
"kau ingat pulang?"
tubuh selena membeku ketika mendengar suara kakaknya dari balik sofa ruang tamu,
'mati aku, kenapa dia ada di rumah, bukanya dia sedang diluar negri' grutu selena dalam hati, yang menghardik selena adalah kakaknya, benjamin. tadi pagi memang dia sempat pamit dengan selena akan keluar negri untuk perjalanan bisnis.
"kak.."
"kemari"
belum semoat selena menyelesaikan kata katanya, kakaknya sudah memotongnya.
selena dengan keraguan mendekati kakaknya, dia segera berdiri didepan kakaknya, dia bisa melihat ada tumpukan kertas dimeja tamu.
"darimana?"
"dari rumah anete, ada tugas kuliah," kata selena berusaha semeyakinkan mungkin.
"sampai jam setengah empat pagi?"
"emmm i..ii...iya, banyak soalnya hehehe" katanya lagi sambil cengengesan.
"emmm begitukah, apa kau mengerjakan tugas kuliah sambil minum alkohol, heemmmm"
"....." selena mati kutu ketika kakaknya tau dia habis minum, 'habislah aku' katanya dalam hati
melihat selena hanya diam saja, benjamin mengambil 4 buah lembar kertas dari tumpukan paling bawah lalu melemparkan kewajah selena.
"braaaak"
selena bahkan termundur karna kaget, ketika dia melihat kertas yang berserakan dilantai, tubuhnya membeku ketika melihat kertas itu berisi daftar nilai studinya, dia ingin menangis saat ini juga.
"kau mengerjakan tugas kuliahmu sampai jam empat pagi, tapi semua mata kuliahmu beRNILAI E!!!!!" kata benjamin dengan berteriak sambil menunjuk muka selena.
selena hanya menunduk ketakutan melihat sikap diktaktor kakaknya, dikeluarganya memang kakaknyalah yang berkuasa, bahkan ayahnya tidak bisa berbuat apa apa ketika kakaknya sudah mengamuk.
"lebih baik kau jual saja otakmu jika tidak pernah kau pAKAI!!!!!" sembur benjamin lagi.
"kakak ak..."
"apa kau benar benar adikku? apa kau yakin kau bukan dipungut dari tempat sampah atau tempat lainnya?" tanya benjamin.
selena hanya menunduk dan manangis terisak, memang dari 3 bersaudara dirinyalah yang selalu jadi biang masalah dan jadi aib keluarga, selena terus menunduk dan menangis mendengar kakaknya mengomelinya.
benjamin terus mengomel dan mengatakan hal buruk tentang adiknya, tidak peduli adiknya terus menunduk dan terisak, tapi karna sudah tidak tahan lagi dengan mulut pedas kakaknya, selena meledak juga dan memaki kakanya yang masih terus mengomel padanya.
"mulutmu terlalu tajam untuk seorang laki laki kepar.t!!! lebih baik kau pulang ke amerika dan urus saja dirimu sendiri!!! lihat dirimu?! kau bahkan belum punya pasangan sampai sekarang!!! perempuan mana yang mau denganmu!!! haaa!!! laki laki baj..."
"plaaAAK!!!"
sebelum selena menyelesaikan kata katanya, benjamin sudah berdiri dan menampar pipi kirinya dengan keras, cukup keras hingga membuatnya jatuh terduduk dengan pandangan berkunang kunang, belum cukuo dengan rasa perih dipipinya, rambutnya sudah dijambak kakaknya membuatnya mendongakkan kepalanya, membuat tatapannya bertemu dengan wajah kakaknya yang memerah karna emosi.
"JIKA AKU TIDAK HARUS MENGURUS BAYI SEPERTIMU!!! JIKA AKU TIDAK HARUS MENGURUSI SAMPAH SEPERTIMU!!! AKU PASTI SUDAH MENIKMATI HIDUPKU SENDIRI!!! KAU TAU ITU!!!!! TIDAK TAU DIRI!!!! SELESAIKAN SEMUA NILAIMU SIALAN!!!" seru david seraya mengarahkan kepala adiknya dengan kasar ke arah nilai studinya.
benjamin melepas jambakannya di rambut selena dan naik ke lantai dua tempat kamarnya berada meninggalkan selena yang terus memakinya.
benjamin terus berjalan dan berusaha tidak peduli dengan makian serta umpatan dari adiknya. sebenarnya hatinya terasa sakit mengatakan hal buruk maupun dari tindakan kasarnya pada selena.
__ADS_1
mau bagaimanapun selena adalah adiknya, walaupun terlihat kasar dari luar, dari lubuk hatinya yang terdalam dia menyayangi selena, tapi karna sifat keras kepalanya memaksanya harus keras pada adiknya itu.
........
kantin, universitas lili 8 : 30
"selena tidak berangkat juga?" tanya chalisa ke annet yang sedang sibuk dengan makananya.
anete hanya mengangguk menjawab pertanyaan chalisa karna mulutnya sibuk mengunyah.
"kemana tu anak, david juga tidak berangkat, apa mereka sedang kencan? coba aku telfon deh"
chalisa kemudian mengeluarkan handphonenya dan menelpon selena, tapi sampai dering terakhir tidak ada jawaban.
"coba telfon chentia, mungkin dia sedang bersama selena," kata anete dengan mulut penuh makanan.
menuruti kata anete, chalisa kemudian menelfon chentia, tapi sama seperti selena, sama sekali tidak ada jawaban.
"mungkin chentia masih bersama anthony," kata anete lagi sambil merapikan bungkus makanannya dan membuang tong sampah yang tidak jauh dari tempat duduknya.
"enggak asik ni, keluar yuk, males aku kuliah kalau enggak ada mereka," kata chalisa ke anete.
"enggak ah, aku harus susun tugas, rencana aku siang nanti mau kerjain."
"ayolah anete, besok besok ajalah, kamu mau kemana? makan apa? aku yang bayar deh."
"enggak ah, jangan ngajari yang enggak enggak chalisa, aku sudah telat dua minggu, aku enggak mau gagal lulus," kata anete tetap kekeh dengan pendiriannya.
"gak asik ih, ayolahhhh!!" kata chalisa dengan beraya menarik tangan anete.
"enggak chalisa, udahlah aku mau masuk kelas," kata anete seraya berdiri dari duduknya dan berniat pergi kekelas.
"tugas dari mr.gilbert, kenapa kau mau ngerjain, nilaimu lebih parah."
"si.lan kau anete, menghina lagi," seloroh chalisa, "udahlah ayok keluar, lagian paling telat masih seminggu lagi.
"emang kenyataan kau b.doh, udah aku mau masuk, ngomong sama kamu sama aja ngomong sama iblis."
"kepar.t kau anete ya sudah sana pergi, aku keluar sendiri, aku log in aja lah, punya temen satu aja gak bisa diajak kompromi," kata chalisa memonyongkan bibirnya.
"uwwwwuuuwuwuwuwu, marah?"
"iyalah!" sembur chalisa.
"emang aku peduli?"
"aneteeeEEEEEEE!!!! si.lan kau" tangan chalisa terangkat dan ingin menjambak rambut kriting anete, tapi dengan cepat anete bergerak menjauh.
"ahahahahahahaha, cukup kau saja yang bod.h, jangan ajak ajak aku kepar.t" kata anete seraya mengarahkan jari tengahnya ke chalisa serasa menjauh.
"dasar anete sialan" gerutu chalisa pelan, cih terus mau ngapain aku, mau keluar juga malas kalau sendiri, kuliah lebih malas lagi, sialan, makan dulu lah, perutku lapar gara gara si kriwil" kata chalisa lagi kemudian memesan makanan untuk sarapannya.
-----
anete pov
"untung aku bisa lepas dari bujuk rayu iblis tadi akakakaka, tapi sebenarnya malas juga si kuliah, tapi kalau gak lulus jadi berabe"
__ADS_1
anete terus berbicara sendiri seperti orang gila waktu menuju kekelasnya, langkahnya berhenti ketika berpapasan dengan seseorang yang mengarah ke kantin.
"bukannya dia itu..." 'apa aku suruh dia kerjain tugasku saja ya', batin anete.
"ahhh masa bodoh lah, heeey tunggu" teriak anete, tapi karna ramai orang dan situasi yang berisik di lorong itu. orang yang dia panggil tidak mendengar dan terus berjalan ke kantin.
"cih si.lan" anete kemudian berbalik menuju kekantin.
anete segera ke meja dimana chalisa sedang makan "hey chalisa, ayo keluar." kata anete setelah sampai di depan chalisa.
"kenapa kau berubah pikiran?" kata chalisa dengan senyum sumringah.
"tidak aku suruh dia saja mengerjakan tugasku," cata anete seraya menuju meja disudut kantin.
"hehehehe ide bagus, aku akan suruh dia kerjakan tugasku juga," kata chalisa dengan cengegesan.
mereka berdua kemudian mendekati meja diujung ruangan kantin, "hey sial.n, kerjakan tugas dari mr.gilbert untuk kami berdua," kata anete langsung.
"begitu caramu minta tolong?" kata orang itu tanpa mengalihkan pandangannya dan tetap makan.
"tidak usah besar kepala, kami akan bayar!! bagaimana?"
"sebutkan tawaran tertinggimu." kata orang itu lagi, masih tetap tak mengalihkan pandanganya dan tetap makan.
"100 euro, 2 buah tugas" kata anete kesal.
"kerjakan saja sendiri"
"kau...!!!" anete ingin segera maju tapi ditahan chalisa.
"200 euro," kini chalisa yang memberi penawaran.
"kerjakan saja sendiri"
"kau ingin memeras kami?!!!" kata anete
geram, "berapa yang kau mau?!!"
"500"
anete ingin memaki orang didepanya, tapi segera ditahan chalisa.
"baiklah, serahkan pada kami 3 hari lagi" kata chalisa seraya mengeluarkan 500 euro dari dompetnya dan meletakkan diatas meja.
orang yang sedang makan melihat uang diatas meja, sambil menganggukkan kepala, tapi tidak melihat dua orang yang bicara padanya.
"ok"
katanya singkat dan melanjutkan makannya, anete dan chalisa hampir saja mau meledak melihat tingkah orang didepannya, tapi chalisa menahan diri, yang ada dipikirannya saat ini adalah bisa menghabiskan waktunya hari ini dengan bersenang senang, bukan di tempat membosankan seperti ini.
"dasar lac.r sialan" umpat orang itu ketika menyuapkan suapan terakhir.
orang itu kemudian pergi setelah mengantongi uang yang diberikan chalisa.
******
maaf jika masih banyak penuulisan yang masih kacau, maupun alur cerita yang amburadul, ini karya pertamaku, mohon untuk para pembaca tidak sungkan memberi keritik dan saran di kolom komentar, enjooooyππππ
__ADS_1
jangan lupa like ya hehe