The Birth Of Blood Witch

The Birth Of Blood Witch
Guys, i need you


__ADS_3

Di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota Lilie, tepatnya di sebuah food court makanan seafood, terlihat 3 gadis sedang duduk bersama, terlihat akrap walau sesekali kata umpatan keluar dari mulut mereka, memang tempat makan itu masih sepi, karna masih jam kerja.


Tiga gadis itu adalah Anete, Chalisa dan Chentia, terlihat hanya Anete yang memesan makan, sedangkan Chalisa dan Chentia hanya memesan minum.


"Huaaaaahhh!! si.lan!!! berani sekali jal.ng itu, dia memeras kalian berdua? andai aku ada disitu, akan aku jambak jambak rambut perempuan sial.n itu," kata Chentia dengan mengepalkan tangannya karna geram ketika mendengar cerita Chalisa dan Anete.


"Diamlah sial.n, kau juga dari mana saja? aku dan Chalisa sudah menunggumu disini 2 jam lebih seperti orang b.doh!!!," umpat Anete dengan kesal, kemudian kembali memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


"Gak tau tu, kita lagi susah juga, punya temen di telfon enggaaaak ada yang ngangkat, bangs.t emang kalian berdua," kata Chalisa menimpali kata kata anete.


"Kenapa kalian berdua malah menyalahkanku? aku udah dateng lo, hargai kek, malah ngomel ngomel," kata chentia dengan merengut kesal karna disudutkan Anete dan Chalisa.


"Ya kita lagi mau cerita, malah enggak ada yang bisa dihubungi, sial.n emang kalian berdua," kata Chentia dengan kesal..


"Yeeeee salah kalian sendiri lah, ngapain pada masuk? pinter juga kagak, ahahahaha!!!" kata Chentia dengan tertawa tanpa dosa, menertawai Anete dan Chalisa yang habis diperas oleh arra.


"Cih sial.n," decih Chalisa pelan, sedangkan Anete kembali fokus pada makanannya.


'Kenapa aku bisa duduk dengan dua sial.n ini, yang satu kayak anj.ng, yang satu kayak orang busung lapar, sialan emang,' umpat Chalisa dalam hati.


"Udahlah jangan marah, lagian kan yang penting kan aku datang, harusnya aku yang marah tau, kalian berdua ganggu orang lagi kencan saja," kata Chentia ketika melihat muka Chalisa yang sangat kesal.


"Apa pacar lebih penting dari teman?" tanya Anete disela sela kesibukan memasukkan makanan kemulutnya.


"Diam dan habiskan saja makananmu Anete, dasar jomblo," kata Chentia judes tanpa melihat ke arrah Anete, sedangkan Anete hanya mengangkat bahu, lalu melanjutkan sarapannya.


"Kau sudah makan tadi dikantin, sekarang kau makan lagi? perut kecilmu masih muat juga," tanya Chalisa ke Anete heran, tapi alih mendapat jawaban, yang dia dapat hanyalah Anete dengan sengaja mengeraskan suara kecapan mulutnya.


Mendadak dia rindu dengan Selena, tanpa adanya Selena, ke dua temannya ini menjadi jaauuh menyebalkan.


Dia berniat mengajak Chentia mengobrol, tapi ia mendapati Chentia sedang senyam senyum sendiri di depan ponselnya, entah kenapa Chentia merasa tubuhnya menjadi begitu lelah, dia hanya menarik nafas dalam nalam dan membuangnya perlahan.


Chalisa mengeluarkan ponselnya juga, dirinya memposisikan tubuhnya merapat ke meja, memposisikan tangan kanannya untuk meyangga kepala, sedangkat tangan kiri memainkan ponsel.


Waktu terus berlalu dengan kesibukan mereka masing masing, Anete dengan makanannya, Chentia dengan ponsel dan senyum konyolnya, dan Chalisa dengan ponsel dan kesibukannya menarik ulur beranda sosial medianya, tanpa ada satupun hal yang menarik dimatanya.


Hingga pada akhirnya Chalisa memasukkan ponselnya dan mengeluarkan dua lembar uang dan meletakkan di meja, kemudian berdiri berniat untuk pulang.


"Ehhhhh, mau kemana?" kata Chentia kaget melihat Chalisa berdiri, bahkan Anete sampai berhenti makan, dan melihat Chalisa dengan heran.


"Pulang, aku capek, ngantuk, pengen tidur dirumah," kata Chalisa dengan heran.


"Jangan lah, katanya mau cerita, sekarang malah pulang," kata Chentia seraya menahan pergelangan tangan Chalisa agar tidak pulang.


"Aku sudah cerita semuanya tadi, sudahlah aku mau pulang," kata Chalisa seraya berusaha melepaskan tangannya yang di genggam oleh Chentia.


'Kau hanya sibuk dengan ponselmu dari tadi sial.n, bagaimana aku bisa cerita,' umpatnya dalam hati.


Setelah terlepas, Chalisa kembali berjalan, tapi baru beberapa langkah, Chentia kembali memanggilnya.


"Chalisa! tunggu bentar, Selena mengirim pesan, dan dia butuh kita katanya, coba kau liat ponselmu juga," teriak Chentia seraya melihat ponselnya


Chalisa segera membuka ponselnya, dan memang dia mendapat pesan dari Selena, ketika dia melihat ke arah Anete, dia melihat Anete sedang membuka pesan dengan tangan yang masih terdapat noda saus.


"Aku juga mendapat pesan dari Selena, sepertinya kita dapat pesan yang sama," kata Anete seraya membersihkan tangannya dengan tisu dan meminum sisa minumannya.


Chalisa segera membuka pesan pesan singkat dari Selena.


[From : Selena sial.n]

__ADS_1


"Guys, i need you😭😭😭😭


Mereka bertiga segera membereskan barang mereka, dan setelah Anete membayar makanan dan minuman mereka, mereka segera keluar dari pusat perbelanjaan itu dan menuju ke rumah Chentia.


Memang selama ini, selain nongkrong diluar, rumah Chentia dijadikan semacam basecamp atau tempat nongkrong oleh mereka, maka dari itu tanpa diberi tau mereka segera menuju kerumah Chentia.


*****


Disebuah kamar yang berantakan, dengan botol dan bungkus makanan yang berserakan di lantai, serta banyak poster tertempel tak beraturan di berbagai dinding kamar, terlihat Selena sedang diapit Chentia dan Chalisa.


"Im so sorry Selena, harusnya aku tidak memaksamu ikut semalam," kata Chentia dengan mata berkaca kaca, kapanpun air matanya bisa jatuh, dengan tangannya perlahan mengompres pipi kanan Selena yang bengkak menggunakan batu es yang dibungkus dengan kain, sementara Chalisa memijit kepalanya, karna Selena mengeluh sakit dikepalanya.


Selena yang melihat mata Chentia berkaca kaca, hanya tersenyum tipis tidak mengatakan apapun, Chentia yang biasanya bersikap kasar dan tidak perduli dengan orang lain, sedang menahan air matanya seperti anak kecil dihadapannya.


"Itulah kau tu Chentia, coba kau tidak memaksanya ikut malan tadi," kata Chalisa dengan tetap memijat kepala Selena.


"Iaa maaf, aku kan cuma mau ngajak seneng seneng, aku..akuu..." kata Chentia dengan terbata bata, dan air matanya terjatuh begitu saja.


"Sudahlah Chalisa, ini juga bukan salahnya, laki laki sial.n itu saja yang berlebihan," kata Selena dengan mata terpejam dan bersender pada bahu Chalisa, "kau juga kenapa cengeng sekali," kata Selena melirik ke Chentia.


"Ia kan aku sedih liat kamu begini, itu juga gara gara aku memaksamu ikut semalam,"


"Sudahlah, sudah kubilang ini bukan salahmu, kalau kau tidak memaksaku, pasti si david yang akan memaksaku, jadi bukan salahmu juga," kata Selena seraya menghapus air mata Chentia.


Chentia segera memeluk Selena dan terus mengatakan kata maaf, "dasar cengeng" kata selena pelan, sementara Chalisa yang melihat kedua sahabatnya berpelukan, hanya tersenyum tipis sebelum ikut memeluk selena dari samping.


Ketiganya terus berpelukan selama beberapa waktu sebelum terdengar suara yang meluluh lantakkan suasana haru mereka.


"hiks..hiks, krauk!! krauk!!, huuu uuuu uuu krauk!! krauk!!, sangat mengharukan," terlihat Anete yang sedang bersandar di depan pintu sedang mengunyah makanan ringan, seraya pura pura menangis, lengakap dengan satu kantong besar penuh dengan makanan dan minuman.


Memang setelah Chalisa, Chentia dan Anete sampai dirumah Chentia, Anete tidak ikut masuk karna ingin membeli makan.


"Akakaka, krauk!! krauk!! dasar manusia lebay," kata Anete seraya masuk kekamar menuju ke sebuah perangkat komputer di sudut ruangan kamar, tanpa memperdulikan mereka bertiga dengan tetap mengunyah makanan.


"Woy n.ga sial.n, Kau sama sekali tidak perduli dengan Selena, makan saja yang kau tau!!" sembur Chalisa.


"Emang dasar enggak setia kawan, dasar kriwil bajing.n," tambah Chentia.


Anete tak menjawab apapun, bahkan berbalik pun tidak, dia malah mulai menghidupkan perangkat komputer.


"Cih sial.n, sok sok budek tu, siniin atm ku!! cukuplah kau merampokku hari ini," kata Chalisa seraya menyodorkan tangannya meminta Atmnya yang dibawa Anete belanja.


Anete segera menyerak makanan ringan dan beberapa minuman kaleng kemeja, karna saking banyaknya hingga terjatuh jatuh dilantai, Anete segera memungut kartu Atm diantara tumpukan makanan ringan, kemudian melemparkannya ke arah Chalisa, tapi dengan sengaja dirinya melemahkan lemparannya sehingga kartu Atm terjatuh dilantai.


"Tu ambil, gak butuh!!! ahahahahahaha!!" kata Anete seraya tertawa terbahak bahak.


"Aneteeeee!!!!!" teriak Chalisa emosi, dia segera meraih bantal dan melemparkan sekuat tenaga ke arah Anete dan dengan tepat mengenai kepalanya, "mati saja kau sial.n"


"Ahahahahahahaha!!! aha!!! ahahahahaha!!!," Anete bukannya marah malah tertawa terbahak bahak, "aku beli paket data juga tadi," kata anete lagi setelah tawanya reda.


"Paket datamu juga kau beli dengan uangku!!" tanya Chalisa dengan berteriak, dan hanya dibalas senyuman tanpa dosa oleh Anete, "kauuu!!!"


"Hahahahahah, adu aduh pipiku sakit, hahaha udah udah," kata Selena seraya menahan tangan Chalisa yang ingin berdiri, Selena bahkan tertawa melihat Chalisa yang mengamuk, sampai lupa dengan pipinya yang bengkak.


Sementara Chentia yang berada di samping Selena hanya tersenyum, tapi bukan karna tingkah Chentia dan Anete, melainkan tingkah Selena yang masih bisa tertawa ketika kondisi pipinya bengkak.


Karna ditahan Selena, mau tak mau Chalisa kembali duduk dan segera mengambil kartu Atm yang berada di dekat kakinya, dia melihat kartu itu sebentar, entah kenapa hatinya terasa sakit walaupun tak berdarah.


"Untung ada Selena, kalau tidak, aku cakar cakar mukamu yang menyebalkan itu" dengus Chalisa kesal ke Anete yang masih saja sibuk mengunyah makanan.

__ADS_1


"Dasar pelit," kata Anete, seraya memutar kursi dan berbalik kearah monitor yang sudah mulai menyala, tapi Anete kembali memutar kursinya kembali menghadap Chalisa dan dua temannya yang lain, "aku beli yang 80 GB tadi."


"80 GB!!! kau gila!! aaaaaaaaakhhhh, minggir Selena!!!" bentak Chalisa berusaha lepas dari selena yang menahannya.


"Huahahahahahahaha" Selena yang dari tadi dengan susah payah menahan tawa, akhirnya pecah juga, dengan susah payah dirinya menahan Chalisa yang sudah berdiri ingin menerkam Anete, dan mencabik cabiknya.


Chentia yang melihat Selena dengan susah payah dengan cepat berpindah ke sebelah kiri Chalisa, dan ikut menahan dan berusaha membuat Chalisa kembali duduk di tepi ranjangnya tapi sejauh ini belum berhasil juga.


"Kenapa menahanku, lepas!!! haah!! haaah!! haah!!, biar kubunuh sial.n ini," kata Chalisa tidak terima karna ditahan oleh Selena dan Chentia dengan nafas terengah engah karna emosi.


"apa haaa?mau membunuhku? ayo maju kalo berani," merasa belum puas Anete kembali menggoda Chaliasa, "ayo maju sini" kata Anete seraya melakukakan gerakan profokasi dengan menggerakkan 4 jari tangan kanannya maju mundur seolah menantang Chalisa untuk maju.


"Aneteeeee!!!" teriak Chalisa dengan marahnya, ingin sekali dia menjambak rambut kriting anete, sedangkan Selena dan Chentia masih berusaha untuk kembali duduk dan tawa yang masih beruasaha mereka tahan, "lepaskan akuuu,,,,,,,,."


Anete segera mengambil bantal yang berada di dekat kakinya dengan tangan kiri, lalu dia mengarahkan tangan kanannya ke depan dengan tangan terbuka dan melakukan gerakan berputar, sebelum berteriak.


"Hyaaaaa!!! light magic, iceball smash!!!"


dengan cepat Anete melempar bantal di tangan kirinya ke ara Chalisa.


"Wuuussssh, braaaak!!!!!"


Sebuah bantal menghantam muka chalisa dengan keras, dan membuatnya terjungkal kebelakang dan terjatuh ke ranjang bersama Chentia dan selena.


"Cih dasar lemah, ahahahahahah" kata anete dengan tertawa melihat 3 temannya, kemudian kembali duduk dan kembali fokus ke komputer yang telah menyala.


Sebenarnya bantal tidak mampu membuat Chalisa terjungkal, hanya saja, karena terkena hantaman di mukannya, otomatis tenaganya dorongannyq sedikit goyah, sementara Chentia dan Selena masih dengan tenaga penuh mendorong Chalisa ke ranjang.


"Aneteee!!!!! kau,," teriak Chalisa frustasi dan tidak punya tenaga lagi untuk bangun.


"Ahahaha sudahlah Chalisa, tidak usah di perpanjang, hahahaha aduh aduh pipiku sakit hahahahaha," kata Selena menenangkan Chalisa yang nafasnya masih tersenggal senggal karna menahan emosi.


"Tapi,,,,"


"Sudahlah, semakin kau perpanjang, makin emosi kau dibuatnya," tambah Chentia yang masih terlihat berusaha menahan tawa.


Akhirnya setelah dibujuk beberapa kali Chalisa tenang, atau setidaknya terlihat seperti itu.


"Terus gimana besok besok dengan nilaimu selena?" tanya Chalisa pada Selena.


"Kerjain lah, kalo gak males tapi," kata selena singkat.


"Selena? mau ngerjain tugas? enggak mungkin, ahahahHahaha aha ahahahahahahaha" kata Anete disertai tertawa terbahak bahak ketika mendengar perkataan Selena.


"Ya gimana kok, habis aku sama bajing.n itu kalo nilaiku masih saja E," kata Selena dengan malas.


"Suruh orang sajalah, kalo mau bagus ya suruh aja penyihir sialan itu, aku dan Chalisa juga nyuruh dia tadi pagi," kata anete lagi


"Emmm benar juga, suruh dia saja, daripada pusing, oklah besok aku suruh dia saja, kalian temenin ya," kata Selena seraya melihat ke arah Chalisa dan Chentia.


Chalisa dan Chentia mengangguk serempak, "Anete kenapa kau diam saja, temenin aku besok ya" kata Selena lagi karna Anete tidak menyaut.


Selena kemudian bangun dari posisi tidurannya dan ketika melihat Anete, Anete sudah hanyut dengan game bertipe battle royalenya lengkap dengan earphone menutup telinganya dengan sempurna.


Selena melihat kearah Chalisa dan Chentia, berniat mengatakan sesuatu, tapi kata katanya tercekat ketika melihat Chentia sedang senyum2 sendiri melihat ponselnya, sementara Chalisa sedang berusaha memejamkan matanya.


Selena segera menjatuhkan dirinya juga seraya memeluk Chalisa, berusaha memejamkan matanya juga.


------

__ADS_1


maaf jika jalan cerita dan bahasa masih amburadul, ini novel pertama saya, mohon beri dukungan pencet dengan tombol like agar aku tetap semngat ya, dan jangan sungkan untuk memberi masukan dikolom komentar, thanks and enjoy😁😁😁😁😁


__ADS_2