
"haaaaaaaaaah,,,," patrice dan arra membuang nafas mereka kasar, mereka berdua sedang terduduk lemas di gudang karna kelelahan.
"jam berapa sekarang, kenapa eric belum kembali juga?" patrice menggrutu karna eric yang seharusnya mengangkat box tidak juga kembali.
"sudahlah, mungkin sebentar lagi, jangan cemberut begitu, bukankan kita gajian hari ini?" jawab arra berusaha menghibur patrice yang memasang wajah cemberut.
"ehehehehe ia aku lupa, ya sudahlah ayo jaga didepan, biar si eric kampret itu yang menyusun barang barang ini," patrice segera berdiri dan mengajak arra berjaga didepan, arra langsung mengikutinya.
"eeeeeeh, ternyata hujan diluar, pantas saja ernest tidak menyuruh kita berjaga dari tadi," arra melihat ke depan minimarket dan mendapati hujan turun cukup lebat.
"baguslah, dengan begini kita bisa duduk duduk saja tanpa melakukan apapun," patrice menyaut.
karna hujan turun cukup lebat, membuat minimarket jadi sepi, arra dan patrice menghabiskan waktu untuk duduk bercerita di belakang rak makanan ringan.
" arra apa kau tau akhir akhir ini dengar ada game yang populer, aku kemarin melihat siaran tentang game itu di tv," patrice membuka pembicaraan mereka.
"game? game apa patrice?" tanya arra heran, tak biasanya patrice tertarik dengan sebuah game, "bukankah kau tak suka bermain game," tambah arra lagi.
"ini tidak seperti game lainya, game yang lain yang hanya menghabiskan waktu, game ini bisa menghasilkan uang, siapa tau kita bisa menghasilkan cukup uang untuk kebutuhan sehari hari," patrice mulai menjelaskan tapi berhenti ketika melihat arra mengeleng gelengkan kepalanya, "kenapa dengamu, apa kau tak tertarik,"
tanyanya heran, patrice pikir, ini cara mengumpulkan uang dengan mudah.
"ayolah patrice, kau bermimpi jadi kaya dari sebuah game, mau kaya ya kerja bukan main game," arra hanya mengelengkan kepalanya, bingung dengan cara patrice berpikir, menurutnya musatahil bisa hidup dengan bermain game menurutnya.
"arra kau selalu berpikir negativ, apa kau tidak tau jaman sekarang, banyak yang menjadikan sebuah game sebagai pekerjaan, orang juga banyak yang mendapatkan uang dengan streaming game," patrice tak mau kalah, menurutnya arra selalu takut mencoba hal baru.
" baiklah, katakan kau benar, lalu bagaimana aku mau bermain, waktulu sudah habis untuk kuliah dan bekerja disini,,,,,,,"
"kau berhenti saja kuliah, bukankah kau selalu mendapat perlakuan tidak adil, bauat apa kau melanjutkan kuliahmu,,,,,"
"lalu dimana aku tinggal, kau tau sendiri jika aku tidak melanjutkan kuliahku, maka pemerintah akan mencabut hak tinggal serta uang yang biasa dikirim untuk kebutuhan hidupku akan dihentikan," arra selalu malas jika kembali memikirkan hidupnya yang penuh masalah.
"tentu aku tidak lupa, soal tempat tinggal kau bisa tinggal bersamaku dan ibuku, ibuku juga pasti senang, dia selalu membanding bandingkan aku denganmu, kuras dia lebih sayang padamu, jadi pasti tidak masalah kau tinggal dengan kami...."
"ibumu membandingkan dirimu denganku, tapi dia tak pernah bicara apapun padaku qku kira dia tidak suka padaku?" arra bertanya dengan heran, karna setiap kali dia bertemu dengan ibu patrice, dia hanya diam dan memasang wajah dingin.
"ibuku tidak seperti itu arra, dia selalu bicara hal baik tentangmu, ibuku itu sangat baik, cman pendiam saja, jadi bagaimana, kau mau kan tinggal dengan kami?"
__ADS_1
sudahlah patrice, aku tidak mau merepotkanmu, kau sudah baik denganku selama ini, aku tak mau lebih merepotkanmu dan ibumu," arra hanya menjawab dengan kepalq menunduk, dia merasa bahagia punya teman atau bahkan sahabat yang baik seperti patrice.
"berhentilah berpikir seperti itu, kai sudah ku'anggap seperti kakak'ku sendiri, lagipula jika kau bermai....
lupakan saja patrice, aku tidak mau bermain game itu lagipula aku tak punya waktu untuk hal seperti itu, kemarin penjaga kesehatan di universitasku juga menyarankan bermain game seperti itu, butuh sebuah pc juga jika ingin bermain, belum untuk membeli alat alat serta biaya bualanan juga mahal, darimana aku busa mendapt uang sebanyak itu," arra tetap kekeh dengan pendirianya.
"kau tidak usah pikirkan tentang pc, kita bisa pakai itu, aku sudah lihat di tubeyou, kalau satu pc bisa dipakai berdua, jadi kita hanya tinggal beli alatnya saja, kalau tidak salah harganya 200 euro (setera dengan 3.250.000), untuk biaya bulananya juga sekitar itu," patrice menjelaskan biaya yang dikenakan game yang dimaksud.
"whHAAAT!!!, game sialan seperti apa yang memakan biaya sebanyak itu, sudahlah aku tak mau bermain game seperti itu." menghabiskan biaya 400 euro untuk sebuah game, apa yang membuat game ini sudah gila, aku bahkan hanya mendapat biaya dari pemerintah sebesar 200 euro, aku bekerja paruh waktu disini juga hanya digaji 200 euro, mungkin lebih jika miss.sofi mau memberi bonus, apa yang salah dengan otak si patrice ini, apa dia pikir aku tak usah makan dan hanya main game, apa dia pikir dengan game akan kenyang, gerutu arra dalam hati.
"game fantasi kalau tidak salah, jadi kita bisa menj....."
"kau main saja sendiri, aku tak akan mau menyentuh game busuk itu," belum selesai partice bicara, arra sudah memotongnya, dia sudah tidak tahan mendengar patrice bicara game yang tidak masuk akal di pikirannya.
"dengar dulu arra, game ini memang membutuhkan biaya yang besar, tapi kita juga bisa cari uang disini, koin disini bisa ditukar, satu koin bisa ditukar dengan 2 euro, satu monster yang kita bunuh, kita dapat dua sampai tiga koin, buk...."
"sudahlah sudahlah, aku tak mau dengar lagi game konyol itu lagi, lagi lagi arra memotong bicara patrice, " lagipula jika aku punya uang sebanyak lebih baik aku gunakan untuk memperbaiki hidupku, bukan untuk hal seperti itu," tambahnya lagi.
"haiiiiiiiizzzzzzzt, ya sudahlah, aku akan main sendiri nanti, aku sudah ada simpanan 200 euro, nanti aku tinggal minta tambah sama ibuku," akhirnya patrice menyerah membujuk arra, dia hanya berpikir cara meminta uang pada ibunya.
bertepatan dengan selesainya patrice menjelaskan game tersebut, miss.sofi sudah kembali dengan eric, terpaksa arra dan patrice berdiri dan berpura pura merapikan sesuatu, karna takut kena omel karna mereka duduk duduk waktu kerja.
tak lama miss.sofi memanggil mereka berdua untuk gajian, lagipula sudah hampir jam lima sore, sebentar lagi patrice juga harys pulang, jadi miss.sofi memutuskan untuk langsung gajian saja.
dengan senyum sumringah mereka bergerak cepat untuk menemui miss.sofi, saat saat inilah yang mereka tunggu.
*******
-universitas of lilie-
"hay beb, kenapa kau cemberut dari tadi, apa ada yang membuatmu tidak senang hari ini?" seorang pria tampan sedang berusaha mengecup perempuan cantik didepanya, tapi selalu dihindari oleh perempuan itu.
"ayolah david, aku sedang tak berselera" jawab perempuan itu dengan malas dan terus berusaha menghindar.
"ayolah selena, aku lagi rindu dengan mu," pria itu tetap berusaha membujuk wanita didepannya, tapi setelah beberapa menit prempuan tetap menghindar pria itu jadi kesal, dia menahan rahang sang wanita dan mengangkat wajahnya dengan kasar, dan mengecup serta ******* bibir perempuan didepannya, tidak peduli dengan sang perempuan yang terus memberontak.
sepasang muda mudi ini tak lain adalah selena dan pacarnya, paul david atau lebih akrab dipanggil david, mereka berdua sedang berada di kelas selena, klas selena memang sudah sepi, karna memang kelas mereka kisong, jadi semua sudah pulang, bahkan anete chentia, dan chalisa juga sudah pulang, membuat mereka berani seperti itu.
__ADS_1
walau selena memberontak awalnya namun tidak butuh waktu lama dia membalas lumatan dari david sang kekasih hatinya, bahkan dia menahan ketika david ingin menarik kepalanya untuk menyudahi ciuman mereka.
setelah beberapa menit, akhirnya selena melepaskan david karna nafasnya sudah terengah engah dan suhu tubuhnya memanas, jika dilanjutkan maka dia akan meminta lebih.
"aku tau kau selalu suka selena, kau hanya sok jual mahal, apa kau mau lagi, kita bisa mengulangi lagi nanti setelah kau bernafas dengan benar," david hanya tersenyum mengoda kepada selena yang mukanya berubah merah.
"kau yang menggodaku,,,," jawab seĺena ketus
david hanya tertawa kecil melihat selena seperti itu, dia hanya mengambil beberapa kursi menyusun memanjang kemudian merebahkan tubuhnya dan menggunakan paha selena sebagai bantal.
kenapa kau murung sekali hari ini, lihat diluar hujan deras karna kau murung seperti ini,,,,,,," david mengangkat tangannya dan mengelus pipi selena dengan lembut.
selena yang dirayu seperti itu hanya memandang david tanpa perubahan diwajahnya, "mulutmu selalu saja manis david,,," jawabnya dengan jengah.
"oh ya, apa kau mau merasakannya lagi?" david memandang dengan senyum manisnya.
tanpa selena sadari satu senyuman yang lolos dari bibirnya, david yang sedang memandang wajah selena dari bawah tentu mwnyadarinya, "aku anggap itu sebagai jawaban iya," david bangkit dari tidurnya dan langsung menangkup leher selena untuk ******* kembali bibirnya, kali ini selena tidak berontak lagi, dia menyambut david sepenuhnya, bahkan dia membiarkan tangan david berjalan jalan di tubuhnya.
"kau selalu saja menempel dengan payudara perempuan, apa kau itu sapi?!"
ketika david dan selena tengah larut dengan kegiatan mereka terdengar suara di depan mereka, mereka langsung melihat ke arah suara tersebut, terlihat dua pria berdiri di pintu.
"bisakah kalian tidak menganggu sebentar saja," david merasa ingin marah karna kesenangannya diganggu, namun karna dia mengenal mereka berdua membuat dia menahan rasa kesalnya.
"kau ingin kami menunggumu sampai kapan? kau pikir jam berapa sekarang? hari sudah sore juga, ayo berangkat, kalau tidak aku dan marco akan duluan," ucap salah satu dari mereka.
"haizzzzt dah, ya sudahlah ayo," david kemudian melihat ke selena, "sayang aku pergi dengan mereka dulu,aku mau beli alat untuk bermain game,,,,"
"game apaaaaaa?" tanya selena heran.
"sudahlah, nanti aku jelasin di telfon ok" cup cup cup(sfx kecupan), "by honey" david pun langsung pergi dengan dua pria lainya.
brrrRRRRRRUAAAAAK!!!!!!!
Selena dengan kesalnya menendang meja di depannya, "anak orang kaya, pemain basket, ganteng, dia begitu sempurna? cuman karna bergaul dengan mereka berdu, dia menjadi begitu menyebalkan, selalu saja lebih penting teman temannya daripada aku, anTHONI BRENG..K" gerutu selena di dalam hati, dia hampir meledak menahan birahinya yang bekobar karna david, tapi dia meninggalkan dirinya begitu saja.
setelah beberapa saat menenangkan diri, selena bergegas keluar ruangan untuk pulang.
__ADS_1