The Fantasy Tales

The Fantasy Tales
Episode 7: The Rise of The Olivias 2 (Season 2)


__ADS_3

"Olivia-2! Tangkap!" Teriak RPG. "Aku akan melakukan smash! TERIMA INI!" teriak Olivia-2 penuh semangat. "Aku dapat! Aku dapat! Aku dapat!" Teriak RPG. "RPG of The Starlight!" Teriak Alicia yang tiba-tiba muncul untuk menemui RPG. "Aku tidak dapat... Aduh! Alicia! Kau suka membuat orang terkejut ya," kata RPG. "Datang ke Kastil Edelweiss sekarang! Ada hal yang ingin kubicarakan denganmu dan juga Putri One!" Kata Alicia tegas. "Tapi... Alicia," kata RPG. "Kita tidak punya banyak waktu! Cepat datanglah!" Kata Alicia sambil pergi meninggalkan RPG dan Olivia-2 dengan kudanya. "Apa ada masalah, RPG?" Tanya Olivia-2 sambil mengambil bola volinya. "Sepertinya masalah baru muncul lagi. Aku harus pergi ke Kastil Edelweiss, Olivia-2," kata RPG. "Hey, boleh aku ikut? Sudah lama sekali aku tidak menemui One," kata Olivia-2. "Tentu. Ayo!" Kata RPG. "Hey! Tunggu aku!" Kata Olivia-2.


Sesampainya di Kastil Edelweiss...


"Lama sekali kau, RPG!" Kata Alicia. "Maaf. Baiklah, apa yang kau ingin bicarakan padaku?" Tanya RPG. "Ikutlah denganku," kata Alicia. Sesampainya di ruang rapat, One, Arthur, Rosa, Violet, sudah menunggu. "RPG sayangku! Aku senang kau datang. Tee hee," kata One sambil tersenyum. "One!" Teriak Olivia-2. "Aaaaaa.... Olivia-2! Sudah lama tidak berjumpa!" Kata One semangat. "Hehe, kau tidak berubah semenjak pertama kali kita bertemu," kata Olivia-2. "Ehem! Bisa kita mulai rapatnya, Yang Mulia?" Tanya Alicia yang sudah tidak sabar. "Oh ayolah Alicia, kau selalu tidak sabar ya," kata One sambil tersenyum. "Baiklah, langsung ke intinya saja! RPG!" Kata Alicia sambil menunjuk RPG. "Hah? Ya?" Tanya RPG. "Kau kenal sosok ini?" Tanya Alicia sambil menunjukkan potret gambar seseorang dari dronenya. "OLIVIA?!" "KAKAK?!" kata RPG dan Olivia-2 secara bersamaan. "Kalian berdua mengenalnya?" Tanya Violet. "Alicia, bisa kau tunjukkan foto yang kau ambil tentang sosok itu?" Tanya RPG mulai serius. "Ada 5 gadis disini. Ada yang berambut merah, jingga, pink, blonde, dan aku tidak tahu pasti dengan orang yang satu ini. Gambarnya blur," kata Alicia. "Olivia-5, Olivia-4, Olivia-3, Olivia, dan satu orang lagi yang belum diketahui identitasnya," kata Olivia-2. "Tidak mungkin! Bukankah aku sudah menghabisi mereka semua?" Gumam RPG. "Kelima gadis ini kelihatannya sedang menyerang Pedesaan Rosemary yang terpencil jauh di atas Pegunungan Beta. Apa kalian bisa menyelidikinya?" Tanya Alicia. RPG dan Olivia-2 langsung berdiri. "Tentu saja! Ayo Olivia-2!" Kata RPG. "Ya! Ini akan menjadi masalah besar!" Kata Olivia-2. "Umm... Anu... Sayang, apa aku boleh ikut?" Tanya One. "Yang Mulia! Ini terlalu berbahaya! Pegunungan Beta sangatlah jauh!" Kata Alicia. "Ayolah, Alicia!" Kata One sedikit memaksa. "Maaf putri, ini demi kebaikanmu sendiri. RPG, Olivia-2, kalian bisa meninggalkan ruangan dan langsung bergegas menuju pedesaan itu," kata Alicia. Mereka berdua berlari meninggalkan Kastil Edelweiss dan pergi menuju Pedesaan Rosemary, ditemani dengan Destroyer, naga kecil yang selalu siap untuk membantu. "Olivia-2, ada apa ini sebenarnya? Bukankah aku sudah menghabisi The Olivias, kecuali kau dan Olivia," kata RPG. "Kakak mempunyai kekuatan untuk membuat replika The Olivias. Aku sudah bilang, mereka seperti robot. Olivia mudah untuk membuat Olivia-5, Olivia-4, dan Olivia-3 kembali hidup menggunakan kekuatannya," kata Olivia-2. "Apa kau tahu kekuatan macam apa itu?" Tanya RPG lagi. "Maaf RPG, tapi aku sendiri juga tidak tahu. Kakak selalu saja merahasiakan kekuatannya," kata Olivia-2. "Hmm... Huh? Ada apa Olivia-2? Kau terlihat sedih," kata RPG. "Aku sedih melihat kakakku hanya memperlakukan kami seperti layaknya robot. Dan... Aku takut kalau ia masih mengincarku. Dan jika itu terjadi, mungkin aku akan menyerangmu dibawah kendali Olivia," kata Olivia-2 sedih. RPG pun memeluk Olivia-2. "Jangan khawatir, Olivia-2. Selain itu, kau sudah tidak termasuk keluarga Olivia lagi. Kau bagian dari keluarga kami sekarang. Kau pantas untuk menjalani kehidupan yang lebih baik daripada menjadi pelayan bagi Olivia," kata RPG. "Terima kasih... RPG," kata Olivia-2. Wajahnya memerah. "Baiklah, kita sudah sampai," kata Destroyer sambil mendarat. "Ini Desa Rosemary ya? Cantik sekali!" Kata Olivia-2 dengan mata berbinar. "Hmm... Aku tidak melihat tanda-tanda The Olivias disini," kata RPG bingung. "Hmm... Mungkin kakak sudah pergi dari tadi," kata Olivia-2. "Apa yang kalian cari?" Kata suara yang tiba-tiba muncul. "One!" Teriak Olivia-2 senang. "Lady One?! Apa yang kau lakukan disini? Bukankah seharusnya kau berada di kastil?" Tanya RPG. "Aku merasa bosan berada di kastil terus. Aku baru ingat bahwa aku meminjam salah satu batu Viridian Stone palsu buatan Xiao Lìng kemarin," kata One sambil tersenyum. "Kau menggunakan kekuatan Inferno Control untuk kesini?" Tanya RPG. "Yup. Hehehe. Lagipula, aku ingin menemanimu, sayang," kata One dengan mata berbinar. "Lady One, misi ini terlalu berbahaya bagimu. The Olivias bukan lawan yang cocok untuk diremehkan," kata RPG. "Hmph! Kau selalu saja overprotective padaku! Aku bisa bertarung sepertimu!" Kata One sambil cemberut. "Tapi..." Kata RPG. "Biarkan saja, RPG. Lagipula, aku yakin One cukup tangguh dalam melawan The Olivias," kata Olivia-2. "Baiklah Lady One, tapi tetap didekatku ya. Dan sebisa mungkin, jauhi masalah," kata RPG. "Hehe... Baiklah, sayangku," kata One sambil tersenyum.


Sudah 3 jam mereka mencari petunjuk tetapi hasilnya nihil. RPG, Olivia-2, dan One memutuskan untuk beristirahat. "Fiuh... Pada akhirnya kita tidak menemukan apa-apa, huh?" Tanya Olivia-2. "Ya, aku sudah kelelahan dan kedinginan... Brrr...," Kata RPG. "Mau aku hangatkan, sayang?" Goda One. "Umm... Ya... Tidak usah, Lady One," kata RPG malu. "Sepertinya kita akan... RPG, One, AWAS!" kata Olivia-2 yang tiba-tiba melihat serangan yang mengarah pada RPG. RPG, Olivia-2, dan One melihat ke atas. Mereka melihat seorang gadis misterius dengan topeng. "Siapa kau?! Mengapa kau menyerang kami?!" Tanya RPG geram. Ia tetap melontarkan serangan pada RPG, Olivia-2, dan One. "Baiklah, jika pertarungan yang kau inginkan," kata RPG sambil melompat ke arah gadis bertopeng itu. Sayangnya, serangan RPG dengan mudahnya ditangkis. "Lemah..." Kata gadis itu. "GYAAHHHH! OOFFF!" kata RPG terjatuh. "RPG!" "SAYANG!" kata Olivia-2 dan One bersamaan. "Aku tidak apa-apa... Ouch!" Kata RPG kesakitan. "Baiklah... Kita coba sekali lagi! HYAAAAAA!" Teriak RPG. "Bodoh..." Kata gadis itu sambil menangkis serangan RPG dan melemparkannya kembali ke tanah bersalju. "Kau pikir kau siapa?!" Kata Olivia-2 marah. "Olivia-2... Hati-hati..." Kata RPG kesakitan. "Sayang! Kau harus menyembuhkan dirimu dulu. Biar aku bantu!" Kata One sambil membantu RPG berdiri. "AHHHHHH!" teriak Olivia-2. "Olivia-2!" Teriak RPG. "Huff... Huff... Kekuatan macam apa itu?" Tanya Olivia-2 kelelahan. "Lady One, tetap disini. Aku akan mencoba untuk mencari titik lemahnya!" Kata RPG. "Aku akan mencoba mengalihkan perhatiannya," kata Olivia-2. "Hmm! Baiklah!" Kata RPG. "Hey! Disini!" Kata Olivia-2. "Hmph!" Kata gadis itu. "RPG! SEKARANG!" Teriak Olivia-2. "SPINNING BLADE OF DEATH!" teriak RPG. Sayangnya, rencana mereka tetap tidak berhasil. Gadis bertopeng itu dengan mudahnya menahan serangan RPG dan Olivia-2. "HUAAAA!" "AHHHHH!" teriak RPG dan Olivia-2. "Olivia-2! Sayang!" Kata One khawatir. "Kakak benar, kalian berdua sangatlah menyebalkan, terutama kau, pengkhianat!" Kata gadis bertopeng itu sambil menunjuk Olivia-2. "Beraninya kau mengatakan itu pada teman-temanku!" Kata One marah. "Kau tidak perlu ikut campur!" Kata gadis bertopeng itu sambil menyerang One. "LADY ONE!" teriak RPG. Untungnya ia berhasil menangkap One sebelum terjatuh. "Lady One! Kau baik-baik saja?!" Tanya RPG panik. "Uhuk... Ya... Aku... Tidak apa-apa," kata One kesakitan. "Pertarungan ini membuatku bosan. Aku pergi dari sini," kata gadis bertopeng itu sambil menghilang. "Siapa dia?" Tanya RPG. " Aku tidak tahu... Tapi ia tadi mengatakan 'kakak'. Apa itu berarti... ia termasuk The Olivias?" Tanya Olivia-2. "Apa ia Olivia-5, atau Olivia-4, atau Olivia-3?" Tanya RPG. "Tidak! Kurasa ia bukan Olivia-5, 4, ataupun 3. Ini berarti kakak sudah membuat satu replika Olivias lagi!" Kata Olivia-2 panik. "Sial! Olivias baru!" Kata RPG. "Sebaiknya kita kembali ke kastil dan melaporkan hal ini pada Alicia. Mungkin ia bisa membantu," kata One. "Ide bagus, ayo!" kata RPG. One dan Olivia-2 mengangguk.


Sesampainya di Kastil Edelweiss, RPG, One, dan Olivia-2 langsung melaporkan kejadian yang mereka alami di Desa Rosemary. "Hmm... Gadis bertopeng ya?" Kata Alicia. "Aku tidak menemukan apa-apa. Maaf, RPG, aku pasti akan melaporkan secepatnya jika aku menemukan sesuatu yang aneh," kata Alicia. "Aku sangat berterima kasih padamu. Tolong ya Alicia," kata RPG. "Serahkan padaku. Dan kau! Putri One! Jangan berharap kau bisa meninggalkan kastil lagi! Keadaan sedang berbahaya dan kau malah bersikeras untuk keluar dari kastil?! Kau memang keras kepala!" Kata Alicia marah-marah sambil menarik telinga One. "Aww! Aww! Itu sakit, Alicia! Baiklah, baiklah!" Kata One. "RPG, Olivia-2, kalian boleh pergi. Akan kuberi tahu jika ada tanda bahaya lagi," kata Alicia. "Baiklah. Kurasa kita harus kembali ke Pantai Sunshine," kata RPG. "Ayo," kata Olivia-2. Olivia-2 tiba-tiba menerima panggilan dari Luxa. "Iya? Ada apa, Luxa sayangku?" Tanya Olivia-2. "Lady Olivia-2! Cepat... Keadaan.... Dalam....," Kata Luxa dengan suara yang tidak jelas. "LUXA! LUXA! Apa yang terjadi disana?!" Tanya Olivia-2. RPG pun juga menerima panggilan dari Alexus. "Ada apa, Alexus?" Tanya RPG. "Cepat datang ke Pantai Sunshine! Kita sedang diserang! Tolong kami, Master RPG!" Kata Alexus. "Pantai Sunshine sedang diserang?! Baiklah, kami akan segera kesana!" Kata RPG panik. "Olivia-2, pegang tanganku!" Kata RPG. Olivia-2 mengangguk. "LIGHTNING... FLASH!" teriak RPG. Ia dan Olivia-2 berlari secepat mungkin menuju Pantai Sunshine.


Sesampainya di Pantai Sunshine, RPG dan Olivia-2 melihat Golem, Titan, serta monster-monster lain sedang memporak-porandakan Pantai Sunshine. "Master R! Aku senang kau datang! Para monster bodoh ini lebih tangguh dari yang kukira!" Kata Alexa kewalahan. "Olivia-2, kau serang sebelah kiri, aku akan mengatasi yang kanan!" Kata RPG. "BAIK!" kata Olivia-2. "TERIMA INI!" teriak Olivia-2. "SPINNING BLADE OF DEATH!" teriak RPG. Mereka berdua terus bekerja sama sampai semua monster pun tumbang. "Huff... Huff... Darimana asal mereka semua?" Tanya Olivia-2. "Lady Olivia-2! Kau baik-baik saja?!" Tanya Luxa panik. "Aku... Tidak apa-apa," kata Olivia-2. "Huff... Shoot! Para monster ini lebih kuat dari sebelumnya! Huff...," Kata RPG kewalahan. Tiba-tiba, RPG mendengar suara memanggilnya. "Ohhh... RPG... Yoo hoo!" Kata suara misterius itu. RPG dan teman-temannya pun terkejut dengan apa yang mereka lihat. Di atas langit, Olivia-4 yang berdiri di atas sebuah buku raksasa terbang sedang menatap mereka. "Olivia-4! Aku pikir aku sudah menghabisimu!" Kata RPG sambil mengarahkan pedangnya pada Olivia-4. "Adik?! Mengapa?!" Kata Olivia-2 sedih. "Hahahaha! Aku baru saja menyadari sesuatu! Kita tidak perlu takut... Karena setelah kami menghancurkan dunia yang menyedihkan ini, tidak ada yang perlu ditakuti lagi," kata Olivia-4. "Kau ini bicara apa?" Tanya Olivia-2. RPG pun diam saja. "HAHAHAHAHA! HEHEHEHAHAHAHA!" kata Olivia-4 sambil menari di atas buku ajaibnya. "Kurasa kekuatan melodi dari Olivia mengambil alih tubuhnya," kata RPG. Olivia-4 berhenti menari dan membalas perkataan RPG. "Bodoh! Seluruh dunia akan memujaku! HAHAHAHAHA! Flying Sharktopus... DATANG PADAKU DAN HANCURKAN MEREKA SEMUA! HAHAHAHAHAHA!" Teriak Olivia-4. "Flying... Apa?!" Tanya Yurika. Tiba-tiba terjadi gempa yang dahsyat dan dari dalam air, muncul monster aneh berkepala hiu dan bertubuh gurita serta mempunyai sayap. "GAHHH! Mahkluk apa itu?!" Tanya Alexus panik. "Hey Olivia-4, apa kau tidak mempunyai monster yang bentuknya lebih keren dibandingkan ini?!" Tanya RPG sembari mengejek. "DIAM! FLYING SHARKTOPUS, JANGAN BIARKAN MEREKA LOLOS!" teriak Olivia-4. "HMPH! DESTROYER!" teriak RPG. "Aku datang!" Kata Destroyer. "Olivia-2 dan yang lainnya, cepat pergi ke tempat yang aman! Aku akan menangani monster aneh ini!" Kata RPG. Mereka semua mengangguk. "Ayo Destroyer! Sama seperti biasanya!" Kata RPG. "Hehehe... Baik, RPG!" Kata Destroyer.


Sementara itu, Olivia-2 dan yang lainnya melihat pertempuran sengit RPG dan Olivia-4 dari kejauhan. "Ada yang aneh disini...," Gumam Olivia-2. "Ada apa, my lady?" Tanya Luxa. "Tidak... Tidak apa-apa, Luxa," kata Olivia-2 sambil tersenyum. Olivia-2 terus mengamati makhluk aneh Olivia-4.


"Hey Olivia-4, TERIMA INI!" teriak RPG. "HAAAAA!" teriak Olivia-4. "GAHHH!" "HUAAAAA!" Teriak mereka secara bersamaan. RPG dan Olivia-4 pun terjatuh akibat mereka saling bertabrakan di udara. "RPG! Aku akan menyelamatkanmu! ADUH! Hey! Apa ini?!" Tanya Destroyer kebingungan. Olivia-2 yang melihat dari kejauhan pun terkejut. "Aku tahu ada yang aneh dari pertempuran mereka! Olivia-4 memasang sebuah kubah misterius tak terlihat! Ia berusaha memerangkap RPG disitu!" Teriak Olivia-2 panik. "Ouch! Itu sakit! Hey! Apa-apaan ini?!" Tanya RPG yang kaget. "HEHEHEHAHAHAHA!" tawa Olivia-4. "RPG! Berhati-hatilah! Kau sudah masuk ke perangkap tembus pandang buatan Olivia-4! Perangkap itu dimanipulasi dengan kekuatan melodi Olivia-4!" Teriak Olivia-2. "Kubah tembus pandang?" Gumam RPG sambil menyentuh kubah itu. Perkataan Olivia-2 benar. Ia tidak bisa kemana-mana dari kubah itu. "Hehehe... Sekarang kau lihat betapa kuatnya kami, The Olivias?!" Tanya Olivia-4. "Heh! Dengan atau tanpa kubah, aku akan tetap mengalahkanmu!" Kata RPG sambil menyiapkan senjata andalannya. "Aku suka semangatmu, RPG. Mungkin aku akan bersenang-senang denganmu terlebih dahulu sebelum aku menghabisimu," kata Olivia-4 sambil mengeluarkan senjata andalannya juga. "Baiklah kalau itu maumu!" Kata RPG.


Olivia-2 tetap memperhatikan pertarungan mereka. "Lady Olivia-2, bukankah kita seharusnya membantu Master RPG?" Tanya Alexus. "Tidak ada gunanya. Bahkan kekuatanku sendiri tidak bisa menghilangkan kubah yang dibuat oleh adikku. Ini berarti kakak sudah memperkuat kekuatan melodinya," kata Olivia-2. RPG dan Olivia-4 tetap bertarung. "HA!" teriak RPG. "GRAAAHHHH!" teriak Olivia-4. "Sudah cukup! TERIMA INI!" Teriak RPG. Ia berhasil mendaratkan serangannya terhadap Olivia-4. "Tsk! Hehehe... Kau memang kuat seperti biasanya, RPG," kata Olivia-4. "Huft... Kau... Huft... Katakan apa yang Olivia rencanakan kali ini sebelum aku menghancurkanmu lagi!" Kata RPG sambil menghunuskan pedangnya ke arah Olivia-4. "Hehehe... HAHAHAHAHA!" Tawa Olivia-4. "Apa yang lucu?" Tanya RPG. Olivia-4 langsung menabrakan diri dan menyerang mata Iris milik RPG. "OUCH! GYAAHHHH!" teriak RPG kesakitan. Kesempatan itu digunakan Olivia-4 untuk melarikan diri. "Hmph! Seperti dugaanku. Kau memang kuat, RPG. Dengar baik-baik perkataanku ini, suatu hari nanti, Kekuatan Mata Iris milikmu itu akan menjadi bom waktu untukmu dan teman-temanmu!" Kata Olivia-4 di atas buku terbangnya itu. "Apa maksudmu sih?! Ouch!" Kata RPG yang masih kesakitan. "HAHAHAHAHAHA!" Tawa Olivia-4 sembari menghilang dari pandangan RPG. "Huh? Apa maksudnya?" Gumam RPG sembari melihat Olivia-2 dan yang lainnya kembali. "RPG! Kau tidak apa-apa? Ada yang terluka?" Tanya Olivia-2 khawatir. "Aku baik-baik saja, teman-teman," kata RPG sambil tersenyum. Olivia-2 pun terkejut melihat listrik kecil yang mengelilingi mata iris milik RPG. "Apa yang terjadi dengan mata irismu?" Tanya Olivia-2. "Huh? Ada apa? Aku tidak merasakan apa-apa selain kesakitan karena Olivia-4 menyerang mata irisku tadi," kata RPG kebingungan. "Kau tidak merasakan efek lain? Atau sihir lain? Atau semacamnya?" Tanya Olivia-2. "Hmm... Tidak sih," kata RPG sambil tersenyum. "Aku yakin tadi sempat melihat listrik yang menjalar di mata irismu itu. Kau yakin baik-baik saja?" Tanya Olivia-2. "Ya, aku yakin sekali. Seandainya sesuatu yang buruk terjadi padaku, aku masih mempunyai teman-teman yang setia untuk saling membantu," kata RPG sambil tersenyum. "Hmm... Baiklah, asalkan jika mulai terjadi sesuatu yang aneh, segera beri tahu aku. Aku curiga ada sihir dari The Olivias yang menempel di tubuhmu dan akan membahayakanmu," kata Olivia-2. "Okay!" Kata RPG sambil mengacungkan jempol.

__ADS_1


Sementara itu...


"Bagus adikku... Kau memang bisa untuk diandalkan," kata Olivia. "Apakah kita sudah bisa menjalankan rencananya sekarang, kak?" Tanya Olivia-4. "Belum... Kita masih butuh waktu untuk menyerang Kerajaan Edelweiss. Memang sih Twilight Medallion milik Putri One mengandung kekuatan yang sama persis dengan Indigo Diamond, tapi dengan adanya RPG, membuat rencana kita terhambat!" kata Olivia sambil duduk di atas kursi megahnya. "Jangan khawatir, sayangku, Olivia. Olivia-4 sudah memasang sihir yang tertanam di mata iris milik RPG, yang artinya sihir itu akan langsung terhubung ke jantung... tidak... Seluruh tubuh RPG. Aku tahu kelemahannya terhadap asap rokok, jadi aku hanya perlu menyerang RPG menggunakan Pedang Silver Cigarette Fang milikku untuk memusnahkan dia selamanya," kata Aries yang duduk di samping Olivia sambil membelai rambutnya. "Aku senang kau menjadi kekasihku, Aries...," Kata Olivia sambil tersenyum. "Apapun untukmu, Olivia sayang," kata Aries. "HEHEHEHEHEHAHAHAHAHAHA!" tawa mereka berdua.


Esok harinya, RPG dan teman-temannya mendapat kabar bahwa Kerajaan Edelweiss diserang badai salju. "Oke... Itu aneh... Padahal disini masih cerah!" Kata RPG. Olivia-2 pun terkesiap. "Olivia-3! Ini pasti ulahnya! Ayo teman-teman, kita harus menyelamatkan Kerajaan Edelweiss sebelum terlambat!" Kata Olivia-2 panik. "Aku tidak tahu kalau Olivia-3 adalah seorang Ratu Salju," kata RPG sambil berlari. "Kelihatannya sih seperti itu, tapi salju adalah bagian dari sihirnya! Itu sebabnya ia terobsesi dengan boneka salju dan mengubah menjadi monster hidup!" Kata Olivia-2. "Uhh... Master RPG, Lady Olivia-2, lihat itu!" Kata Yurika. Mereka melihat para warga sedang berlari berhamburan karena diserang oleh monster boneka salju milik Olivia-3. "Seperti dugaanku! RPG, pergi dan selamatkan Putri One terlebih dahulu! Kami akan menahan mereka!" Kata Olivia-2 sambil mengeluarkan pedang Lava & Ice miliknya. RPG pun berlari menuju singgasana milik One. "LADY ONE! KAU BAIK-BAIK SAJA?!" teriak RPG. Ia melihat One dan teman-temannya kelelahan dalam menahan serangan boneka-boneka salju itu. "SPINNING BLADE OF DEATH! Menjauhlah dari Lady One!" Teriak RPG. "Akhirnya kau datang juga. Bantu kami menghabiskan para idiot ini!" Kata Alicia sambil menahan serangan boneka salju itu. "Ara... Lihat siapa yang datang... Aku senang kau datang, RPG," kata Violet. Berkat bantuan RPG, para boneka salju yang menyerang ruang singgasana One pun musnah. "Huff... Huff... Apa semua baik-baik saja?" Tanya RPG. "Ya... Terima kasih, RPG," kata Alicia. "Aku senang kau datang, RPG," kata Rosa sambil tersenyum. "Boneka-boneka salju ini sungguh merepotkan!" Kata Alicia. "Sayang! Aku senang kau datang!" Kata One sambil memeluk RPG. "Aku tidak mau merusak momen romantis kalian, tapi aku yakin gadis berambut pink yang menyerang Kerajaan Edelweiss dan mengeluarkan pasukan boneka salju ini adalah urusanmu," kata Rain pada RPG. "Seorang gadis? Berambut pink... Oh tidak!" Kata RPG panik. "Sayang, kau mau kemana?" Tanya One. "Maaf Lady One, aku akan segera kembali! Ini darurat!" Kata RPG sambil pergi meninggalkan One dan teman-temannya. Ia langsung berlari menuju Olivia-2 dan yang lainnya. "Uhh... Teman-teman... Apa yang kalian lihat?" Tanya RPG. "Sst! RPG! Lihat itu!" Kata Olivia-2 sambil menarik tangan RPG. "Sebuah kabut tebal... Tunggu sebentar...," Kata RPG. Seperti biasa, mata Iris RPG pun mekar kembali. Dari balik kabut itu, muncul seorang gadis yang dikenalnya. "Olivia-3... Sudah kuduga...," Kata RPG sambil menghunuskan pedangnya kearah Olivia-3. "Master RPG! Apa yang kau lakukan?! Kembali! Itu berbahaya!" Kata Yurika gemetar. "Kau tahu Olivia-3? Aku sedang terburu-buru disini... Jadi... Bisakah kau diam saja disitu sehingga aku bisa menghabisimu lagi dengan mudah," kata RPG. "Bunga yang indah akan gugur pada waktunya. Cahaya akan memudar dan semuanya akan tenggelam ke dalam kegelapan," kata Olivia-3 pelan. "Urgh... Kau tidak pernah bosan dengan puisimu yang rumit ya," kata RPG. "AHHHHHH!" teriak salah satu teman RPG. "Apa yang...," Kata RPG. Ia melihat sebuah boneka salju raksasa yang menangkap teman-temannya. Untungnya Olivia-2 berhasil melepaskan diri. "Pohon yang mati... Akan tumbuh dan bersinar kembali bagaikan ulat yang menjadi kupu-kupu...," Kata Olivia-3 sambil menghilang dari pandangan RPG. "Dasar kau ini... Kembali kesini dasar kau!" Kata RPG. "Hiraukan dia, RPG! Kita harus menghancurkan boneka salju raksasa ini sebelum ia menelan teman-teman kita!" Kata Olivia-2. "XIAO LÌNG, BGS, ALEXA, ALEXUS, YURIKA, LUXA! BERTAHANLAH!" teriak RPG. "GROAARRRRR!" Teriak Boneka salju raksasa itu. "Apapun yang kalian berdua lakukan... TOLONG CEPATLAH! AHHHHHHH!" teriak Xiao Lìng. "LEPASKAN TEMAN-TEMANKU! SPINNING BLADE OF DEATH!" teriak RPG. "ROTATING SWORD OF MADNESS!" teriak Olivia-2. "RPG, SEKARANG!" teriak Olivia-2. "HYAAAAAAA! HAAAAAAAA! LIGHTNING FLASH!" teriak RPG sembari menabrakan dirinya ke jantung milik boneka salju itu. "ARGHHHHHH!" teriak boneka salju itu sambil jatuh tersungkur ke tanah. "INFERNO PULSE!" Teriak RPG. Ia memperlambat waktu untuk menyelamatkan teman-temannya yang jatuh dari ketinggian. "Fiuh... Hampir saja," kata Olivia-2. "Kalian baik-baik saja?" Tanya RPG. "Ya... Apa yang baru saja terjadi?" Tanya Xiao Lìng. "Ya! Mengapa Olivia-4 dan Olivia-3 menyerang Pantai Sunshine dan Kerajaan Edelweiss?" Tanya BGS. "Aku tidak begitu tahu. Yang pasti, mereka sedang merencanakan sesuatu lagi," kata Luxa. "Pertarungan seperti ini tidak ada gunanya! Kita harus menemukan inti dari semua ini!" Kata RPG. "Kau benar, tapi bagaimana caranya?" Tanya Olivia-2. "Aku punya ide. Temui aku di laboratoriumku besok pagi. Aku akan coba untuk melacak keberadaan Olivia dan mencoba untuk mengetahui apa rencana jahatnya kali ini," kata Xiao Lìng. Semuanya pun mengangguk. "Teman-teman, kalian ingin pergi ke Bar Tiki? Aku sangat haus," kata BGS. "Kau saja deh, BGS. Aku sudah lelah setelah pertarungan tadi, hehehe," kata RPG sambil tersenyum. "Woooo... Dasar kau," kata BGS sambil pergi meninggalkan RPG. "Baiklah, RPG, Alexa, Alexus, Yurika. Aku dan Luxa akan kembali ke Land of Water untuk beristirahat. Pastikan kalian beristirahat juga untuk mendapatkan energi untuk pertarungan besok," kata Olivia-2. "Baiklah, Olivia-2, jangan khawatir," kata RPG sambil tersenyum. "Ayo Alexa, Alexus, Yurika, kita pulang," kata RPG. "Hey Master R, boleh aku yang mandi duluan? Aku sangat gatal!" Kata Alexa sambil menggaruk-garuk punggungnya. "Alexa! Kau sangat tidak sopan! Biarkan Master RPG yang duluan mandi!" Kata Alexus. "Hey! Apa masalahmu sih!" Kata Alexa sambil menarik baju Alexus. "Hey! Berhenti bertengkar, kalian berdua!" Kata Yurika sambil melerai mereka. "Huft... Kalian ini ya. Siapapun bebas menggunakan semua fasilitas. Kan sudah kubilang berkali-kali, kepunyaanku adalah kepunyaan kalian juga," kata RPG sambil tersenyum. "Kau dengar itu, Alexus?! Sekarang kau membuatku marah!" Kata Alexa. "Marah itu tidak baik, Alexa. Tenangkan dirimu," kata Alexus. "Apa katamu?!" Tanya Alexa. "Sudah cukup! Hentikan, kalian berdua!" Kata Yurika. RPG pun tertawa melihat tingkah lucu murid-muridnya itu. Mereka semua pun pulang ke rumah masing-masing untuk mempersiapkan pertarungan besok.


Malam harinya, Record, yang juga sebagai teman misterius RPG, datang mengunjungi gubuknya. “Huff… Sudah kuduga kau malah bermalas-malasan sementara The Olivias kembali membuat ulah,” kata Record sambil menggelengkan kepalanya. “Dih! Siapa yang bilang kami sedang bermalas-malasan?” kata RPG sambil menyalakan tv nya. “Night Olivia-2 sedang berusaha menghancurkan Desa Little Ivywood. Untungnya aku datang tepat waktu untuk menghentikan serangannya secara diam-diam,” kata Record sambil mengambil tehnya. “Uhh… Night… apa?” tanya RPG. “Night Olivia-2… sheesh, kau ini…,” kata Record. “Siapa Night Olivia-2?” tanya RPG. “Jadi kau belum tahu siapa dia?” kata Record. “Belum… Yum! Camilan ini terasa enak! Kau mau, Record?” tanya RPG. “Tidak, terima kasih. Kau akan mengetahui siapa itu Night Olivia-2 pada waktunya. Tetap waspada saja, RPG,” tanya Record sambil menghilang dari hadapan, RPG. “Night Olivia-2? Apa ini ada hubungannya dengan Olivia-2? Mungkin aku akan menanyakan padanya besok pagi saja,” gumam RPG. “Master R! Aku sudah ngantuk,” kata Alexa pelan. “Hoahm… aku juga,” kata Alexus. “Begitu juga denganku,” kata Yurika. “Baiklah, murid-murid tercintaku. Waktunya tidur. Kalian harus mengisi tenaga lagi karena besok kita akan melakukan petualangan lagi,” kata RPG sambil tersenyum. “Tidak ada kecupan selamat tidur, Master RPG?” tanya Yurika dengan mata berbinar. “Huff… kalian ini ya…,” kata RPG sambil tersenyum. “Ehehehe…,” kata Yurika.


Esok paginya, RPG dan teman-temannya berkumpul di laboratorium milik Xiao Lìng. “Perhatikan ini, RPG, Olivia-2,” kata Xiao Lìng dengan serius. “Olivia-3? Apa yang ia lakukan disitu?” tanya Olivia-2. “Ingat saat kita melawan boneka salju raksasa kemarin?” tanya Xiao Lìng. Semuanya mengangguk. “Aku berhasil menempelkan sebuah chip rahasia ke tubuh Olivia-3. Chip itu memiliki fungsi sama dengan drone. Ia tidak akan mengetahui jika kita memata-matainya, jadi tenang saja,” kata Xiao Lìng. “Apa yang kau rencanakan kali ini, Olivia-3?” gumam RPG. Tiba-tiba semuanya tercengang. “Bukankah itu… LADY ONE?!” teriak RPG. “Mereka menangkap Putri One?!” tanya Olivia-2. “Tapi kemarin aku lihat Lady One masih ada di kastil. Tunggu sebentar… memang benar aku melihat Lady One di kastil, tapi ada yang janggal!” kata RPG. Olivia-2 pun terkesiap. “RPG, kau masih ingat ketika aku bilang kekuatan The Olivias sangat unik dan berbahaya?” tanya Olivia-2. RPG pun mengangguk. “Mereka bisa membuat clone. Termasuk clone yang siap meledak dan mengeluarkan asap beracun yang mematikan, seperti ini,” kata Olivia-2 sambil menunjukkan kekuatannya. “UHUK! UHUK! Astaga! Sangat bau!” kata BGS. “Ya… memang sih kekuatanku tidak sekuat Olivias lainnya. Aku hanya bisa membuat clone yang mengeluarkan bau busuk. Tapi kayak-kakakku bisa membuat clone yang siap membunuh yang lainnya jika kita tidak segera bertindak,” jelas Olivia-2. “Itu berarti yang aku lihat kemarin…,” kata RPG. “Ya, itu adalah sebuah clone,” kata Olivia-2. “Teman-teman, kita selamatkan warga Kerajaan Edelweiss dulu, setelah itu selamatkan Lady One!” kata RPG. Semuanya mengangguk dan bergegas menuju Kerajaan Edelweiss.


“RPG, coba kau lemparkan pedangmu kearah sana,” kata Olivia-2. “Itu hanya clone, kau ingat?” kata Olivia-2. “Hehe… maaf. Aku belum terbiasa. Aku kira itu adalah Lady One,” kata RPG. Ia pun melemparkan pedangnya ke arah clone One. Seketika itu juga, muncul asap berwarna hijau dan ungu. “Yup, seperti dugaanku, itu adalah clone beracun!” kata Olivia-2. Baiklah, Xiao Lìng, BGS, Alexa, Alexus, Yurika, Luxa, berpencar dan temukan clone Lady One yang lain dan hancurkan. Ingat, jangan menghirup asapnya atau kau akan hancur! Aku dan Olivia-2 akan pergi ke kastil dan memperingatkan teman-teman Lady One, termasuk Tuan Arthur,” kata RPG sambil menarik tangan Olivia-2. “HEHEHEHAHAHAHA! Ini akan sangat menyenangkan!” Kata Alexa.


“Jadi menurut radar Olivia-3 akan…,” perkataan Olivia-2 terpotong saat melihat ledakan dan keributan di kejauhan. “RPG, apa kalian bisa memeriksa apa yang terjadi disana? Aku, Xiao Lìng, dan BGS masih perlu disini untuk memeriksa keadaan,” kata Olivia-2. RPG pun mengangguk. Tak lupa ia mengajak para murid tercintanya untuk ikut dengannya. Sesampainya tempat terjadinya ledakan itu, RPG dan para muridnya langsung disambut dengan para mumi hidup. “AHHHHH! MUMI HIDUP!” kata Yurika sambil melompat ke arah RPG. “Ouch! Yurika, kau berat sekali!” kata RPG. “Maaf Master RPG,” kata Yurika yang masih ketakutan. “Heh! Begini saja kau takut, Yurika. Perhatikan ini!” kata Alexa sambil menghancurkan mumi-mumi tersebut. “Heh! Gampang sekali!” kata Alexa sombong. “Uhh… Alexa, dibelakangmu…,” kata RPG. “Apa?” kata Alexa. Mereka terkejut karena masih banyak mumi hidup yang mengelilingi mereka. “Alexa, Alexus, Yurika, Luxa, kalian tahu apa yang harus kalian lakukan,” kata RPG sambil menyiapkan pedangnya. “HEHEHEHAHAHAHA! AKU SUKA SAAT MEMBANTAI MONSTER-MONSTER ANEH, TERUTAMA MAKHLUK INI!” tawa Alexa. Mereka berlima bekerja sama dalam menghancurkan para mumi tersebut. “Tsk! Mereka ada dimana-mana!” kata Yurika. “Mumi darimana ini?” kata Luxa. “Teman-teman, tetap fokus!” kata Alexus. Beberapa lama kemudian, mereka berhasil menumpas semua mumi misterius itu. “Fiuh… melelahkan sekali,” kata Yurika. “Kalian semua baik-baik saja?” tanya RPG. “HAH! Para mumi ini bukanlah tandingan bagi Alexa!” kata Alexa. RPG pun terkejut melihat seorang gadis yang dikenalnya. “Ohohohohoho! Ara… ara… Bukankah ini sayangku, RPG of The Starlight?” kata Olivia-5. “Olivia-5… apa yang kau lakukan disini?!” tanya RPG. Lady Olivia-5! Kupikir aku sudah menghabisimu…,” kata Alexa geram. “Oh? Alexa… pelayanku yang setia… Ara… kemarilah, sayangku. Aku akan memberimu kejutan spesial hanya untukmu,” goda Olivia-5. “GRR! MENGAPA KAU MASIH BELUM MATI?!” kata Alexa sambil menyerang Olivia-5. Olivia-5 pun dengan mudah menangkis serangan Alexa. “Ara… ara… sepertinya anak nakal harus dihukum,” kata Olivia-5. “Alexa! Kau tidak apa-apa?!” tanya RPG sambil membantu Alexa berdiri. “Ohohohoho! Kalian semua membuat hatiku bergetar,” goda Olivia-5. “Ia mempermainkan kita!” kata Alexus. “Jangan meremehkannya. Tetaplah waspada, kalian semua!” kata RPG sambil menyiapkan pedangnya. “Oh? Kau ingin bertarung? Ara… kau sangat romantis, RPG sayang. Baiklah, akan kuturuti kemauanmu… OOOOOOOOOHHHHHHHHHHH!” kata Olivia-5. Seketika itu juga para mumi yang mereka lawan tadi bangkit kembali. “Jadi ini pasukanmu, Olivia-5! Aku seharusnya mengetahuinya sejak awal! Kau memang tidak pernah berubah sejak pertama kali kita bertemu, Olivia-5!” kata RPG. “OHOHOHO! Tentu saja, sayangku, RPG,” kata Olivia-5. “Alexa, Alexus, Yurika, Luxa, kalian fokus saja dalam menyerang para mumi itu. Aku akan mengurus Olivia-5!” kata RPG. “Hati-hati, Master R. Ia mungkin akan menggunakan sihir rahasia atau semacamnya,” kata Alexa. RPG pun mengangguk. “Kemarilah, RPG sayang,” kata Olivia-5. “Tsk! Aku tidak ingin melakukan ini untuk yang kedua kalinya, Olivia-5! Tapi kau tidak memberiku pilihan lain!” kata RPG sambil menyerang Olivia-5. “OHOHOHO!” tawa Olivia-5. RPG dan Olivia-5 pun bertarung kembali. “HA! HYAAA!” teriak RPG. “Fu… fu… fu… fu… RPG, kau memang pandai mempermainkanku ya,” kata Olivia-5. “Huff… huff… apa yang kalian para Olivias rencanakan kali ini?” tanya RPG sambil terus menahan serangan dari Olivia-5. “Ara… Mengapa kau mengatakan hal seperti itu? Berburuk sangka itu tidak baik, sayangku,” kata Olivia-5 sambil tersenyum. “Tsk! Grrr!” kata RPG.


“Master RPG! Cepatlah! Para mumi ini terus bermunculan! Kami tidak bisa menahannya lebih lama lagi!” kata Yurika. “Bertahanlah kalian!” kata RPG. “Kau tidak bisa kabur dariku lagi, sayangku RPG… ohohohoho!” kata Olivia-5 sambil menahan RPG dengan serangannya. “Huff… Huff…,” kata RPG. “Apa kau sudah lelah, sayang?” tanya Olivia-5. “Huff… Saatnya mengakhiri ini! OLIVIA-5!” teriak RPG. “Ohohoho…,” kata Olivia-5. “INFERNO PULSE!” teriak RPG sambil memperlambat waktu. Ia dengan sigap menusuk Olivia-5 dari belakang dengan pedang api dan airnya. “AKH!” teriak Olivia-5. “Huff… Huff… akhirnya…,” kata RPG. “Ara… ara… hanya bercanda, RPG. Sekarang giliranku,” kata Olivia-5. Ia menyerang mata Iris RPG sehingga membuat RPG terkejut. Luka tusukan bekas pedang RPG perlahan sembuh kembali. “Ouch! Tidak mungkin… bagaimana kau…,” kata RPG. “OHOHOHOHO! Kurasa kau terlalu meremehkanku, sayangku RPG,” kata tawa Olivia-5. “Tsk!” kata RPG kesakitan. “Aku ingin bermain-main denganmu lebih lama lagi, tapi sayangnya kakak sudah memanggilku. Kita akan bertemu lagi di lain waktu. Sampai jumpa sayang…,” kata Olivia-5 sambil memberikan kecupan selamat tinggal. “HEY! KEMBALI KESINI DASAR KAU!” teriak RPG. “Master RPG! Kau baik-baik saja?!” tanya Alexus. “Aku baik-baik saja. Bagaimana dengan kalian? Tidak ada yang terluka kan?” tanya RPG. “Kami baik-baik saja. Tidak perlu mengkhawatirkan kami, Master RPG,” kata Luxa. “Ya, para mumi itu tiba-tiba menghilang. Apa yang sebenarnya terjadi, Master RPG?” tanya Luxa. “Olivia-5 kabur setelah ia menyerang mata Irisku. Ouch!” kata RPG yang masih kesakitan. “Ayo kita kembali ke Pantai Sunshine untuk beristirahat sebentar. Lady Xiao Lìng pasti sudah menunggu,” kata Alexa.


Sementara itu…

__ADS_1


“Menurutmu apa kita bisa mengalahkan The Olivias? Maksudku, kelihatannya mereka sangat kuat,” tanya BGS. “Aku yakin kita bisa mengalahkan mereka jika kita bekerja sama. Aku juga salah satu The Olivias, ingat? Jadi aku bisa mengetahui kekuatan dan kelemahan mereka. Jangan khawatir, BGS, Tee hee,” kata Olivia-2 sambil tersenyum. BGS pun melihat RPG dan murid-muridnya kembali. “RPG! Alexa! Alexus! Yurika! Luxa! Kalian baik-baik saja?” tanya Olivia-2 khawatir. “Apa yang terjadi disana?” tanya Xiao Lìng. “Olivia-5 menyerang kawasan hutan itu. Ia dibantu oleh pasukan muminya,” kata RPG. “Mumi? Oh! Maksudmu Berserker!” kata Olivia-2. “Berserker?” tanya RPG. “Yup. Mereka mungkin lemah dan mudah untuk dihancurkan, tapi jumlah mereka sangat banyak. Olivia-5 mengendalikan mereka, jadi sebelum ia dihancurkan atau ia menyuruh mereka pergi, mereka akan terus bermunculan,” jelas Olivia-2. “Bro! Kau baik-baik saja? Mata Irismu menghasilkan listrik yang lebih besar daripada sebelumnya tuh,” kata BGS. “Apa Olivia-5 menyerang mata irismu, RPG?” tanya Olivia-2. “Sebelum ia melarikan diri, ia sempat menyerang mata Irisku tadi,” kata RPG sambil memegang matanya itu. “Olivia-4 dan Olivia-5 menyerang mata Irismu. Apa yang sebenarnya mereka rencanakan?” tanya Olivia-2. “Teman-teman, maaf mengganggu kalian, tapi aku mendeteksi keberadaan Olivia-3 di langit,” kata Destroyer yang tiba-tiba datang menghampiri mereka. “Olivia-3? Di atas langit?!” tanya RPG dan Olivia-2 secara bersamaan. “Apa yang ia lakukan disana?!” tanya BGS. “Teman-teman, radarku juga mendeteksi adanya bahaya yang mengancam di balik awan-awan badai disana. Mungkin kalian bisa memeriksanya, RPG, Olivia-2?” tanya Xiao Lìng. “Ayo Destroyer, kita pergi,” kata RPG. “Kau yakin, RPG? Awan badai itu sangat menakutkan,” kata Olivia-2. “Jangan khawatir. Destroyer sudah terbiasa, benar kan?” kata RPG. “Yup! Hehehe!” kata Destroyer sambil tersenyum. RPG dan Olivia-2 pun menaiki Destroyer diatas punggungnya. “Semuanya siap? Pegangan yang erat! Karena ini akan menjadi penerbangan yang berguncang!” kata Destroyer.


“RPG, Olivia-2, kau mendengarku dengan jelas?” kata Xiao Lìng lewat hologramnya. “Jelas sekali, Xiao Lìng,” kata RPG. “Bagus, kupikir sinyalnya akan jelek saat melewati awan badai itu. Aku mendeteksi adanya monster di dekat kalian. Tetaplah waspada,” kata Xiao Lìng. “Baiklah, terima kasih, Xiao Lìng,” kata Olivia-2. “La… la… la… la… la… My name is Destroyer! I am a cheerful little dragon and I’m not that stinky! La… la… la… Get Ready for verse 2! My name is Destroyer and I really love all of my friends and I hate all of the Olivias, except Olivia-2 because she’s our friend and family member too… tee hee!” kata Destroyer sambil bernyanyi. “Hey!” kata RPG. “Huh? Ada apa, RPG?” tanya Destroyer. “Lebih baik tidak ada bait ke-3!” kata RPG. “Kenapa, RPG? Aku suka bernyanyi… la… la… la… la…,” kata Destroyer. “Nyanyi lagi dan kau akan tidur diluar!” kata RPG marah-marah. “Huff… Baiklah, baiklah, sheesh,” kata Destroyer. “Tetaplah fokus. Olivia-3 bisa dimana saja dan bisa menyerang kapan saja!” kata RPG. Olivia-2 tertawa melihat tingkah lucu mereka berdua. “AKH! Sebuah bola mata terbang! Destroyer! Awas!” teriak RPG. “Makhluk itu bernama Vortex Eyes! Mereka juga cukup lincah!” kata Olivia-2. “Master RPG, Lady Olivia-2, kalian baik-baik saja disana?” tanya Yurika lewat hologram milik Xiao Lìng . “Kami baik-baik saja selain diserang oleh Vortex Eyes!” kata RPG. “Vortex Eyes? Oh Ya Tuhan!” kata Yurika panik. “Ada apa, Yurika?” kata RPG panik. “Dimana ada The Vortex Eyes, Lady Olivia-3 pasti ada disitu. Kalian sudah dekat,” kata Yurika. “Tsk! Baiklah, kami akan mencoba mengalahkan mereka terlebih dahulu. Terima kasih, Yurika,” kata Olivia-3. Destroyer pun dengan lincah menghindari serangan dari Vortex Eyes. Tidak membutuhkan waktu lama bagi Destroyer untuk menghancurkan kumpulan Vortex Eyes. “Huff… Huff… Akhirnya,” kata Destroyer. “Tetap waspada, Destroyer,” kata Olivia-2. Mata Iris milik RPG pun mekar kembali. “DESTROYER! AWAS!” teriak RPG. Destroyer dengan lincah menghindari serangan laser misterius dari atas awan badai itu. “Hoahm… kupikir kalian sudah menyerah… ngantuk… pengen rebahan… di atas naga cantikku ini…,” kata Olivia-3. “NA… NAGA ITU BESAR SEKALI! BAHKAN LEBIH BESAR DARIPADA PHANTOM!” kata Destroyer ketakutan. “Apa-apaan!” teriak RPG. “Olivia-3! Hentikan kekacauan ini segera!” teriak Olivia-2. “Hoahm… kau tidak tahu apa-apa… diamlah kau, adik pengkhianat! Huahh… pengen tidur…,” kata Olivia-3. “Hey! Kau tidak bisa berbicara seperti itu pada Olivia-2!” teriak RPG geram. “Destroyer, jangan takut! Mungkin naga itu lebih besar darimu, tapi kau lebih cepat darinya! Gunakan kecepatanmu itu untuk mengalahkannya!” kata RPG menyemangati. “Ba… baiklah! Akan ku… kucoba!” kata Destroyer sambil memberanikan diri. “Ohh… kalian ingin bertarung? Baiklah… Frosty, kuserahkan ini semua padamu! Aku pengen bobo… huff…,” kata Olivia-3. “GROARRR!” teriak Frosty. “Siapa?” tanya RPG. “Frosty The Ice Dragon, nama naga raksasa itu. Ia bisa mengeluarkan laser es, jadi berhati-hatilah,” kata Olivia-2. “Olivia-2, jangan memikirkan perkataan Olivia-3. Ingat, kau bukan bagian dari mereka lagi. Kau adalah bagian dari keluarga kami,” kata RPG sambil memeluk Olivia-2. “Terima kasih, RPG,” kata Olivia-2 sambil tersenyum. “DAN KAU, OLIVIA-3! BERANINYA KAU TIDUR SAAT SEDANG BERTARUNG!” teriak RPG. “Hah? Apa? Aku tidak mengerti maksudmu, RPG. Aku bobo lagi ya… hoahm…,” kata Olivia-3 sambil tertidur di atas naga raksasanya itu. “Tsk! Grr…,” kata RPG. Pertarungan berbadai pun tak terhindarkan di atas langit. Naga raksasa melawan naga tercepat. “Huff… Huff… serangannya terlalu kuat!” kata Destroyer. RPG pun memegang kepala Destroyer lagi. “RPG! Jangan!” kata Destroyer. “Tidak apa-apa! IRIS EYE! LEND ME YOUR POWER!” teriak RPG. Olivia-2 pun terkejut melihat seluruh tubuh Destroyer menyala. “Inikah kekuatan dari Iris Eye? Menakjubkan,” kata Olivia-2 dengan mata berbinar. “Huff… Huff… Jangan senang dulu! Huff… masih ada naga raksasa di depan kita yang harus kita kalahkan!” kata RPG kelelahan. “Bertahanlah, RPG! Aku akan mengalahkan naga itu dengan cepat!” kata Destroyer. Ia semakin lincah dalam menghindari serangan dari Frosty. Saat lengah, Destroyer menggunakan kesempatan itu untuk menabrakan diri ke arah Frosty si Naga Es raksasa itu. “OLIVIA-2! SEKARANG!” teriak RPG. “BAIK! DEADLY SWIRLING SWORD!” teriak Olivia-2. Akhirnya Frosty pun berhasil dikalahkan dan Olivia-3 pun jatuh bersamanya. “Huff… Huff…,” kata RPG kelelahan. “Kita berhasil! Kerja bagus teman-teman!” kata Destroyer. “Tapi mengapa kau kelihatan lelah sekali, RPG?” tanya Olivia-2. “Yahh… membagikan kekuatan Iris Eye juga membutuhkan tenaga. Dan aku sudah mencapai batasku,” kata RPG kelelahan. “Baiklah, kita cukupkan hari ini! Setidaknya Olivia-5, Olivia-4, dan Olivia-3 sudah ditangani. Tinggal melawan kakakku, Aries, dan gadis misterius bertopeng itu,” kata Olivia-2. “Huff… Huff… kau… benar,” kata RPG kelelahan. Mereka pun kembali ke Pantai Sunshine. “Kerja bagus, teman-teman. Polusi di atas atmosfer sudah berkurang. Kurasa kalian sudah berhasil mengalahkan Olivia-3 huh?” tanya Xiao Lìng. “Yup,” kata RPG kelelahan. “Besok pagi kita akan pergi ke Kota Cumulonimbus lagi untuk menghentikan seluruh kekacauan ini,” kata Olivia-2. “Dan… menyelamatkan… Lady One…,” tambah RPG. Semuanya pun mengangguk. “Hey, RPG,” kata Olivia-2. “Ya, Olivia-2?” tanya RPG. “Aku dan Luxa akan menginap di gubukmu malam ini. Boleh kan? Hehehe,” kata Olivia-2. “Tentu saja, kenapa tidak?” tanya RPG. “Yeay! Baiklah, aku akan mengambil barang-barangku dulu,” kata Olivia-2 sambil berlari meninggalkan RPG.


Malam itu, RPG, Olivia-2, dan para muridnya berkumpul di gubuk milik RPG. “PERANG BANTAL!” teriak Luxa. “HEY! Hati-hati, dasar bodoh!” teriak Alexa. “Oops. Maaf, aku memang sengaja melakukannya sih,” kata Luxa sambil tertawa. “Awas kau ya! Akan kubalas!” kata Alexa. “Hey Alexus, menurutmu bunga apa yang bagus? Mawar atau Melati?” tanya Yurika. “Hmm, mengapa kau tidak menanam keduanya saja, Yurika? Aku yakin Mawar dan Melati sama-sama cantik… seperti dirimu…,” kata Alexus. “Me… menurutmu… be… begitu?” tanya Yurika memerah. “Tentu saja,” kata Alexus sambil tersenyum. “Jadi, RPG, sejak kapan kau berpacaran dengan One?” tanya Olivia-2. RPG pun tersedak. “Mengapa kau… uhuk! Tiba-tiba menanyai hal itu?” tanya RPG memerah. “Aku kepo… ehehe…,” kata Olivia-2. “Ya, awal pertemuan dengannya tidak begitu baik. Pertama kali aku mengenal Lady One lewat alter-ego nya yang bernama Lady Luxia. Aku dan Lady Luxia sempat bertarung satu sama lain saat awal pertemuan kita karena kesalahpahaman. Lady Luxia bisa dibilang mempunyai kepribadian yang bertolak belakang dengan Lady One. Ia pemarah, blak-blakan… ya… semacam itulah. Tapi, aku tidak peduli ia Lady Luxia atau Lady One, ia tetaplah kekasihku. Dan aku akan melindunginya apapun yang terjadi,” kata RPG. “Aku mengerti perasaanmu, RPG,” kata Olivia-2. Ia melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 9 malam. “Baiklah semuanya, waktunya tidur. Besok kita akan menuju Kota Cumulonimbus untuk pertarungan lagi,” kata Olivia-2. “Baik, Lady Olivia-2,” kata Alexa, Alexus, Yurika, dan Luxa secara bersamaan.


Keesokan paginya, semuanya pun bersiap untuk pergi ke Kota Cumulonimbus untuk menghentikan rencana jahat Olivia dan Aries. RPG, Olivia-2, dan para muridnya menaiki Destroyer, sementara Xiao Lìng dan BGS menaiki pesawat tempur kecil milik Xiao Lìng. Para pasukan Olivia pun sudah menunggu kedatangan RPG dan teman-temannya itu. “SEMUANYA! BERSIAPLAH!” teriak RPG. Mereka bekerja sama untuk menerobos pertahanan yang dibuat oleh Olivia. Golem, Vortex Eyes, Necromancer, Anti-dragon tank, cerberus, dan monster lainnya bermunculan. Destroyer dan pesawat tempur milik Xiao Lìng dengan lincah menghindari serangan-serangan mereka. “Teman-teman, kita hampir sampai di Kastil milik Olivia. Tetap waspada!” teriak RPG. Beberapa lama kemudian, RPG dan teman-temannya tiba di depan Kastil megah Olivia. “Ouch! Apa yang…,” kata RPG. “Terdapat penghalang tak terlihat disini. Kita tidak bisa masuk sampai…,” kata-kata Olivia-2 pun terpotong setelah melihat gadis bertopeng itu di hadapan mereka. “Heh! Aku sudah menunggumu untuk muncul kembali,” kata RPG sambil menghunuskan pedangnya. Gadis itu pun membuka topengnya. Mereka pun terkejut setelah melihat gadis tersebut memiliki penampilan yang sama dengan Olivia-2. “Namaku adalah Night Olivia-2. Aku disini untuk menghabisi kalian atas perintah kakak,” kata Night Olivia-2 sambil mengeluarkan pedangnya. “Night… Olivia-2? Tidak! Tidak mungkin! KAKAK! TEGANYA KAU!” teriak Olivia-2 sambil tersungkur ke tanah. “Olivia-2! Kau tidak apa-apa?!” kata RPG sambil membantu Olivia-2 berdiri. “Aku… baik-baik saja… aku hanya shock,” kata Olivia-2. “Hmph! Olivia-2… Aku akan menghabisimu terlebih dahulu!” kata Night Olivia-2. “OLIVIA-2! HEY APA-APAAN INI?!” teriak RPG. Ternyata Night Olivia-2 sudah terlebih dahulu memerangkap Olivia-2 dalam kubah sihirnya. “OLIVIA-2! BERTAHANLAH! AKU AKAN MENYELAMATKANMU!” teriak RPG. Ia berusaha menghancurkan kubah itu tetapi tidak membuahkan hasil. Kubah itu tetap kokoh berdiri. “Jangan khawatir, RPG. Aku akan melawannya sendiri. Aku bisa melakukannya,” kata Olivia-2 sambil tersenyum. Night Olivia-2 langsung menabrakan diri kearah Olivia-2 dengan kencang. “Ia cepat sekali! Master RPG, lakukan sesuatu!” kata Luxa. “OLIVIA-2! KAU TIDAK BISA MELAWANNYA SENDIRIAN! PERGI DARI SANA CEPAT!” teriak RPG sambil terus berusaha menghancurkan kubah itu. Ia melihat Olivia-2 yang kewalahan dalam menahan serangan dari Night Olivia-2. “AKH! AHHH! Huff… Huff… Masih belum…,” kata Olivia-2 kelelahan. “Menyedihkan!” kata Night Olivia-2 sambil menyerang Olivia-2. RPG melihat Olivia-2 yang pingsan setelah berkali-kali diserang oleh kekuatan Night Olivia-2. RPG yang melihat itu seketika terdiam.


“Hey, beloved Sunrise, gunakan kekuatanku sekarang. Aku tahu kau sedih melihat temanmu disakiti,” kata suara misterius yang membisikan RPG. “GRRR…,” kata RPG. “Uhh… Xiao Lìng… ada apa dengan RPG?” tanya BGS. “Kekuatannya mulai meningkat. Jauh lebih besar dari sebelumnya. RPG! Kau baik-baik saja?” tanya Xiao Lìng. “Kalian… menjauh… dariku… sekarang… GRR,” kata RPG. Aura ungu kehitam-hitaman mulai mengelilingi RPG. “Ya… gunakan amarahmu, beloved Sunrise. Jangan takut untuk melepaskannya,” kata suara itu lagi. Aura ungu tersebut semakin pekat di sekeliling tubuh RPG. “HEHEHEHAHAHAHA! Ayo, beloved Sunrise. Tunjukkan siapa bosnya. Habisi dia. Aku ingin melihat darahnya. HAHAHAHAHA!” kata suara misterius itu. “Selamat tinggal, Olivia-2,” kata Night Olivia-2 sambil menghunuskan pedangnya ke arah Olivia-2 yang sudah pingsan. “Menjauhlah darinya…,” kata RPG. “Huh? Apa katamu?” tanya Night Olivia-2. “Jangan berani menyakiti temanku… TERUTAMA DIHADAPANKU! AAARGHHHHHH! GROAARRRRR!” teriak RPG. Mata Irisnya berubah menjadi hitam. Aura ungunya semakin pekat. Kecepatan dan kekuatannya pun meningkat. “Uhh… teman-teman, kupikir kita sebaiknya menjauh dari RPG untuk sementara waktu,” kata BGS ketakutan. “Aku tidak pernah melihat RPG seperti ini! Ini… tidak mungkin! Inikah kekuatan dari Nebula RPG?” kata Xiao Lìng. RPG pun terus berusaha menembus kubah tersebut. “GRRRAAAAAHHHHH!” teriak RPG. Perlahan, kubah yang dibuat oleh Night Olivia-2 pun hancur. Ia langsung menyerang Night Olivia-2. “Kau memang benar-benar tangguh ya?” kata Night Olivia-2 sambil menyerang RPG. RPG dengan lincahnya menghindari serangan dari Night Olivia-2. “GILIRANKU, NIGHT OLIVIA-2! GRAAAAAAHHHHHH!” teriak RPG. Ia berhasil memukul Night Olivia-2 dengan cukup kencang. “Tsk! Tidak buruk, RPG. Tidak buruk. Kurasa aku terlalu meremehkanmu. Sayangnya, permainan sudah selesai. Kau masih akan kalah, RPG,” kata Night Olivia-2. Ia mengeluarkan meteor raksasa di hadapan RPG dan teman-temannya. RPG pun dengan sigap menabrakan diri ke meteor itu sehingga meledak menjadi berkeping-keping sebelum mengenai teman-temannya. “GRRR…,” kata RPG marah. “Tidak mungkin! Bagaimana kau…,” kata Night Olivia-2. “Sebelum Night Olivia-2 menyelesaikan kata-katanya, RPG langsung menabrakan diri lagi kearah Night Olivia-2. “Tsk! Ini belum berakhir, RPG! Kita akan bertemu lagi!” kata Night Olivia-2 sambil melarikan diri. RPG pun melepaskan kekuatannya itu dan kembali seperti normal. “Huff… Huff… Olivia-2!” Teriak RPG. Ia berusaha membangunkan Olivia-2. “Tolong! Katakan sesuatu!” kata RPG sambil menangis. “Uhuk! Uhuk! Apa yang… terjadi?” kata Olivia-2 yang sudah sadar kembali. “OLIVIA-2! OH PUJI TUHAN, KAU MASIH HIDUP!” teriak RPG senang sambil memeluk RPG. “Saat kau pingsan, Master RPG yang mengalahkan Lady Night Olivia-2,” kata Luxa. “Ya, tadi itu sedikit menyeramkan, Master R!” kata Alexa. “RPG, lain kali jangan membiarkan amarahmu mengambil alih tubuhmu lagi ya. Kau membuatku takut,” kata Xiao Lìng. “Hehe, maaf. Aku hanya tidak bisa melihat teman-temanku terluka,” kata RPG.


Sesampainya di ruangan tahta milik Olivia, RPG langsung mendobrak pintunya. “Baiklah, Olivia! Rencanamu berakhir sekarang… Olivia?” tanya RPG. “Ruangan ini sepi. Dimana kakakku berada?” tanya Olivia-2. “RPG, radarku menunjukkan hal yang tidak biasa diruangan bawah tanah. Mungkin kita bisa memeriksanya?” kata Xiao Lìng. “Ruangan bawah tanah?! ITU DIA!” Kata Olivia-2. “Ada apa dengan ruang bawah tanah?” tanya BGS. “Kakakku biasanya melakukan berbagai eksperimen disana. Aku yakin One diculik diruangan itu!” kata Olivia-2. “Tunggu, melakukan eksperimen membutuhkan waktu yang lama,” kata Xiao Lìng. “Tepat! Olivia-5, Olivia-4, Olivia-3, dan Night Olivia-2 hanya menyerang kita demi menghambat waktu!” kata Olivia-2. “Yang artinya mereka sedang melakukan eksperimen pada One!” tambah Xiao Lìng. “Aku tidak percaya kita masuk ke perangkap mereka dan dipermainkan mereka! Dasar licik!” kata RPG marah. “Kalau begitu tunggu apalagi? Kita tidak boleh membuang waktu! Ayo!” kata BGS. Sesampainya diruang bawah tanah, para monster penjaga Olivia sudah menunggu dan menghadang mereka. “Kita pasti sudah dekat,” kata Olivia-2. “MENYINGKIR DARI JALAN KAMI!” teriak RPG. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk menghancurkan para monster itu. “Huff… huff…,” kata RPG. “Sepertinya itu yang terakhir!” kata BGS. Saat RPG membuka pintu, ia terkejut melihat kekasihnya terikat. “LADY ONE!” teriak RPG. “Manusia hanya membawa kekacauan ke dunia ini. Suatu saat akan ada penyakit yang membawa kehancuran untuk kita semua,” kata Olivia sambil menepuk tangannya. “Apa yang kau lakukan pada Lady One?!” kata RPG marah. “Itu sebabnya kau mencoba untuk menghabisi kami para Olivias. Untuk menyelamatkan dunia dan menjadi pahlawan,” kata Olivia sambil duduk di kursi megahnya itu. “Apa yang kau bicarakan, kakak?! Hentikan kegilaan ini!” teriak Olivia-2. “Aku berpikir apa yang akan kau lakukan setelah menghabisi kami?” tanya Olivia. “Heh! Kau sepertinya tahu apa yang akan aku lakukan,” kata RPG sambil menghunuskan pedangnya kearah Olivia. “Sayangnya, aku dan Aries juga memiliki tujuan yang sama sepertimu. Untuk mengubah seluruh dunia sehingga tidak ada lagi kekacauan,” kata Olivia. “Tujuan yang sama? Hah! Kau selalu membuatku tertawa, Olivia. Tidak! Kami malah ingin menyelamatkan dunia dari tiranimu! Jangan membodohiku dan teman-temanku!” kata RPG. “Ironis bukan? Kita berdua sama-sama memiliki tujuan untuk mengubah dunia menjadi lebih baik. Tapi justru yang terjadi adalah sebaliknya. Dunia ini tidak memiliki tempat untuk kita berdua,” kata Olivia. “Oh baguslah kalau begitu. Kau tidak keberatan untuk mati,” kata RPG. “Aku tahu semua hal di dunia ini, termasuk Mata Irismu, RPG. Dan aku tahu, mata itu tidak akan pernah tidur sampai kau berhasil menghabisi kami semua,” kata Olivia. “Jadi pada akhirnya akan seperti ini huh? Kita berdua bersiap untuk mati, tapi sejak kau keras kepala, kau memaksa dirimu untuk mencoba menghabisiku dan juga teman-temanku,” kata RPG. “Tepat sekali,” jawab Olivia pelan. “Heh! Lucu sekali. Aku memikirkan hal yang sama denganmu, Olivia,” kata RPG lagi. Olivia pun terdiam sejenak, menutup matanya, dan berteriak. “KARAKAWA… BANGKIT DAN BERNYANYILAH UNTUKKU!” teriak Olivia. “Karakawa… oh tidak! Jangan golem itu lagi!” kata RPG. “Selamat bersenang-senang, RPG,” kata Olivia sambil menaiki salah satu golemnya. “Destroyer, kita sudah pernah mengalahkan golem ini! Kau tahu apa yang harus dilakukan!” kata RPG. “Semuanya, naik ke punggungku! Aku akan menghancurkan golem-golem ini dengan cepat!” kata Destroyer. Olivia pun tersenyum kecil dari kejauhan. “Golem yang menyala itu! Cepat hancurkan!” kata RPG. “BAIK! GROAARRRR!” kata Destroyer. Setelah menghancurkan golem yang menyala itu, RPG terkejut karena seluruh golem itu tidak hancur. “Apa yang terjadi?! Seharusnya para golem ini hancur!” kata RPG. “Ada sumber sihir lain yang mengendalikannya. Tunggu! Kurasa aku tahu darimana sumbernya! Itu dari kalung milik One! Disana!” kata Olivia-2 sambil menunjuk kearah One yang terikat. Ia melihat kekasihnya yang tampak berteriak kesakitan. “LADY ONE!” teriak RPG panik. “Kami akan berusaha menahan mereka. Kau pergi dan selamatkan kekasihmu, RPG!” kata Olivia-2. RPG mengangguk. “Tidak secepat itu, RPG,” kata Olivia yang menyerang RPG. “Tsk! Lepaskan dia, Olivia!” kata RPG sambil terus menahan serangan Olivia. “Kau benar-benar bodoh, RPG. Apa kau berpikir kau bisa mengalahkan kami?! Menyerahlah! Tidak ada yang bisa kau lakukan sekarang!” kata Olivia. “Aku tidak berpikir! Aku tahu bahwa aku bisa mengalahkan kalian!” kata RPG sambil menyerang Olivia. “HEHEHEHAHAHAHAHA! Lakukan sesukamu kalau begitu,” kata Olivia. Mereka terus menyerang sampai RPG berhasil menyudutkan Olivia. Kesempatan itu digunakan RPG untuk mendorong Olivia jatuh ke jurang yang ada diruangan bawah tanah itu. Ia dengan sigap langsung menyelamatkan One. “Lady One! Bertahanlah! Aku akan mengeluarkanmu dari situ!” kata RPG. Mata Irisnya pun bereaksi pada sihir itu. “Baiklah, ini akan sedikit menyakitkan! AAARRRRGHHHHHH!” teriak RPG. Seketika itu juga para golem itu hancur. “YEAY! Kita berhasil! Kerja bagus teman-teman!” kata Olivia-2. “Lady One! Kau baik-baik saja? Apa yang mereka lakukan padamu?” tanya RPG. One pun langsung memeluk RPG. “Aku takut sayang! Mereka mencoba untuk memanfaatkan kekuatan dari kalung ini!” kata One. “Setidaknya kau selamat. Itu yang terpenting, Lady One,” kata RPG sambil tersenyum. “Hey! Lovey Dovey sweet bunny cheeks! Tahan momen romantis kalian! Kita harus keluar dari tempat ini dulu! Kita masih di wilayah Aries dan Olivia, ingat?” kata Xiao Lìng. “Maaf… ehehehe,” kata RPG dan One.


RPG tidak menyadari bahwa ada sesuatu yang mengintainya. “Kali ini kena kau, RPG of The Starlight!” kata suara misterius itu. “Jadi setelah ini, apa yang akan kau lakukan?” tanya Olivia-2. “Aku akan… AKH!” kata RPG. “RPG!” “MASTER RPG!” “SAYANG!” kata teman-teman RPG secara bersamaan. Aries dan bersama Olivias yang lainnya pun muncul dari belakang. Ia menancapkan pedang yang dibuat dari asap rokok yang bernama Silver Cigarette Fang ke punggung RPG. “HEHEHEHAHAHAHAHA! Pemenang yang sebenarnya selalu menyembunyikan kartu joker pada bagian akhir!” kata Aries tertawa. Ia pun mengeluarkan sihir untuk meruntuhkan seluruh Kota Cumulonimbus. “Teman-teman… lari! Destroyer… bawa mereka semua ke tempat yang aman! Uhuk! Seluruh menara kastil dan Kota Cumulonimbus… akan segera… runtuh!” kata RPG sebelum pingsan. “SAYANG! TIDAK!” teriak One. Destroyer pun dengan sigap membawa mereka keluar dari Kota Cumulonimbus sebelum seluruh kota meledak. “Apa yang kau lakukan, Destroyer! Kita harus kembali dan menyelamatkan RPG!” kata Olivia-2. “RPG!” teriak Xiao Lìng. Setelah dirasa cukup aman dari area ledakan, Destroyer dan yang lainnya pun terdiam. “Sayang… Tidak seharusnya berakhir seperti ini!” kata One sambil meneteskan air mata. “Seluruh Kota Cumulonimbus telah hancur tidak tersisa!” kata BGS yang melihat dengan teropongnya. “RPG! Si bodoh itu!” kata Xiao Lìng sambil meneteskan air mata. “Teganya dirimu, kakak,” kata Olivia-2 sambil merenung. “MASTER RPG!” kata para muridnya secara bersamaan. “Ayo teman-teman, kita pulang,” kata Destroyer sedih.


Saat mereka sampai di Kerajaan Edelweiss, teman-teman One telah menyambut mereka. “Putri! Kau baik-baik saja?” kata Arthur. “Yang Mulia! Maafkan aku atas kelalaianku dalam melindungimu,” kata Alicia. “Ara… ara… sudah kuduga kau baik-baik saja,” kata Violet. Rosa pun kebingungan. “Uhh… Teman-teman… Dimana RPG?” tanya Rosa. “Ia… mati. Ia mengorbankan dirinya demi kita,” kata Olivia-2. “APA?!” tanya Alicia. “Putri One…,” kata Alicia lagi. “Maafkan aku. Aku ingin menyendiri dulu,” kata One sambil pergi ke kamarnya. “Apa kalian berpikir kalau RPG sudah mati?” tanya Rain yang muncul dari belakang mereka. “Apa maksudmu?” tanya Olivia-2. “Heh! Butuh dari sekedar ledakan untuk menghancurkan teman kalian, RPG! Aku mempunyai firasat kuat kalau ia masih hidup,” kata Rain. “Tidak mungkin ia selamat dari ledakan sebesar itu!” kata Xiao Lìng marah. “Terserah kau mau percaya atau tidak. Aku pergi dari dulu,” kata Rain sambil menghilang dari hadapan mereka. “Hey! Apa masalahmu sih?!” bentak Xiao Lìng. “Sudahlah, Xiao Lìng! Tenangkan dirimu!” kata Olivia-2. “Kita akan membicarakan hal ini besok pagi,” kata Olivia-2 lagi. Mereka pun pulang ke rumah masing-masing dengan keadaan sedih.


Sementara itu…

__ADS_1


“HEHEHEHAHAHAHAHAHA! Kerja bagus, kalian semua,” kata Aries. “Kalian tidak hanya berhasil memperlambat mereka sehingga kami bisa mengekstrak hampir seluruh kekuatan dari kalung Putri One…,” kata Olivia. “Tapi berkat kalian, kita berhasil menangkap hama ini!” tambah Aries sambil memperlihatkan RPG yang masih pingsan. “Bawa ia ke penjara. Kita akan mengurus dia nanti,” perintah Olivia pada Olivias yang lainnya. “RPG sudah ditangani. Ini berarti…,” kata Aries. “Ya sayangku. Waktunya merencanakan rencana terbesar kita untuk menghancurkan bumi dan membangun kembali hanya untuk kita berdua... The Project Mother!” kata Olivia. “HEHEHEHAHAHAHAHA! HAHAHAHAHAHAHAHA!” tawa mereka berdua dengan keras.


THE END


__ADS_2