
penyihir berjubah merah melihat ke arah tanah yang telah mengubur arra, ratusan bahkan ribuan penyihir yang berada dibawahnya hanya bisa menunduk'kan kepala mereka, seiring dengan rasa takut yang menggerogoti mental mereka.
sang penyihir berjubah merah yang masih melayang di atas tanah yang mengubur arra mengedarkan pandangan ke seluruh bawahannya, "selesaikan pekerjaan kalian, jangan kecewakan aku lagi, atau aku akan menghabisi kalian semuaAAA!!!!!"
"BA.BA.BAIKK RATU!!!!" jawab mereka dengan tergagap tapi memaksakan untuk menjawab dengan lantang.
tubuh penyihir berjubah merah yang masih melayang itu secara perlahan berubah menjadi kumpalan asap berwarna merah lalu sedetik kemudian asap itu hilang terbawa angin.
**********
"uwaaaaaAAAAHHHHH!!! HAHH!!!!...HAHH!!," arra terbangun dengan berteriak keras, badannya penuh dengan keringat, dan jantungnya berpacu dengan kencang.
arra segera mengedarkan pandangan kesekelilingnya, dia mendapati dirinya sedang duduk didalam sebuah peti mati dengan tutupnya sudah terbuka, dia melihat dirinya masih mengenakan pakaian yang sama.
dia juga melihat banyak lilin yang menyala diantara dirinya, arra kemudian berusaha keluar dari peti mati, setelah dirinya keluar barulah dia menyadari bahwa dia berda diruangan kosong berwarna putih yang penuh bercak darah dan berdebu disetiap dinding dan lantainya, ada juga tulisan yang tidak dia mengerti di setiap sisi dinding, dengan lilin sebagai sumber penerangan, ruangan itu sedikit remang.
arra juga baru sadar bahwa lilin yang sedang menyala itu tidak tersusun dengan acak, melainkan berbentuk pola segitiga dengan peti tepat berada ditengah tengahnya.
diruangan itu juga terdapat banyak lukisan di setiap sisi dinding, lukisan lukisan dengan gambar yang mengerikan, arra yang penasaran melihat lebih dekat lukisan itu, ketika ia sedang sibuk melihat lukisan itu lebih teliti, dia dikejutkan suara dari belakangnya.
"kau menyukainya?"
"huaaaAAAA ffffFFUUUUUU...KKKK!!!!!!! siapa kAUUUUU!!!???," dengan sepontan arra berjalan kebelakang dan membentur tembok.
"ikikikikiki,,,,, semua yang ada dalam lukisan diruangan ini adalah pendahulu dari kaum kita, mereka adalah para raja dan ratu yang telah gugur dimedan pertempuran, kikikikiki."
sosok perempuan yang ada dihadapan arra itu tidak menjawab pentanyaan arra melainkan menjelaskan sosok sosok yang ada di dalam lukisan yang ada diruangan itu sambil tertawa cekikian, sosok perempuan itu sedikit transparan, seperti hantu.
arra hanya melihat sesosok perempuan yang berada di hadapannya dengan ketakutan, "siapa kau sebenarnya?"
"aku adalah pendampingmu beberapa waktu kedepan, ayo kita keluar dan berjalan jalan," sosok perempuan itu membalikkan badan dan keluar dari ruangan itu, arra segera mengikuti dari belakang.
setelah berada di luar, untuk kesekian kalinya arra dikejutkan dengan apa yang dilihatnya, dia melihat bahwa dirinya sedang berada di tengah pemakaman yang gelap dan sesekali kilat menyambar dari kejauhan.
terdapat empat bangunan kecil dan satu bangunan besar diantara makam makam itu, dengan bangunan besar berada di tengah, sementara bangunan yang lebih kecil berada di empat penjuru, hanya satu kesamaan bangunan bangunan itu berbentuk pagoda berwarna merah.
"kita akan kemana?" tanya arra
"jalan jalan" kata sosok itu singkat tanpa melihat ke arra.
sosok wanita itu membawa arra kesebuah bangunan paling besar yang berada ditengah, seperti kastil yang berwarna merah, sosok didepannya segera mengajak arra memasuki kastil itu.
__ADS_1
setelah didalam kastil, arra menemukan tiga penyihir yang berada disana, menjaga 3 pintu yang berbeda, sosok yang menemani arra menyuruhnya menemui penyihir yang berada disebelah kiri, sementara sosok itu akan menunggunya di tempatnya sekarang.
arra hanya menurut, dia segera mendekati penyihir yang berada di sebelah kiri, setelah berada di depan penyihir itu, arra hanya diam karna tidak tau apa yang harus dia katakan.
"kau sudah bangkit azazel, lebih cepat dari yang kukira, ehehehehehehe," kata penyihir itu dengan tawa cekikikan.
"azazel?" tanya arra heran.
"iya memang namamu azazel bukan, kenapa kau heran begitu," tanya penyihir itu dengan heran.
arra mengerutkan dahinya, dia heran kenapa dia dipanggil azazel, arra terus berfikir dan mengerutkan dahinya, sebulum dia ingat semuanya.
"owh **.*, apa semua ini hanya sebuah game, ini semua tidak nyata," katanya dalam hati, dia ingat azazel adalah nama yang dia gunakan ketika membuat karakter di game second world.
"apa maksutmu?" kata penyihir itu semakin heran dengan tingkah azazel.
"ah tidak apa apa, ma'afkan aku hehehe" kata arra sambil cengengesan menutupi rasa bingungnya dengan semua yang terjadi.
"dasar aneh, ya sudah cepatlah masuk, kau ingin mengambil peralatanmu bukan?" kata penyihir itu seraya membukakan pintu yang ia jaga.
"ehhh iya aku akan masuk kedalam," arra yang sadar ini adalah sebuah game segera bertingkah biasa saja, ketika dia sudah berada didalam, pintu kemudian ditutup, arra melihat ada sesosok penyihir lain sedang membaca buku dikursi dibalik meja besar.
"permisi..." kata arra pelan.
arra kemudian mendekat ke meja, setelah arra dekat ke meja, penyihir itu membuka tudungnya dan arra bisa melihat wajah penyihir itu dengan jelas, sepasang tanduk mencuat dikening, mata yang sepenuhnya bewarna putih serta kulit yang pucat.
"siapa namamu, dan apa job mu?"
"azazel, black mage"jawab arra singkat.
penyihir itu melihat ke arrah arra sebentar, kemudian dia mengangkat tangannya sejajar dengan dada dan membaca sebuah mantra, sesaat kemudian muncul gumpalan asap ditanganya, dia melemparkan asap itu ke meja, dan perlahan gumpalan asap itu membentuk sebuah kotak cukup besar diatas meja.
"ini milikmu, buka dan periksalah isinya"
arra kemudian maju untuk melihat kotak itu dengan lebih jelas, arra melihat terdapat angka dikotak itu, "0137/1000, ini kode yang ada di bagian belakang VR yang kupakai kan, jadi begini cara pembagian peralatan untuk pemain, menarik," guman arra pelan.
arra kemudian membuka kotak itu
perlahan, arra melihat ada sebuah tongkat, jubah, sepatu, kalung, dan cincin.
"pakailah, setelah semua sudah kau pakai kau boleh keluar, dan temui orang yang ada di tengah" kata penyihir itu lagi.
__ADS_1
******
**MINIMARKET MISS.SOFI 17:00
"permisi miss.sofi, saya pamit pulang," patrice seperti biasa bekerja di tempat miss.sofi dan sekarang dia akan pulang karna jam kerjanya sudah habis, terlihat miss.sofi sedang menghitung pemasukan di kasir ketika patrice izin pulang.
"oh patrice, kau sudah mau pulang ya, emmm baiklah, hati hati dijalan, dan ini buat ongkosmu," kata miss.sofi seraya menyodorkan dua lembar uang ke patrice.
memang karna arra sudah tidak bekerja, miss.sofi sering memberikan uang tambahan kepadanya, tentu itu berbanding terbalik dengan pekerjaannya yang semakin banyak**.
"terimakasih miss, saya pamit pulang dulu," setelah miss.soffi mengangguk patrice pun keluar dari minimarket dan pulang, tapi ketika di depan minimarket dia melihat seseorang wanita cantik melambaikan tangan kearahnya, patrice bertindak tidak peduli dan melanjutkan lanfkahnya.
"hyyYYYY PATRCE!!!!"
pattice membalikkan badan ketika orang itu berteriak, dia melihat wanita itu berlari kearahnya.
"hey kenapa kau buru buru sekali?"
"eh mis.evelin, maaf saya lelah hari ini, saya ingin cepat pulang," kata patrice setelah wanita itu didepannya.
"hehehe maaf maaf, ayo kuantar pulang, sekalian kita cari makan, ok."
"maaf mis.evelin, saya benar benar lelah hari ini."
"oooooh ayolah, ada yang ingin kubicarakan denganmu."
"maaf mis.evlin, bisa kita bicara disini saja, lagipula dari tadi kita sudah bicara bukan."
"emmmm, apa kau tertular keras kepalanya arra, atau kau yang menularkannya pada arra," kata evelin dengan mengangkat sebelah alis, "ya sudahlah terserah kau saja, pulanglah sana," kata evelin dengan membalikkan badan dan melangkah pergi, tapi baru beberapa langkah dia kembali menghadap ke patrice masih diam, "kau tidak mau tau kabar arra?" katanya dengan senyuman sinis.
"apa yANG KAU LAKUKAN PADA ARRA!!!" teriak patrice.
"kalau kau tidak mau ikut, kau tidak akan tau apa yang aku lakukan padanya," kata evelin lagi masih dengan tersenyum sinis.
"akkkkh sialan, baiklah, ayo." kata patrice ketus.
"coba daritadi, bicara denganmu dan arra sama saja, bertele tele dan tidak selesai selesai, dasar keras kepala."
'cih sialan, apa apa'an dia itu, ingin sekali aku menampar mukanya dan menghapus senyumnya itu, bangs.t' umpat patrice dalam hati, tapi tetap mengikuti evelin ke arah mobilnya.
********
__ADS_1
maaf jika ada penulisan kata yang salah, typo, dan alur cerita yang amburadul, saya sebagai penulis berharap para pembaca tidak sungkan untuk memberi saran dan kritik di komentar, terimakasihπππππππππ