The Fantasy Tales

The Fantasy Tales
Episode 8: Saving RPG (Season 2)


__ADS_3

“SAYANG, TIDAK!” “RPG, KAU HARUS BANGUN,” “HEHEHAHAHAHAHAHA! LEMAH!” “HMPH, MENYEDIHKAN,” “TEMPAT INI AKAN MELEDAK!” “KITA HARUS PERGI!”


“HAH! Huff… Huff… Ouch! Kepalaku!” kata RPG sambil melihat sekelilingnya. Ia bingung karena yang ia lihat hanyalah ruangan kosong yang tampak seperti stasiun ruang angkasa. “Dimana aku sekarang? Stasiun apa lagi ini? Aku harap bukan Azure Arcadia. Aku sudah muak dengan tempat itu,” gumam RPG lagi. RPG melihat seorang gadis yang terkurung bersamanya serta menangis. “Kau baik-baik saja? Salam kenal, namaku RPG. RPG of The Starlight. Kalau kau siapa?” tanya RPG sambil tersenyum. “Na… namaku Charlotte. Charlotte Angeline…,” kata gadis itu pelan. “Apa yang kau lakukan disini? Tidak seharusnya gadis sepertimu berada di tempat menyeramkan seperti ini,” kata RPG pelan. “Aku… aku adalah salah satu pelayan dari Lady Olivia. Aku tidak mengerti mengapa mereka menjerumuskanku kedalam kurungan ini. Aku hanya tidak sengaja memecahkan peralatan makan milik Lady Olivia dan Master Aries karena tergelincir,” kata Charlotte sambil menangis. RPG pun merasa sedih juga. “Hey, bagaimana kalau kau meninggalkan mereka dan kabur dari sini?” tanya RPG. “Aku… tidak tahu. Mereka pasti akan mencariku dan membunuhku,” kata Charlotte yang ketakutan. RPG pun melihat bekas luka di tangan dan kaki Charlotte. “Uhh… Charlotte, ada apa dengan bekas luka itu?” tanya RPG. “Mereka sering memperlakukanku dengan kejam. Satu kesalahan kecil dan aku akan disiksa. Aku… tidak tahu lagi harus bagaimana… HUAAAAA,” kata Charlotte sambil menangis. RPG pun memeluknya dan berusaha menghiburnya. “Olivia dan Aries benar-benar tidak bisa dimaafkan!” gumam RPG. “Ikut denganku, Charlotte. Kita kabur dari tempat ini!” kata RPG. “Tapi…,” kata Charlotte. “Jangan menjadi pelayan untuk Olivia dan Aries lagi. Sebaliknya, kita harus melawan dan menghentikan rencana jahat mereka!” kata RPG. “Ba… baiklah!” kata Charlotte. “Hmm… pertama-tama kita harus memikirkan jalan keluar dari sini,” kata RPG. “Sial, kedua pedangku juga diambil oleh mereka!” kata RPG. Tiba-tiba seorang algojo berbadan kekar suruhan Olivia dan Aries pun datang dan membuka jeruji mereka. Charlotte terlihat ketakutan. “Kalian berdua, aku punya kabar baik dan kabar buruk. Kabar baiknya adalah kalian tidak perlu merasakan sakit lagi. Dan kabar buruknya, kalian akan mati! HAHAHAHAHAHA! Ikut aku keruangan eksekusi! Kalian berdua!” kata algojo itu. “Hey! Pelan-pelan!” kata RPG. RPG dan Charlotte dibawa keruangan eksekusi oleh algojo itu. Setelah melewati beberapa koridor, tibalah mereka diruangan eksekusi itu. Ruangan itu berbentuk seperti arena gladiator. Para algojo yang lainnya pun bersorak kegirangan saat menyambut mereka. “KAMI MAU MELIHAT DARAH!” “YA! TUNJUKKAN AKSI BRUTAL KALIAN!” “HAHAHAHAHA! INI AKAN SANGAT MENYENANGKAN UNTUK DILIHAT!” “Oh ya ampun,” kata RPG. “Bagaimana ini, RPG?” tanya Charlotte ketakutan. “Jangan khawatir, aku punya ide,” bisik RPG.


Sementara itu…


“Yuck! Apa yang kau masukan ke makanan ini sih?” tanya Alexa. “Oh maafkan aku. Mengapa bukan kau saja yang memasak makanannya? Aku juga baru belajar bagaimana cara memasak tahu?” kata Alexus. “Pasti akan lebih enak jika Master RPG yang memasaknya untuk kita,” kata Yurika sedih. “Ya, aku setuju dengan Yurika,” kata Luxa. “ARGH! Kalau saja aku kuat melawan Lady Olivia dan Master Aries!” kata Alexa geram.


“Yang Mulia, anda harus makan. Sudah 2 hari anda mengurung diri di kamar,” kata salah satu pelayan One. One pun tetap terdiam. “Kuambilkan makanan ya? Tunggu disini sebentar,” kata pelayan itu. “Sayang…,” kata One sambil menatap langit melalui jendelanya.


Sementara itu, Xiao Lìng masih sibuk dengan drone miliknya untuk mencari keberadaan sahabatnya itu. “Baiklah, ini yang terakhir. Kalau masih belum menemukan, aku sudah menyerah,” kata Xiao Lìng sambil melepaskan drone kecilnya ke langit. BGS, Olivia-2, serta murid-murid RPG menunggu dilaboratorium dengan perasaan penuh harap. Setelah menunggu selama beberapa jam, Xiao Lìng menghela napasnya. “Huff…,” kata Xiao Lìng. “Bagaimana hasilnya, Xiao Lìng?” tanya Olivia-2. “Aku benci mengatakan ini, tapi… tidak mungkin ia selamat dari ledakan itu. Aku juga melihat ia ditusuk oleh pedang dari belakang,” kata BGS sedih. Tiba-tiba radar Xiao Lìng berbunyi. Radarnya menunjukkan tanda-tanda kehidupan dari sahabatnya itu. “Xiao Lìng! Lihat itu!” kata Olivia-2. “Tidak mungkin!” kata Xiao Lìng. Dan benar saja, ia melihat gambar dari sahabatnya yang berada di suatu arena. “RPG MASIH HIDUP!” teriak mereka semua. “Tapi… arena apa itu? Apa kau tahu tentang itu, Olivia-2?” tanya Xiao Lìng. “Ini buruk! RPG sekarang berada di Serenity Utopia!” kata Olivia-2. “Serenity… apa?” tanya BGS. “Serenity Utopia. Itu nama stasiun ruang angkasa yang dibuat oleh kakakku,” kata Olivia-2. “Jika RPG dibawa ke tempat itu, artinya ia akan dibunuh. Kalian lihat arena itu?” tanya Olivia-2. Semuanya mengangguk. “Itu adalah ruangan eksekusi!” kata Olivia-2. “Kalau begitu kita harus cepat!” kata Xiao Lìng. “Tunggu! Untuk menyusup ke Serenity Utopia, kita membutuhkan seseorang yang lincah dan dapat berlari dengan kecepatan tinggi,” kata Olivia-2 sambil menarik Xiao Lìng. “Hey jangan lihat aku,” kata BGS. “Begitu juga denganku,” kata Alexa. “Umm… aku ingin membantu, tapi bahkan aku tidak bisa berlari dengan kencang,” kata Alexus. “Aku juga… hehehe,” kata Yurika. “Kalau ketampanan bisa membantu, aku akan menyelamatkan Master RPG,” kata Luxa. “Aku bisa berlari dengan bantuan sepatu roda roketku, tapi aku takut bahan bakarnya tidak cukup,” kata Xiao Lìng. “Hmm… siapa ya kira-kira yang lincah, fleksibel, dan memiliki stamina yang tinggi?” kata Olivia-2. Mereka pun terkesiap. “Putri One!” jawab mereka semua secara bersamaan.

__ADS_1


“Aku senang kau sudah mulai makan, Putri One,” kata Alicia. “Ya, kami sangat mengkhawatirkan kesehatanmu,” kata Rosa. “Ara… Melihatmu tersenyum kembali juga sudah membuatku senang,” kata Violet. “Terima kasih teman-teman,” kata One sambil tersenyum. “Aku akan menyiapkan hiburan di kerajaan agar kau tersenyum kembali, Putri,” kata Arthur. “Tidak perlu repot-repot, Arthur,” kata One sambil tersenyum. “Hmph…,” kata Rain. Tiba-tiba teman-teman RPG datang ke dalam kamar pribadi One sambil terengah-engah. “Hey! Hey! Ada apa ini?” tanya Alicia. “Ya ampun kalian! Tarik napas dulu. Ceritakan apa yang terjadi,” kata Rosa. “RPG! Hosh… hosh… MASIH HIDUP!” kata Xiao Lìng. One pun sampai tersedak mendengarnya. Alicia, Violet, Rosa, dan Arthur pun terkejut sekaligus senang mendengarnya. “Apa yang kau katakan?” tanya One. “RPG… Hosh… dia… masih hidup… hosh…,” kata BGS. “Ia sekarang berada di stasiun ruang angkasa bernama Serenity Utopia milik kakakku!” kata Olivia-2. “Kita harus segera menyelamatkannya karena sekarang ia akan segera dieksekusi!” kata Olivia-2 lagi. “Kalau begitu, tunggu apalagi? Ayo kita selamatkan dia!” kata One bersemangat. One pun melihat Alicia, Rosa, Violet, Rain, dan Arthur. “Lakukan apa yang harus kau lakukan, Putri. Kami mengerti,” kata Alicia sambil tersenyum. “Asal jangan melakukan hal-hal yang bodoh di atas sana, One!” kata Rain. “Untuk menyusup ke Serenity Utopia, kami membutuhkanmu, One. Kau lincah dan cepat, sama seperti RPG,” kata Olivia-2. “Itu sebabnya kami membutuhkanmu untuk menyelamatkan RPG,” kata Xiao Lìng sambil menyiapkan roket kecilnya. One pun mengerti. “RPG sudah sering menyelamatkanku dari bahaya! Sekarang giliranku untuk menyelamatkannya!” kata One. “Putri, tolong, berhati-hatilah,” kata Alicia. “Ara… ara… sampaikan salamku pada RPG jika kau bertemu dengannya,” kata Violet. “Semangat, One!” kata Rosa. “Aku tahu kau bisa melakukannya,” kata Arthur. “Terima kasih teman-teman. Aku janji akan menyelamatkan RPG dan membawanya kembali kesini,” kata One sambil tersenyum. Ia pun masuk ke dalam roket milik Xiao Lìng. “Kau siap, One?” tanya Xiao Lìng. “Kapanpun kau siap, Xiao Lìng,” kata One. “Aku akan memulai peluncuran roketnya,” kata Xiao Lìng.


Sementara itu…


“HAHAHAHAHA! Aku akan bermain-main dengan kalian sebentar di arena ini sebelum aku mengakhiri hidup kalian. Ayo kalian berdua! Majulah dan lawan aku! HAHAHAHAHAHA!” kata algojo itu sambil menunjukkan otot besarnya. “Charlotte, biarkan aku yang menangani ini!” kata RPG sambil melindungi Charlotte. Ia berusaha menendang dan memukul algojo raksasa itu. Sayangnya, algojo itu terlalu kuat untuk RPG. Ia dengan mudahnya menangkis serangan RPG bahkan sampai membantingnya ke tanah. “RPG! Kau baik-baik saja?!” tanya Charlotte panik. “Tsk! Aku tidak apa-apa. Jangan mengkhawatirkanku, Charlotte,” kata RPG sambil berusaha berdiri. “HEHEHAHAHAHAHA! Hanya itu kemampuanmu, RPG?” ejek algojo. “Heh! Tentu saja tidak! Itu baru pemanasan!” kata RPG yang sudah berlumuran darah. “RPG! Tolong jangan paksakan dirimu!” kata Charlotte. “LIGHTNING FLASH!” teriak RPG. Ia berlari kencang dan berputar-putar mengeliling algojo dan mencoba untuk membuatnya pusing. “Akan sulit melawannya tanpa menggunakan pedangku! Satu-satunya cara adalah mencoba untuk mengalihkan perhatiannya!” gumam RPG sambil terus berlari. “Hey! Dimana kau?! Aku tidak bisa melihatmu!” kata algojo itu. Setelah algojo itu berputar-putar dan merasa pusing, RPG mengambil kesempatan itu untuk menendang wajahnya dengan kecepatan tinggi. “Huff… Huff…,” kata RPG. Algojo itu pun terjatuh. Sayangnya, ia masih dapat bangun lagi. “HAHAHAHAHAHAHA! Tidak buruk, sekarang giliranku!” kata algojo itu. Ia meninju pijakan itu sehingga membuatnya bergetar seperti gempa. Sekali lagi ia menangkap RPG dan membantingnya berkali-kali. Ia pun tersungkur dihadapan Charlotte. “RPG!” teriak Charlotte. “Tsk! Ouch! Itu sakit! Charlotte! Lari! Sekarang!” kata RPG. “Tidak mungkin aku meninggalkanmu disini!” kata Charlotte sambil memeluk RPG untuk melindunginya. Algojo itu pun datang mendekati Charlotte dan RPG yang sudah berlumuran darah. “Aku tidak bisa seperti ini terus!” gumam Charlotte. Ia pun teringat nasihat ibunya.


Flashback…


“Sekarang giliranmu, gadis kecil,” kata algojo itu. Algojo itu menarik dan menjambak rambut milik Charlotte. “Kumohon! JANGAN SAKITI KAMI! HUAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!” teriak Charlotte sambil menangis. Teriakannya bergema diseluruh arena dan membuat algojo dan semua orang yang menonton menjadi pusing. “Argh! Kau! Hentikan!” kata algojo. Air mata Charlotte juga ternyata mengandung racun yang bisa melepuhkan kulit. Algojo itu pun kesakitan akibat air mata yang dikeluarkan oleh Charlotte. RPG pun melihat algojo itu lengah. Ia pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk menyerang algojo itu. Dengan menggunakan bantuan dari mata Irisnya, RPG berhasil mendorong algojo itu jatuh dari arena. “Hah! Rasakan itu, dasar orang aneh!” kata RPG sambil melihat algojo itu. Algojo-algojo yang lainnya pun lari berhamburan dan segera meninggalkan arena tersebut. RPG melihat Charlotte yang masih menangis. “Charlotte, terima kasih atas bantuanmu tadi! Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada kita jika kau tidak mengeluarkan teriakanmu itu,” kata RPG sambil tersenyum. “Tapi… aku… sudah membunuh… algojo itu…,” kata Charlotte yang masih menangis. RPG pun memeluk Charlotte untuk menghiburnya. “Jangan menangis, Charlotte. Kau sudah melakukan hal yang benar. Lagipula, ia mencoba untuk membunuh kita,” kata RPG sambil menyemangati. Tiba-tiba alarm berbunyi. “Sepertinya mereka akan menemukan kita jika kita berdiam disini. Kita harus kabur dulu dan pergi ke tempat yang aman. Ayo Charlotte!” kata RPG sambil menarik tangan Charlotte. Tidak lupa ia mengambil pedang api dan airnya sebelum pergi dari tempat itu.


Sementara itu…

__ADS_1


“One, kau dengar aku?” tanya Xiao Lìng melewati hologramnya. “Yup,” kata One. “Dengar, roket kecilku akan terdeteksi sistem dari stasiun ruang angkasa milik Olivia dan Aries. Jadi aku hanya bisa mengirimkanmu sampai atmosfer. Naiki jetpack yang telah kusediakan di belakang kokpit. Ingat, setelah kau sampai di area stasiun itu, aku tidak bisa menolongmu lagi. Kuserahkan semua padamu untuk menyelamatkan RPG, One!” kata Xiao Lìng. “Jangan khawatir, Xiao Lìng. Aku tahu apa yang harus kulakukan,” kata One. Ia pun bergerak sesuai rencana. “Baiklah! Ini dia! STORM DASH!” teriak One . Ia menyusup melewati lorong-lorong Serenity Utopia untuk menghindari alarm pendeteksi. Disana ia melihat hangar yang kosong dan sepi. Tempat itu dipenuhi dengan kapal terbang yang sedang terparkir. “Aku bisa mengambil salah satu kapal terbang itu dan membawa sayangku kabur dari tempat ini,” gumam One.


Sementara itu…


“Tunggu RPG! Aku… tidak bisa berlari secepat… dirimu… huff…,” kata Charlotte. “Oh maaf. Ayo naik ke punggungku,” kata RPG. “Ehh? Kau… kau yakin?” tanya Charlotte memerah. “Tidak apa-apa! Ayo!” kata RPG. Charlotte pun naik di atas punggung RPG. “Pegangan yang erat! LIGHTNING FLASH!” teriak RPG. “Alert! Prisoner is escaping! Repeat! This is not a drill!” “Prisoner passing area 5! Prisoner passing area 5!” “Initiate Area System Shutdown!” berbagai alarm dan peringatan dari sistem pun bermunculan. RPG pun berlari menuju lantai paling atas untuk keluar dari stasiun itu. Saat sampai diluar, ia sangat terkejut karena stasiun itu bukanlah satu-satunya stasiun. Ia melihat berbagai stasiun di sisi kiri dan kanan. Ia juga melihat banyak armada kapal ruang angkasa milik Olivia dan Aries. “Whoa… banyak sekali! Lihat berbagai kapal itu!” kata RPG. “RPG! Sebelah sana!” kata Charlotte. “Baik!” kata RPG. Ia pun berseluncur diantara selang-selang raksasa yang menghubungkan stasiun yang satu dengan stasiun lainnya. Tak lupa ia membasmi para monster yang berusaha menghadangnya. Mereka lalu sampai di salah satu stasiun yang digunakan sebagai hangar utama. Ia melihat banyak sekali pesawat ruang angkasa milik Olivia dan Aries yang terparkir disana. “Baiklah, kita hanya perlu menggunakan salah satu dari pesawat ini dan kabur dari sini,” kata RPG. Tiba-tiba, ia melihat sebuah roket misterius yang datang menghampiri mereka. RPG pun menyiapkan senjata untuk melindungi Charlotte. “Charlotte! Ada yang datang! Tetap dibelakangku!” kata RPG. Tiba-tiba, RPG terkejut karena melihat salah satu kapal terbang milik Olivia dan Aries menghampirinya. “Tsk! Apa kita sudah ketahuan?! Tetap dibelakangku, Charlotte!” kata RPG. Ia pun mengenali seseorang yang keluar dari roket itu. “Lady One?!” tanya RPG terkejut. Kekasihnya itu pun langsung berlari dan memeluk RPG. “SAYANG! AKU PIKIR KAU SUDAH TIADA! AKU SANGAT MENGKHAWATIRKANMU!” kata One sambil menangis. “He… hey… Lady One! Aku tidak apa-apa,” kata RPG. One pun menatap gadis berambut kuning itu. “Siapa gadis itu, sayang? Kau tidak mencoba selingkuh dariku kan?” kata One sambil tersenyum jahat. “Uhh… Tentu saja tidak, Lady One! Hehehe…,” kata RPG. “Oh baguslah,” kata One sambil tersenyum. “Ia adalah mantan salah satu pelayan dari Olivia dan Aries. Aku mengajaknya untuk kabur dari sini karena aku khawatir Olivia dan Aries akan menyakitinya lagi,” kata RPG pada One. One pun melihat wajah gadis itu. “AAAAAAA! KAU SANGAT IMUT!” kata One sambil memeluk dan mencubit pipi gadis itu. “Aww… ouch… namaku Charlotte, Charlotte Angeline… Se… senang berkenalan denganmu,” kata Charlotte pelan. “Aku One! One of The Edelweiss, senang berkenalan denganmu juga. Tee hee!” kata One sambil tersenyum. Mereka pun berhasil kabur dari Serenity Utopia dengan selamat.


Sesampainya dibumi, teman-temannya pun menyambutnya dengan gembira. “RPG! Kau tidak betapa kami sangat mengkhawatirkanmu!” kata Olivia-2. “Bro! Kukira kau sudah mati! Kau memang sesuatu ya,” kata BGS. “RPG! Kau benar-benar membuat gempar seluruh kerajaan. Dasar kau!” kata Alicia. “Ara… syukurlah kalau kau baik-baik saja,” kata Violet. “Selamat datang kembali, RPG,” kata Rosa. “Kau memang suka membuat kami khawatir, nak RPG,” kata Arthur. “Hmph! Dugaanku ternyata benar kan?” kata Rain. “MASTER RPG!” kata para murid RPG secara bersamaan. “Tenanglah teman-teman. Aku baik-baik saja kok,” kata RPG sambil tersenyum. Tiba-tiba Xiao Lìng datang dari belakang mereka sambil marah-marah. “DIMANA RPG OF THE STARLIGHT?!” kata Xiao Lìng. “Oh hai, Xiao Lìng. Bagaimana kabarmu?” tanya RPG. Ia pun langsung memukul RPG hingga terjatuh. “Ouch! Itu sakit!” kata RPG. Xiao Lìng pun langsung memeluk RPG sambil menangis. “Kalau kau berani menghilang lagi! Aku akan memukul wajah bodohmu lagi! Bodoh! Bodoh! Bodoh! Idiot! RPG idiot!” kata Xiao Lìng lagi. RPG pun tersenyum. “Xiao Lìng, jangan menangis, dasar kau ini,” kata RPG lagi. “Ehem… kau tidak akan memperkenalkan teman barumu pada kami?” tanya Rain sambil menunjuk Charlotte. RPG pun memperkenalkan Charlotte dan menjelaskan apa yang terjadi disana.


“Baiklah, temui kami esok hari di Kerajaan Edelweiss. Kita perlu membicarakan rencana kita,” kata Alicia. Semuanya pun mengangguk tanda mengerti. “Uhh… Olivia-2… Kau… salah satu The Olivias kan…,” kata Charlotte yang masih takut. “Hai Charlotte. Memang benar aku salah satu The Olivias, tapi aku berada di pihak kalian. Aku sudah muak dengan kakakku. Jadi, aku harap kita bisa berteman baik. Tee hee!” kata Olivia-2 sambil tersenyum. “Oh… baiklah,” kata Charlotte pelan. “Jangan khawatir, Charlotte. Kau bagian dari keluarga kami sekarang. Jangan takut untuk meminta bantuan jika ada masalah, oke?” kata Yurika. “MEOW! Kau boleh menginap dirumah pohonku! Kita akan menjadi teman pesta piama setiap hari! Tee hee!” kata Momoe. “Terima kasih teman-teman,” kata Charlotte sambil tersenyum. “Ngomong-ngomong, jika kakakku sudah memiliki stasiun ruang angkasa, berarti mereka sedang menjalankan Project Mother,” kata Olivia-2. “Project… Mother?” tanya RPG. “Rencana terbesar mereka untuk menghancurkan bumi dan membuat replika bumi demi kepentingan mereka berdua!” kata Olivia-2. “Tidak mungkin! Mereka gila!” kata RPG. “Untuk membuat senjata atau apapun itu untuk menghancurkan sebuah planet, dibutuhkan energi yang sangat besar. Tidak mungkin mereka bisa menjalankan rencana itu!” kata Xiao Lìng. “Oh tidak, Xiao Lìng. Project Mother adalah proses pembuatan makhluk giga super besar. Aku masih belum tahu makhluk apa itu, tapi yang pasti, ia bisa dengan mudah menghancurkan sebuah planet hanya dalam sekejap. Ia tidak memerlukan energi yang besar,” kata Olivia-2. “Oke, aku tarik kata-kataku kembali. Mereka benar-benar sudah gila!” kata BGS. “Kita harus secepatnya menghentikan rencana mereka kalau ingin bumi selamat,” kata RPG. Semuanya mengangguk.


THE END

__ADS_1


__ADS_2