The Fantasy Tales

The Fantasy Tales
Episode 5: The Rise of The Olivias (Season 2)


__ADS_3

"Baiklah RPG, turunkan aku disini saja," kata One. "Kau tidak mau ikut dengan kami?" Kata RPG. "Aku ingin sekali tapi aku tidak bisa meninggalkan tugasku sebagai seorang Ratu Kerajaan Edelweiss. Jangan khawatir, RPG. Kita masih bisa saling berkomunikasi lewat hologram yang dibuat oleh Jeremy. Berkunjunglah ke Kerajaan Edelweiss kapanpun kau mau RPG," kata One. RPG pun menggangguk. Wajahnya terlihat sedih. One lalu mengecup pipi RPG. "Aku mencintaimu. Sampai ketemu lagi RPG. Sampai jumpa kalian semua," kata One sambil tersenyum. Ia pun meninggalkan RPG serta teman-temannya dan pulang menuju Kerajaan Edelweiss. "Kau benar-benar menyukai gadis monster itu kan?" Kata Xiao Lìng. "Pertama, dia bukan gadis monster dan yang kedua, ya, aku sangat mencintainya," kata RPG. "Baiklah, sekarang apa yang harus kita lakukan?" Tanya Jeremy. "Kurasa kita harus mencari tempat tinggal," kata Liáng Xia. "Tapi dimana?" Tanya Xiao Lìng. "Hey, kalian bisa tinggal di Kerajaan Mizukumo jika kalian mau. Teman-temanku yang lainnya ada disana," kata RPG. "Kerajaan... Mizukumo?" Tanya Xiao Lìng. "Markas Freedom Fighters ada disana. Disanalah RPG dan lainnya tinggal," jelas Jeremy. "Baiklah tunggu apa lagi? Mari kita berangkat menuju Kerajaan Mizukumo! Yeayy!" Kata Liáng Xia. Mereka pun memutuskan untuk kembali ke Kerajaan Mizukumo.


Sesampainya disana, RPG memperkenalkan teman-teman barunya. "RPG! Apa yang membuatmu lama?! Kami mengkhawatirkanmu," kata AGT. "Hai. Maaf sudah membuat kalian khawatir. Teman-teman, kenalkan, ini Xiao Lìng of the Starlight, sahabatku dari Desa Starlight," kata RPG. "Senang bertemu kalian," kata Xiao Lìng. "Ini Liáng Xia dan..." Kata RPG. "DOCTOR JEREMY!" Kata Akimura terkejut. "Doctor... Kupikir aku sudah mengirimmu kedalam Dimensi Spectral!" Kata Xicko. "RPG, apa yang ia lakukan disini?!" Kata Olimphia geram. "Semuanya tenang! Ia berada di pihak kita sekarang. Bukankah setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua? Ayolah teman-teman. Berikan Jeremy kesempatan," kata RPG. "Hmph! Aku masih tidak mempercayainya! Aku akan tetap mengawasimu, Doctor!" Kata Xicko marah. "Baiklah, kami akan memberikanmu kesempatan sekali lagi, Doctor Jeremy," kata Shirata. "Fiuh..." Kata RPG. "Xiao Lìng, Liáng Xia, kenalkan ini teman-temanku, Xicko, Olimphia, Akimura, Shirata, Dahlia, Yasora, AGT, Rake, dan BGS," kata RPG. "Senang bertemu kalian. Tee hee," kata Liáng Xia sambil tersenyum. "Oh ya, ngomong-ngomong, ada hal yang harus kita bicarakan sekarang," kata Dahlia serius. "Ada apa Dahlia?" Tanya RPG. "Ini tentang keberadaan Indigo Diamond. Aku dan BGS baru saja melihat ada sesuatu yang aneh ke arah barat daya. Menurut informasi dari radarku, ada kota di atas awan yang sudah lama terbengkalai. Mungkin Aries dan Olivia menyembunyikan Indigo Diamond disana. Apa kau bisa memeriksa keadaan disana?" Tanya Dahlia. "Baiklah, akan kucoba. Aku dan Destroyer akan pergi kesana secepatnya dan memeriksa keadaan disana," kata RPG. "Xiao Lìng, Jeremy, dan Liáng Xia, kalian tetap disini dan mengawasi keadaan," kata RPG. "Baiklah RPG," kata Xiao Lìng. "Hati-hati disana," kata Jeremy. "Semangat Kak RPG," kata Liáng Xia sambil tersenyum. "Hey, apa kau juga seorang ilmuwan, Dahlia?" Tanya Xiao Lìng bersemangat. "Tentu saja," kata Dahlia sambil tersenyum. "Mungkin kita bertiga bisa bekerja sama. Aku, Jeremy, dan kau," kata Xiao Lìng. "Ide bagus. Dan kau, Jeremy! Jangan coba-coba untuk merencanakan rencana jahat lagi," kata Dahlia sambil menunjuk Jeremy. "Hey! Aku kan sudah bilang, aku sudah lelah menjadi jahat. Aku menyadari bahwa kejahatan tidak ada gunanya lagi," kata Jeremy.


Sementara itu, RPG dan Destroyer pun terbang menuju kota melayang yang terbengkalai itu. "RPG, kau dengar aku?" Kata Dahlia melalui hologramnya. "Sangat jelas," kata RPG. "Aku akan memberikan sedikit info. Kota melayang yang terbengkalai itu bernama Cumulonimbus City. Hati-hati, RPG. Aku mendeteksi ada ancaman yang akan menghadangmu di Kota Cumulonimbus. Kemungkinan para prajurit Olivia yang berjaga di tempat itu," kata Dahlia. "Baiklah Dahlia, aku akan mengingat hal itu. Terima kasih atas infonya," kata RPG.


Perkiraan Dahlia ternyata benar. Para prajurit Aries dan Olivia sudah menyiapkan panah untuk menembak jatuh Destroyer dan RPG. "Destroyer! Kita harus mendarat. Bantu aku untuk menghabisi para prajurit ini dulu," kata RPG. "Baiklah!" Kata Destroyer. "ITU RPG OF THE STARLIGHT!" Kata seorang prajurit. "HABISI RPG OF THE STARLIGHT!" "JANGAN BIARKAN IA MENCAPAI LADY OLIVIA!" "LINDUNGI LADY OLIVIA BAGAIMANAPUN CARANYA!" kata prajurit-prajurit itu. "Lady Olivia, Lady Olivia... Menyedihkan!" Kata RPG. Ia terus menyerang para prajurit itu. Tanah berubah menjadi merah akibat darah para prajurit yang mati akibat tebasan pedang RPG. "Mengapa ia ingin membunuh Lady Olivia?" Tanya seorang prajurit yang ketakutan. "Haruskah kita memberitahu mereka? Mereka kelihatannya penasaran," kata Destroyer. "Mengapa repot-repot memberitahu mereka? Mereka juga akan segera mati. Teruskan menyerang mereka, Destroyer!" Kata RPG. "Baiklah, GROAAAARRRR!" Teriak Destroyer. Beberapa lama kemudian, RPG dan Destroyer berhasil menumpas habis para prajurit Aries dan Olivia. "Sekarang, mari kita temukan keberadaan Aries dan Olivia. Tunggu saja kalian berdua. Aku datang!" Kata RPG. Destroyer pun melihat dari arah kejauhan. "RPG, disana!" Kata Destroyer. "Olivia... Destroyer, aku mau kau terbang untuk mengawasiku. Jika terjadi sesuatu, aku akan memberikan sinyal padamu!" Kata RPG. "Baik!" Kata Destroyer. Ia pun berlari menuju arah yang ditunjuk oleh Destroyer. Sesampainya disana Olivia sudah menunggu kedatangan RPG. RPG pun terkejut karena melihat ada 4 gadis disamping Olivia yang mirip dengannya. "Aku sudah menunggu kedatanganmu, RPG of the Starlight," kata Olivia. "Tunggu sebentar... Kalian berlima?! Apa maksud semua ini?!" Tanya RPG. "Heheheheh... Mereka semua adalah hasil dari kekuatanku. Aku menciptakan tiruan diriku. Mereka adalah para saudariku, Olivia-2, Olivia-3, Olivia-4, dan Olivia-5. Terkejut huh?" Tanya Olivia. "Hey! Itu RPG of the Starlight! Hai RPG!" Kata Olivia-2 sambil melambaikan tangannya. "Hehehe.... Heheheheh... Hehehehahaha!" Tawa Olivia-3. "RPG! Hentikan semua ini segera! Aku tidak mau terjadi perang diantara kita semua!" Kata Olivia-4. "Ohh ayolah, Olivia-4! Jangan menjadi anak cengeng. RPG pantas untuk mati," kata Olivia-5. "Wow! Aku ternyata sangat populer disini," kata RPG tercengang. "Itu bukanlah pujian untukmu. Cukup dengan basa-basinya. Ini adalah akhir darimu, RPG. Saudariku, habisi dia sekarang!" Perintah Olivia pada saudari-saudarinya. "Baik!" Kata mereka secara bersamaan. "Ohh... Ini adalah akhirnya ya? Baiklah. Satu lawan empat, cukup adil," kata RPG. Pertarungan pun pecah kembali. RPG melawan keempat klon yang diciptakan Olivia.


"Hey RPG, coba tebak. Minggu depan, aku akan pergi berbelanja. Itu akan sangat menyenangkan, yeayyy!" Kata Olivia-2. "Burung yang mati akan meninggalkan jejak dan bunga yang lalu akan meninggalkan bau. Setiap bayangan akan menjadi kegelapan, itulah tampilan dari dirimu," kata Olivia-3. "RPG, kumohon, jangan lakukan ini! Aku tidak ingin... Melawanmu... Aku tidak ingin kekerasan," kata Olivia-4. "Hey RPG, bersiaplah untuk mati ditangan gadis cantik sepertiku," kata Olivia-5. "Terserah," kata RPG. Setelah beberapa lama, para Olivia menghilang. "Sudah cukup! Kembali kesini, para saudariku!" Perintah Olivia. "Baik!" Jawab mereka bersamaan. "Huff... Huff..." Kata RPG yang kelelahan. "Melawan mereka berempat ternyata cukup melelahkan," kata RPG. RPG melihat Olivia yang tiba-tiba mengangkat tangannya, seperti memberikan sebuah sinyal. "Datanglah padaku... PHANTOM!" kata Olivia. "Phantom? AHHHHHH!" Kata RPG. Olivia memanggil seekor naga merah raksasa. Naga itu pun menyambar RPG dengan sangat kencang sehingga membuatnya terluka parah. "Tsk! Ouch! Itu... Sakit..." Kata RPG yang sudah berlumuran darah. Destroyer pun datang untuk menyelamatkan RPG. "RPG! Kau tidak apa-apa?!" Kata Destroyer panik. "Akhiri mereka," kata Olivia. Phantom sang naga merah pun mematuhi perintah Olivia. "GROOOAAARRRRRR!" teriak Phantom. Ia mengeluarkan bola api besar ke arah RPG dan Destroyer. "Destroyer... TEMBAK!" Kata RPG. "GROAARRR!" Destroyer pun juga mengeluarkan bola api untuk menahan serangan dari Phantom. Sayangnya, kekuatan bola api dari Phantom terlalu kuat untuk ditahan Destroyer. Akhirnya terjadi ledakan besar. Cukup besar untuk membuat RPG dan Destroyer terpelanting jauh dan jatuh dari Kota Cumulonimbus. Salah satu sayap Destroyer pun hancur akibat ledakan besar itu. Hanya ada satu hal yang ia lakukan, yaitu menangkap dan memeluk RPG yang sudah lemas berlumuran darah. "Sepertinya pendaratan ini akan sakit," kata Destroyer. Mereka berdua pun menghantam tanah dengan sangat keras. Seketika keadaan pun menjadi gelap.


"Apa kita berhasil menghabisi mereka, Olivia?" Tanya Olivia-2. "Hmph! Mereka berhasil kabur. Olivia-2, Olivia-3, Olivia-4, Olivia-5, aku mau kalian menyembunyikan pecahan Indigo Diamond dan menjaga masing-masing daerah yang sudah ditentukan. Jangan sampai RPG dan naganya mengambil pecahan itu!" Perintah Olivia. "Baik Olivia!" Kata mereka secara bersamaan sembari menghilang satu-persatu. "Hehehehahaha! Aku tahu rencana ini akan berjalan dengan mulus," kata Olivia sambil tersenyum jahat.


"Uhhh... Dimana aku? Apa yang terjadi?" Kata RPG sambil memegang kepalanya yang sudah diperban. "Sebuah gubuk tua..." Kata RPG sambil melihat keadaan sekitar. "Akhirnya... Kau sudah bangun, RPG of the Starlight," kata laki-laki misterius itu. "Kau... Bagaimana kau tahu namaku? Siapa kau?" Tanya RPG. "Kau bisa memanggilku Record. Aku adalah seorang novelis," kata Record. "Seorang... novelis... Ouch... Kepalaku masih pusing," kata RPG sambil memegang kepalanya. "Aku melihatmu dan naga kecilmu tergeletak di tanah saat hujan deras. Jadi aku memutuskan untuk mengobati kalian berdua. Kurasa kau mengalami koma," kata Record. "Koma? Berapa lama aku koma?" Tanya RPG. "Satu tahun," kata Record. "Satu... TAHUN?!" kata RPG terkejut. "Tenanglah, RPG. Kau baru sembuh, jangan terburu-buru," kata Record sambil menenangkan RPG. "Kau... Benar... Bagaimana keadaan nagaku?" Tanya RPG. "Nagamu baik-baik saja. Selama kau koma, aku dan nagamu yang berusaha untuk menyembuhkanmu. Ia terlihat sangat khawatir dengan keadaanmu saat itu," kata Record. "Baiklah... Ngomong-ngomong, apa yang kau inginkan dariku?" Tanya RPG. "Aku ingin membantumu melawan para Olivia," kata Record sambil mencatat sebuah buku. "Dengan adanya para Olivia dan pecahnya Indigo Diamond, keseimbangan antara energi supranatural dan energi konstan akan mengalami gangguan. Jika kita tidak membereskan hal ini, aku khawatir sebuah lubang hitam yang besar akan tercipta dan Bumi bisa terhisap ke dalamnya," kata Record. "Kau benar... Aku harus menemukan para Olivia dan menghabisi mereka semua. Demi keselamatan Bumi," tekad RPG. "Bagus RPG, bagus. Kalau begitu semoga beruntung, aku akan terus mengawasimu dan mencatat gerak-gerikmu," kata Record. "Kau tidak perlu melakukan itu," kata RPG. "Yahh... Ini sudah menjadi kewajibanku sebagai perekam. Oh ya ngomong-ngomong, kita berada di daerah kekuasaan Olivia-5, The Land of Rainforest," kata Record. "The Land of Rainforest ya? Baiklah, kurasa aku akan mencari Olivia-5 terlebih dahulu dan menghabisinya duluan. Jika melawan para Olivia secara bersamaan tidak berhasil maka aku harus mengubah strategi dengan cara menghabisi mereka satu persatu. Terima kasih, Record," kata RPG. Sebelum meninggalkan gubuk milik Record, Record memberikan sebuah pedang ganda. "Hey RPG, sebelumnya, aku harus memberikanmu ini. Ambilah," kata Record. "Apa ini?" Tanya RPG. "Ini adalah pedang ganda api dan air. Mungkin akan berguna sebagai senjata andalanmu, RPG of the Starlight," kata Record. "Yeah. Terima kasih, Record," kata RPG sambil tersenyum. "RPG! Syukurlah kau sudah siuman. Kau tidak apa-apa?" Tanya Destroyer panik. "Ya aku tidak apa-apa. Terima kasih sudah merawatku ya," kata RPG sambil tersenyum. "Hehe, tidak masalah, RPG. Sekarang kita mau kemana?" Tanya Destroyer. "Mencari Olivia-5 dan menghabisinya," kata RPG. "Tapi... Kau baru saja sembuh," kata Destroyer. "Yap. Sembuh dan siap untuk beraksi kembali. Ayo Destroyer! Kita tidak punya banyak waktu," kata RPG. "Baiklah," kata Destroyer.


Semakin lama mereka memasuki hutan hujan kawasan Olivia-5, tentunya pepohonan semakin lebat pula. "Ada apa, Destroyer?" Tanya RPG. "Tsk! Pepohonan ini membuatku sulit bergerak. Sayapku mudah tersangkut! Kurasa aku tidak punya pilihan lain selain merubah diriku menjadi manusia," kata Destroyer. "Kau bisa berubah menjadi manusia?" Tanya RPG. "Tentu saja. Lihat ini! Dragon... Transform!" Kata Destroyer. Destroyer pun merubah dirinya menjadi manusia. Di depan RPG, tampak sesosok anak kecil yang lucu. "Kau... Kau... Imut sekali!" Kata RPG sambil mencubit pipi Destroyer. "Hey... Ouch! Aw! Itu sakit," kata Destroyer. "Aku tidak tahu kalau kau bisa berubah menjadi anak yang imut seperti ini," kata RPG sambil memeluk Destroyer. "Y... Ya... Semua spesies naga bisa melakukan itu, RPG!" Kata Destroyer. "Hehe, kau selalu penuh dengan kejutan, Destroyer," kata RPG. Tiba-tiba, mereka mendengar kegaduhan dari arah utara hutan hujan. "AAAA..... MEOW! HEY! MENJAUH DARIKU! MEOOOOWWW! TOLONG!" Teriak suara itu. "Sepertinya ada yang membutuhkan pertolongan kita, ayo pergi, Destroyer," kata RPG. Setelah berlari menuju sumber suara, RPG dan Destroyer melihat sekumpulan prajurit yang sedang menyiksa gadis kucing. "Destroyer! Kemari!" Kata RPG. Mereka berdua pun bersembunyi di balik semak-semak untuk mengintai gerak-gerik para prajurit itu. RPG melihat simbol angka 5 di pakaian salah satu prajurit itu. "Apa mereka para prajurit Olivia-5?" Bisik Destroyer. "Sepertinya begitu," kata RPG. "Kita tidak bisa membiarkan mereka menyakiti gadis itu!" Kata Destroyer. "Kita akan melakukan serangan kejutan. Ikuti aba-abaku. Dalam hitungan 3... 2... 1... SEKARANG!" teriak RPG. RPG dan Destroyer berhasil mengejutkan para prajurit itu. "Itu... RPG OF THE STARLIGHT!" "TANGKAP DIA! JANGAN BIARKAN DIA MENUJU LADY OLIVIA-5!" kata para prajurit itu. "Kalian merindukanku? HIYA!" kata RPG sambil mengayunkan pedangnya. "ARGH!" Teriak salah satu prajurit itu. Tidak butuh waktu lama bagi RPG dan Destroyer untuk melawan para prajurit itu. Satu demi satu, para prajurit itu pun akhirnya tumbang. "Fiuh... Kita berhasil, RPG!" Kata Destroyer senang. Di depan mereka, tampak sesosok gadis kucing yang berbulu keemasan. Ia tampak lucu dengan menggerakkan ekornya. "Umm... Apa kau baik-baik saja?" Tanya RPG. "Meow... Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah menyelamatkanku... Meow.... Awww!" Kata gadis kucing itu. RPG melihat luka di tangan gadis kucing itu. "Kau terluka. Coba kulihat sebentar," kata RPG. "Meow... Tolong pelan-pelan... Itu sangat sakit! Para prajurit itu selalu menyakitiku... Meow," kata gadis kucing itu. RPG pun memberinya perban dan cairan penurun rasa sakit. "Nah... Sudah selesai," kata RPG sambil tersenyum. "Meow... Meow..." Gadis kucing itu pun menggerakan ekornya lagi untuk menandakan terima kasih pada RPG. "Imut sekali!" Gumam RPG. "Boleh aku tahu siapa namamu?" Tanya RPG lagi. "Meow... Namaku Momoe! Tee hee!" Kata gadis kucing itu sambil menggerakan ekornya. "Gulp! Terlalu imut! Aku tidak kuat!" Gumam RPG. "Kalau kau, siapa namamu?" Tanya Momoe. "Aku RPG of the Starlight. Kau bisa memanggilku RPG dan ini temanku, Destroyer. Ia sebenarnya adalah seekor naga. Ia bisa merubah dirinya menjadi manusia. Ngomong-ngomong senang bertemu denganmu, Momoe," kata RPG sambil tersenyum. "Tee hee! Momoe juga senang bertemu kalian... Meow!" Kata Momoe. "Mengapa para prajurit itu menyerangmu, Momoe?" Tanya RPG. "Meow, meow! Momoe tidak tahu dari mana mereka berasal tapi semenjak mereka datang ke hutan ini, mereka selalu merusak pepohonan! Rumah Momoe hampir hancur karena mereka! Momoe selalu memberanikan diri untuk menyerang mereka tetapi mereka terlalu kuat! Momoe juga melihat seorang gadis berambut merah keemasan yang memerintah para prajurit tadi! Sepertinya ia adalah pemimpin dari para prajurit tadi," kata Momoe. "Itu terdengar seperti Olivia-5, RPG," kata Destroyer. "Momoe, apa kau tahu dimana gadis berambut merah itu tinggal?" Tanya RPG serius. "Momoe selalu memata-matai gadis itu. Momoe yakin gadis itu tinggal di sebuah danau ajaib tidak jauh dari sini. Sebelah sana!" Kata Momoe sambil menunjukkan arah. "Terima kasih Momoe. Ayo Destroyer!" Kata RPG. "Meow... Meow..." Kata Momoe sambil memasang wajah yang imut serta menggerakan ekornya lagi. "Anu... Momoe ingin ikut bersama kalian... Apa boleh? Meow..." Kata Momoe penuh harap. "Tentu saja kau boleh ikut. Tapi... Bagaimana dengan rumahmu?" Tanya RPG. "Meow... Para prajurit itu sudah menghancurkan rumah Momoe. Sekarang, Momoe sudah tidak mempunyai rumah lagi. Sebab itulah Momoe ingin ikut bersama RPG dan Destroyer," kata Momoe sambil menggerakan ekornya lagi. "Grrr.... Olivia-5..." Kata RPG sambil mengepalkan tangannya. "Baiklah Momoe, selamat datang di Tim RPG. Perjalanan ini akan semakin ramai dengan keberadaan dirimu, Momoe," kata RPG sambil tersenyum. "Umm... Hello? Bukankah seharusnya Tim Destroyer?" Tanya Destroyer. "Ehem... Tim RPG," kata RPG. "Tim Destroyer!" "Tim RPG!" Kata mereka sambil berdebat "Meow... Meow... Meow! Tee hee! Kalian berdua sangat lucu! Terima kasih, RPG!" kata Momoe sambil tersenyum senang. "Baiklah, sekarang ayo kita menuju danau ajaib itu dan mengalahkan Olivia-5!" Kata RPG. "Okay!" Kata Destroyer. "Meow... Meow! Momoe akan selalu siap mengalahkan semua musuh dan membantu RPG dan Destroyer!" Kata Momoe senang.


Setelah berjalan beberapa lama, RPG, Momoe, dan Destroyer memutuskan untuk beristirahat sejenak. "Huff... Berapa lama lagi kita akan sampai, Momoe?" Tanya RPG. "Sebentar lagi. Tempat ini sudah sangat dekat dengan danau ajaib itu. Meow..." Kata Momoe. Sembari istirahat, RPG memeriksa hologram komunikasinya. "Apa yang kau lakukan, RPG?" Tanya Destroyer. "Memeriksa hologram komunikasiku. Whoa... Sudah banyak panggilan tak terjawab dari Xiao Lìng dan lainnya serta beberapa pesan yang belum terbaca," kata RPG. RPG pun mencoba untuk menghubungi teman-temannya. "Halo..." Kata RPG. Xiao Lìng pun menjawab dengan nada marah. "BODOH! KEMANA SAJA KAU?!" teriak Xiao Lìng marah. "Tenanglah Xiao Lìng, aku masih hidup," kata RPG. "KAU TIDAK TAHU BETAPA KAMI SANGAT MENGKHAWATIRKANMU! IDIOT! IDIOT! IDIOT! BODOH!" Teriak Xiao Lìng marah. "Aku mengalami kecelakaan saat melawan para Olivia dan aku sempat mengalami koma," kata RPG. "Aku sangat mengkhawatirkanmu, RPG. Sebagai teman masa kecilmu, aku tidak ingin kehilanganmu," kata Xiao Lìng sambil menangis. "Tenanglah, Xiao Lìng. Aku baik-baik saja, sungguh," kata RPG lagi. "Dimana kau sekarang, RPG?" Tanya Xiao Lìng. "Di sebuah tempat bernama The Land of Rainforest. Kawasan dari Olivia-5," kata RPG. "Aku tidak begitu tahu mengenai tempat itu. Mungkin aku, Dahlia, dan Jeremy bisa menyelidiknya. Aku akan bilang ke semuanya bahwa kau masih selamat. Tetap hati-hati di jalan, RPG. Dan jangan bepikir untuk menghilang tanpa kabar lagi!" Kata Xiao Lìng. "Baiklah, baiklah," kata RPG. "Meow... Meow... Siapa itu, RPG?" Tanya Momoe. "Dia sahabatku, Xiao Lìng of The Starlight," kata RPG. "Ayo kita lanjutkan perjalanan nya, RPG, Momoe," kata Destroyer. "Baiklah, ayo," kata RPG. "Nyaw... Okay!" Kata Momoe sambil tersenyum.


Setelah menyusuri hutan, RPG dan teman-temannya berhasil sampai di danau ajaib itu. Seketika, bunga yang kuncup di mata kiri RPG kembali mekar. "Umm... Kau pernah bilang jika bunga yang menempel di mata kirimu mekar, itu berarti ada bahaya disekitar sini," kata Destroyer. "Nyaoo! Bunga yang menempel di mata? Keren!" Kata Momoe. "Tsk! Ada bahaya apa lagi di sekitar sini?!" Gumam RPG sambil memegang matanya. Tiba-tiba, terdengar suara perempuan yang memanggil RPG. "Sudah lama kita tidak berjumpa, RPG of the Starlight," kata suara itu. RPG pun menengok ke arah pepohonan. Ia terkejut melihat Olivia-5 bersama penjaganya sedang duduk di atas salah satu pohon yang ada disitu. "Me....ow... Itu... Gadis berambut merah.... Yang telah... Menghancurkan rumahku!" Kata Momoe ketakutan. "Wah... Wah... Wah... Bukankah ini si ratu cantik? Olivia-5, jadi... Bagaimana rasanya dikelilingi oleh sekumpulan prajurit yang idiot?" Kata RPG sambil tersenyum. "Ohhh... Kulihat lidahmu yang tajam itu tidak berubah. Masih sangat kasar ya?" Tanya Olivia-5. "Kasar? Tapi... Aku membawakan hadiah yang sangat spesial untukmu, Olivia-5," kata RPG. "Hadiah? Untukku? Awww.... Kau sangat romantis, RPG. Apa isi hadiahnya? Tanya Olivia-5. "Isinya berupa balas dendam atas apa yang kau lakukan pada diriku dan kepada alam sekitar!" Kata RPG geram. "Ohh... Bagaimana aku bisa lupa. Kau sangat kuat saat melawan kami berlima, RPG... Tapi sayangnya kau sangat lemah," kata Olivia-5 mengejek. "Hehehe... Kalau kau tidak diam, aku akan menusuk diriku sendiri," kata RPG sambil tersenyum. "Uhhh... Aku sangat merindukan dirimu dan ingin berbincang lebih lama lagi, RPG sayangku. Tapi sekarang... kau harus mati!" Kata Olivia-5. Ia pun mulai melakukan ritual nyanyian kematian. Pengawal pribadi Olivia-5 mulai menyebutkan mantra. "Behold the beautiful melody! Grand Creature of Light. The power made from the beauty of water. The ceremonies of a gigantic glorious mysteries! Release your body, soul, claws, and anger! I... Alexa... Summon thee in my name... NIGHTBRUTE... ARISE!" teriak pengawal itu. Seketika itu juga tanah bergetar. RPG melihat bayangan besar dari dalam danau raksasa itu. Bunga yang menempel di mata RPG menyala semakin terang. "Tsk... Momoe, Destroyer, mundur! Kita tidak tahu pasti apa itu, yang pasti sesuatu yang sangat besar akan muncul ke permukaan!" Kata RPG. Ia pun melihat sebuah lobster raksasa yang muncul dari danau. "HEHEHEHAHAHAHA! Kita lihat apakah kau bisa mengalahkan lobster kesayanganku, RPG of the Starlight!" Tawa Olivia-5. "RPG! MOMOE! NAIK KE PUNGGUNGKU! KITA KALAHKAN LOBSTER ITU BERSAMA!" kata Destroyer. Ia pun mengubah dirinya kembali menjadi seekor naga. Destroyer pun terbang tinggi untuk mencoba menyerang lobster raksasa itu. "Tsk! Kulitnya terlalu keras untuk bola apimu, Destroyer. Kita harus mencari cara lain," kata RPG. Destroyer pun terus mencoba mencari celah untuk mengalahkan Nightbrute. "Hmm... ITU DIA! Destroyer, saat dia melompat dari atas air, itu kesempatanmu untuk menyemburkan bola apimu ke tubuh bagian bawah Nightbrute! Itu titik kelemahannya!" Kata RPG. "Baiklah, akan kucoba untuk memancing dia keluar dari dalam air," kata Destroyer. Destroyer terus mencoba memancingnya sembari menghindari serangan tombak air yang tajam dari Nightbrute. Setelah beberapa lama, Nightbrute pun melompat dari atas air. Kesempatan ini digunakan Destroyer untuk menabrakan diri ke arah Nightbrute dengan keras sehingga dia tidak bisa masuk ke dalam air lagi dan jatuh ke tanah dalam posisi telentang. "HEY NINCOMPOOP! Terima ini! Destroyer... Sekarang!" Teriak RPG. "GROOARRRRR!" teriak Destroyer sambil menembakkan bola api ke arah bagian bawah Nightbrute. Nightbrute pun meronta-ronta kepanasan. Beberapa lama kemudian, monster itu pun mati dan menghilang. "Heheh! Kerja bagus Destroyer," kata RPG. Mereka pun turun. "Ini sudah berakhir Olivia-5! Berikan pecahan dari Indigo Diamond sekarang!" Kata RPG sambil menghunuskan pedangnya. "Heh, kau pikir kau bisa mengambilnya? Olivia sudah menanamkan pecahan Indigo Diamond di dalam tubuhku! Kau tidak bisa mengambilnya, RPG! Hehehehehe!" Kata Olivia-5 sambil mengejeknya. "Tsk! Sial!" Kata RPG. Tiba-tiba, sebuah tombak tertancap di tubuh Olivia-5 dari arah belakang. Alexa, seorang pelayan dari Olivia-5 menusuknya dari belakang dan memberikan pecahan berlian itu pada RPG. "Kau..." Kata RPG sambil terkejut. "HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA! DIA MATI! DIA AKHIRNYA MATI!" kata Alexa sambil menertawai Olivia-5 yang sudah tergeletak di tanah. "Kau... Senang membuatku bekerja setiap hari sementara kau sibuk dengan kecantikanmu. Hehehehe... Pelayanmu ini tidak akan mendapat siksaan darimu lagi! ARGGHHHH!" kata Alexa marah. RPG, Destroyer, dan Momoe hanya bisa tercengang melihat tindakan Alexa yang berbalik melawan majikannya sendiri. "Kau... Sudah mati sekarang! Tidak ada yang bisa kau lakukan! Ohhhh... Aku mencintaimu, aku mencintaimu.... Apa ini definisi kau mencintaiku? Pffttt! Sampah!" Kata Alexa. Tubuh Olivia-5 pun langsung berubah menjadi abu dan menghilang. "Master RPG! Aku akan ikut denganmu. Ayo kita habisi para Olivia yang tersisa," kata Alexa. "Uhhhh... Ya..... Baiklah.... Kau tidak perlu memanggilku dengan sebutan Master. Panggil saja aku RPG," kata RPG. "Hahaha.... Aku menyukai gayamu, R. Kupanggil saja kau R," kata Alexa. "Baiklah semuanya, ayo pergi dan temukan sisa pecahan yang disembunyikan para Olivia," kata RPG. "RPG, aku bisa merasakan keberadaan Olivia-4 dari sini. Ayo pergi," kata Destroyer. Mereka semua pun pergi dari The Land of Rainforest menuju tempat kediaman Olivia-4.


"Kau yakin ini arah menuju keberadaan Olivia-4 sebab kau satu-satunya yang bisa merasakan keberadaan para Olivia," kata RPG pada Destroyer. "Aku sangat yakin. Insting nagaku tidak pernah salah. Percayakan semua padaku, RPG," kata Destroyer. "Jadi... Umm... Alexa... Mengapa kau membantuku untuk melawan Olivia-5 tadi. Maksudku, mengapa kau mengkhianatinya?" Tanya RPG. "Heheheh... Kau sudah lihat kan tadi? Aku sangat membencinya! Ia menggunakanku hanya sebagai budaknya. Setiap ia bilang 'ohh... Aku mencintaimu, Alexa' hanya menambah kebencianku terhadap dirinya! Aku sudah lama ingin memberontak tetapi aku sangat lemah saat itu, hingga kau datang, Master RPG," kata Alexa. Ya... Setidaknya kau membantuku mengambil pecahan Indigo Diamond. Aku tidak akan berhasil tanpamu, hehehe," kata RPG. "Alexa! Kau tidak seharusnya melakukan itu pada Olivia-5. Sejahat-jahatnya ia terhadapmu, ia selalu melindungimu bukan?" Kata Momoe. "Hmph! Ia hanya berpura-pura saja," kata Alexa. "Teman-teman, kita sudah sampai," kata Destroyer sambil mendarat. "Ayo kita cari keberadaan Olivia-4. Alexa, Destroyer, Momoe, tetap waspada! Kita tidak tahu jebakan apa yang dipasang Olivia-4!" Kata RPG. "RPG, lihat disana! Meow!" Kata Momoe. "Hmm... Sebuah piramida terbengkalai. Ayo kita periksa," kata RPG. "Tunggu sebentar, jadi kita belum tahu dimana lokasi Lady Olivia-4?" Tanya Alexa. "Umm.... Yup, hehehe," kata RPG sambil tersenyum. "Awwww.... Master R! Aku benci berjalan," kata Alexa. "Ayolah Alexa, jangan cengeng, meow!" Kata Momoe. Mereka semua pun memasuki piramida misterius itu. Semakin jauh mereka masuk ke piramida itu, aura misterius semakin terasa. "Uhuk... Uhuk... Tempat ini sangat berdebu!" Kata Alexa. "Dan sangat kotor tepatnya," kata Destroyer. "Ssshhhh! Kalian dengar itu?" Kata RPG. "Dengar apa?" Tanya Alexa. RPG pun melihat sekumpulan tulang yang tergeletak di tanah. Tulang-tulang itu pun membentuk suatu makhluk. "TENGKORAK!" Teriak Momoe. "Tsk! Ini suatu penyergapan!" Kata Alexa. "Hanya ada satu cara yang dapat kita lakukan! Siapkan senjata kalian! Ayo!" Kata RPG. "Makhluk ini tidak mengandung darah. Sangat memalukan tetapi setidaknya aku bisa mendengar jeritan mereka! MUAHAHAHAHA! BERSIAPLAH UNTUK MATI DI TANGAN ALEXA!" Teriak Alexa. Ia menyerang tengkorak-tengkorak itu secara barbar. RPG, Momoe, dan Destroyer tercengang melihat itu. "Sudah selesai," kata Alexa sambil membersihkan tangannya. "Umm... Terima kasih... Alexa," kata RPG yang masih terkejut. "Hehehe... Sudah lama aku tidak bertarung. Olivia-5 selalu melarangku untuk ikut bertarung dengannya," kata Alexa. "Mungkin... Olivia-5 ada baiknya juga. Alexa, jika kau terus begini, kau bisa membahayakan dirimu sendiri. Kau harus memikirkan setiap gerakan lawan dan jangan gegabah seperti tadi," kata RPG menasihati. "Heh! Aku lebih memilih menyerang mereka satu persatu secara frontal," kata Alexa. "Ya... Yang penting, aku tidak mau melihat kau terluka," kata RPG. "Teman-teman! Aku melihat pintu dibawah sana," kata Destroyer. "Kurasa Destroyer menemukan sesuatu, ayo teman-teman," kata RPG. Mereka pun berjalan semakin dalam dan dalam. "Fuhh... Ruangan ini sangat gelap," kata Momoe. "Hmm... Disini disebutkan kita harus melepas 3 buah segel untuk membuka pintu ini. Segel-segel itu pasti tersebar di ruangan ini. Ayo berpencar!" Kata Momoe. "Arghhh..." Kata Alexa. "Alexa, sebaiknya kau tunggu disini. Kau kelihatannya lelah," kata RPG. "Aku bisa menunggu? YEAYYY! terima kasih Master R!" Kata Alexa sambil bersantai. "Baiklah, Destroyer kau ke kiri, Momoe, kau cari di pintu sebelah kanan, dan aku akan menuju ruangan bawah tanah," kata RPG. "Baik! Ayo kita berburu harta karun... Umm... Maksudku segel... Meow... Tee hee," kata Momoe. "Serahkan ini padaku, RPG!" Kata Destroyer yang merubah dirinya menjadi manusia lagi. Mereka bertiga pun berpencar untuk mencari segel demi membuka pintu misterius itu. Alexa menunggu jam demi jam tetapi RPG dan yang lainnya tak kunjung datang. "Huff... Aku sangat bosan. Mungkin aku harus menemani Master RPG," kata Alexa. Ia pun segera berlari menuju ruangan bawah tanah untuk menyusul RPG.


"Huff... Huff... Aha! Obor! Itu yang aku perlukan. Sekarang hanya perlu menemukan segel itu dan pergi dari sini sebelum..." Kata-kata RPG pun terpotong setelah mendengar bunyi misterius. *KRAK* "Makhluk itu datang..." Ia melanjutkan kata-kata yang terpotong tadi. Di depannya, sebuah tengkorak raksasa dengan armor yang tajam sudah menunggu kedatangan RPG. "Huff... Baiklah, kau mau bertarung?" Kata RPG sambil menyiapkan kedua pedangnya. "HIYAAAA.... ARGHHHH!" kata RPG sambil tersungkur. "Heh! Tidak buruk... Bagaimana dengan ini? HAAAAAAA! GYAAAHHHHH!" RPG pun kembali tersungkur. "Tsk! Armornya terlalu kuat. "HAAAAA! HIYA! HA! TERIMA INI! AHHHHHH! HAAAA! HIYA! MEGA TORNADO BLAST! RPG WIND! SPINNING BLADE OF DEATH! HAAAAA! HA! HIYA! GAHHH!" kata RPG sambil terus berusaha menyerang tengkorak itu namun usahanya sia-sia. Armor dari tengkorak itu hanya terlepas beberapa bagian. "Ia terlalu kuat! Kurasa aku harus mundur," kata RPG. Tiba-tiba, Alexa pun muncul dan menyambar tengkorak itu dengan sangat keras. "MUAHAHAHAHAHA! TERIMA INI DASAR TENGKORAK JELEK! NYAHAHAHAHAHAHAHAHA!" Teriak Alexa. Tombak nya yang sangat tajam mampu menusuk dan menghabisi tengkorak itu. "Hehehe... Kurasa terlalu cepat untuk menyerah, bukan begitu, Master R?" Tanya Alexa sambil membantu RPG untuk berdiri. "Alexa... Kau luar biasa! Terima kasih atas bantuanmu tadi ya," kata RPG sambil memeluk Alexa. "Ouch! Aww... Master R! Kau membuatku malu," kata Alexa. "Kurasa setiap orang mempunyai gaya bertarungnya masing-masing. Maaf sudah beragukanmu tadi, Alexa," kata RPG. "Hehehe," kata Alexa sambil tersenyum. "Baiklah, ayo temukan segel itu dan pergi dari sini," kata RPG. "Baiklah, Master R!" Kata Alexa.


Setelah perjuangan panjang untuk mencari segel demi membuka pintu rahasia itu, Destroyer, Momoe-Chan, RPG, dan Alexa akhirnya berhasil menemukan ketiga segel tersebut. "Baiklah, semua siap?" Tanya RPG. Semuanya pun mengangguk. "Ayo," kata RPG. Mereka lalu menggabungkan ketiga segel itu dan membentuk sebuah kunci. Pintu rahasia itu pun terbuka. "Astaga, tempat ini sangat berdebu... Meow!" Kata Momoe. "Kau benar. Yuck!" Kata Destroyer. Mereka pun berpencar untuk mencari petunjuk mengenai keberadaan Olivia-4. Tiba-tiba Momoe menemukan sesuatu. "Nyaw! Meow! Teman-teman, coba lihat ini!" Kata Momoe. "Hmm... Tulisan ini..." Kata Destroyer. "This property belongs to Olivia-4..." Kata RPG membaca tulisan itu. "Huft! Kita sudah berusaha sejauh ini tetapi kita belum menemukan keberadaan Lady Olivia-4!" Kata Alexa yang secara tidak sengaja menekan suatu tombol yang menyebabkan atap piramida itu terbuka lebar. "Hmm... Itu dia!" Kata RPG. "Kalian tahu mengapa atap ini terbuka?" Kata RPG. "Ya! Piramida yang aneh!" Kata Alexa sambil menggerutu. "Ini bukanlah sekadar piramida biasa! Ini adalah sebuah hangar rahasia!" Kata RPG senang. Tiba-tiba Destroyer merasakan sesuatu. "Teman-teman... Aku merasakan keberadaan salah satu Olivia di atas langit," kata Destroyer. "Itu pasti Olivia-4! Piramida yang bisa terbuka, sebuah hangar! Olivia-4 pasti menggunakan kapal terbang raksasa! Usaha yang licik!" Kata Momoe. "Yup! Ayo teman-teman! Naik ke punggungku! Kita akan menyusul Olivia-4 ke atas langit nan jauh!" Kata Destroyer. Mereka pun akhirnya berangkat meninggalkan piramida dan mengejar Olivia-4. "Brr... Gurun yang sangat panas berubah menjadi dingin seketika ketika berada di atas langit!" Kata RPG menggigil. "Semakin tinggi kau terbang, semakin tinggi pula udaranya," kata Destroyer. "Be...berapa la...lama lagi kita... Akan... S... sampai?" Kata Alexa yang juga kedinginan. "Kita sudah dekat!" Kata Destroyer. Setelah beberapa lama terbang di atas ketinggian, RPG dan teman-temannya melihat sebuah kapal terbang yang sangat besar. "Whoa... Kapal terbang yang sangat besar! Meow!" Kata Momoe. Dari dalam kapal itu, Olivia-4 sudah menunggu. "RPG... Akhirnya... Ia telah tiba!" Kata Olivia-4. "Hey! Olivia-4!" Teriak RPG. "Aku... Aku sangat senang kau datang untuk mengunjungiku... RPG," kata Olivia-4 sambil tersenyum manis. "Yup! Dan semua rencana licikmu itu tidak akan berhasil padaku. Diam saja disana sehingga aku bisa menghabisimu dan mengambil pecahan Indigo Diamond!" Kata RPG geram. "Tapi... Aku tidak ingin melawanmu, RPG! Apa kau tidak tahu betapa aku mengagumimu, RPG?! Ini tidak bisa berakhir dengan pertumpahan darah! Tidak bisa!" Teriak Olivia-4. "Oh... Serius? Dan apakah kau berpikir aku datang jauh-jauh kesini hanya untuk piknik denganmu?" Tanya RPG sambil tersenyum. Tiba-tiba RPG pun berteriak. "AKU TIDAK AKAN MENINGGALKAN KAPAL TERBANG INI SAMPAI AKU MENGAMBIL PECAHAN INDIGO DIAMOND DARIMU DAN MEWARNAI AWAN-AWAN DISINI DENGAN DARAHMU JIKA PERLU!" Teriak RPG kesal. "RPG! Tenangkan dirimu... Meow," kata Momoe sambil menenangkan RPG dengan membuat gaya yang menggemaskan. "Maafkan aku... Aku hanya sedikit terbawa emosi," kata RPG sambil tersenyum. "Tidak bisa! Tidak bisa! TIDAK BISAAAAAAAAA!" Teriak Olivia-4. Teriakan darinya semakin lama semakin besar dan membentuk sebuah melodi. Kesempatan itu digunakan pelayannya untuk mengeluarkan mantra. "Behold the melody of death! Impenetrable wisdom of ambience! A flying battleship that stood for us! Release your anonymous form beyond the thunderclouds! I... Alexus... Summon thee in my name... THUNDERHOOD... ATTACK!" teriak pengawalnya itu. Di depan mereka, muncul benteng terbang raksasa dengan berbagai meriam dari segala arah dan laser siap menembak jatuh Destroyer. RPG pun terkejut. "Serius?! Itu monster yang dikeluarkan Olivia-4?! Itu terlihat seperti benteng terbang raksasa bagiku!" Kata RPG. "Argh! Meriam-meriam itu menembak dari segala arah! Aku tidak bisa mendekati inti dari benteng ini!" Kata Destroyer kewalahan. "Momoe, Alexa, kita harus menangkis semua bola meriam yang datang menghampiri kita," kata RPG. "Dengan senang hati, Master R. Muahahahaha!" Kata Alexa. "Meow! Meow! Okie dokie!" Kata Momoe. "Destroyer, serahkan meriam itu pada kami. Kau tetap fokus untuk menembak inti dari benteng terbang ini!" Kata RPG. Destroyer, RPG, Momoe, dan Alexa terus berjuang untuk menembaki meriam itu. "Huff... Huff..." Kata Destroyer yang sudah mulai kewalahan dalam menghindari serangan meriam-meriam itu. Melihat hal itu, RPG mempunyai ide. Ia menyentuh kepala Destroyer sambil memejamkan mata. "RPG, apa yang akan kau lakukan?" Tanya Momoe. "Meriam-meriam ini telalu banyak. Destroyer mulai kelelahan! Aku akan membagikan kekuatan mata irisku kepadanya," kata RPG. Bunga matahari yang ada di mata kiri RPG pun mekar kembali. "ARGH! DESTROYER... BERSIAPLAH!" teriak RPG. Aura kuning terang yang memancar dari bunga itu menjalar ke tubuh Destroyer. Destroyer pun terkejut karena ia merasa tubuhnya sangat ringan dan ia bisa bergerak dengan sangat lincah. "Destroyer... Hancurkan... Seluruh meriam... Dari benteng terbang... Uhuk... Ini!" Kata RPG. "Yeah!" Kata Destroyer. "Semuanya... Pegangan yang erat pada Destroyer. Ia akan melakukan manuver!" Kata RPG. Destroyer pun menuruti perintah RPG. Ia pun dengan lincah menghindari berbagai serangan dari meriam-meriam itu dan menghancurkan satu persatu. Tidak lupa ia juga menghancurkan lasernya pula. "Darimana aku mendapatkan seluruh energi ini?" Tanya Destroyer. "Aku... Uhuk uhuk... Membagikan setengah dari kekuatan mata irisku padamu... Destroyer," kata RPG kelelahan. "Ya ampun, RPG! Kau tidak perlu melakukan itu," kata Destroyer panik. "Huff... Tidak... Apa-apa. Sekarang ayo kita hancurkan inti dari benteng ini," kata RPG. Destroyer pun menembakkan sebuah bola api besar ke inti benteng raksasa itu. "Thunderhood akan segera meledak! Sebaiknya kita pergi dari sini!" Kata Alexa. *KABOOOMM* berkat kerja tim dari Tim RPG, Thunderhood, sang monster penjaga Olivia-4 berhasil dikalahkan. "RPG! Olivia-4 melarikan diri!" Kata Momoe sambil menunjuk ke arah timur. "Kejar dia, Destroyer!" Kata RPG. Destroyer pun melesat kencang menuju kapal terbang kecil milik Olivia-4. Setelah cukup dekat dengan kapal milik Olivia-4, RPG dan lainnya pun melompat dari atas punggung Destroyer dan menghalangi Olivia-4. "RPG... Kau berhasil menghancurkan Thunderhood," kata Olivia-4. "Sudah cukup! Waktumu habis, Olivia-4! Ada kata-kata terakhir sebelum aku menghabisimu?" Tanya RPG sambil berjalan mendekati Olivia-4. Olivia-4 pun ketakutan dan berlindung di balik pelayannya. "Aku... Aku tidak akan membiarkan kau menyakiti Lady Olivia-4!" Kata Alexus sang pelayan Olivia-4. Melihat hal ini, Alexa mempunyai ide dan membisikkan rencananya dengan RPG. "Baiklah Olivia-4... Jika kau tidak mau menyerahkan pecahan Indigo Diamond maka aku akan menghabisimu... Sekarang juga..." Kata RPG sambil mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Saat ia mengangkat pedangnya, Tiba-tiba...


"Tsk! Argh!" Kata RPG sambil melemparkan pedangnya ke arah lantai kapal itu. "Tidak... Mungkin! Penglihatan ini... MATAKU! ARGH! SAKIT! ARGHHHHHH!" teriak RPG. Melihat hal itu, Olivia-4 merasa iba dan berusaha menolong RPG. "RPG! Kau baik-baik saja?!" Kata Olivia-4 sambil memegang tangan RPG. "Aku... Argh! Mataku!" Kata RPG yang kesakitan. Olivia-4 langsung memeluk RPG. "Sudah... Sudah... Aku yakin sakitnya akan hilang," kata Olivia-4 dengan lembut sambil mengelus RPG. "Tsk! Terima kasih... Olivia-4... REVERSE... INFERNO PULSE!" teriak RPG. Pedang ganda milik RPG yang tadinya ia lemparkan pun berbalik ke arah RPG, melayang, dan menancap punggung Olivia-4. "AKH!" kata Olivia-4 sambil mengeluarkan darah dari mulutnya. Olivia-4 pun langsung tergeletak di tanah tak berdaya. RPG pun melepaskan pedang itu dari tubuh Olivia-4. "Aku tidak percaya kau tertipu dengan trikku! Kau benar-benar telah berpikir jika kau bersikap baik denganku, kau akan membuatku berhenti untuk mengambil pecahan Indigo Diamond darimu? DASAR LICIK!" kata RPG sambil menusukkan pedang ke arah Olivia-4 yang sudah tak berdaya. Ia lalu berubah menjadi abu dan menghilang. "Yeah! Kita mendapatkan pecahan kedua dari Indigo Diamond. Kerja bagus teman-teman," kata Alexa. Alexus yang terdiam disitu pun mendekati RPG. "T... Tolong... Bunuh aku juga," kata Alexus. "Aku menghabisi para Olivia, aku mengambil pelayannya. Bersihkan dirimu, depan dan belakang. Kita akan berkumpul malam ini," perintah RPG sambil menghunuskan pedangnya ke arah Alexus. "Kau... Kau tidak akan... Menghabisiku?" Tanya Alexus. "Untuk apa aku menghabisimu?" Tanya RPG lagi. "Jadi siapa selanjutnya? Olivia-3 huh? 2 Olivia jatuh, 3 tersisa!" Kata RPG. "Dan kita mendapatkan kapal terbang ini! Meow!" Kata Momoe senang sambil menggerakkan ekornya.

__ADS_1


Malam pun tiba, RPG, Destroyer, Momoe-Chan, Alexa, dan satu anggota baru dari tim RPG, Alexus pun mengadakan pertemuan. "Kurasa kau sudah bersih dan rapi, Alexus. Selamat datang di tim kami," kata RPG sambil tersenyum. "Terima kasih... Master RPG," kata Alexus sambil menunduk hormat. "Hey, hey! Kau tidak perlu begitu," kata RPG sambil memegang pundak Alexus. "Ngomong-ngomong, ada yang tahu dimana keberadaan Lady Olivia-3?" Tanya Alexa. "Aku tahu dimana ia berada namun kau tidak akan menyukainya. Ia mempunyai markas di kutub utara yang sangat terpencil. The Land of Snow!" Kata Alexus. "Selama kita mempunyai kapal ini, itu tidak masalah, benar kan, RPG?" Tanya Momoe. "Umm... Hanya ada satu masalah. Kutub utara sangatlah jauh dari sini. Kita tidak bisa kesana dalam waktu dekat," kata RPG. "Tenang saja, Master RPG. Kapal ini mempunyai mode torpedo. Kita bisa mencapai kutub utara dengan cepat. Pegangan yang erat!" Kata Alexus. Mereka pun langsung melesat dengan cepat menuju kutub utara, tepatnya The Land of Snow. Rumah bagi salah satu Olivias, Olivia-3.


Meskipun memakai mode turbo, kapal terbang itu masih mempunyai batas. Alexus mengatakan kepada RPG bahwa mereka akan sampai ke kutub utara dalam waktu 1 hari. Malam pun juga sudah menghampiri mereka. Destroyer, Momoe-Chan, Alexa, sudah tertidur sejak tadi. Hanya RPG dan Alexus yang berjaga untuk mengawasi keadaan sekitar. Untuk berjaga-jaga jika ada bahaya. "Umm... Kau tidak tidur, Master RPG?" Tanya Alexus. "Aku tidak bisa tidur. Aku mempunyai firasat aneh yang mengganjal di kepalaku. Kau sebaiknya tidur, Alexus," kata RPG. "Kita akan sampai di kutub utara besok pagi," kata Alexus mengantuk. "Biar aku yang menggantikanmu untuk menyetir kapal ini," kata RPG sambil tersenyum. "Hoahm.... Kau yakin?" Tanya Alexus. "Yup, tidurlah, Alexus," kata RPG sambil mengelus kepala Alexus. Alexus pun juga tertidur. Tinggal RPG seorang diri yang masih terjaga di tengah kesunyian malam. Hanya ia, suara jangkrik, dan suara dari mesin kapal terbang itu. Di tengah kesunyian malam itu, Record, sang penulis dan perekam misterius itu pun muncul. "Apa yang... Record?" Tanya RPG. "Tidak bisa tidur? Bukan begitu, RPG of the Starlight?" Tanya Record. "Aku mempunyai firasat buruk tentang Olivia dan Aries," kata RPG. "Justru aku kesini untuk mengubah masa depan," kata Record. "Apa yang kau bicarakan?" Tanya RPG bingung. "Kau bisa melihat ini," kata Record sambil memperlihatkan penglihatannya kepada RPG. RPG melihatnya dengan sangat serius. "Jadi, kau sudah tahu apa yang harus kau lakukan?" Tanya Record. "Jika ramalanmu ini benar... Maka aku harus berhati-hati. Terima kasih, Record," kata RPG. Sesudah itu, Record pun menghilang kembali ke dalam bayangan. "Silver Cigarette Fang? Pedang itu... Jadi ia mengetahui titik kelemahanku! Aku harus mengambil langkah hati-hati dalam melawan Olivia!" Tekad RPG.


Memasuki kawasan Kutub Utara, RPG dan lainnya mulai merasakan hawa dingin yang menusuk tubuh. "Kita... Pasti sudah d..dekat!" Kata Alexa. "Apa semuanya... Membutuhkan... Jaket?!" Tanya RPG. Y... Ya! Di... Dingin sekali!" Kata Momoe. "Master RPG, ada persediaan pakaian hangat di dek belakang kapal ini," kata Alexus. "Baiklah, aku akan mengambilnya sebentar," kata RPG. Ia pun mengambil beberapa jaket dan memberikannya pada semua orang. RPG pun berdiri. "Baiklah! Hari baru, petualangan baru, semangat baru! Waktunya berlayar dan menguasai dunia!" Kata RPG sambil menyemangati. Tiba-tiba, kapal terbang mereka pun diserang. "APA YANG..." kata Momoe. "Master R! Dibawah kita!" Teriak Alexa. Destroyer melihat pasukan Olivia-3 dari kejauhan. "RPG, kita mendapat masalah! Para prajurit Olivia-3 sudah menunggu kita dan kelihatannya mereka berusaha menjatuhkan kita!" Kata Destroyer. "Oh tidak! Aku tidak akan membiarkan mereka!" Kata RPG. "Destroyer, Alexa, bantu aku mengusir mereka!" Perintah RPG. "Hehehehe! Waktunya pembantaian! MUAHAHAHAHA! Aku akan turun duluan!" Kata Alexa. "Alexa... TUNGGU! KITA MASIH TERLALU TINGGI!" teriak RPG. Alexa kelihatannya tidak mendengarkan perkataan RPG. Ia tetap bersikeras untuk meloncat dari kapal. "Tsk! Baiklah, aku akan menyusul Alexa. Momoe dan Alexus, kalian tetap disini," kata RPG. Ia pun langsung turun ke bawah untuk membantu Alexa dalam menghancurkan semua prajurit Olivia-3.


"Tembak kapal udara itu! Siapkan meriam anti-aircraft!" Kata pemimpin pasukan itu. "Hey! Berhenti menembaki kapal udaraku! HAAAAA!" kata RPG sambil menyerang mereka. "Alexa! Bantu aku menyerang!" Teriak RPG. "MUAHAHAHAHAHA! Dengan senang hati! HEHEHEHAHAHAHA! BUNUH! BUNUH! MATILAH KALIAN SEMUA! HAHAHAHAHAHAHAHA!" Teriak Alexa sambil menyerang mereka secara brutal. "Huff... Huff..." Kata RPG kelelahan. "Pasukan sudah tereliminasi," kata Alexa. "Kerja bagus Alexa," kata RPG senang. Hey! Tempat ini sudah aman! Kalian bisa mendarat!" Teriak RPG. "Terima kasih Master RPG!" Teriak Alexus dari atas.


Setelah mendaratkan kapal udaranya, RPG dan yang lainnya memulai perjalanan mereka untuk mencari keberadaan Olivia-3. "Jadi Alexus, kau tahu dimana Olivia-3 berada?" Tanya RPG. "Umm... Sebenarnya aku tidak tahu pasti ia dimana, yang pasti ia menguasai daerah ini," kata Alexus malu. "APA MAKSUDMU TIDAK TAHU PASTI?!" teriak Alexa sambil mencekik Alexus. "Tenanglah Alexa. Kita akan mencari Olivia-3 bagaimanapun caranya. Ayo," kata RPG sambil melerai Alexa dan Alexus. "Tapi Master R... Argh! Aku benci berjalan kaki di tengah salju begini!" Kata Alexa sambil menggerutu. "Maaf, Master RPG," kata Alexus sambil menundukkan kepalanya. "Tidak apa-apa, Alexus. Ini bukan salahmu. Ayo kita lanjutkan perjalanan," kata RPG. "Meow! RPG! Lihat! Peri!" Kata Momoe. "Mungkin kita bisa menanyakan keberadaan Olivia-3 pada mereka," kata RPG sambil mendekati para peri itu. "Hey! Halo!" Sapa RPG. "Kau! Apa yang kau inginkan, orang asing?" Tanya sang pemimpin peri itu yang memakai mahkota. "Uhh... Apa kau tahu dimana Olivia-3 berada?" Tanya RPG. "Jika kami memberikan informasi tersebut, aku yakin kau pasti akan membunuh kami semua," kata raja peri. "Apa yang membuatmu berpikir begitu? Tentu saja tidak!" Kata RPG. "Sulit dipercaya," kata raja peri itu sambil mengejek. "Uhh... Bagaimana kalau aku berjanji?" Kata RPG lagi. "Tambah sulit untuk dipercaya. Selain itu, kau kelihatannya seseorang yang mudah marah. Hohoho... Tidak! Kami para peri tidak akan memberi tahu dimana Olivia-3 berada. Hahahahaha!" Kata raja peri itu. "Grrrr..." Kata RPG sambil memukul raja peri itu dan melemparnya sejauh mungkin. "RPG! Apa kau harus melemparnya? Ia satu-satunya sumber informasi yang kita punya!" Kata Destroyer. "Tenanglah, kita akan mencari jalan lain," kata RPG. "Umm... Master RPG, berbicara tentang jalan lain..." Kata Alexus sambil menunjuk sesuatu. "Ada apa? Hmm... Hah! Monster Yeti! Aku tidak menyangka ia nyata! Semuanya, siapkan senjata kalian!" Kata RPG. "Kapanpun kau siap, Master R! MUAHAHAHAHA!" teriak Alexa. Yeti itu pun tentu saja mudah untuk dikalahkan karena kerja sama mereka. "Fiuh... Cukup melelahkan!" Kata Momoe. "Ayo kita lanjutkan perjalanan," kata RPG. Tiba-tiba muncul siluet dari balik kabut salju itu. Seorang gadis dengan rambut merah muda datang pada RPG dan yang lainnya. "Hehehe... Namaku Yurika! Aku pelayan dari Lady Olivia-3, sang dewi pelindung tanah salju ini," kata gadis berambut merah muda itu. "Oh benarkah? Wah aku senang sekali. Aku tidak menyangka pelayan Olivia-3 akan menghampiriku secara pribadi. Peri-peri dan Yeti itu sudah membuatku kesal! Mereka mengejek dan mengolok-olok kami semua! Jadi, gadis manis, kau siap untuk MATI?!" teriak RPG sambil menghunuskan pedangnya ke arah Yurika. "Hoho! Aku membawakan.... Hadiah... UNTUK KALIAN SEMUA!" teriak Yurika sambil mengangkat senjatanya tinggi-tinggi. "Master RPG! Ia berbahaya!" Kata Alexus dan Alexa. Tiba-tiba Yurika menjatuhkan senjatanya. "Aku menyerah," kata Yurika. Semua orang pun tercengang. "Apa yang kau katakan tadi?" Kata RPG. "Aku menyerah. Aku datang kesini untuk bergabung denganmu, Master RPG," kata Yurika sambil mengangkat kedua tangannya. RPG tentu saja masih belum percaya. "Jika aku membiarkan kau untuk bergabung dengan kami, apa untungnya bagiku?" Tanya RPG tegas. "Aku adalah pelayan Lady Olivia-3 seperti kataku tadi. Jika kau membiarkanku untuk bergabung denganmu, aku akan menunjukkan jalan menuju Lady Olivia-3 berada," kata Yurika. "Master! Ia tidak bisa dipercaya! Kau akan membiarkannya bergabung dengan kita? Ia mungkin akan mengkhianati kita!" Kata Alexa. "Baiklah, kau boleh bergabung dengan kami. Tunjukkan jalan menuju Olivia-3, Yurika," kata RPG. "Tapi master! Dia..." Kata Alexus. "Ia satu-satunya yang bisa menunjukkan jalan menuju Olivia-3. Jebakan atau bukan, kita tidak punya pilihan lain. Pecahan Indigo Diamond harus ditemukan segera!" Kata RPG menasihati. "Baik, Master RPG," kata Alexa dan Alexus pelan. "Oke Yurika, kau yang memimpin," kata RPG tersenyum. "Baik, Master RPG! Tee hee!" Kata Yurika senang. Mereka pun sampai di sebuah hutan dengan pohon yang sudah menggugurkan daunnya akibat salju dan dipenuhi dengan kabut tebal yang dingin. "Untuk mencapai tempat tinggal Lady Olivia-3, kita harus melewati hutan ini dan menemukan sebuah iglo raksasa," kata Yurika. "Kau sangat pintar untuk bermain petak umpet, bukan begitu, Olivia-3?" Gumam RPG. Mereka pun menyusuri hutan itu. "Brrr.... Semakin dingin!" Kata Momoe. "Lebih dari itu, ada apa dengan boneka salju yang menyeramkan itu?" Tanya Alexus yang menunjuk kearah boneka salju yang mempunyai mulut yang sudah robek dan dijahit. "Tidak tahu, tidak peduli," kata Alexa kedinginan. RPG pun terdiam. "Aku mempunyai firasat buruk mengenai hal ini," gumam RPG. Setelah mereka melewati hutan yang penuh dengan keanehan itu, sampailah mereka di sebuah kubah raksasa. "Itu markas Lady Olivia-3, ayo masuk, Master RPG," ajak Yurika. "Ini iglo nya? Aku tidak pernah melihat iglo sebesar itu," kata RPG tercengang. Setelah masuk ke iglo itu, mereka tidak menemukan apa-apa. "Tempat ini sepi! Apa kau yakin ini tempat dimana Lady Olivia-3 berada?!" Kata Alexa sambil memarahi Yurika. "Aku merasakan bahaya di sekitar sini walaupun sepi," kata RPG. Tiba-tiba RPG menangkap sesosok misterius di balik kabut. "Itu... Olivia-3!" Teriak RPG. Olivia-3 pun berjalan sambil menunduk dan menatap RPG dengan tatapan dinginnya. "Huh... RPG of The Starlight... Kau datang..." Kata Olivia-3 pelan. "Lady Olivia-3!" Teriak Yurika. "Yurika... aku... tidak... mengerti... Hoahhmm... Apa yang kau lakukan... disitu....?" Tanya Olivia-3 mengantuk. "Lady Olivia-3 kumohon! Kita akhiri semua kegilaan dan kekacauan ini!" Kata Yurika. "Hmm... aku masih belum mengerti dari perkataanmu itu... Hoahhhmmm... Sangat mengantuk... Ingin... Rebahan..." Kata Olivia-3. "Aku sudah lelah melayanimu. Kau tidak pernah menganggapku. Kau selalu terobsesi dengan boneka saljumu itu! Mulai dari sekarang, aku akan berada di pihak mereka!" Kata Yurika tegas. "Oh... Begitu ya?" Kata Olivia-3. "AKHHHHH!" kata Yurika. "Yurika! Kau tidak apa-apa?!" Tanya RPG. "Master... RPG... Aku... Tidak bisa mengendalikan diriku... Lari!" Kata Yurika. "Pengendali pikiran!" Kata Alexa. "Ada apa Yurika? Kau kelihatannya agak kebingungan. Kau tahu kan apa konsekuensinya jika kau meninggalkan majikanmu sendiri? Pelayan tidak memilih majikannya, majikan yang memilih pelayannya... Hehehehe... hahahahaha..... HAHAHAHAHAHA!" Teriak Olivia-3. "Argh.... Aku tidak bisa menggerakan diriku... Sama... Erkhhhh... Sekali! Behold... The Rampaging Melody... Heavenly birthday of Youth... The crystal snow that come back to life from the ashes to hell. Awakens! And become a goddess that rejects the cursed wheel of life... I... Yurika... Summon thee in my name... Wrinkle The Rampaging Snowman.... KILL THEM ALL!" Teriak Yurika sambil terkulai lemas ke tanah. "Tsk! Penyergapan! Master RPG! Awas!" Kata Alexa. "Sial! Momoe, bawa Yurika ke tempat yang aman!" Kata RPG. "Meow! Baik!" Kata Momoe sambil membawa Yurika yang pingsan ke tempat yang aman. "Itu... Boneka salju yang kulihat tadi!" Gumam RPG. "Hehehehe... Ini akan sangat menyenangkan!" Kata Alexa. "Alexa, Alexus, Destroyer, hati-hati! Ini bukan boneka salju biasa! Ini boneka salju iblis!" Kata RPG ketakutan. "HAAAA! HIYA! HEHEHAHAHAHA!" Teriak Alexa. "Tsk! Mereka tidak ada habisnya!" Kata Alexus. "SPINNING BLADE OF DEATH!" teriak RPG sambil berputar-putar. "GROAARRRR! OUCH! EKORKU!" kata Destroyer kesakitan. "Huff... Huff... Mereka terlalu banyak!" Kata RPG kewalahan. Alexus pun mulai menganalisa situasi. "Hmm... Ada satu boneka raksasa dan mempunyai warna yang berbeda dari yang lainnya... AHA! ITU DIA! Master RPG! Serang boneka salju yang besar itu!" Teriak Alexus sambil menunjuk boneka yang ia analisa itu. "Baik! GRAAAAAHHHHH! TERIMA INI!" Teriak RPG sambil memotong kepala boneka salju itu. Seketika itu juga semua boneka di sekeliling mereka pun hancur. "HAHAHAHAHA! Aku tidak menyangka bahwa kau...." Kata Olivia-3. Alexa yang sudah kesal itu menendang kepala boneka salju raksasa itu ke arah Olivia-3. "Hmph!" Kata Alexa. RPG melihat tubuh Olivia-3 yang tertimpa kepala boneka raksasa dan sudah tidak berdaya. "Kurasa pekerjaan kita sudah selesai disini," kata RPG. RPG tidak menyadari kalau Olivia-3 masih hidup. Ia menyerang RPG dari belakang. "MASTER RPG! AWAS!" teriak Alexa dan Alexus. "Apa yang..." kata RPG. Sebelum senjatanya menusuk punggung RPG, Destroyer dengan sigap menerkam Olivia-3. "Yum... Yum..." Kata Destroyer. RPG dan yang lainnya tercengang. "Destroyer..." Kata RPG. "Kurasa Destroyer sudah menunjukkan kedewasaannya, Master RPG," kata Alexus. Destroyer pun merasa ada sesuatu yang menyangkut di kerongkongannya. "Akhh.... Offf... Blehhh...." Kata Destroyer sambil memuntahkan sesuatu dari mulutnya. "Pecahan Indigo Diamond!" Kata Alexa. RPG pun mengelap pecahan Indigo Diamond itu. "Destroyer... Aku tidak percaya kau memakan Olivia-3," kata RPG. "Pertama, aku berusaha untuk menyelamatkanmu dan yang kedua, aku lapar... Maaf semua... Hehehe," kata Destroyer sambil tersenyum. "Baiklah, baiklah," kata RPG. "Aku hampir lupa! Yurika! Apa ia baik-baik saja?!" Tanya RPG khawatir. Ia melihat Yurika yang sudah tersadar. "Yurika, kau baik-baik saja?!" Tanya RPG khawatir. "Kurasa... Begitu.... Kepalaku masih pusing," kata Yurika pelan. "Ia akan segera membaik, RPG. Tenang saja, meow," kata Momoe. RPG pun merasa lega. "Baiklah, berarti hanya 2 Olivia yang tersisa," kata Alexa. "Olivia-2... dan Olivia Mizuki Haruko!" Kata RPG sambil mengepalkan tangannya. "Ayo teman-teman, kita berangkat menuju Land of Water, rumah bagi Olivia-2," kata RPG. "Baik!" Kata mereka semua. Mereka pun meninggalkan Land of Snow dan terbang menuju Land of Water.


"Master RPG, lihat itu," kata Alexus. "Taman bermain bawah laut? Olivia-2 memang periang ya," kata RPG tersenyum. "Aku benci bersenang-senang," kata Alexa. Mereka semua mendaratkan kapal terbang mereka di pesisir pantai. "Markas Olivia-2 ada dibawah laut, ayo," kata RPG. RPG tiba-tiba kelihatan ragu. "Ayo Master R, tunggu apalagi?" Tanya Alexa yang sudah siap berenang ke bawah laut. "Umm... aku... tidak bisa berenang... hehehe..." Kata RPG malu. "BAHAHAHAHAHA!" Tawa Alexa terbahak-bahak. "Alexa! Jangan begitu! Umm... Apa kau membawa pelampung, Master RPG?" Tanya Alexus. "Ya, Master RPG, apa kau membawa pelampung?" Tanya Yurika. "Tidak... Hehehe," kata RPG lagi. "Jangan khawatir teman-teman. Lihat ini! BUBBLE SHIELD RELEASE!" teriak Momoe. "Whoaa... Apa ini, Momoe?" Tanya RPG. "Dengan ini, kalian bisa bernapas di dalam laut. Ayo!" Ajak Momoe. "B... Baiklah," kata RPG gugup. Tim RPG pun berenang kebawah laut untuk menemukan markas Olivia-2. "Jangan khawatir Master RPG, pegang tanganku saja," kata Yurika. "Terima kasih, Yurika. Maaf jadi merepotkanmu," kata RPG. "Master! Tidak perlu minta maaf. Semua orang punya kekurangan dan kelebihan masing-masing," kata Yurika. "Kau benar," kata RPG pelan.


"Hmm... Mereka benar-benar keras kepala," kata siluet yang sedang mengawasi gerak-gerik Tim RPG. "Behold... The Blooming Melody, Increase your sword and justice alongside these hearts that never ends. Countless feelings, struggle, loyalty, and bloody nightmare behind the mischievous kiss... I Luxa... summon thee in my name, The Twin Savage... Let's Roll!" Bisik siluet itu sambil memanggil 2 paus pembunuh.


"Arghh..." Kata RPG sambil memegang matanya. "Wahhh, bunga yang bisa mekar di mata. Keren, Master RPG," kata Yurika. "Tidak Yurika, kalau bunga yang ada di mataku mekar, itu berarti ada bahaya di sekitar. Dan aku belum tahu apa," kata RPG. "Tetap waspada, semuanya," kata Alexus. Momoe dan Destroyer melihat bayangan bersirip dibalik terumbu karang. "Umm... RPG, aku punya perasaan tidak enak mengenai bayangan dibalik terumbu karang itu!" Kata Momoe. RPG dan yang lainnya pun pergi memeriksa keanehan tersebut. "GROAAARRR!" "AHHHHH! PAUS PEMBUNUH!" kata Destroyer ketakutan. "Tsk! Hampir saja!" Kata RPG sambil menghindar dari serangan 2 paus pembunuh itu. "Master! Ini bukan paus pembunuh biasa!" Kata Alexus. "Terdapat angka 2 di kepalanya... Itu berarti..." Kata Alexa. "Yup, ini prajurit milik Olivia-2," kata RPG sambil mengeluarkan pedangnya. "Master RPG! Apa yang kau lakukan?! Tetap pegang tanganku! Kau belum bisa berenang!" Kata Yurika khawatir. "Tidak apa-apa, Yurika. Aku juga harus belajar berenang bukan? Inilah saatnya," kata RPG sambil tersenyum. "Master..." Kata Yurika. "Hey! Sebelah sini!" Kata RPG sambil memancing kedua paus pembunuh itu kearah tebing batu. Kedua paus itu pun menabrakkan diri ke tebing itu dan batu besar yang berada di atas itu menimpa paus-paus itu. Paus-paus itu pun semakin marah pada RPG dan terus menyerang RPG.


Sementara itu...


*Flashback*


"Ini map yang kau minta, Olivia," kata Olivia-2. "Bagus adikku, kau memang bisa diandalkan. Terima kasih, Olivia-2," kata Olivia. "Saat aku ingin meninggalkan kastil di Kota Cumulonimbus, aku mendengar perbincangan Olivia dan Aries tentang menguasai dunia. "Huh? Apa yang kakakku bicarakan dengan orang itu?" Gumam Olivia-2 sambil menguping. "Jika kita berhasil menyatukan Indigo Diamond, kita akan menghancurkan dunia dan membangun dunia yang baru. Hanya untuk kita berdua, sayangku," kata Aries. "Hehe... Kau benar, sayang," kata Olivia. Menghancurkan dunia?! Itu berarti menghancurkan biota laut juga! Apa maksud dari semua ini? Kupikir kakak akan memanfaatkan Indigo Diamond untuk kebaikan!" Kata Olivia-2 sambil memegang pecahan Indigo Diamond.


"Saat itu aku tersadar bahwa Olivia hanya memanfaatkan kami semua. Aku juga tersadar bahwa aku tidak bisa melakukan apa-apa selain mematuhi perintahnya. Yahh... Apa yang kau harapkan dari sebuah klon. Aku dan saudariku yang lain hanyalah robot di mata Olivia. Aku mencoba memperingatkan yang lainnya tetapi tidak ada yang mau mendengarkanku karena aku yang paling muda dan dianggap sok tahu. Sampai kau akhirnya datang kesini, RPG," kata Olivia-2 sambil tersenyum. "Aku membunuh semua saudarimu dan kau tidak marah padaku?" Tanya RPG. "Aku tahu kau akan melakukan itu. Demi kebaikan bersama. Jadi yang kau lakukan itu adalah benar. Kau terpaksa membunuh para saudariku demi menyelamatkan dunia bukan?" Tanya Olivia-2. "Kurasa kau benar. Aku masih punya perasaan bersalah pada Olivia-5, Olivia-4, dan Olivia-3 karena telah membunuh mereka semua," kata RPG sedih. "Tidak apa-apa, RPG. Selain itu, kau harus tetap kuat dan ceria saat pertama kali kita bertemu di Kota Cumulonimbus. Kau masih ingat kan?" Kata Olivia-2 sambil tersenyum. "Ya! Kau terus mengoceh tentang pergi ke mall dan berbelanja," kata RPG. "Hahahaha. Kau lucu, RPG, tee hee!" Kata Olivia-2. "Fuhh... Kita sudah sampai di permukaan. Ayo teman-teman, pemberhentian selanjutnya, Kota Cumulonimbus," kata RPG. "Terima kasih Olivia-2. Oh dan kau juga Luxa," kata RPG sambil tersenyum. "Untuk apa?" Tanya Olivia-2. "Untuk melakukan sesuatu yang kau anggap benar," kata RPG. Mereka semua pun akhirnya berangkat ke Kota Cumulonimbus untuk pertarungan mereka melawan pemimpin dari semua Olivias dan juga mantan anggota dari organisasi Freedom Fighters, Olivia Mizuki Haruko.


Sementara itu...


"Lady Olivia, coba lihat ini," kata salah satu penyihir pelayan Olivia sambil menunjukkan bola kristalnya. "Heheh... RPG sudah kembali rupanya. Setelah sekian lama," kata Olivia. "Phantom! Kemarilah!" Panggil Olivia pada naganya. "Apalagi sekarang?" Tanya Phantom. "Aku mau kau pergi menghadang RPG dan 'bersenang-senang' sedikit. Kau tahu maksudku kan?" Tanya Olivia. "Heh! Tidak perlu bilang dua kali padaku," kata Phantom sambil terbang menuju RPG.

__ADS_1


"Ini dia teman-teman. Kota Cumulonimbus," kata RPG sambil melihat sekeliling. Seketika itu juga Phantom melesat dengan kencang menuju Destroyer dan menabrakan dirinya. RPG dan yang lainnya pun terjatuh. "Ouch! Kalian tidak apa-apa?" Tanya RPG. Mereka semua pun mengangguk. "Aku akan mengurus Phantom, kalian pergi duluan tanpaku menuju markas Olivia! Aku akan segera menyusul!" Kata Destroyer sambil menghindar dari serangan Phantom. "Baiklah! Hati-hati, Destroyer! Alexa, Alexus, Yurika, Luxa, Momoe, Olivia-2, ayo cepat!" Kata RPG. Mereka semua pun bergegas menuju markas Olivia. Tentu saja perjalanan tidak mudah. Olivia sudah menyiapkan pasukan untuk menghadang RPG. Cerberus, Harpy, Armored Skeletons, Wizard, Necromancer, Elite Armored Trolls, Zombies, Enchanted Evil Spirits, Archers, dan semua jenis musuh lainnya. RPG dan yang lainnya terus berusaha untuk menerobos pertahanan ketat milik Olivia. "Huff... Huff... Ini cukup melelahkan..." Kata RPG yang sudah mulai kewalahan. "Ayo RPG, kau tidak bisa berhenti sekarang!" Kata Olivia-2. Akhirnya setelah pertempuran yang sangat panjang melawan para pasukan Olivia, RPG dan yang lainnya tiba di kastil milik Olivia. "Kalian semua siap?" Tanya RPG. Mereka pun mengangguk sambil menyiapkan senjata mereka. "Ayo masuk," kata RPG dan Olivia-2. "Olivia ada di lantai paling atas kastil ini," kata Olivia-2. Pintu tengah kastil pun terbuka, para prajurit Olivia tentu saja sudah menunggu. "Itu RPG of The Starlight!" "Tangkap dia! Jangan biarkan dia menuju Lady Olivia!" "Siapkan meriam! Siapkan pemanah! Demi Lady Olivia!" "DEMI LADY OLIVIA!" kata para prajurit itu. "Tsk!" Kata RPG. Mereka terus bertarung. Lantai demi lantai kastil terlewati. Setelah pertempuran panjang, RPG dan yang lainnya tiba di lantai paling atas menara kastil Olivia. RPG melihat Olivia sudah duduk di atas kursi yang megah.


"Ah... RPG of The Starlight... Aku sudah menunggumu," kata Olivia. "Apa yang kau baca, Olivia?" Tanya RPG. "Catatan kehidupan dari Kota Cumulonimbus," kata Olivia. "Catatan kehidupan?" Tanya RPG. "RPG, bukankah ini aneh? Disebutkan bahwa dahulu, Kota Cumulonimbus adalah tempat dimana semua keajaiban dilahirkan. Semua benih sihir dan pengetahuan dibuat disini dan bahkan melampaui kemampuan kita. Tapi semua itu hilang begitu saja. Kemana semua pengetahuan itu pergi? Kapan kita kehilangan hal itu? Aku pikir, jika aku mempelajari buku ini, aku bisa mengetahui apa arti cinta dan dunia," kata Olivia. "Hanya orang idiot yang ingin mengetahui banyak hal yang sebenarnya tidak perlu ia ketahui. Atau... Kau memang benar-benar tidak tahu akan hal itu? Atau mungkin kau terlalu bodoh untuk mengetahui hal tersebut, Olivia?" Tanya RPG. "Itu agak... berpikiran tertutup, RPG. Walaupun sebenarnya kita memang tidak bisa mengetahui semua misteri yang ada di dunia ini, mungkin kau ada benarnya juga," kata Olivia. "Terserah apa katamu. Aku kesini hanya untuk mengambil pecahan Indigo Diamond terakhir darimu. Itu yang terpenting!" Kata RPG. "Heh... Kau benar-benar belum berubah, RPG of The Starlight, dan kau, adikku Olivia-2. Aku tahu kau akan mengkhianatiku suatu hari nanti dan ternyata benar. Aku sudah tahu kau akan menguping pembicaraanku. Mungkin aku harus membunuhmu duluan," kata Olivia sambil tersenyum jahat dan menutup bukunya. "Lewati mayatku dulu jika kau ingin membunuh Olivia-2, Olivia!" Kata RPG sambil melindungi Olivia-2. "Hehehe.... HEHEHAHAHAHA! Sangat menarik," kata Olivia. Ia pun mengangkat tangannya. "Phantom! Kembali padaku!" Kata Olivia. Atap kastil pun runtuh akibat pertarungan antara Phantom dan Destroyer. "Akhh! Destroyer! Kau tidak apa-apa?!" Tanya RPG khawatir. "Ya... Tapi Phantom lebih kuat dari sebelumnya! Huff... Huff..." Kata Destroyer yang kelelahan. "Sampai jumpa, RPG. Ambil pecahan ini jika kau berani. Bye-bye," kata Olivia sambil melarikan diri dengan naganya. Dibelakang mereka, semua pasukan Olivia pun muncul kembali. "Tsk! Kita tidak punya waktu untuk melawan mereka semua!" Kata RPG. "RPG, kami akan menahan mereka. Kau pergi saja dan kejar Olivia," kata Olivia-2. "Tapi... Olivia-2..." Kata RPG. "Master RPG, Lady Olivia-2 benar! Kami bisa menangani ini semua. Kau fokus saja dalam mengejar Lady Olivia!" Kata Alexus. RPG pun terdiam. "Baiklah, tapi kalian semua harus berjanji akan tetap hidup saat aku kembali!" Kata RPG. "Jangan khawatir Master R, makhluk ini tidak apa-apanya dibandingkan dengan Alexa. MUAHAHAHA!" kata Alexa sambil terus menyerang. "Baiklah, hati-hati," kata RPG. "Ayo RPG, naik ke punggungku! Mari kita kalahkan Olivia dan Phantom bersama-sama!" Kata Destroyer. "RPG! Ambil ini!" Kata Olivia-2. Ia memberikan pedang lava dan es. Sebuah peningkatan dari pedang api dan air milik RPG. "Terima kasih, Olivia-2!" Kata RPG sambil 1terbang meninggalkan mereka.


"Heheh... Mereka terus mengejar. Sangat bodoh!" Kata Olivia. "OLIVIA!" teriak RPG geram. "KEMBALIKAN PECAHAN TERAKHIR INDIGO DIAMOND!" teriak RPG lagi. "Hmph! Kau pikir bisa mengalahkanku dengan semudah itu? Tidak akan!" Teriak Olivia. "RPG! Pegangan yang erat!" kata Destroyer. Mereka saling bertempur di angkasa. Naga tercepat melawan naga terkuat. RPG dan Olivia juga saling beradu senjata di atas naga mereka masing-masing. Akibat faktor keseimbangan dan angin yang bertiup kencang, RPG dan Olivia pun terjatuh dari naga mereka. "RPG! kau urus Olivia, aku akan mengejar Phantom!" Teriak Destroyer. "Tinggal kau dan aku sekarang, RPG of The Starlight! Mari kita selesaikan ini secepatnya!" Kata Olivia. "Baiklah, jika itu yang kau inginkan!" Kata RPG. Mereka berdua saling melontarkan serangan. "Cherry Blossoms Spear!" Teriak Olivia. "Double Leaf Dash!" Teriak RPG. "HAAAAAA!" teriak Olivia. "GRRRRR!" teriak RPG. "Kau! Kau berpikir akan mengalahkanku begitu cepat?! Kau masih sangat naif, bahkan sejak pertama kali kita bertemu di Desa Moshuka!" Kata Olivia sambil menahan serangan RPG. "Aku mungkin naif dan bodoh, tapi tidak seegois dirimu! Aku melindungimu, aku memberi perhatian istimewa kepadamu saat kau pertama kalinya menjadi anggota Freedom Fighters! Kita bertempur bersama. Aku bahkan menyimpan perasaan padamu, tapi kau mengkhianatiku dan kita semua!" Kata RPG yang juga menahan serangan Olivia. Mereka berdua pun saling melompat dan menjauhkan diri. "Hmph! Tidak peduli apa katamu, inilah akhirnya!" Kata Olivia sambil menyiapkan serangan terakhir. "Aku akan menghentikan rencanamu dan Aries, apapun yang terjadi!" Kata RPG. "RPG!" teriak Olivia. "OLIVIA!" teriak RPG. "ANGELIC DEMON SLASH!" "SPINNING BLADE OF DEATH!" teriak mereka berdua secara bersamaan. Serangan mereka berdua pun mengenai satu sama lain. RPG dan Olivia pun terjatuh ke tanah akibat kelelahan. Untungnya, pecahan Indigo Diamond pun berhasil di jatuh ke tangan RPG kembali. Phantom juga berhasil dikalahkan oleh Destroyer. Para pasukan milik Olivia pun juga hilang menjadi abu seketika itu juga. "Huff... Huff... Apa yang terjadi?!" Kata Olivia-2. "Kurasa Master RPG berhasil mengalahkan Lady Olivia," kata Luxa kelelahan. "Baguslah, aku sudah lelah melawan mereka yang tiada habisnya... fiuh..." Kata Yurika. "Heh! Padahal aku belum puas membantai mereka semua!" Sombong Alexa. Mereka semua pun bergegas menemui RPG dan Olivia. RPG pun dibantu bangun oleh Olivia-2. "Kau tidak apa-apa?" Tanya Olivia-2. "Ya... Huff... Aku... Baik-baik saja..." kata RPG yang sudah berlumuran darah. Olivia-2 pun mendekati kakaknya. "Mengapa kau melakukan ini semua kepada kami, Olivia?!" Tanya Olivia-2 sambil menangis. "Aku... Belum kalah..." Kata Olivia yang sudah berlumuran darah juga. "Apa maksudmu? Kau sudah jelas kalah dari Master R! Mungkin aku akan membunuhmu sekarang juga!" Kata Alexa geram. RPG pun teringat pada ucapan Record.


*Flashback*


"Tidak bisa tidur? Bukan begitu, RPG of the Starlight?" Tanya Record. "Aku mempunyai firasat buruk tentang Olivia dan Aries," kata RPG. "Justru aku kesini untuk mengubah masa depan," kata Record. "Apa yang kau bicarakan?" Tanya RPG bingung. "Kau bisa melihat ini," kata Record sambil memperlihatkan penglihatannya kepada RPG.


"SEMUANYA! AWAS!" Teriak RPG. "SILVER CIGARETTE FANG ATTACK!" teriak sosok yang tiba-tiba menghujani Tim RPG dengan ribuan pedang. "Tsk! INFERNO PULSE!" teriak RPG. RPG menahan ribuan pedang itu dengan kekuatannya. "Grrr! Bagaimana kau bisa menghindari seranganku?! Aku sudah memperhitungkannya dengan akurat bahwa kau dan teman-temanmu akan mati di tanganku!" kata sosok itu. "Aries Shadow Haruko! Aku sudah mengetahui trikmu jauh sebelum aku sampai disini!" kata RPG. "Hmm... Aku lihat kau sudah berhasil merebut semua pecahan Indigo Diamond. Kau memang sangat gigih, RPG. Aku ingin saja berkelahi denganmu tapi aku tidak punya cukup waktu disini. Dan kau tahu, aku sangat geram padamu sejak pertama kali kita bertemu. Aku sangat iri padamu! Aku pikir kau akan mengambil hati Olivia! Aku tidak akan membiarkanmu mencintai Olivia!" Kata Aries. "Semua ini hanya karena kau cemburu?! Ini gila! Mengapa kau tidak datang saja kepadaku baik-baik dan menyelesaikan masalah ini secara damai?!" Kata RPG geram. "CUKUP!" Teriak Aries. "Kita akan bertemu lagi, RPG of The Starlight, tapi jangan harap aku akan membiarkanmu hidup!" Kata Aries sambil menggendong Olivia di pundaknya dan pergi menuju portal kegelapan. "Yahhh... Aku rasa urusan kita selesai disini. Ayo pulang," kata RPG sambil tersenyum. "Pulang?! Dengan keadaan seperti ini! RPG!" teriak Olivia-2. "Kenapa?" Kata RPG. Olivia-2 pun membersihkan semua darah RPG di badannya. "Nahhh, bersih seperti baru. Tee hee," kata Olivia-2. "Kau ini..." Kata RPG dan yang lainnya sambil tertawa. "Dimana kami semua akan tinggal, Master RPG?" Tanya Yurika. "Hmm... Benar juga ya," kata RPG sambil menggaruk kepalanya. "Aku tahu! Kalian bisa tinggal di Pantai Sunshine. Tempat itu sangat strategis dan berada di kawasan Land of Water tempat aku dan Luxa tinggal. Kalian bisa membangun rumah kalian masing-masing disana," kata Olivia-2 sambil tersenyum. "Oh ya, aku dengar Pantai Sunshine juga dekat dengan sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Edelweiss," tambah Luxa. "Dan aku dengar pemimpin kerajaan itu adalah gadis yang manis. Aku dan dia sering berbincang bersama. Aku bersyukur Olivia menyuruhku untuk menguasai Land of Water," kata Olivia-2 sambil tersenyum. Wajah RPG pun memerah. "Ada apa, RPG?" Tanya Olivia-2. "Ah tidak, bukan apa-apa. Hehehe. Ayo kita pulang menuju Pantai Sunshine," kata RPG. Mereka semua pun pergi menuju Pantai Sunshine.


"Ini dia... Pantai Sunshine... Yahooo!" Kata Olivia-2 senang. "Baiklah, aku akan membangun gubuk disini, bagaimana dengan kalian, Alexa, Alexus, Yurika, Luxa, Momoe?" Tanya RPG. "Kami akan tinggal bersamamu saja, Master RPG," kata Alexa. "Momoe?" Tanya RPG. "Aku akan membangun rumah pohon di hutan sebelah sana. Meow!" Kata Momoe. "Bagaimana denganmu, Luxa?" Tanya RPG. "Aku akan ikut dengan Lady Olivia-2. Aku sangat mencintainya," kata Luxa sambil memeluk Olivia-2. "Aku benci bucin!" Kata Alexa. "Aku senang kalian tinggal disini. Aku sangat kesepian setelah sekian lama menguasai Land of Water. Mungkin aku akan sering mengunjungi kalian, sampai jumpa RPG," kata Olivia-2. "Oh ya, pecahan Indigo Diamond! Aku akan mengembalikannya pada BGS dulu," kata RPG. "Kami akan ikut denganmu, Master RPG," kata Alexus. "Ya, aku juga ingin berjalan-jalan, Master RPG!" Kata Luxa. "Baiklah, baiklah," kata RPG. Mereka semua berangkat menuju Kerajaan Mizukumo.


Sesampainya disana...


"Oh hey One, apa yang kau lakukan disini?" Tanya Olivia-2. "Olivia-2, aku sangat senang bertemu denganmu. Kau sangat lucu dan menggemaskan," kata One sambil mencubit pipi Olivia-2. "Ouch! Aww!" Kata Olivia-2. "Dan siapa orang-orang ini?" Tanya One. "Namaku Alexa, ia Alexus, ini Yurika, ini Luxa, dan ini Momoe," jelas Alexa. "Aww... Senang bertemu kalian semua. Salam kenal, namaku One of The Edelweiss, panggil saja aku One," kata One sambil tersenyum. Beberapa selang kemudian, RPG pun muncul. "Destroyer, lain kali sebelum bertarung, jangan makan terlalu banyak," kata RPG. "Maaf, hehehe," kata Destroyer. RPG pun bertatapan dengan kekasihnya itu. "Oh hai Lady One, apa yang kau lakukan di Kerajaan Mizukumo?" Tanya RPG. "RPG... kau... masih hidup?" Tanya One sambil mengeluarkan air mata. "Huh? Apa maksudmu?" Tanya RPG. One pun langsung berlari dan memeluk RPG hingga keduanya terjatuh. "Kurasa Master R juga bucin. Aku pergi dari sini," kata Alexa cemberut. "BODOH! Kau tidak tahu betapa khawatirnya aku! Aku pikir kau sudah mati!" Kata One sambil menangis di pelukan RPG. "Sudah sudah, kau lihat, aku masih hidup sekarang," kata RPG sambil mengelus One. "Jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku lagi ya," kata One. "Tentu saja, Lady One," kata RPG sambil tersenyum. "Umm... Master R, aku tidak bermaksud untuk mengganggu momen bucin kalian, tapi kau harus mengembalikan pecahan Indigo Diamond itu kan?" kata Alexa. "Oh ya, kau benar, ayo semuanya," kata RPG. RPG pun masuk ke dalam istana dan bertemu teman-teman lamanya, Akimura, Shirata, Yasora, Dahlia, Xicko, Olimphia, AGT, Rake, dan Doctor Jeremy, juga Xiao Lìng, dan BGS. "Hai teman-teman, aku pulang," kata RPG. "Heh, kembali dari alam baka, RPG?" Tanya Xicko. "Haha, kau tidak pernah berubah, Xicko," kata RPG. "Selamat datang kembali, RPG," kata Akimura. "Oh ya, perkenalkan ini Alexa, Alexus, Yurika, dan Luxa. Mereka berempat adalah muridku. Ini Momoe dan ini Olivia-2," kata RPG. "KAU MEMBAWA SALAH SATU DARI OLIVIAS?!" teriak mereka semua kaget dan siap menyerang. "Tunggu, tunggu, tunggu, tunggu, tunggu! Tenanglah kalian, astaga. Olivia-2 ada dipihak kita. Ia bahkan membantuku untuk melawan Olivia," jelas RPG. "Mungkin tidak semua Olivias jahat," kata Dahlia. "Itu yang kumaksudkan!" Kata RPG. "Oh ya BGS, ini pecahan dari Indigo Diamond," kata RPG sambil melemparkan pecahan-pecahan itu pada BGS. "Terima kasih RPG, sekarang aku bisa kembali ke Pulau Goddess dan mengembalikan Indigo Diamond," kata BGS sambil pamit dan pergi menuju Goddess Island. Setelah berbincang, RPG dan yang lainnya kembali ke Pantai Sunshine untuk membangun tempat tinggal mereka. "Fuhh... Gubukku sudah jadi. Terima kasih atas bantuannya, Olivia-2," kata RPG. "Tidak masalah. Senang bisa membantu, tee hee!" Kata Olivia-2. "Aku rasa ini perpisahan," kata Luxa. "Perpisahan? Jarak kita dengan mereka semua sangat dekat, sayangku. RPG, datanglah ke markasku untuk sekadar bermain-main atau mengobrol. Aku juga akan sering mengunjungimu. Sampai jumpa RPG. Ayo Luxa," kata Olivia-2 sambil menyelam. "Sampai bertemu kembali, Olivia-2. Kau juga Luxa!" Teriak RPG dari kejauhan.


"Berkat kegigihan dari RPG dan teman-temannya, dunia berhasil terselamatkan kembali. Paling tidak untuk sementara waktu," kata Record. "Fiuh! Menjadi recorder, novelis, serta narator sangat melelahkan!" Kata Record lagi. "Setidaknya aku berhasil menemukan akhir yang bahagia dari sini, dan RPG tidak jadi terbunuh oleh Aries. Aku akan tetap memantau RPG dan yang lainnya untuk berjaga-jaga," kata Record sambil menghilang dari balik bayangan.


*Epilogue : Record's Training Field*


"Fuhh... Kau tahu, semenjak kita mengembalikan semua pecahan Indigo Diamond seperti semula, gunung berapi bawah laut sudah jarang untuk bererupsi," kata Olivia-2. "Ya, aku bisa tidur lebih nyenyak dengan Lady Olivia-2, bukan begitu, sayang?" Tanya Luxa. "Aww... Luxa kau sangat tampan kalau kau berkata begitu," kata Olivia-2. "Aku benci melihat mereka," kata Alexa. RPG dan yang lainnya pun tertawa. Setelah pertempuran melawan The Olivias, RPG dan teman-temannya merayakan pesta sederhana dengan api unggun di Pantai Sunshine. Tiba-tiba, sesosok siluet muncul dari balik kabut. "Record! Aku senang bertemu denganmu," kata RPG. "Siapa dia?" Tanya Olivia-2. "Ia seseorang yang membantu kita secara diam-diam dalam melawan The Olivias kemarin," kata RPG. "Ngomong-ngomong, kau ingin bergabung dengan kami, Record?" Tanya RPG. "Tidak perlu. Aku kesini untuk mengajakmu," kata Record. "Ehhh? aku?" Tanya RPG. "Ikutlah denganku, akan kujelaskan setelah kita tiba disana," kata Record. "Alexa, aku akan pergi dengan Record sebentar. Kau yang bertanggung jawab atas keamanan semuanya ya," kata RPG. "Huh? Kenapa aku, Master R?" Tanya Alexa. "Karena kau yang terkuat diantara kita semua. Aku pergi dulu ya," pamit RPG. "Baiklah Master R, serahkan padaku!" Kata Alexa bersemangat.


RPG dan Record tiba di suatu dimensi yang aneh. "Whoa... Tempat apa ini, Record?" Tanya RPG. "Ini tempat dimana aku biasa bermeditasi dan juga tempat latihan. Selamat datang di Dimensi Void," kata Record. "Jadi, kau membawaku kesini untuk apa?" Tanya RPG. "Untuk melatihmu," kata Record. "Melatihku?" Tanya RPG lagi. "Aku mengawasimu saat pertarunganmu dengan Olivia. Penampilan bertarungmu tidak buruk, hanya saja masih perlu untuk ditingkatkan lagi. Kau juga hampir membuat dirimu terbunuh akibat kau lupa akan serangan Aries. Aku akan melatihmu disini. Kecepatan, kelincahan, ketepatan, dan kekuatan adalah poin yang harus kau dapat disini," Jelas Record. "Baiklah, baiklah, terserah kau saja," kata RPG. "Bagus. Latihan pertamamu adalah mengambil 5 buah koin emas yang ada di labirin itu," kata Record. "Heh, mudah sekali," kata RPG. "Aku sudah menyiapkan berbagai monster untuk menghadangmu disitu. Aku ingin lihat seberapa cepat kau mengambil 5 koin itu," kata Record. "Baiklah," kata RPG. "Kau siap, RPG? Aku mau kau kembali kesini dengan membawa 5 koin emas itu dalam waktu 2 menit," kata Record. "Kau siap?" Tanya Record. "Siap," kata RPG. "3... 2... 1... MULAI!" teriak Record. RPG pun berlari sekencang mungkin untuk mengambil 5 koin emas itu. Setelah beberapa lama, RPG pun kembali. "Hmm... 1 menit tersisa, kau lumayan cepat," kata Record. "Huff... Huff..." Kata RPG kelelahan. "Tidak buruk, sekarang aku mau kau mengambil 3 buku sakral kesana," kata Record. "Kau mau aku mengambil 3 buku sakral dengan banyak sekali ogre?" Tanya RPG. "Ingat, latihan kekuatan dan kecepatan. Aku mau kau kembali kesini dalam waktu 1 menit. Bersedia... Siap... MULAI!" kata Record. "Argh! Kau mulai membuatku kesal," kata RPG. Beberapa lama kemudian, RPG berhasil kembali membawa 3 buku itu. "Hehe... 30 detik tersisa, lumayan," kata Record. RPG terus menjalankan latihan yang diberikan Record. "1 detik tersisa. Kau benar-benar cepat ya," kata Record. "Hah... Huff... Huehhh... Apa ada latihan aneh lagi selain ini?!" Kata RPG yang mulai kelelahan. "Hanya ada 1 latihan lagi," kata Record. "RPG! HAI!" teriak One. "La... Lady One?! Apa yang kau lakukan disini?!" Tanya RPG. "Oh ya, aku lupa memberitahumu. One akan disini untuk menemanimu dalam latihan terakhirmu," kata Record. "Umm... Lady One, sebentar ya, aku ingin bicara dengan Record secara pribadi. Hehehe," kata RPG sambil tersenyum. RPG pun menarik baju Record. "Record, kenapa Lady One ada disini?! Ini tempat yang cukup berbahaya baginya!" Kata RPG marah-marah. "Bro, tenanglah. Aku pikir akan lebih efektif jika kekasihmu yang menemanimu dalam latihan. One, temani RPG ya," kata Record. "Tentu," kata One sambil memeluk RPG. "Baiklah, selamat datang di Gladiator of Doom! RPG, kau harus bisa bertahan dari semua serangan musuh. Gunakan kelincahan, kecepatan, ketepatan, dan lainnya seperti yang kuajarkan tadi. Kau harus bisa bertahan sampai 10 gelombang serangan. Yang terpenting dari latihan ini adalah, kau harus bisa melindungi One, kekasihmu itu," kata Record. "Baik! Baik!" Kata RPG. "Baiklah, bersedia... siap... MULAI!" Teriak Record.


"Whoa... Apa itu... centaur? Keren!" Kata One terpesona. RPG dengan sigap menarik tangan kekasihnya itu dan melindunginya dari tebasan pedang raksasa centaur itu. "Lady One! Mundur! Aku akan menangani ini!" Kata RPG sambil melompat ke tubuh centaur itu. Setelah menebas kepala centaur, RPG melihat beberapa penyihir yang mencoba menyerang One dari belakang. Ia dengan sigap menggendong One ke tempat yang aman dan melemparkan kedua pedangnya itu ke arah penyihir itu. "Fiuh... Lady One, kau tidak apa-apa?!" Tanya RPG kelelahan. "Aku tidak apa-apa. Kau baik-baik saja, sayang?" Tanya One yang khawatir melihat kondisi RPG yang sudah mulai kehabisan energi. "Huff... Huff... Jangan khawatirkan aku..." Kata RPG. "Hey Record! Latihan macam apa ini? Kau menyiksa RPG!" Kata One yang sudah mulai marah. "Ia harus melewati ini!" kata Record. "Argh! RPG!" Teriak One. Ia melihat One yang diambil oleh Pterodactyl raksasa. RPG dengan sigap berlari dengan kencang mengitari dinding sampai ia mencapai ketinggian untuk menyerang Pterodactyl itu. "SPINNING BLADE OF DEATH!" teriak RPG. "AHHHH!" teriak One. "Aku menangkapmu, Lady One!" Kata RPG sambil menangkap One dan mendarat dengan selamat. Ia lalu melihat 5 golem raksasa yang sudah mengitari RPG dan One. "Sayang, lakukan sesuatu," kata One ketakutan. "Sudah... cukup! ARGH!" Teriak RPG sambil menggunakan kekuatan mata irisnya. Aura merah pekat pun muncul di sekitar tubuh RPG. Bola matanya berubah menjadi putih. "Lady One... mundur..." Kata RPG sambil bersiap menyerang 5 golem itu. One pun mulai khawatir akan kondisi kesehatan RPG. "Hehehehe... Oke, mari kita... selesaikan... INI!" kata RPG. Keadaan berubah menjadi gelap. RPG pun melesat dengan sangat kencang melebihi batasnya. Satu persatu golem pun tumbang dengan sekejap mata. "Hmph! Mengesankan, RPG! Cukup dengan latihannya!" Teriak Record. "Sayangku... Kau berhasil," kata One sambil memeluk RPG. "Y... Ya... berhasil..." Kata RPG sambil tersungkur ke tanah. "RPG!" teriak One. RPG pun tumbang ke pangkuan One karena menggunakan kekuatannya secara berlebihan.

__ADS_1


"Hah! Dimana aku?!" Tanya RPG. "Ini... Kamar tidur Lady One... Ouch! Mataku!" Kata RPG. "Sayang! Kau sudah bangun!" Kata One sambil berlari memeluk RPG. "La... Lady One... Apa yang baru saja terjadi?" Tanya RPG. "Kau terlalu banyak menggunakan kekuatanmu dan jatuh pingsan akibat latihan yang diberikan oleh Record. Aku buru-buru membawamu kesini untuk diobati," kata One khawatir. "Terima kasih... Lady One," kata RPG. "Aku hanya senang kau baik-baik saja," kata One sambil memeluk RPG. "Kau mau kemana, sayang? Kau baru saja sembuh," kata One sambil membantu RPG berdiri. "Aku harus kembali ke gubukku. Aku akan menemuimu nanti, Lady One," kata RPG sambil tersenyum. "Baiklah, jangan paksakan dirimu, sayang," kata One. "RPG pun kembali ke Pantai Sunshine untuk beristirahat, kurasa latihannya benar-benar membuahkan hasil," kata Record sambil menutup bukunya.


THE END


__ADS_2