
"RPG! Apa kau sudah siap?" Kata Luxia. "Iya, iya, sebentar lagi," kata RPG yang terburu-buru menghabiskan makanannya. "Lama sekali kau," kata Luxia. "Hehe, maaf," kata RPG malu. "Kau yakin tidak ingin tinggal di dalam kastil? Aku tidak tega melihatmu selalu di luar," kata Olimphia. "Aku sudah terbiasa tidur dan berkemah di luar ruangan. Sudahlah Olimphia, aku tidak apa-apa. Selain itu, RPG selalu menemaniku, benar kan?" Kata Luxia. "Y... Ya... Benar," kata RPG memerah. "Kau ini," kata Olimphia pada RPG. "Luxia, apa kau yakin ingin ke Dark Land Dungeon?" Tanya Shirata. "Aku harus kesana, apapun yang terjadi," kata Luxia. "Ya, selama Love Master masih hidup, ia akan terus berbuat onar dan mengirimkan pasukan Shadowheart untuk membuat masalah!" Tambah RPG. "Baiklah, jika itu yang kalian inginkan. Hey, mengapa kalian tidak menggunakan Boom Mobile?" Tanya Shirata. "Ide bagus. Kita akan sampai kesana dengan cepat," kata RPG. "Tunggu... Apa itu Boom Mobile?" Tanya Luxia. "Kendaraan serba guna terbaik yang pernah dimiliki oleh Kerajaan Mizukumo. Ia bisa menempuh segala medan," kata RPG. "Kelihatannya menarik. Baiklah," kata Luxia. Setelah meminjam Boom Mobile, RPG dan Luxia memulai perjalanan jauh mereka demi mencapai Dark Land Dungeon. "Sampai jumpa, RPG, Luxia. Semoga Tuhan selalu melindungi kalian," kata Akimura. "Terimakasih, teman-teman," kata RPG. "Hey, RPG, biarkan aku yang menyetir," kata Luxia. "Baiklah," kata RPG. "Perjalanan kita akan sangat menempuh waktu yang sangat lama, bagaimana kita bisa mengatasi rasa bosan?" Tanya RPG. "Kita harus mencari berbagai tempat penginapan dahulu. Mungkin kita juga bisa mengunjungi berbagai kota. Sudah lama aku tidak jalan-jalan," kata Luxia tersenyum. "ROAD TRIP? WA HOO!" Teriak RPG. "YEAYY!" Tambah Luxia.
Selama di perjalanan, tiada hentinya mereka memoto pemandangan disekitar mereka. "Fiuh, itu hebat, Lady Luxia," kata RPG. "Ya, aku... tidak pernah melihat pemandangan seindah ini sejak aku masih kecil. Aku selalu menjaga Hutan Cascade Maple. Ini membuatku bahagia," kata Luxia sambil tersenyum. Senyumannya membuat hati RPG menjadi luluh. "Whoa Luxia kau sangat cantik....." Kata RPG. "Huh? Kau bilang apa, RPG?" Kata Luxia. "Uhmmmm.... Bukan apa-apa! Maksudku, pemandangam disini sangat cantik. Hehehe," kata RPG malu. "Ayo kita lanjutkan perjalanan kita," kata Luxia pada RPG. "Kita akan kemana lagi, Lady Luxia?" Tanya RPG. "Kita akan menuju Kerajaan Edelweiss terlebih dahulu," kata Luxia. "Untuk apa, my lady?" Tanya RPG. "Ada urusan penting yang harus kuselesaikan. Kecepatan penuh, RPG!" Kata Luxia. "Baiklah!" Kata RPG. Tidak perlu waktu lama untuk sampai ke Kerajaan Edelweiss. "Ini dia, RPG! Kita sudah sampai. Selamat datang di Kerajaan Edelweiss!" Kata Luxia senang. "Whoa.... Lingkungannya sangat ramai dan indah ya?" Kata RPG. Luxia pun mengajak RPG untuk berkeliling di Kerajaan Edelweiss. RPG sangat senang, karena semua penduduknya ramah dan sopan. "RPG, ikutlah denganku sebentar!" Kata Luxia sambil menarik tangan RPG. "Hey, aku belum selesai untuk melihat-lihat!" Kata RPG. "Lupakan itu, ayo ikut aku," kata Luxia. "B...baiklah," kata RPG. Luxia pun mengajak RPG untuk pergi ke dalam kastil. Disana, sudah ada 2 penjaga yang menjaga pintu depan kastil. "Sebutkan namamu segera!" Kata 2 penjaga itu dengan tegas. "Namaku Luxia Blake dan ini temanku, RPG of the Starlight! Tolong izinkan kami masuk segera!" Kata Luxia tegas. "Ohhh... Itu kau Lady Luxia. Maaf jika kami lancang pada anda," kata 2 penjaga itu sambil menundukkan kepala. "Ayo RPG," kata Luxia. "Mengapa 2 penjaga itu takut kepada Lady Luxia?" Gumam RPG. "Disinilah aku harus menyelesaikan urusanku. Mungkin akan sedikit lama. Kau bisa mengelilingi kastil ini jika kau mau. Jangan khawatir, aku sudah memperingati para penjaga disini bahwa kau adalah temanku. Sampai nanti, RPG," kata Luxia. Ia pun langsung meninggalkan RPG sendirian. "Apa yang baru saja terjadi disini?" Kata RPG masih bingung. Ia pun berjalan untuk menjelajah kastil Kerajaan Edelweiss. "Wow! Tempat ini lebih besar dari yang kukira. Hey! Apa itu perpustakaan? Keren!" Kata RPG. Ia pun langsung mengambil beberapa buku dan membacanya. Saat asyik memilih buku, ia menangkap sesosok wajah ratu di dalam lukisan besar yang tergantung di tengah perpustakaan. "Hmm.... Dia pasti pemimpin kerajaan ini," kata RPG. "Princess One of the Edelweiss. Hmm... Wajahnya mirip dengan Lady Luxia. Sangat mirip!" Kata RPG. "Sepertinya kau tertarik pada lukisan itu," kata sesosok laki-laki yang sudah berumur kira-kira 40 tahun. "Whoa.... Kau mengejutkanku, tuan," kata RPG. "Maafkan aku. Kau pasti RPG of the Starlight, benar begitu, anak muda?" Kata laki-laki itu. "Ya, tunggu... Bagaimana kau tahu namaku?" Tanya RPG. "Seseorang yang sedang kau lihat di lukisan itulah yang sudah memberitahuku siapa kau," kata laki-laki itu. "Tunggu, bagaimana Putri One bisa mengetahui namaku dan sejak kapan kita bertemu? Aku... Tidak pernah bertemu dengan Putri One tapi wajahnya sangat mirip dengan temanku, bernama Luxia Blake," kata RPG. "Heheheh. Sepertinya kau masih bingung ya?" Kata laki-laki itu. Tiba-tiba, sesosok putri dengan gaun berwarna aqua datang menghampiri RPG dan laki-laki tersebut. "Itu Putri One, beri hormat padanya," perintah laki-laki itu. RPG pun menurut. "RPG... of the Starlight," panggil Putri One. "Y... Ya? Yang Mulia?" Tanya RPG. "Aku senang kau berada disini dan aku lihat kau sudah bertemu dengan penasihatku, Steven von Arthur," kata Putri One. "Huhmmm... Maafkan aku atas kelancanganku, tapi.... apakah kita pernah bertemu? Darimana kau tahu namaku?" Tanya RPG. "Kau belum mengerti juga ya, anak muda? Ia orang yang kau selamatkan dari serangan Shadowheart di Hutan Cascade Maple," kata Arthur. "Tapi, itu adalah Lady Luxia bukan Putri One... Tunggu sebentar.... Apakah kau...." Kata RPG. "Arthur! Aku berencana untuk membuatkannya kejutan! Owwww......" Kata Putri One. "Hehehe, maafkan aku, Putri One," kata Arthur sambil tertawa. "Ya, aku adalah alter-ego dari Luxia Blake, RPG. Hahahahaha, wajahmu sangat lucu saat kebingungan tadi," kata One sambil tertawa. "Tunggu... Biar kuperjelas.... Jadi kau adalah Lady Luxia?" Kata RPG. "Ya, aku sebenarnya adalah Luxia Blake. Nama asliku di Kerajaan Edelweiss adalah Princess One of the Edelweiss. Aku adalah pemimpin dari kerajaan ini, tapi aku sangat bosan sehingga aku suka menjelajah berbagai tempat termasuk Hutan Cascade Maple. Aku menetap disana karena banyak sekali Shadowheart yang menyerang hutan itu. Aku tidak mau hutan itu menjadi hancur akibat makhluk-makhluk itu!" Kata One. "Ouhhh.... Astaga, aku tidak menyadarinya. Pantas saja saat aku melihat lukisanmu yang terpampang di atas perapian perpustakaan, wajahmu sangat mirip dengan Lady Luxia karena kau adalah Lady Luxia," kata RPG. "Hehehe! Tepat sekali. Kau bisa memanggilku One saja jika kau mau. Terima Kasih karena selalu menjagaku, RPG of the Starlight," kata Putri One sambil tersenyum. "Hehehe.... Tidak masalah, Lady One," kata RPG tersipu malu. Tiba-tiba, salah satu penjaga Kerajaan Edelweiss pun mendatangi One. "Yang Mulia Putri One, anda harus melihat ini! Shadowheart menyerang kerajaan, apa yang harus kita lakukan?" Tanya penjaga itu. "Tenanglah, serahkan itu pada kami! Ayo RPG!" Kata One. "Baik, Lady One!" Tanya RPG. Ia mengajak RPG ke tempat senjata. "RPG, ambil ini," kata One sambil melemparkan sebuah pedang ke arah RPG. "Kau perlu senjata untuk bertarung bukan? Ayo kita habisi para Shadowheart itu! Kata One. "Oke, ayo!" Kata RPG. Mereka pun segera keluar dari istana dan melihat para Shadowheart yang sedang membuat kekacauan di antara rumah-rumah warga. "Hey! Bukan disini tempatmu, dasar makhluk aneh!" Kata One. "Hiya! Haaaa! Terima ini!" Kata RPG. Mereka berdua pun menyerang Shadowheart dan berusaha mengusir mereka dari area Kerajaan Edelweiss. "Hey RPG, lihat ini. RAGING... FIRE!" Teriak One. Ia mengeluarkan api disekelilingnya yang menjalar dalam area yang besar. "Hehe! Tidak buruk, Lady One. Sekarang giliranku! SPINNING BLADE OF DEATH!" Teriak RPG. Ia berputar-putar dengan sangat cepat sambil mengayunkan pedangnya. Setelah beberapa lama, akhirnya mereka berhasil mengusir dan memukul mundur pasukan Shadowheart itu. "Fiuh.... Kerja bagus, RPG," kata One. "Mereka selalu saja membuat kekacauan!" Kata RPG. "Apa kalian baik-baik saja?" Tanya One kepada rakyatnya. "Ya... Terima kasih, Yang Mulia," kata orang-orang itu. "Aku akan memperketat keamanan kerajaan ini! Arthur, suruh para penjaga dan pekerja untuk memperketat kerajaan ini," perintah One. "Baik, Putri One," kata Arthur. "Aku dan RPG akan pergi ke istana Lovemaster dan mengakhiri kegilaan ini," kata One. "Apa kau yakin akan pergi kesana, Yang Mulia Putri One?" Tanya Arthur. "Yap, lagipula aku memiliki RPG yang siap melindungiku kapan saja, benar kan RPG?" Tanya One sambil tersenyum. "Y... Ya, Lady One. Itu pasti!" Kata RPG malu. "Baiklah, ayo kita lanjutkan perjalanan kita. Menuju Boom Mobile!" Kata One bersemangat. "Hey, tunggu aku, Lady One," kata RPG. Sebelum meninggalkan kerajaan, Arthur menyampaikan sesuatu pada RPG. "RPG, kau berjanji akan melindungi Yang Mulia?" Tanya Arthur. "Aku berjanji, Tuan Arthur. Jangan khawatir, lagipula aku mempunyai kekuatan bunga ini di mata kiriku," kata RPG. "Oh ya sebelum kau pergi, ada satu hal yang ingin kusampaikan padamu, anak muda," kata Arthur. "Apa itu, tuan?" Tanya RPG. "Yang Mulia Putri One sudah menyimpan perasaan padamu, RPG. Tolong jaga dia baik-baik ya, sampai jumpa. Aku mengandalkanmu, RPG of the Starlight," kata Arthur. "Me... Menyukaiku? Tapi.... Tuan Arthur, tunggu!" Kata RPG. "Jika kau tidak percaya, tanyakan saja padanya langsung," kata Arthur sembari meninggalkan RPG. RPG pun terdiam sesaat. "Hey, RPG! Boom Mobile sudah siap, ayo pergi!" Panggil One. "Ba... Baik Lady One. Aku kesana," kata RPG.
"Hey Lady One, mengapa terburu-buru?" Kata RPG kelelahan. "Aku marah dan senang disaat yang bersamaan. Tee hee!" Kata One sambil tersenyum. RPG pun memerah lagi. "RPG," panggil One. "Y... ya?" Tanya RPG. "Kali ini kau yang menyetir ya. Ayo! Kita pergi ke Dark Land Dungeon dan mengalahkan Love Master!" Kata One bersemangat. Mereka pun akhirnya berangkat dari Kerajaan Edelweiss. Selama di perjalanan, RPG terus memegang mata bunganya. Ia tampak kesakitan. "Huh? Ada masalah, RPG? Ada apa dengan mata bungamu?" Tanya One dengan lembut. "Setiap mata bungaku menyala dengan terang, itu berarti ada ancaman yang akan mendekati kita," kata RPG sambil kesakitan. "Tapi... Aku tidak melihat ada bahaya disekitar sini. Hanya ada pemandangan pantai nan indah disini," kata One. "Ya... Semoga saja tidak ada ancaman. Argh!" Kata RPG. Melihat RPG yang kesakitan, One pun menyuruh RPG untuk berhenti dan beristirahat. "Bagaimana kalau kita beristirahat sejenak. Kau tidak bisa menyetir dengan kondisi seperti ini," kata One. "Ide bagus Lady One. Terima kasih ya. Ouch!" Kata RPG. Mereka pun akhirnya menghentikan Boom Mobile sejenak dan beristirahat di tepi pantai di bawah pohon kelapa nan rindang. "Fiuh... Lihatlah pemandangan ini! Sangat cantik! Aku rasa aku akan menangis!" Kata One. "Ya, kau benar, Lady One," kata RPG sambil tersenyum. Angin sepoi-sepoi membuat mereka berdua pun mengantuk. "Hoahm... Aku sangat mengantuk," kata One. Ia tertidur di pangkuan RPG sehingga membuat ia memerah lagi. "Humm.... Lady One.... Apa yang kau lakukan?" Kata RPG malu. "Aww... RPG! Kau sangat lucu saat wajahmu memerah. Tee hee. Aku... Menyukaimu... RPG sayang," kata One. "Umm... Ya.... Terima kasih.... Lady One," kata RPG. "RPG... Kau masih ingat janji kita?" Kata One. "Ingatlah, kau harus menghentikanku jika sewaktu-waktu kekuatan Shadowheart merasukiku. Aku... Percaya padamu... sayang!" Kata One. "Apapun untukmu, Lady One. Aku akan melindungimu, apapun yang terjadi!" Tekad RPG. "Aku... Bahagia mendengarnya. Terima kasih, RPG," kata One dengan wajah memerah. One pun akhirnya tertidur di pangkuan RPG. Tiba-tiba, keanehan terjadi lagi. Mata bunga RPG menyala dengan sangat terang. "Argh! Mataku! Sangat.... Sakit!" Kata RPG. Beberapa saat kemudian salju pun turun. "Salju?! Tapi... Ini seharusnya masih musim panas! Ini... Tidak normal! Argh! Pantas saja mata bungaku menyala!" Kata RPG kesakitan. "Brr... Mengapa ini menjadi... Di... Di... Di... Dingin?!" Kata One. "Salju tiba-tiba turun! Kita harus segera pergi dari sini dan mencari tempat yang hangat! Ayo Lady One!" Kata RPG. Mereka berdua pun segera meninggalkan pantai dan pergi untuk mencari penginapan. "RPG... Berapa lama lagi kita... Sam... p....p...pai?" Kata One kedinginan. "Sebentar lagi..." Kata RPG yang sudah menggigil. "RPG! Lihat! Disana!" Kata One. "Penginapan kecil! Inilah yang kita butuhkan sekarang. Ayo!" Kata RPG. Mereka pun akhirnya masuk ke penginapan tersebut dan beristirahat malam. Selama di kamar, RPG mempunyai perasaan yang tidak enak. "Fuhh... Menurutmu... Mengapa tiba-tiba turun salju ya?" Kata One. "Ini pasti ada hubungannya dengan Viridian Stone yang dicuri Aries dan Olivia!" Kata RPG. "Siapa Aries dan Olivia?" Tanya One. RPG akhirnya menceritakan semuanya. "Hmm... Jadi Aries dan Olivia telah mencuri Viridian Stone dari Pulau Goddess dan keseimbangan alam termasuk cuaca menjadi kacau akibat Viridian Stone hilang dari Pulau Goddess?" Tanya One. "Ya. Aku harap kita bisa mengalahkan Love Master dengan cepat sehingga aku bisa menemukan Aries dan Olivia! Dua orang itu benar-benar membuatku geram!" Kata RPG marah. "Tenangkan dirimu, RPG. Aku yakin kita bisa melewati ini semua. Aku akan terus berada disampingmu, RPG," kata One sambil tersenyum. "Apa Aries dan Olivia mempunyai hubungan spesial?" Tanya One lagi. "Aries adalah pacar dari Olivia. Olivia adalah mantan anggota dari organisasi yang kubuat yang bernama Freedom Fighters. Kami berdua sangat dekat. Kami berjuang bersama demi mengalahkan kejahatan. Aku dulu juga sempat menyimpan perasaan padanya, tetapi pada akhirnya.... Ia mengkhianati kita semua, mengkhianatiku! Demi Aries! Mereka berencana untuk menghancurkan dunia dan membangunnya kembali!" Kata RPG sambil meneteskan air mata. "RPG... Tersenyumlah," kata One sambil menghapus air mata di pipi RPG. "Lupakan masa lalu okay? Jika Olivia pernah menghancurkan hatimu, kini giliranku untuk menjaga hatimu dan menyatukannya kembali," kata One. "Terima kasih, Lady One," kata RPG sambil tersenyum. "Hey! Bagaimana jika kita membuat janji sekali lagi?" Kata One. "Apa itu, Lady One?" Kata RPG. "Kita akan tetap bersama... Menjaga hati satu sama lain," kata One. "Tapi... Lady One... Aku..." Kata RPG terbata-bata. "Ayolah... Berjanjilah padaku," kata One penuh harap. "Baiklah... Aku janji," kata RPG sambil tersenyum. "Tee hee," kata One. RPG pun memerah lagi. Akhirnya mereka berdua pun memutuskan untuk beristirahat dan melanjutkan perjalanan mereka esok hari.
Fajar pun telah menyingsing. Sebagai seorang ratu, One sudah biasa untuk bangun pagi dan menyiapkan sarapan. RPG? Yahhh.... Ia masih tertidur dikasurnya. "Ugh.... Huh? Sudah pagi, waktunya bangun... Hoahhmmm... Brrrr.... Aku lupa kalau diluar masih dingin. Salju turun dengan lebat semalam!" Kata RPG kedinginan. "Lady One pasti sudah bangun duluan, aku juga harus mempersiapkan diri," kata RPG. Ia pun segera mandi dan menuju ruang makan di penginapan tersebut. "Ohh... Selamat pagi, RPG!" Teriak One sambil tersenyum. "Hey, Lady One... selamat pagi juga... Brrr...." Kata RPG. "Cuaca diluar sangat dingin, jadi aku menyiapkan ini," kata One sambil menyodorkan sup hangat dan teh. "Terima kasih, Lady One," kata RPG. "Tee hee! Senang bisa membantumu," senyum One. RPG pun memerah lagi. "Huh? Ada apa RPG? Wajahmu memerah, apa kau sakit?" Tanya One. "Aku... tidak apa-apa... Sungguh, hehe," kata RPG tersipu malu. "Ia lebih manis dari yang kukira," gumam RPG. Setelah sarapan, mereka pun pergi meninggalkan penginapan itu dan bersiap menuju Dark Land Dungeon. Selama di perjalanan, RPG dan One saling mengobrol dan melakukan pendekatan satu sama lain. "Jadi RPG, aku ingin tahu banyak tentang dirimu," senyum One. "Yahhh.... Tidak banyak... Aku ketua dari organisasi Freedom Fighters. Aku memiliki anggota sekaligus teman-teman yang baik. Xicko, Olimphia, Akimura, Shirata, Rake, AGT, BGS, dan Destroyer. Mereka sudah kuanggap sebagai keluargaku sendiri," kata RPG. "Sepertinya kehidupan mu menyenangkan ya?" Tanya One. "Ya, tidak seberapa hehehe. Hey, kau boleh mengunjungi kami kapan saja, Lady One. Aku... juga ingin tahu banyak tentang.... uhmmm.... dirimu," kata RPG malu. "Aku ingin sekali tapi aku tidak bisa meninggalkan tugasku sebagai pemimpin Kerajaan Edelweiss," kata One. RPG pun mengangguk. "Uhmm... Lady One...." Panggil RPG. "Ya? Ada apa RPG?" Kata One sambil tersenyum. "Aku... uhmmm.... sebenarnya.... menyukaimu... sejak pertama kali kita.... bertemu di Hutan Cascade Maple," kata RPG gugup. Lady One pun memerah. "Be... benarkah itu?" Tanya One. "Ya, hehe," kata RPG malu. "Tee hee, wajahmu terlihat lucu jika memerah. Aku sudah tahu hal itu, RPG. Saat aku mendengar seseorang berteriak dan memanggil namaku saat di Hutan Cascade Maple, aku tahu kau pasti akan mencariku dan menyelamatkanku, RPG of the Starlight. Yap! Aku juga menyukaimu," kata One sambil tersenyum. "Jangan khawatir, aku tidak akan menghancurkan hatimu seperti Olivia. Kita sudah berjanji untuk menjaga hati satu sama lain bukan?" Kata One sambil bersandar di pundak RPG. "Ya... Terima kasih, Lady One," kata RPG sambil tersenyum. Setelah melalui perjalanan panjang, akhirnya mereka sampai di daerah Dark Land Dungeon.
"Hmm... Ini aneh! Dark Land Dungeon membeku?! Tapi bagaimana bisa?!" Tanya RPG kebingungan. "RPG! Lihat itu!" Kata One. Ia melihat sebuah kastil es disalah satu puncak gunung. "Itu pasti Kastil Love Master! Ayo, Lady One," kata RPG. "Baik!" Kata One. "Brrr.... Tempat ini semakin dingin saja. Bahkan aku tidak bisa menggunakan kekuatan apiku!" Kata One menggigil kedinginan. RPG pun memberikan jaketnya kepada One. "Ini," kata RPG. "Tapi... Bagaimana.... Denganmu," kata One. "Aku akan baik-baik saja, jangan khawatirkan aku," kata RPG. "Terima kasih, RPG," kata One sambil mencium pipi RPG. RPG pun memerah lagi.
"Brrr.... Cuacanya semakin dingin..." Kata One. "Y... Ya... Kau benar! Mari kita cari tempat untuk menghangatkan diri terlebih dahulu!" Kata RPG. "Ahhhhhhh!" Terdengar suara dari kejauhan. "RPG... Kau dengar itu?!" Tanya One. "Ya, seperti suara teriakan. Hmm... Asalnya dari sebelah sana. Sebaiknya kita memeriksanya terlebih dahulu," kata RPG. Mereka berjalan menuju sumber suara itu. "Huh? Ada apa RPG?" Tanya One. "Mataku! Aku mendeteksi adanya bahaya disekitar sini!" Kata RPG sambil memegang mata bunganya. Mereka melihat kumpulan Shadowheart yang sedang mengelilingi sebuah rumah kecil. "SHADOWHEART! Apa yang mereka lakukan di sekitar sini?!" Tanya One. "Yang pasti, mereka sedang membuat kekacauan lagi. Mari kita habisi mereka terlebih dahulu!" Kata RPG. Tak butuh waktu lama bagi RPG dan One untuk menghabisi para Shadowheart tersebut. "Huff... Huff... Akhirnya. Mereka tidak pernah berhenti membuat masalah!" Kata One. RPG pun mengetuk pintu rumah kecil itu. "Permisi. Ada orang didalam?" Tanya RPG. "Menjauhlah dariku! Pergilah!" Kata suara itu. "Uhm... Jangan khawatir. Makhluk-makhluk itu sudah pergi. Kau aman sekarang! Bolehkah kami masuk? Kami butuh tempat untuk menghangatkan diri!" Kata RPG lagi. Setelah mengetuk beberapa kali, akhirnya pintu itu terbuka. Terlihat seorang anak perempuan yang berusia 2 tahun lebih muda dari RPG dan One. Ia berusia 15 tahun. "Oh... Fiuh! Akhirnya, para makhluk itu pergi! Terima kasih ya," kata anak itu. "Silahkan masuk," kata anak itu dengan sopan. "Terima kasih ya, aku dan temanku sangat membutuhkan kehangatan. Cuaca diluar dingin sekali," kata RPG. "Maaf sudah merepotkanmu, gadis muda," kata One sambil tersenyum. "Uhmm.... Uhhh.... Boleh aku tahu nama kalian?" Tanya anak itu malu. "Namaku RPG of the Starlight. Kau bisa memanggilku RPG," kata RPG sambil tersenyum. "Dan aku One of the Edelweiss. Panggil aku One, tee hee!" Kata One. "Senang bertemu dengan kalian, Kak RPG dan One," kata anak itu. "Namamu siapa, gadis muda?" Tanya RPG. "Aku Liáng Xia! Kalian bisa memanggilku Xia. Aku gadis keturunan Cina. Penerus Dinasti Zhuan Xia. Hehe," kata anak itu malu. "Keren! Senang bertemu denganmu, Liáng Xia," kata RPG dengan mata berbinar. "Hmm... Dimana kedua orang tuamu, Xia? Aku... Tidak melihat mereka," Tanya One. "Kedua orang tuaku sudah tiada. Mereka tewas dalam peperangan saat bertempur melawan musuh," kata Liáng Xia sedih. "Ohh... Maaf! Maafkan aku. Aku... Ti... Tidak tahu...." Kata One gugup. "Tidak apa-apa, Kak One," kata Liáng Xia sambil tersenyum. "Jadi... Sekarang kau hidup sendiri?" Tanya RPG. "Ya... Begitulah Kak RPG," kata Liáng Xia. "Tidakkah kau tahu berbahaya hidup di daerah ini? Dark Land Dungeon adalah daerah kekuasaan Love Master!" Kata RPG. "Aku tahu, tapi aku tidak bisa meninggalkan daerah ini. Aku... Terlalu takut untuk pergi keluar," kata Xia. "Hey, mengapa kau tidak ikut dengan kami?" Tanya One. "Sungguh? Kau serius? Yeayyy! Terima kasih Kak One dan RPG!" Kata Liáng Xia sambil tersenyum. "Uhmm... Ngomong-ngomong, mengapa kau menutup satu matamu?" Tanya RPG penasaran. "Aku... Tidak boleh membuka penutup mata ini. Itulah kata orang tuaku. Mereka bilang, aku harus belajar cara mengendalikan kekuatanku terlebih dahulu sebelum membuka penutup mataku," kata Xia. "Boleh kulihat?" Tanya RPG. "Apa kau yakin, Kak RPG?" Tanya Xia. "Aku akan melindungimu jika terjadi sesuatu," kata RPG. "Baiklah..." Kata Xia. "RPG pun membuka penutup mata gadis itu. Ia pun terkejut karena ia mempunyai mata bunga juga. "Kau.... Kau memiliki mata bunga!" Kata RPG terkejut. "Pantas orang tuamu menyuruh kau untuk tidak membuka penutup matamu. Pengguna mata bunga harus belajar untuk mengendalikan kekuatan tersebut. "Darimana kau tahu semua hal itu, Kak One?" Tanya Liáng Xia penasaran. "Karena temanku juga pengguna mata bunga," kata One sambil tersenyum. Tiba-tiba, RPG dan Liáng Xia merasakan rasa sakit yang bersamaan. "Akhhhhh! Mataku!" Kata RPG. "Kak One, Kak RPG! Tolong! Mataku.... Sangat sakit!" Kata Liáng Xia. One pun melihat beberapa keanehan. Ia melihat mata bunga RPG dan Liáng Xia bereaksi satu sama lain. Mata bunga mereka menyala dengan sangat terang. "ITU DIA!" Kata One. "Jika jarak kalian semakin dekat, kekuatan mata bunga kalian akan semakin kuat seiring dengan tingkat cahaya yang dihasilkan!" Kata One. "Apa yang ingin kau katakan, One?" Tanya RPG sambil menahan rasa sakit. "Intinya, jika jarak kalian semakin dekat satu sama lain, mata bunga kalian akan semakin terang dan kuat. Ada kemungkinan kalian bisa menggabungkan kekuatan kalian berdua," kata One. "Aku tidak tahu jika orang tuaku menyembunyikan hal ini dariku," kata Liáng Xia. "Orang tua mu benar, Liáng Xia. Mempunyai mata bunga adalah suatu tanggung jawab yang besar. Kau harus belajar untuk mengendalikan nya sama sepertiku," kata RPG. "Ya kau benar. Kak RPG, Kak One, tolong ajari aku cara mengendalikan mata bunga," kata Liáng Xia sambil tersenyum. "Itu sebabnya kami mengajakmu. Untuk melindungimu dan mengendalikan kekuatanmu, benar kan RPG?" Tanya One. "Tentu saja," senyum RPG.
"Brrr.... Tutup pintunya, RPG! Diluar sedang turun badai salju. Ini semakin dingin!" Kata One. "Sebaiknya kalian berdua melanjutkan perjalanan kalian esok hari. Tidak mungkin keluar dengan cuaca seperti ini," kata Liáng Xia. "Kau benar," kata RPG. "Ada yang mau coklat panas?!" Tanya One semangat. "Hey! Minuman favoritku! Yum, yum!" Kata Liáng Xia. "Kau mau coklat panas, RPG?" Tanya One sambil tersenyum. "Y... Ya tentu saja. Terima kasih Lady One. Hehe," kata RPG tersipu malu. Sementara One membuatkan coklat panas untuk mereka bertiga, RPG dan Liáng Xia asyik mengobrol. "Kita akan pergi kemana besok, Kak RPG?" Tanya Liáng Xia. "Ke Kastil Love Master, tentu saja untuk mengalahkannya!" Kata RPG. "K... Kau serius?! Love Master sangat kuat! Belum pernah ada yang bisa mengalahkannya! Ia punya begitu banyak pasukan Shadowheart! Mustahil untuk mengalahkannya!" Kata Liáng Xia ketakutan. "Kalau begitu, kita bertiga adalah orang yang pertama kali mengalahkan Love Master! Kegilaan ini harus dihentikan secepatnya!" Tekad RPG. "Coklat panas datang! Ayo minum bersama, tee hee!" Kata One. "Terima kasih Kak One, hehehe," kata Liáng Xia. "Ini untukmu, RPG sayang," senyum One. "Te... Terima kasih Lady One," kata RPG.
__ADS_1
Keesokan paginya, terjadi guncangan yang kuat di area Dark Land Dungeon. "Whoa.... Apa yang terjadi?!" Kata Liáng Xia. "Gempa bumi! Kita harus mencari tempat yang aman! Semuanya, ayo pergi dari sini!" Kata One. "Tapi... Bagaimana dengan rumahku?!" Tanya Liáng Xia. "Nyawamu lebih berharga dibandingkan rumah! Ayo cepat, Liáng Xia!" Teriak RPG. Guncangan tersebut sangat dahsyat hingga permukaan tanah menjadi retak. Dibawah retakan itu pula, muncul semburan lava panas di berbagai tempat. "Astaga! Ini gempa bumi hebat! Whoaaaaa!" Kata RPG. "Kak RPG! Coba lihat dibawah sana!" Kata Liáng Xia. "Lava! Jadi inikah Dark Land Dungeon yang sebenarnya?! LARI!" Teriak RPG. Sayangnya, One tergelincir dan hampir jatuh ke permukaan lava. "AHHHH! TOLONG!" teriak One. "LADY ONE! Liáng Xia, kau lari saja ke tempat yang aman! Aku akan menolong Lady One dulu!" Kata RPG. "Tapi... Itu sangat berbahaya!" Kata Liáng Xia. "Jangan khawatir, aku bisa mengatasi ini! Sekarang pergilah! Cari tempat yang aman!" Perintah RPG. Liáng Xia pun menuruti perkataan RPG dan meninggalkan mereka berdua. Sementara itu, RPG berusaha untuk menolong One. "LADY ONE! CEPAT! PEGANG TANGANKU!" kata RPG. "Tanganku licin! Aku tidak bisa bertahan! AHHHHHHHH!" Teriak One. Sayangnya, RPG tidak berhasil meraih tangan sang tercinta dan One pun akhirnya jatuh ke permukaan lava. "LADY ONE! TIDAAAAAKK! TSK! REVERSE INFERNO CONTROL!" Teriak RPG. Untungnya, RPG menggunakan kekuatannya untuk bertukar tempat dengan One sehingga One bisa kembali ke permukaan dengan selamat. Sekarang, RPG lah yang berada dalam masalah. "Fiuh... Syukurlah! Tunggu sebentar! RPG! Ia menggunakan Reverse Inferno Control? Oh tidak!" Kata One. Ia segera berlari menuju RPG. Ia melihat RPG terjatuh ke permukaan lava. "RPG!" teriak One.
Sementara itu...
"Oh ayolah! Aku tidak bisa mati sekarang! Masih banyak hal yang harus aku lakukan di dunia ini tapi sekarang aku terjatuh ke dalam lava? Huaaaaaaa! Teriak RPG. Tiba-tiba, keajaiban pun terjadi. Ada suatu energi yang menahan RPG dan mendorongnya kembali ke atas permukaan tanah. "Inilah saatnya... Selamat tinggal... Semuanya. Lady One... Maafkan aku... Aku tidak bisa memenuhi janjiku padamu... Hah?! Hey! Aku... Masih hidup? Whoaaa...." Kata RPG. "RPG! Aku tidak percaya ia menggunakan kekuatan itu hanya untuk melindungiku! Aku memang payah!" Kata One sambil menangis. RPG pun tiba-tiba muncul dari belakang. "Lady One... Jangan menangis. Aku disini," kata RPG. One pun terkejut. "RPG?! Kau masih hidup?! Tapi... Bagaimana caranya?" Tanya One. "Kurasa aku harus berterima kasih pada kedua peri ini. Katakan halo pada Vanilla dan Coco," kata RPG sambil tersenyum. "Mereka berdua adalah peri penasihat ibuku, Isabella Theresia Lilly," kata RPG. One pun langsung memeluk RPG dengan erat. "Kau bodoh! Bodoh! Bodoh! Kau mengorbankan dirimu untukku? Aku... Tidak mau kehilanganmu lagi! Dasar bodoh!" Kata One sambil menangis. "Hey... Tersenyumlah Lady One... Hanya itu... Yang kubutuhkan sekarang," senyum RPG. Ia pun menghapus air mata sang bidadari. One pun memerah lalu tersenyum bahagia. Ia pun berbicara dengan pelan dan lembut pada RPG. "RPG... Tetaplah berada disisiku," kata One. "Tentu saja, Lady One," kata RPG sambil tersenyum. "Sekarang ayo kita lanjutkan perjalanan menuju tempat yang aman dan menemukan Liáng Xia," kata RPG. One pun mengangguk.
Mereka berdua pun akhirnya melanjutkan perjalanan untuk bertemu dengan Liáng Xia terlebih dahulu. Saat di perjalanan, One tiba-tiba memegang tangan RPG dengan erat. RPG pun memerah. Akhirnya setelah perjalanan panjang, mereka berhasil berkumpul kembali tetapi kali ini, ada satu orang lagi yang ikut membantu misi RPG dan One dalam mengalahkan Love Master. "Liáng Xia! Akhirnya aku menemukanmu," kata RPG. "Syukurlah kau baik-baik saja," kata One. "Ayo pergi. Guncangannya sudah selesai. Kita bisa melanjutkan perjalanan menuju Kastil Love Master," kata RPG. "Tunggu sebentar, Kak RPG. Aku sedang menunggu seseorang. Ia akan kembali sebentar lagi," kata Liáng Xia. "Seseorang?" Tanya RPG. Tidak lama kemudian, muncul seseorang dengan kacamata yang RPG kenal. "Jeremy! Kau sudah kembali! Ayo pergi!" Kata Liáng Xia. "Tunggu sebentar... DOCTOR JEREMY?!" kata RPG terkejut. "RPG of the Starlight?!" Jeremy pun juga terkejut. "APA YANG KAU LAKUKAN DISINI?!" teriak mereka berdua secara bersamaan. "Aku sedang menjaga Liáng Xia. Apa itu menjadi masalah bagimu?!" Tanya Jeremy. "Heh! Aku yakin ini salah satu dari rencana jahatmu! Lagipula, bukankah Xicko sudah mengalahkanmu dan mengirim kau ke dalam dimensi lain?!" Tanya RPG. "Faktor pertama, aku bisa keluar dari dimensi Xicko atas kejeniusanku. Faktor kedua, ini bukan bagian dari rencana jahatku!" Kata Jeremy. "Oh ya?!" Kata RPG. "YA!" Teriak Jeremy. "Hmph! Aku masih tidak bisa mempercayaimu!" Kata RPG. "Kalau begitu, kau mau aku hancurkan dengan pasukan robotku?!" Tanya Jeremy. "Heh! Kirim saja sesukamu dan dengan senang hati aku akan menghancurkannya!" Kata RPG. "Grrrr...." Kata mereka berdua. "KALIAN BERDUA.... CUKUP SUDAH! HENTIKAN!" Teriak One. "Hhhhh.... Sekarang ceritakan mengapa kalian berdua tiba-tiba bertengkar," kata One. "DIA YANG MEMULAI DULUAN!" Kata mereka bersamaan dan saling menunjuk satu sama lain. "Oh ya, bukankah kau yang memulai duluan?" Tanya RPG. "Hanya dimimpimu, bodoh!" Kata Jeremy. "CUKUP! Aku mau kalian berdua bersalaman dan berbaikan! Segera!" Kata One. One pun berusaha melerai mereka berdua. "Kalian berdua... Tidak baik bertengkar seperti itu," kata One. "Baiklah... Gadis itu benar. RPG... Mungkin sudah saatnya kita akhiri pertarungan tiada batas diantara kita," kata Jeremy. "Yahh... Kau benar. Aku juga sudah lelah," kata RPG. "Maafkan aku jika dulu aku menyerang dan menghancurkan desamu, RPG," kata Jeremy. "Aku juga minta maaf karena sudah membiarkan salah satu temanku mengirimmu ke dimensi lain," kata RPG. Mereka berdua pun akhirnya bersalaman dan menjadi teman baik. Pertempuran antara RPG dan Doctor Jeremy pun akhirnya berakhir. One dan Liáng Xia pun akhirnya tersenyum.
"Jadi RPG... Apa yang kau lakukan disekitar sini?" Tanya Jeremy. "Kita akan pergi ke Kastil Love Master untuk mengalahkannya. Kau mau ikut, Jeremy?" Tanya RPG. "Tentu saja! Oh ya ngomong-ngomong, kau belum memperkenalkan diriku pada gadis itu," kata Jeremy. "Oh ya aku hampir lupa. Jeremy, ini Lady One. Ia adalah ratu dari Kerajaan Edelweiss. Lady One ini Jeremy," kata RPG. "Salam kenal, Yang Mulia," kata Jeremy. "Oh kumohon, panggil saja aku One. Senang bertemu denganmu juga Doctor Jeremy," kata One sambil tersenyum. "Hehe... Oh ya RPG ngomong-ngomong... Apa kau berpacaran dengan One?" Tanya Jeremy. "Ap... Apa yang kau bicarakan?" Tanya RPG gugup. "Hah! Wajahmu memerah! Hey One!" Panggil Jeremy. "Ada apa, Jeremy?" Tanya One. "Apa kau memiliki hubungan spesial dengan RPG?" Tanya Jeremy. One pun terdiam dan memerah. "JEREMY!" Kata RPG. "HAHA! Kalian berdua memang serasi! Lihat wajah kalian!" Kata Jeremy sambil tertawa. RPG dan One pun tersenyum satu sama lain. Dalam hati, mereka berdua mengatakan : "Ya! Kami berdua mempunyai hubungan spesial yang dinamakan dengan cinta!"
"Wahhh... Wahhh... Wahh.... Lihat siapa yang datang? RPG of the Starlight dan kedua temannya yang menyedihkan. Selamat datang di ruangan ritualku!" Kata Love Master. "Love Master... Katakan padaku! DIMANA LADY ONE?!" Teriak RPG. "Whoa... Whoa... Tahan dulu anak muda..." Kata Love Master sambil tertawa. "Lady One!" Kata RPG. "A... A... A! Lady One adalah milikku sekarang, RPG! Ia adalah Ratu dari Shadowheart kau tahu?" Kata Love Master. Ia pun tiba-tiba teringat ucapan One padanya.
Flashback
__ADS_1
"RPG... Aku.... harus memberi suatu hal yang penting... padamu," kata Luxia. "Baiklah, apa saja, Luxia," kata RPG. "Sebenarnya, aku mempunyai kekuatan Shadowheart yang terpendam di dalam diriku. Kadang, kekuatan itu tidak terkendali dan akan merubahku menjadi Shadowheart juga," kata Luxia. "Benarkah?" Tanya RPG. "Ya.... RPG...." Panggil Luxia. "Ada apa, Luxia?" Tanya RPG. "Maukah kau tetap bersamaku dan menerimaku apa adanya, walaupun terkadang kekuatan ini merasukiku hingga merubahku menjadi sosok Shadowheart?"
"AKH! Aku lupa! Lady One memiliki kekuatan Shadowheart yang terpendam dalam dirinya!" Kata RPG. "Sekarang kau sudah tahu alasan mengapa aku menculik One? Aku akan segera menikahinya dan membuat dia menjadi Ratu para Shadowheart dan kita berdua akan menguasai dunia menggunakan kekuatan Perfect Dark Heart! MUAHAHAHAHA!" Kata Love Master. "Oh ya... Aku hampir lupa! Sebelum aku menikahi One, mungkin aku harus membunuhmu terlebih dahulu, RPG! My beloved, One... Hancurkan RPG! Sekarang!" Perintah Love Master. "RPG! Aku rasa One sedang dalam pengaruh Love Master!" Bisik Jeremy. "Pengendali pikiran ya?" Tanya RPG. "Baiklah... Seperti yang kau minta... Lord Love Master!" Kata One. "Kita harus mengalahkan Kak One terlebih dahulu!" Kata Liáng Xia. "Aku... Aku tidak bisa melawan Lady One!" Kata RPG. Jeremy pun menarik RPG dan menampar wajahnya. "Ouch! Hey!" Kata RPG. "Lihat aku! Apa kau benar-benar mencintainya?!" Tanya Jeremy. "Ya! Tentu saja aku mencintainya!" Kata RPG. "Sekarang One sedang dalam pengaruh Love Master! Satu-satunya cara untuk menyadarkannya adalah dengan melawannya! Jika kau benar-benar cinta dengan One maka kau harus melawannya untuk menyadarkannya! Kau mengerti?!" Tanya Jeremy. "Kau benar! Jeremy, Liáng Xia! Bersiaplah! Ini dia!" Kata RPG. "Aku... Akan menghancurkan.... KALIAN SEMUA!" teriak One.
One langsung menyambar Jeremy dan Liáng Xia dengan cepat. Mereka berdua pun terpelanting jauh. "Jeremy! Liáng Xia! Tsk! Dari mana Lady One mendapatkan tenaga sekuat itu?" Kata RPG. One pun langsung memandang RPG. Matanya menghitam, tubuhnya dipenuhi aura ungu pekat. Ia pun menyeringai di hadapan RPG. "Sekarang... Giliranmu!" Kata One. Ia menyambar RPG dengan cepat dan menghantam tubuh RPG dengan keras. "GAHHHHH!" teriak RPG. "Oooffff... Uhuk! Ouch! Itu... Sakit!" Kata RPG sambil menahan sakit. "HEHEHEHAHAHAHA! Pertunjukkan ini semakin seru," kata Love Master. RPG pun berusaha bangun. "Hey! Lady One! Aku masih hidup!" Kata RPG. RPG dan One saling melontarkan serangan.
"Lady One! Sadarlah! Ini aku, RPG!" Kata RPG. "Tsk! Bagaimana ia bisa mendapatkan stamina begitu banyak?!" Kata RPG yang sudah kewalahan. One terus menyerang RPG tanpa henti. "Huff... Huff... Aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi! Kalau begini terus aku akan...." Kata RPG. "EXTERMINATOR BOT! ENGAGE!" teriak Jeremy. "BUBBLE SHIELD... UNLEASHED!" teriak Liáng Xia. "Kau melupakan kita berdua, One!" Kata Jeremy. "Kak RPG! Kau baik-baik saja?" Tanya Liáng Xia. "Aku baik-baik saja... Terima kasih ya... Uhuk!" Kata RPG. "Serahkan One pada kami! Kau harus mengisi tenagamu dulu, RPG!" Kata Jeremy. "Grrr..... GRRAAAAAAA!" Teriak One. "Heh! Untungnya aku sudah menyiapkan hal ini! Exterminator Bot! Change to battle mode level 2!" Kata Jeremy. Battle mode level 2 activated! Commencing attack now! "Exterminator Bot... ATTACK!" teriak Jeremy.
"Liáng Xia... Sudah cukup. Jika kau terus mengirim kekuatan penyembuh kepadaku, kau akan kehabisan tenaga juga," kata RPG. "Tapi kak..." Kata Liáng Xia. "Tidak apa-apa. Setidaknya aku sudah pulih dan cukup kuat untuk bertarung kembali," kata RPG. "Tetap disini, Liáng Xia," kata RPG. "GRRRR.... HEHEHEHAHAHAHA!" kata Luxia. "Tsk! Bagaimana ia bisa sekuat ini?!" Gumam Jeremy. Jeremy terus memerintahkan robotnya untuk menyerang Luxia sampai...
"System error... System error... Error... Error.... Target... Too.... Strong.... Error... Does not compute...." Kata Exterminator Bot. "GRRR..... Sekarang... Giliranmu... JEREMY!" teriak Luxia. "Lady Luxia! Hentikan! Jeremy! Awas!" Teriak RPG. Saat Luxia hampir menyambar Jeremy, RPG berhasil menahan serangan Luxia. "Lady Luxia... Hentikan! Kendalikan dirimu... Ini aku, Nico of the Starlight..." Kata RPG. Sayangnya Luxia tidak mendengarkan kata-kata RPG. Kekuatan Shadowheart sudah merasukinya terlalu dalam. RPG terus berusaha untuk menahan serangan Luxia tetapi Luxia masih terlalu kuat untuk dilawan RPG. Semakin lama, RPG semakin lelah. Ia mulai terpojok dan terluka. Saat Luxia hampir menyambar RPG dengan cepat, tiba-tiba seseorang menghantam atap dan menabrak tubuh Luxia dengan keras. "KAU... AKAN... MATI! HEHEHEHAHAHAHA! GYAAAAAAHHHH!" teriak Luxia. Ia terpelanting. RPG pun kebingungan. Didepannya tampak seorang gadis dengan jubah hitam misterius. "Akhirnya aku menemukanmu... Gadis monster!" Kata suara itu geram. "Hoo hoo! Pertarungan ini semakin seru saja," kata Love Master. "Kau baik-baik saja?" Kata suara itu lagi. Ia pun membantu RPG bangun. "Ya, terima kasih ya. Siapa kau?" Tanya RPG. "Simpan pertanyaan itu untuk nanti. Kita harus mengalahkan gadis itu dulu!" Kata gadis misterius itu. "GRRRAAAAAAHHHHH!" teriak Luxia dari kejauhan. Luxia berlari dari kejauhan dengan sangat cepat dan berencana ingin menyambar gadis misterius itu. "Hmph! Perfect Leaf... Angelfish!" Kata gadis itu. Ia pun mengeluarkan aura berbentuk ikan untuk melindungi diri dari tabrakan Luxia. Luxia terus mencoba untuk menyerang gadis misterius itu tetapi usahanya sia -sia. Gadis itu dengan lincah menghindari serangan Luxia seperti bisa membaca pergerakan Luxia. Ia pun dengan mudah melakukan serangan balik, cukup membuat Luxia kewalahan. "Tunggu sebentar... Aura ini... Perfect Leaf... Angelfish?Apa ia berasal dari Klan Star?!" Gumam RPG. "Hanya itu kemampuanmu, gadis monster?" Tanya gadis misterius itu. "GRRRRAAAAAHHHHH!" teriak Luxia. "Hmph! Nature Leaf Shield," kata gadis misterius itu. Ia menahan serangan Luxia sekali lagi dan membuat Luxia terpelanting jauh. "Hmph! Sudah cukup... Aku akan mengakhiri semua kegilaan ini!" Kata gadis misterius itu. Ia mencoba mendekati Luxia yang sudah tidak berdaya. Kekuatan Shadowheart nya mulai melemah. Saat gadis misterius itu mencoba untuk membunuh Luxia, RPG pun datang dan menghalanginya. "Apa yang kau lakukan? Minggir dari jalanku!" Kata gadis itu. "Aku tidak akan membiarkan kau membunuhnya!" Kata RPG sambil menghalangi gadis itu. "Apa kau sudah gila? Keberadaan gadis monster itu sudah membuat banyak kekacauan dimana-mana. Ia adalah Shadowheart! Ia adalah salah satu dari monster-monster menyebalkan itu!" Kata gadis misterius itu. "Aku tahu... Tapi ia adalah temanku. Walaupun terkadang kekuatan Shadowheart sering merasukinya, aku tidak peduli!" Kata RPG tegas. "Baiklah, jika itu maumu. Tapi aku akan tetap menghabisinya jika ia mencoba untuk menghancurkan dunia!" Kata gadis itu. "Aku pastikan ia tidak akan berubah menjadi Shadowheart lagi. Aku janji," kata RPG tegas. "Hmph," kata gadis itu. "Umm... Ngomong-ngomong, kurasa aku pernah melihat kekuatanmu. Kau adalah salah satu anggota dari Klan Star," kata RPG. "Tentu saja. Kau benar-benar tidak ingat siapa aku?" Kata gadis itu. "Suara itu..." Gumam RPG. "Baiklah, mungkin ini akan menyegarkan memorimu," kata gadis itu. Ia pun membuka jubah hitamnya. Dibalik jubah itu, tampak seorang gadis dengan rambut hijau berkuncir 2. RPG pun terkejut. "Kau... Kau... Xiao Lìng... of the Starlight!" Kata RPG. "Heh! Kau tidak pernah berubah semenjak pertama kali kita bertemu," kata Xiao Lìng. RPG pun langsung memeluk Xiao Lìng. "Aku pikir kau sudah tiada... sahabatku," kata RPG sambil meneteskan air mata. Sebuah senyum pun terukir di wajah Xiao Lìng. "Aku merindukanmu... RPG of the Starlight. Sudah lama kita tidak bertemu semenjak serangan Doctor Jeremy di Desa Starlight bertahun-tahun yang lalu," kata Xiao Lìng. "Umm... Aku benci mengganggu momen reuni keluarga tapi Love Master masih belum dikalahkan," kata Jeremy. "KAU! Kau orang yang menyerang Desa Starlight!" Kata Xiao Lìng marah. "Whoa... Whoa.... Xiao Lìng tahan dulu. Ia berada di pihak kita sekarang," kata RPG. "Aku masih tidak mempercayainya!" Kata Xiao Lìng. "Ayolah Xiao. Bukankah setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua?" Tanya RPG. "Hmm... Kau benar... Baiklah..." Kata Xiao Lìng. "Hahahahaha! Pertemuan yang mengharukan.... Aku sempat terharu... Tapi.... Aku akan tetap... MENGHABISI KALIAN! HEHEHEHAHAHAHA!" Kata Love Master. "Yak... Yak... Yak... Yak... Yak! Diam kau! Kau pasti pemimpin dari para Shadowheart huh? Aku sudah lama ingin menemuimu!" Kata Xiao Lìng geram. "Ohhhh.... Gadis imut sepertimu ingin menemuiku? Aku terharu... Sangat terharu... Tapi apa kau pikir bisa mengalahkanku? Hahahahaha! Naif! Sangat naif!" Kata Love Master. "Heheh!" Kata Xiao Lìng. "Tubuhku.... Tidak bisa bergerak... Apa ini... ARGH! SAKIT! AAAAAARRRRGGHHHHH!" kata Love Master. "Aku lupa ia memiliki kekuatan ilusi mata alam. Xiao Lìng memang hebat. Ia memancing Love Master untuk terus mengoceh dan menggunakan kesempatan itu untuk menatap mata Love Master dan menaruh ilusi padanya," kata RPG sambil menganalisis taktik Xiao Lìng. Love Master pun tumbang dan mati seketika. "Siapa bilang seorang gadis imut tidak bisa mengalahkan penjahat besar sepertimu huh?" Kata Xiao Lìng. "Lemah!" Tambah Xiao Lìng lagi. "Kak RPG, Jeremy, syukurlah kalian baik-baik saja!" Kata Liáng Xia. "Siapa gadis ini, RPG?" Tanya Xiao Lìng. "Liáng Xia, perkenalkan ini Xiao Lìng, sahabatku dari Desa Starlight. Xiao Lìng, ini Liáng Xia," kata RPG. "Salam kenal, Kak Xiao Lìng, tee hee," kata gadis itu. "Awww.... Kau gadis terimut yang pernah kutemui, kata Xiao Lìng sambil mencubit pipi Liáng Xia. "Uhh... Apa yang terjadi..." Kata Luxia. "Lady Luxia! Syukurlah kau baik-baik saja," kata RPG sambil membantunya bangun. "Kau sudah bangun, gadis monster," kata Xiao Lìng. "Siapa yang kau sebut gadis monster huh?!" Kata Luxia marah. "Mereka mulai lagi... Lady Luxia, kenalkan ini Xiao Lìng, Xiao Lìng, ini Lady Luxia," kata RPG. "Senang berkenalan denganmu, Luxia. Kalau kau berubah menjadi Shadowheart lagi, dengan senang hati pula aku akan menghabisimu," ejek Xiao Lìng. "Salam kenal juga. Jika kau mencoba merebut RPG dariku, maka aku akan menghabisimu juga!" Kata Luxia. "Merebut RPG? Hmm... Ahhhh... Aku mengerti... Kalian berdua sedang menjalin hubungan spesial... Baiklah, aku tidak akan mengganggu kalian," ejek Xiao Lìng. "Xiao Lìng! Kau membuatku malu!" Kata RPG. Luxia pun tersipu malu. "Hey, jadi kau yang bernama Doctor Jeremy huh?" Kata Xiao Lìng. "Ya, ada apa, Xiao Lìng?" Tanya Jeremy. "Mungkin kita bisa bekerja sama sebagai scientist. Kita berdua," kata Xiao Lìng. "Ide bagus, aku harap kita bisa bekerja sama dengan baik dan melupakan masa lalu, hehehe" kata Jeremy. Mereka berdua pun saling berjabat tangan.
"Baiklah, kurasa sudah saatnya kita kembali dan meninggalkan Dark Land Dungeon," kata RPG. "Aku ikut denganmu, RPG," kata Xiao Lìng. "Aku juga!" Kata Jeremy. "Begitu pula denganku, tee hee," senyum Liáng Xia. "Baiklah semua, ayo kita pulang," kata RPG sambil tersenyum. RPG dan teman-temannya pun berhasil mengalahkan Love Master dan meninggalkan Dark Land Dungeon. Keadaan menjadi tenang, setidaknya untuk sementara waktu.
__ADS_1
THE END