ngomong ngomong apa pekerjaannya sebenarnya."
"entah aku juga tidak pernah bertanya dengannya."
"emmm ya sudah kalau begitu, besok lagi ya, aku ingin main game second world.
"emmm baiklah, mainlah sana, aku lagi mau cerita malah kamu tinggal main."
"hehehe, bukankah, evelin juga membelikan mu perlatannya, kenapa kau tak habiskan waktumu bermain game saja, kita bisa berpetualang bersama nanti."
"emmm aku tidak berminat patrice."
"hahahhaha terserah kau sajalah, kabari aku jika kau ingin bermain, bye arra."
"bye patrice"
tuuuut (SFX: telfon ditutup)
setelah telfon ditutup arra berjalan kearah komputer yang ada di kamarnya, dia mengambil kotak yang sebesar kepala orang dewasa "VR-MMORPG, VR CABLE FOR SECOND WORLD GAMES" guman arra dengan pelan ketika membaca tulisan dikotak itu.
"apa aku coba saja ya," arra mulai bimbang ingin memainkan game second world atau tidak.
"emmm tapi aku tidak tau cara memakai alat ini, tadi waktu penjaga toko yang menjual alat ini menjelaskan cara makainya, tidak aku dengarkan dengan jelas, besok saja aku memainkannya, sekalian aku tanya cara makai alat ini pada evelin," arra kemudian pergi kekamar mandi untuk membersihkan badannya.
tanpa arra sadari, ketika dia berbicara dengan patrice, evelin mendengarkan pembicaraannya dengan memasang senyum lebar, setelah arra masuk kekamar mandi, dan terdengar gemricik air, evelin kemudian masuk kekamarnya dan menghubungi seseorang.
"semua sesuai dengan yang kau mau"
__ADS_1