
ruangan mr.gilbert
"mr.gilbert mereka bebuat ulah lagi," seorang pria berumur 40 tahunan memasuki ruangan mr. gilbert dengan tenang. namun tergambar rasa malas dimatanya, ketika menatap keempat gadis yang berdiri di depan mr.gilbert.
"mr.franklin, silahkan duduk, maaf jika saya memanggil anda kemari, saya tidak bisa membawa mereka ke ruangan anda, karna saya dengar anda sedang menerima tamu," mr.gilbert memang menyuruh rekannya untuk memanggil orang yang dipanggil mr.franklin untuk keruangannya, setelah mr.franklin sudah duduk mr.gilbert bicara lagi, " ya mereka berbuat ulah lagi, saya sudah menyuruh orang tua mereka untuk datang kemari, saya kira hanya anda sebagai rektor yang bisa berbicara dengan mereka."
"zeeeep hoooooh,,,,,"
mr.franklin hanya menghela nafas panjang sambil memijat keningnya, "saya juga tidak bisa berbicara banyak, jabatan rektor sama sekali tidak berguna dihadapan orang tua mereka yang berkuasa, tapi aku harus tetap berbicara pada mereka, pusat sudah mengetahui kelakuan meteka."
tak lama kemudian terdengar pintu diketuk oleh seseorang.
"masuuuk" mr.gilbert menyuruh orang yg mengetuk untuk masuk.
dia pikir yang datang adalah salah satu orang tua dari keempat mahasiswi yang sedang bermasalah, namun yang muncul adalah seorang pria tampan memakai setelan jas lengkap dengan dasi terikat ketat dilehernya memasuki ruangan itu,,,,
"maaf anda siapa dan ada kepentingan apa datang kemari?" tanya mr.gilbert langsung, dengan kepalanya yang pusing, dia sama sekali tidak ingin beramah tamah dengan orang didepannya.
"oh maaf saya adalah damitri, saya adalah kakak dari selena" jawab pria itu singkat, dia langsung duduk sebelum dipersilahkan membuat urat wajah mr.gilbert menegang, dia ingin mengatakan sesuatu, namun belum sempat dia berkata mr.franklin memberi kode untuk tidak mempersalahkan masalah tersebut.
"baiklah, silahkan menunggu sebentar, kita masih menun..."
"kita mulai saja, sebelum saya kesini, orang tua mereka sudah menghubungi saya, mereka tidak bisa datang," belum selesai mr.gilbert bicara, pemuda yang mengaku kakak dari selena menyela ucapannya sambil memasang senyum sinis.
"kaaaAAUUU!!!!!!!"
muka mr.gilbert sampai memerah menahan emosinya, bagus sekali, tidak adiknya, tidak kakaknya sama saja, bren...k semua, anj..g, ba.i, @$@€×*@%!(@£#,÷(@&!/@¥×*÷;@€@£#*\=:@£ umpat mr. gilbert dalam hati.
melihat mr.gilbert yang hampir meledak emosinya, selena dan anete tersenyum sinis sambil memandang mr.gilbert, sementara chentia dan chalisa hanya menunduk,
mr.franklin yang melihat dari kursi hanya bisa menghela nafas sebelum angkat bicara, " mr.damitri jadi begini........."
********
setelah beristirahat sebentar, Arra bangkit dengan menahan sakit dan nyeri di mukanya, perlahan dia berjalan menuju ke westafel di sebelah kanan tempat tidurnya. "cantik? orang buta pun tau kalau aku sekarang begitu menyedihkan, miss.rachel memang pintar berbohong,,,,,,,,,,,"
__ADS_1
arra hanya bisa tersenyum getir ketika melihat pantulan wajahnya di cermin, pipi kanan yang bengkak serta ujung bibirnya yang nampak membiru, sama sekali tidak bisa dikatakan cantik.
"aaWWWW, SH.TTTTTT!!!!"arra reflek mengumpat ketika menyentuh luka di bibirnya,,,,
"dasar orang orang bren..EK!!!!", umpatnya lagi," dia hanya bisa berbalik ke ranjang dan duduk di pinggir ranjang tersebut, dia berusaha meredam emosinya dengan memejamkan matanya sambil sesekali mengambil nafas, namun tiba tiba dia mendengar sesuatu dari perutnya.
"kryuuuuuuuuuk.....!!!!"
"lebih baik aku makan dulu, tak ada gunanya aku memikirkan semua ini, tak ada juga yang bisa ku perbuat,,,,,,"
tak mau memikirkan hal lain, arra langsung menyambar kotak makan miss.rachel dan memakannya dengan lahap, tidak sampai lima menit kotak makan itu sudah kosong, arra segera bangkit dan berjalan ke arah wetafel dan meminum dan menghidupkan keran dan minum air dari keran langsung menggunakan kedua tanganya sebagai pengganti gelas, dia juga mencuci kotak makanan yang dia pakai, selesai dia mencuci, dia langsung pergi dari ruangan kesehatan menuju ke meja miss.richel.
"miss.richel ini kotak makan anda, terimakasih telah memberikan saya makanan anda,,,,," miss.rachel yang sedang melihat sesuatu di handphone nya segera mengangkat kepalanya, dia melihat arra sedang terseyum malu.
"santai saja arra, bagaimana keada'anmu, kau sudah merasa baikan? kenapa kau tidak ber'istirahat sebentar lagi," miss.rachel tersenyum lembut serta menerima kotak makannya yang sudah dicuci oleh arra.
kemudian miss.rachel mengambil sesuatu di dalam tas jinjingnya, "ini minumlah, tadi aku lupa memberikannya hehehehee," miss.rachel tertawa kecil.
"tidak papa miss.rachel, aku minum air dari kran tadi," arra menolak minum yang diberikan miss.rachel kepadanya, "aku harus pergi, sebentar lagi aku harus bekerja, terimakasih miss.rachel," arra langsung bergerak untuk meninggalkan miss.rachel
"tunggu arra, ada yang ingin ku perlihatkan padamu, kemarilah sebentar," miss,rachel memberi tanda pada arra untuk mendekat dengan tanganya.
"ada apa miss.rachel, apa ada yang penting," tanya arra kebinggungan sambil membalikkan badannya dan berjalan kearah mis.rachel.
"lihatlah ini, mungkin kau akan tertarik dengan ini," miss.rachel memberikan handphonenya ke arra, arra segera melihat sebuah vidio yang sedang diputar di tubeyou.com, dia melihat seseorang sedang membicarakan sebuah game, segera saja dia mengembalikan handphone ke miss.rachel, tentu itu membuat miss.rachel bingung dengan sikap arra tersebut,
"apa kau tak tertarik arra?"
" lupakan saja miss.rachel, aku benar benar harus pergi, aku sama sekali tidaj ada waktu untuk bermain game, anda tau itu bukan? saya permisi miss.rachel,,," arra langsung membalikkan badanya, tidak peduli miss.rachel sudah membuka mulutnya ingin kembali bicara.
"haiiiist,, dia tak mau mendengarkan dulu, ya sudahlah, mungkin besok besok akan aku beritahu lagi dia soal ini, game ini jika dilihat lagi bisa menghasilkan banyak uang, siapa tau bisa mengubah hidupnya" miss.rachel kembali melihat handphonenya, siapa tau ada info penting yang bisa dia beritahu ke arra besok kalo mereka bertemu lagi.
*****
setelah keluar dari ruang kesehatan, arra segera berlari menuju ke ruangan untuk menyimpan alat alat kebersihan, diluar masih hujan jadi dia mananggalkan jaket hitamnya, dan menggantinya dengan mantel hujan yang sebelumnya dia pakai, setelah melipat jaketnya, dia langsung berlari keluar dari area universitas tanpa peduli dengan hujan yang masih turun cukup deras.
__ADS_1
setelah menyebrang jalan, dia berbelok ke kanan dan terus berlari, dia baru berhenti ketika dia sampai di depan sebuah minimarket, lalu dengan terburu buru melepaskan mantelnya, setelah selesai dia langsung masuk ke minimarket dan menemui wanita yang sedang duduk di meja kasir, wanita itu sedang fokus menyaksikan acara di tv ketika dia datang.
"miss.sofia, ma'af saya telat datang," arra berkata sambil menunduk,
wanita yang dipanggil miss.sofi segera mengalihkan perhatiannya, "tak apa arra, minimarket juga sepi, cepat ganti pakaianmu, dan jangan telat lagi, aku disini membantumu, tolong jangan kecewakan aku, kau mengerti?" katanya dengan menatap arra dengan tajam.
"saya mengerti miss.sofi," kata arra cepat.
"baguslah kalu begitu, cepat ganti pakaianmu dan mulai bekerja," wanita itu kembali memfokuskan perhatiannya ke arah televisi dan arra pergi ke arah belakang untuk mengganti pakaiannya dengan seragam minimarket.
dia berpapasan dengan teman kerjanya yang sedang berjalan keluar dari belakang, setelah dekat wanita itu berkata, "kau sudah datang arra? aku kira kau belum datang karna hujan," kata wanita itu, wanita yang lebih muda darinya.
"ia patrice, kau sudah ingin pulang, diluar masih hujan, apa kau membawa payung bersamamu?" tanya arra, dia bisa dikatakan akrab dengan wanita didepannya ini.
"aku tidak membawa payung, tapi tadi ibuku telfon dia akan menjemputku," katanya dengan tersenyum, dan ketika dia melihat keluar, dia sudah melihat ibunya menunggu, "akhh itu dia ibuku, ok aku pulang duluan yaa, bye bye," setelah berkata seperti itu, wanita yang bernama patrice itu segera berlari keluar minimarket tanpa mengetahui perubahan wajah arra, arra hanya bisa tersenyum getir ketika melihat patrice yang melompat kepelukan ibunya.
"kenapa aku tak pernah punya kesempatan merasakan seperti itu, apakah rasanya nyaman berada dipelukan seorang ibu, apakah menyenangkan punya seorang ibu yang bisa jadi teman cerita, aku bahkan tidak pernah tau pelac.r mana yang melahirkanku," gumamnya pelan.
"hidup emang menyebalkan bukan, jangan pasang wajah memelasmu itu, kau pikir siapa yang peduli, cepatlah ganti pakaianmu dan bekerja, aku membayarmu untuk bekerja bukan melamun bod.h," miss.soffi yang berada di rak sebelah kanan arra tidak sengaja mendengar gumaman arra, arra yang mengetahui dirinya terpergok segera berlari ke ruang ganti pakaian yang terletak di belakang minimarket.
*******
"sudah kau kunci dengan benar arra?" miss.soffi bertanya ketika arra menyerahkan kunci minimarketnya, dia melihat arra mengangguk cepat,
"baiklah cepat naik, aku sudah tidak sabar untuk tidur,"
arra hanya masuk ke mobil dengan cepat karna takut ditinggal, arra segera duduk di samping kemudi.
miss.soffi langsung tancap gas dan megarahkan mobilnya kekediamannya, arra dapat ikut dengannya karna emang se'arah, tidak lama kemudian mobil yang dikendarainya telah sampai di apartemen kecil dan dalam keadaan yang menyedihkan, tempat inilah tempat arra tinggal.
setelah berterimakasih arra kemuadian turun dari mobil, setelah mobil yang dikendarai miss.soffi tak terlihat lagi, arra langsung masuk ke apartemennya.
setelah masuk ke dalam apartemen itu, arra langsung naik kelantai dua dengan tangga yang berada di pojok karna memang tidak ada lif di apartemen ini, setelah sampai kelantai dua, arra langsung membuka pintu yang berada paling dekat dengan tangga.
disinilah dia tinggal, di tempat ini hanya ada ruang tamu yang dirangkap jadi tempat tidur, senta dapur, yang dekat dengan kamar mandi, jika bukan karna tempat tinggal ini, mungkin dia sudah lama keluar dari tempat jahanam yang disebut universitas itu, karna apartemen ini hanya diberikan pihak pemerintah untuk mahasiswi miskin seperti dirinya, tanpa pikir panjang dia langsung menjatuhkan dirinya dikasur keras miliknya, tanpa melepas sepatu bututnya apalagi memperdulikan bau tubuhnya yang masam, dia langsung berlayar di alam mimpi.
__ADS_1