The Fantasy Tales

The Fantasy Tales
The Rise and Fall of Freedom Fighters


__ADS_3

"Oofff... Harus cepat, tidak boleh terlambat! Huff..." Kata RPG. Dini hari pukul 3 pagi, RPG berencana untuk menemui Isabella, ibunya, setelah lama tidak bertemu. Ia pun langsung berangkat dari Kerajaan Mizukumo. "Hey RPG, kau mau kemana pagi-pagi sekali?" Kata Yasora, sang penjaga Kerajaan Mizukumo. "Aku ingin menemui ibuku kembali, sudah lama aku tidak bertemu dengannya." Kata RPG. "Baiklah, hati-hati." Kata Yasora. "Oh ya, jika Olivia mencariku, katakan padanya aku pergi menemui ibuku, Isabella." Kata RPG. "Baik, kau bisa mengandalkanku." Kata Yasora sambil tersenyum.


Fajar pun mulai menyingsing, penduduk Kerajaan Mizukumo bersiap menjalani kehidupan seperti biasanya, termasuk Olivia dan lainnya. "Huff... Bosan sekali hari ini, tidak ada yang dilakukan, oh ya ngomong-ngomong dimana RPG? Aku tidak melihatnya pagi ini." Kata Olivia. "Shirata, apa kau melihat RPG? Aku tidak melihatnya dari tadi." Tanya Olivia. "Apa? Ohh, aku juga tidak melihatnya dari tadi, kemana ya dia? Mungkin sebaiknya kau tanya Yasora, ia sedang ditugaskan untuk menjaga gerbang pertahanan diluar, jadi ia tahu siapa saja orang yang masuk dan keluar dari kerajaan ini." Jelas Shirata. "Baiklah." Kata Olivia. Ia pun langsung menemui Yasora dan bertanya tentang keberadaan RPG. "Nona Olivia, kau selalu cantik seperti biasanya." Kata Yasora. "Oh terimakasih atas pujiannya Yasora." Kata Olivia. "Katakan, apa yang membuatmu kesini Olivia?" Tanya Yasora. "Apa kau melihat RPG? Aku tidak melihatnya sejak pagi tadi." Kata Olivia. "Ohh, ia sedang pergi keluar untuk pergi menemui ibunya." Kata Yasora. "Apa? Oh baiklah, terimakasih Yasora." Kata Olivia. "Olivia, tunggu. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan kepadamu." Kata Yasora. "Apa itu Yasora?" Tanya Olivia. "Bukan sesuatu yang penting, tapi....." Kata Yasora. "Ada apa? Tidak perlu malu." Kata Olivia lagi. "Kau selalu khawatir tentang RPG dan kau sepertinya kalian berdua sangat dekat, katakan, apa kau menyukai RPG? Hehehe." Kata Yasora. "Hey, aku, aku.... Hanya.... Ehhhh.... aku... baru ingat..... ada urusan yang harus.... diselesaikan..... Sampai jumpa....." Kata Olivia sambil lari meninggalkan Yasora dengan wajah memerah. "Baiklah, sampai jumpa. Ohhh.... Dia memerah." Kata Yasora.


Sementara itu.....


"Huff..... Perjalanan yang panjang, akhirnya aku sampai. Ibu aku sudah pulang!!!" Teriak RPG. RPG bingung melihat suasana gua yang sunyi. "Ibu!" Teriak RPG. Isabella pun keluar dari gua dan langsung menyambut RPG. "Apa ini? Ohh, akhirnya kau sudah pulang, RPG. Setelah sekian lama tidak berjumpa dengan ibumu." Kata Isabella. "Ya, aku sangat merindukanmu, Bu." Kata RPG. "Baiklah, karena kau sudah pulang mungkin kita bisa menghabiskan waktu bersama setelah sekian lama." Kata Isabella. RPG pun mengobrol dengan asyiknya. "Jadi RPG, dimana gadis yang selalu bersamamu itu, apa dia.... Pacarmu?" Tanya Ibu Alam. "Gadis? Ohhh maksud Ibu, Olivia? Tunggu bagaimana ibu bisa tahu?" Tanya RPG. "Ibu mempunyai penglihatan alam yang bernama Crimson Nature Eyes dasar kau, bagaimana kau bisa lupa dengan kekuatan ibumu sendiri?" Tanya Isabella. "Ohh, maaf, aku sedikit lupa, hehehe. Aku sendiri belum bisa membangkitkan mata alamku. Jadi tentang Olivia... Tidak ia bukan pacarku, kami hanya berteman, kebetulan dari kemarin, Jeremy dan rekan barunya, Zorg terus membuat masalah. Aku, Olivia, dan teman-temanku yang lain berjuang untuk melindungi penduduk Kerajaan Mizukumo dari kehancuran, kebetulan Aku dan Olivia adalah rekan, jadi kami hanya rekan dekat saja dan seorang sahabat." Jelas RPG. "Ohh, tapi aku lihat kalian berdua sangat dekat, selalu bersama. Kalian adalah pasangan yang serasi, hehehe." Kata Isabella sambil tersenyum kecil. "Ahh, tidak Bu, kami hanya sebatas teman dan sahabat, kenapa kita tidak membicarakan hal lain saja?" Tanya RPG. "Baiklah." Kata Isabella.


Sementara itu, di Kerajaan Mizukumo...


"Jadi kau sudah menanyakan keberadaan RPG?" Tanya Shirata. "Ya, ia sedang menemui Ibu Alam." Kata Olivia. Sementara itu digerbang pertahanan....


"Huff, hari-hari yang membosankan, kenapa pula aku ditugaskan menjaga gerbang pertahanan ini, tidak ada yang menarik disini." Kata Yasora. Ia pun langsung duduk pohon dekat gerbang pertahanan. Tiba-tiba ia melihat sesuatu yang tidak biasa. "Ehhh... Apa ini? Kenapa burung-burung berterbangan seperti melihat hal aneh?" Kata Yasora. "Ia pun melihat padang rumput dikejauhan dan melihat semua sapi dan kerbau berlarian kesana kemari dengan aneh. "Apa yang.... Ini semakin aneh." Gumam Yasora. Ia pun melihat Doctor Jeremy dan Zorg dari kejauhan dengan menggunakan teropongnya. "Apa ini... Doctor Jeremy dan Zorg kembali? Tidak mungkin....." Kata Yasora. Ia pun langsung mengaktifkan alarm dan sistem pertahanan di Kerajaan Mizukumo. Sementara itu didalam kerajaan..... "Alarm kerajaan berbunyi, Yasora pasti menemukan sesuatu yang tidak biasa." Kata Akimura. "Ayo kita lihat." Kata Shirata. "Xicko, Olimphia, dan Olivia kalian tetap didalam sampai keadaan menjadi aman kembali." Perintah Akimura. "Baiklah." Kata Olivia. Mereka pun langsung menemui Yasora. "Yasora apa yang terjadi? Apa ada bahaya?" Tanya Shirata. "Yang Mulia, aku melihat Doctor Jeremy dan Zorg, serta pasukan robotnya sedang menuju kemari!!!" Kata Yasora panik. "Baiklah, Shirata, kau beritahu semua petugas kerajaan untuk menyiapkan senjata pertahanan, dan Yasora, kau aktifkan sistem pertahanan level 3!" Kata Akimura. "Baik Yang Mulia." Kata Yasora. Yasora pun langsung mengaktifkan sistem pertahanan level 3. Berbagai pelontar api telah disiapkan, pasukan berkuda dengan tombak sudah berada didepan gerbang pertahanan bersama Yasora. Pemanah-pemanah sudah ditempatkan diposisi mereka masing-masing, meriam listrik juga sudah ditempatkan. "Baiklah semua, tunggu aba-aba dariku." Kata Akimura yang berbicara melalui pengeras suara. "Akimura dan Shirata, serahkan 8 Viridian Stone itu, atau kau akan tahu akibatnya!" Kata Jeremy melalui pengeras suaranya. "Aku tidak mau melakukan hal ini, Jeremy!!!" Kata Shirata. "Baiklah, kalian semua tidak memberiku pilihan!!!" Kata Jeremy. "ROBOT SERANG!!!" Perintah Jeremy. "Hmph... Pasukan, serang!!!" Perintah Akimura. Pertempuran besar pun akhirnya tak terhindarkan. Pasukan Kerajaan Mizukumo melawan ribuan robot Jeremy. Mereka saling menyerang satu sama lain. "Hmph.... Pasukan kerajaan ini tidak akan bertahan lama jika kita tidak membantu." Kata Xicko. "Kau benar, sebaiknya kita bantu mereka." Kata Olimphia. "Kalau begitu tunggu apa lagi? Ayo." Kata Olivia. Mereka bertiga pun langsung pergi ke medan pertempuran dan benar saja, pasukan Kerajaan Mizukumo kewalahan menahan pasukan Doctor Jeremy. "Akimura, pasukan kita sudah mulai berkurang dan banyak yang tewas dan kelihatannya pasukan robot Jeremy masih banyak, kita memerlukan bantuan!" Kata Shirata. "Kau benar." Kata Akimura. Disaat mereka sudah kewalahan, Xicko, Olimphia, dan Olivia pun datang untuk membantu. "Apa kami terlambat?" Tanya Xicko. "Huft... Akhirnya kalian datang." Kata Shirata. "Ayo, kita selesaikan pertarungan ini." Kata Xicko. Mereka bertiga pun segera membantu pasukan Kerajaan Mizukumo. "Xicko, apa yang kau lakukan, jangan kesana, pasukan Jeremy masih terlalu banyak!!!" Kata Olivia. "Lihat dan perhatikan." Kata Xicko. Ia pun langsung mendekati robot-robot itu. "Inferno...... DESTRUCTION!!!" Teriak Xicko. Robot-robot itu pun langsung terlempar jauh. "Wow, keren sekali Xicko." Kata Olivia. "Hmph...." Kata Xicko lagi. "Tidak buruk, sekarang giliranku!" Kata Olimphia. "Gigantic Meteor Unleashed!!!" Kata Olimphia. Bongkahan batu besar berapi itu pun langsung dikeluarkan Olimphia dan mengenai ratusan robot Jeremy. "Heheh, robot yang menyedihkan." Kata Olimphia. "Sekarang giliranku!" Kata Olivia. "PERFORMANCE OF 500 FLOWER SPEAR!!!" teriak Olivia. "Tombak-tombak yang tajam langsung dikeluarkan Olivia untuk menghancurkan pasukan robot yang tersisa. 'Huff.... Huff.... Akhirnya..." Kata Olivia. "KITA MENANG!!!" teriak Akimura. Semua pun merayakan kemenangan karena berhasil memukul mundur pasukan Jeremy. "Hey Jeremy, mengapa kau masih disini? Tidakkah kau lihat kami sudah menghancurkan robotmu? Sebaiknya kau pergi dari sini!!!" Kata Shirata. "Heh... Jangan kira kau sudah menang, ZORG!!!" kata Jeremy. "Baik tuan! DEEP DREAMS pulse!!!" kata Zorg. "Apa-apaan ini? Ia bisa mengubah dimensi?!" Kata Xicko. "Kalian sudah berada didimensiku!!! Tidak ada yang bisa kalian lakukan sekarang, aku mengatur semuanya disini!!! Muahahaha!!!" Kata Zorg. "Ugh..... Tubuhku.... Aku tidak sanggup lagi!" Kata Olivia. Akimura, Shirata, Xicko, Olimphia, dan Olivia pun akhirnya pingsan dan tidak sadarkan diri. Zorg akhirnya mengembalikan keadaan menjadi normal kembali dan membawa mereka ber-enam menuju markas rahasia Jeremy. Sebelum dibawa, Jeremy dan Zorg menghancurkan Kerajaan Mizukumo. Saat dibawa oleh Zorg dengan menggunakan kekuatan Psychokinesis, Olivia yang sempat sedikit sadar mengucapkan kata-kata..... "RPG.... Aku..... aku tahu.... Kau.... Bisa menyelamatkan kami.... Semua....hhhhh....." Kata Olivia sambil menutup mata.


Sementara itu.....


"Hari sudah malam, sebaiknya aku kembali ke Kerajaan Mizukumo." Kata RPG. "Apa kau sudah mau pergi lagi?" Tanya Isabella. "Ya, untuk berjaga-jaga jika Jeremy kembali dan membuat masalah. "Baiklah, hati-hati dijalan." Kata Isabella lagi. "Baik Bu, sampai jumpa." Kata RPG. Isabella akhirnya masuk kedalam gua lagi dan menggunakan kekuatannya untuk mengawasi keadaan sekitar. "Sebaiknya ku telepon Olivia dan menanyakan keadaan disana. Tut....tut.....tut...... "Hmm, aneh. Biasanya Olivia mengangkat teleponku dengan cepat, oh sudahlah mungkin ia dan yang lainnya sudah tidur, lagipula ini sudah sangat larut." Gumam RPG. Ia sebenarnya tidak tahu kalau teman-temannya itu telah diculik oleh Zorg dan Jeremy. Hari pun semakin larut dan hujan mulai turun. "Ohh.... Aduh! Aku lupa membawa payung, harus cepat ke Kerajaan Mizukumo jika tidak ingin bajuku basah." Kata RPG. Sesampainya disana, RPG tidak mempercayai penglihatannya. "Apa yang..... Terjadi..... Disini?! Kerajaan Mizukumo hancur? Tidak mungkin." Kata RPG. Ia pun berkeliling sebentar. Yang ia lihat adalah puing-puing kerajaan sejauh mata memandang. "Oh tidak!!!" Kata RPG. "RPG.... Tolong.....ughh...." Kata Yasora. Ia melihat Yasora yang dalam keadaan sekarat dan langsung menuju padanya. "Yasora, kau baik-baik saja? Apa yang terjadi dengan Kerajaan Mizukumo?! Kenapa yang aku lihat hanya puing?! Apa yang terjadi selama aku pergi?" Kata RPG sambil menyembuhkan Yasora. "Pertempuran..... besar antara pasukan kami..... dan Doctor Jeremy, huff.... Terimakasih RPG, itu lebih baik." Kata Yasora yang sudah mulai pulih. "Pertempuran? Doctor Jeremy?! Tidak mungkin ia bisa menghancurkan kerajaan ini! Sistem pertahanan disini sangat ketat!" Kata RPG. "Ya aku tahu, tapi ia bersama Zorg. Dan ia menggunakan kekuatan untuk mengubah dimensi ilusi bernama "Deep Dreams pulse" dan dia..." Kata Yasora. "Dia kenapa? Apa yang Zorg lakukan?" Kata RPG. Tiba-tiba ia menemukan sebuah benda yang tidak asing bagi RPG di tanah. "Ini.... Pita Olivia, apa yang terjadi padanya?" Kata RPG. "Zorg menggunakan Deep Dreams pulse untuk membuat kami semua tertidur dalam ilusi dalam kata lain pingsan. Zorg dan Doctor Jeremy menculik Akimura, Shirata, Xicko, Olimphia, serta Olivia. Beruntung aku berhasil kabur dari dimensi yang dibuat oleh Zorg dan langsung terlempar kesini akibat ledakan besar sebelum Zorg dan Doctor Jeremy menghancurkan kerajaan ini." Kata Yasora. Mendengar penjelasan Yasora, RPG pun langsung tercengang. "Apa yang sudah kulakukan? Apakah aku gagal untuk melindungi teman-temanku?" Kata RPG. "Tidak RPG, masih ada waktu untuk menyelamatkan mereka semua, kita belum terlambat, RPG. Ayolah, kita pasti bisa, Kapten RPG." Kata Yasora sambil menyemangati RPG. "Kau benar, mereka membutuhkan bantuan kita, ayo bergegas, Yasora." Kata RPG. "Ugh.... Tapi sepertinya aku sedikit lapar, maklum aku belum makan dari tadi pagi. Kurasa kita harus makan dulu, disamping itu kita tidak bisa menyelamatkan dunia dengan perut kosong iya kan?" Kata RPG. "Hmm.... Kau ini. Hahaha." Kata Yasora.


Setelah mereka mengisi perut masing-masing dengan makanan, akhirnya mereka pun bersiap berangkat demi menyelamatkan teman-teman mereka.

__ADS_1


"Jadi Yasora, kemana Jeremy dan Zorg menculik teman-teman kita?" Tanya RPG. "Saat aku sedang tidak sadarkan diri akibat terlempar, aku sayup-sayup mendengar percakapan mereka bahwa mereka ingin membawa Akimura, Shirata, Xicko, Olimphia, dan Olivia ke tempat yang bernama The Death Base." Jelas Yasora. RPG pun terkejut. "The Death Base?! Itu tempat dimana pertama kalinya aku bertarung dengan Jeremy satu lawan satu dan aku harus kembali ketempat itu lagi?" Kata RPG. "Kita harus kesana jika ingin menyelamatkan teman-teman kita." Jelas Yasora. "Hhhh... Ok baiklah, tapi dengan apa kita kesana?" Tanya RPG. "Jangan khawatir RPG, aku punya sebuah kendaraan pribadi." Jelas Yasora. "Wow, aku tidak tahu kau punya kendaraan sendiri." Kata RPG. "Tentu saja, ayo ikut aku." Kata Yasora. RPG pun menuruti perintah Yasora menuju bengkelnya. "Aku perkenalkan kendaraan pribadiku "The Boom Mobile"." Kata Yasora. "Apa-apaan? Kau mempunyai sebuah truk monster?!" Kata RPG. "Ya, tentu saja." Kata Yasora. "Bisakah kita menuju markas rahasia Jeremy menggunakan kendaraan ini? Kelihatannya sangat besar." Kata RPG. "Tentu saja, serahkan semua padaku." Kata Yasora. Mereka berdua pun langsung pergi ke markas Jeremy menggunakan kendaraan milik Yasora untuk menyelamatkan teman-teman mereka.


Sesampainya disana......


"Wow, tempat ini besar sekali." Kata Yasora. "Ayo, kita tidak punya banyak waktu." Kata RPG. "Nyahahaha!!! Selamat datang dimarkas rahasia ku, RPG." Kata Jeremy melalui pengeras suara. "Satu-satunya cara untuk menuju kami adalah melalui High Top Deck, tapi aku ragu kau tidak akan bisa, nyahahaha!!!" Kata Jeremy. "Oh ya? Akan kutunjukkan padamu! ayo Yasora." Kata RPG. "Baik, aku tepat dibelakangmu." Kata Yasora. Mereka langsung menuju markas rahasia untuk memasuki ruangan yang bernama High Top Deck seperti kata Jeremy. Yasora pun terkejut melihat banyak sekali jebakan mematikan. "Ehhh... RPG, kau yakin akan melakukan ini? Banyak sekali jebakan disini." Kata Yasora. "Hmph... Setidaknya kita harus mencoba dulu, ayo!" Kata RPG. Mereka terus berjuang melewati berbagai bahaya yang menghadang. Mereka harus berhati-hati, jika mereka salah melangkah sedikit saja, maka akan langsung membawa mereka menuju kematian. "Huff.... Sedikit lagi, Yasora MENUNDUK!!!" kata RPG. "Huh? Whoa..... Hampir saja." Kata Yasora. "Apa maksudmu hampir saja? Sebuah bola pendulum listrik raksasa hampir mengenaimu tadi! Perhatikan langkahmu, Yasora!" Kata RPG. "Maaf." Kata Yasora. Akhirnya setelah melewati ruangan mematikan, RPG dan Yasora tiba di High Top Deck. "Fiuh..... Kita berhasil." Kata Yasora. "Ya, sekarang ayo kita cari teman-teman kita." Kata RPG. Mereka pun langsung berkeliling untuk memeriksa ruangan itu. "Ruangan ini ternyata besar juga ya?" Kata RPG. Tiba-tiba Yasora melihat sesuatu yang sangat aneh. "R... RPG! Li.... Lihat... Di.... Atasmu!" Kata Yasora gemetar. "Apa yang.... Apa-apaan!" Kata RPG. Ia melihat semua temannya terkurung didalam kapsul beku. Saat dia sedang berusaha untuk melepaskan teman-temannya, Jeremy dan Zorg pun muncul. "Wah... Wah... Wah, lihat siapa yang datang. Aku tidak menyangka kau bisa sampai kesini." Kata Jeremy. "JEREMY!!! Lepaskan teman-temanku!" Kata RPG. "Hmph.... Kau benar-benar keras kepala ya?! Zorg, singkirkan mereka berdua." Kata Jeremy. "Baik tuan!" Kata Zorg. "Aku sudah muak denganmu, Zorg! RPG Wind!" Kata RPG. "Ahhh...... Tubuhku! Aku tidak bisa bergerak!" Kata RPG. "RPG! Tenang aku akan menyelamatkanmu! THUNDER SPEAR UNLEASHED!!!" Teriak Yasora. "Apa? Bagaimana dia bisa menghindar dari seranganku begitu cepat? Ahhh... Tubuhku!!!" Kata Yasora. "Muahahaha! Kalian berdua pikir bisa mengalahkanku semudah itu hah!!! Baiklah akan kukirim kalian berdua ke dimensi lain." Kata Zorg. "Dia menahan kita berdua dengan kontrol pyschokinesis dan membuat portal aneh? Tapi bagaimana caranya?!" Gumam RPG. "TIME SPACE pulse!!!" Teriak Zorg. "Apa yang..... Wuaaaaa....." Teriak RPG dan Yasora. RPG dan Yasora akhirnya masuk kedalam portal dimensi yang dibuat oleh Zorg. "Aku sudah melenyapkan mereka selamanya, Tuan Jeremy." Kata Zorg. "Bagus! Dengan tidak adanya RPG, kita bisa menguasai dunia tanpa ada yang menghalangi kita lagi. Muahahaha!!!" Kata Jeremy.


Sementara itu di dimensi lain.....


"Ahhhhhhhhhh........" "Whoaaaaaaa.............." Kata RPG dan Yasora. "Oofffff...... Ouch.... Begini ya rasanya jatuh dari langit." Kata RPG. "Aduhh.... Kurasa semua tulangku patah." Jawab Yasora kesakitan. "Dimana kita? Apa yang terjadi?" Tanya Yasora. "Ini dimensi Spectral. Kurasa kau benar, Zorg sudah mengirim kita ke dimensi lain." Jelas RPG. "Sekarang.... Bagaimana cara kita kembali kedunia kita?" Tanya Yasora. "Kita tidak bisa keluar dari sini." Jawab RPG. "Apa maksudmu tidak bisa? Kau bisa menggunakan Inferno pulsemu untuk mengeluarkan kita dari sini." Jawab Yasora. "Aku benar-benar tidak bisa, melakukan Inferno pulse tidak semudah itu, untuk membuat portal ke dimensi kita, setidaknya kita membutuhkan 3 Viridian Stone untuk membuat portalnya." Kata RPG. "Kalau begitu tunggu apalagi? Ayo kita cari batu-batu itu." Kata Yasora. "Baiklah." Kata RPG. Selama di dimensi Spectral, untuk menghilangkan rasa bosan, mereka pun saling mengobrol satu sama lain. "Huff.... RPG mencari Viridian Stone disini akan sangat lama, tempat ini sangat luas." Kata Yasora. "Kau benar, tapi apa kau akan menyerah begitu saja?" Tanya RPG. "Tidak, hanya saja aku sangat bosan." Kata Yasora. "Aku juga." Kata RPG. "Oh ya, ngomong-ngomong aku punya pertanyaan untukmu, sekaligus untuk menghilangkan rasa bosan." Kata Yasora. "Apa itu Yasora?" Tanya RPG. "Pertanyaan ini ada diantara kita saja ya?" Kata Yasora. "Baiklah." Kata RPG sambil tersenyum. "Apa kau dan Olivia..... Hmm.... Sudah berpacaran? Kelihatannya kalian punya rasa satu sama lain." Kata Yasora. Wajah RPG pun langsung memerah. "Apa? Kenapa..... kau menanyakan h.... hal itu?" Tanya RPG gugup. "Tidak ada, aku hanya ingin tahu saja hehe." Kata Yasora. "Tidak Yasora, kami hanya sekedar teman dekat ok?" Kata RPG. "Jika kau hanya teman dekat, mengapa kalian selalu bersama, saling melindungi dan lebih perhatian padanya? Oh ya dan pagi sebelum penyerangan Kerajaan Mizukumo, setelah kau pergi untuk menemui ibumu, Olivia datang padaku dan mencarimu dengan rasa khawatir, aku yakin ia juga memiliki perasaan padamu.... Ya kan RPG?" Tanya Yasora. "Aku...ehmmmm....ehhh...." Kata RPG gugup. "HA! kena kau RPG! Kau benar-benar menyukainya, hahahaha." Tawa Yasora. "Sssttt jangan keras-keras nanti ada yang dengar." Kata RPG. "Hahaha, kau sangat lucu, lihat wajahmu memerah." Tawa Yasora. "Hhhh....." Kata RPG. Setelah berbincang cukup lama, tiba-tiba mereka mendengar suara minta tolong. "Sshhh.... Yasora, kau dengar itu?" Tanya RPG. "Dengar apa?" Tanya Yasora. "TOLONG!!!" Kata suara misterius itu. "Kau benar, kurasa suara itu berasal dari sana." Kata Yasora. Mereka pun langsung mendekati asal suara itu. Mereka melihat seorang gadis yang kelelahan bertarung dengan makhluk-makhluk dimensi Spectral. "Sepertinya ia butuh bantuan." Kata Yasora. "Tunggu apalagi? Ayo bantu dia. "Baik, bagaimana kalau kita melakukan gerakan combo." Kata Yasora. "Hmm, ide bagus." Kata RPG. Mereka pun langsung membantu gadis tersebut. "Ha!!! GRAVITATION TRAP STYLE!" kata Yasora. Ia menerbangkan semua makhluk-makhluk itu dan menahannya diudara. "Giliranku! MASSIVE TORNADO UNLEASHED! kata RPG. "Hmph... Tidak buruk. "GREAT FIRE BALL UNLEASHED!" Kata Yasora. "Ayo kita lakukan ini, Yasora." Kata RPG. "Baik." Kata Yasora. "BURNING TORNADO DROP!" Kata mereka bersamaan. Mereka akhirnya berhasil menyingkirkan makhluk-mahkluk itu dengan menggabungkan kekuatan gravitasi dan bola api milik Yasora, serta Tornado milik RPG. "Fiuh.... Hampir saja, terimakasih." Kata gadis itu. "Tidak masalah, harusnya kau lebih berhati-hati lagi, ngomong-ngomong siapa namamu?" Tanya RPG. "Namaku Nico Dahlia Storm, kau bisa memanggilku Nico Storm atau Dahlia." Kata gadis itu. "Kurasa lebih baik aku memanggilmu Dahlia." Kata RPG. "Ngomong-ngomong siapa kalian?" Tanya Dahlia. "Namaku RPG dan ini temanku, Yasora. Senang bertemu denganmu." Kata RPG. "Terimakasih sudah membantuku tadi." Kata Dahlia. "Hey Yasora, ada apa? Kau diam saja dari tadi, wajahmu memerah." Tanya RPG. "Aku tidak apa-apa, ehem.... Ngomong-ngomong ayo kita lanjutkan perjalanan kita." Kata Yasora. "Ngomong-ngomong apa yang kalian lakukan disini?" Tanya Dahlia. "Kami sedang mencari 3 Viridian Stone untuk membuat portal sehingga kami bisa kembali ke dimensi kami lagi, Zorg melakukan....." Kata RPG. "Tunggu sebentar, apa kau tadi menyebut nama Zorg?" Tanya Dahlia. "Ya, kau mengenalnya juga?" Tanya Yasora. "Aku sudah terjebak disini berbulan-bulan, aku sudah mencoba melawannya karena ia mencoba masuk ke laboratorium rahasiaku, sepertinya ia sangat kuat." Jelas Dahlia. "Kau seharusnya lebih berhati-hati lagi." Kata Yasora. "Ya aku tahu, aku sedikit ceroboh." Kata Dahlia. "Baiklah, aku ikut dengan kalian, mungkin aku bisa membantu." Kata Dahlia. "Serius? Aku sangat senang kau bisa bergabung dengan kami, kau sangat pemberani dan sedikit..... Ehmmm.... Cantik." Kata Yasora gugup. "Ohhh..... Terimakasih pujiannya, Yasora." Kata Dahlia. "Ha!!! Sekarang siapa yang memerah sekarang?" Canda RPG. "Aku menyukainya, RPG." Bisik Yasora. "Ohhhh..... Hey Dahlia, aku rasa Yasora menyukaimu." Teriak RPG. "RPG! Kau membuatku malu." Kata Yasora. "Apa? Ohhhh.... Tidak apa-apa, aku juga menyukainya, RPG. Lagipula ia sedikit lucu, bukan begitu, Yasora?" Tanya Dahlia sambil mendekati Yasora. "Ehhh.... I..... Iya." Kata Yasora. Dahlia pun langsung mencium pipi Yasora. "Terimakasih sudah menyelamatkanku tadi, Yasora." Kata Dahlia. "S... Sama-sama." Kata Yasora gugup. "Baiklah, ayo kita segera mencari Viridian Stone itu, RPG." Kata Dahlia. "Baiklah tunggu apalagi? Ayo." Kata RPG. "Oh yeah baby, ini menjadikan kita tim." Kata Dahlia. "Yeah." Kata Yasora. Mereka pun melanjutkan perjalanan kembali untuk mencari Viridian Stone.


Mereka berjalan cukup lama, mencari Viridian Stone disemua tempat di lembah spectral tetapi usaha mereka sia-sia sampai......


"RPG kabar bagus! Aku mendeteksi keberadaan 3 Viridian Stone!" Kata Dahlia senang. "Dimana?" Kata RPG. "Dua berada dipuncak gunung yang ada disebelah sana dan satu lagi berada disebuah kuil kuno itu. Tetapi kabar buruknya, kuil itu dilengkapi berbagai jebakan yang mematikan." Jelas Dahlia. "Baiklah kita berpencar, Yasora dan Dahlia kalian cari Viridian Stone digunung dan aku akan mencari dikuil itu." Kata RPG. "Kau yakin? Kuil itu sangat berbahaya." Kata Yasora. "Tidak apa-apa, aku yakin akan berhasil melewatinya." Kata RPG. "Baiklah, ayo kita tidak punya banyak waktu. Semoga beruntung RPG." Kata Dahlia. "Baik. Terimakasih teman-teman." Kata RPG. Mereka pun segera berpencar untuk mencari Viridian Stone itu.


Di pegunungan.....


"Huff.... Puncaknya tinggi sekali." Kata Yasora. "Ya, kau benar." Kata Dahlia. "Jadi Dahlia, kau biasanya melakukan apa jika waktu luang." Kata Yasora. "Ya.... Aku sering melakukan penelitian dilaboratoriumku, aku jarang berbicara dan berhubungan dengan orang-orang karena terlalu sibuk dengan penelitian." Kata Dahlia. "Wow. Aku tidak menyangka akan hal itu." Kata Yasora. "Ya.... Aku juga sering dikucilkan, sering diejek tidak waras akibat penelitianku. Belum ada orang yang menghargai penemuanku sampai aku bertemu dengan kalian." Kata Dahlia sambil tersenyum. "Ouhhh.... Benarkah?" Tanya Yasora. "Ya, aku sangat senang. Kalian menerimaku apa adanya." Kata Dahlia. Tiba-tiba mereka melihat sesuatu yang bersinar dikejauhan. "Itu Viridian Stone!" Kata Yasora. "Tunggu Yasora! Lihat dibawahmu." Kata Dahlia sambil menunjuk kearah jurang yang dalam. "Sial! batunya ada disana dan kita terlalu jauh untuk menggapainya. Sekarang bagaimana kita bisa mengambil kedua batu itu?" Kata Yasora. "Jangan khawatir, aku tahu caranya. Kau pernah terbang?" Tanya Dahlia. "Tidak. Mengapa kau menanyakan hal itu?" Tanya Yasora. "Waktu yang tepat untuk menguji salah satu penemuanku. Pegang tanganku Yasora." Kata Dahlia. "Apa yang ingin kau lakukan Dahlia?" Tanya Yasora. Dahlia akhirnya mengeluarkan alat yang ia tempelkan dipunggungnya. "Pegangan yang erat Yasora." Kata Dahlia. "ROCKET WINGS ACTIVATED." Mereka pun langsung melesat tinggi di udara. "Whoa..... Inikah penemuanmu? Sayap roket!" Kata Yasora. "Bagaimana pemandangan dari atas sini Yasora?" Tanya Dahlia. "Yeah.... Menakjubkan!" Kata Yasora senang. "Ayo kita ambil batu itu." Kata Dahlia. "Yeah." Kata Yasora. Mereka langsung terbang melesat dan mengambil batu itu. "Baiklah. Kita berhasil mengambil Viridian Stone. Kita harus kembali ke titik pertemuan seperti yang dikatakan RPG." Kata Yasora. "Baiklah." Senyum Dahlia. Mereka pun langsung melesat dan kembali ke titik pertemuan.


Sementara itu didalam kuil......

__ADS_1


"Dimana Viridian Stone itu?" Kata RPG. Tiba-tiba ia melihat sesuatu yang tampak berkilau dikejauhan. "Hmm.... Apa itu? Ha! Viridian Stone! Mencari batu dikuil ini lebih mudah dari yang kukira, kurasa ini hari keberuntunganku." Jawab RPG senang. Setelah ia berhasil mengambil batu itu, suatu keanehan pun terjadi. "Oh tidak, masalah lagi! Kurasa kuil ini segera runtuh dalam beberapa saat lagi, sebaiknya aku keluar dari sini."


Sementara itu diluar.......


"Dimana RPG? Ia seharusnya sudah datang dari tadi." Kata Dahlia. "Tenanglah, dia pasti akan datang." Kata Yasora. "Maaf aku terlambat." Kata RPG yang muncul dari belakang. "Syukurlah kau baik-baik saja." Kata Yasora. "Baiklah. Ayo kita gabungkan ketiga batu ini untuk membuat portal dan kembali ke markas Jeremy." Kata Dahlia. RPG, Yasora, dan Dahlia langsung memegang ketiga batu itu dan langsung menyilangkan tangan mereka. "Mari lakukan ini RPG, Dahlia!" Kata Yasora. "Bersiaplah!" Kata RPG. “Hmm!” kata Dahlia. "INFERNO...... PULSE!!!" Kata RPG, Yasora, dan Dahlia secara bersamaan. Akhirnya portal pun terbuka dan mereka langsung masuk kedalam portal. "Huaaaaa...... Ooofff!" Kata RPG. "Aduh.... Kepalaku. Apa semuanya baik-baik saja?" Tanya Dahlia. "Kurasa begitu." Timpal Yasora. "Tempat apa ini RPG?" Tanya Dahlia. "Ini markas rahasia Jeremy yang berarti kita sudah kembali. Kita berhasil teman-teman." Kata RPG senang. "Tunggu dulu.... Tempat ini sangat sepi. Dimana Jeremy dan Zorg?" Tanya Yasora. "Aku tidak tahu. Kurasa mereka sudah pergi. Ini kesempatan kita untuk menyelamatkan teman-teman kita." Kata RPG. "Lihat! Mereka semua masih terjebak didalam kapsul." Kata Yasora. "Pasti ada tombol disekitar sini untuk membuka kapsul-kapsul itu." Kata RPG. "Hmmm.... Bagaimana dengan yang itu?" Kata Dahlia sambil menunjuk tombol merah besar yang terlihat mencurigakan itu. "Ya pasti itu dia. Terimakasih Dahlia." Kata Yasora. Segera mereka menekan tombol untuk membuka kapsul-kapsul itu dan seketika Akimura, Shirata, Olivia, Xicko, dan Olimphia pun bebas. "Fiuh.... Akhirnya aku bebas." Kata Olimphia. "Huff... Syukurlah. Terjebak didalam kapsul membuatku mual." Kata Akimura. "Terimakasih kalian sudah menyelamatkan kami. Ngomong-ngomong siapa gadis ini?" Tanya Shirata. "Ohh. Ini Nico Dahlia Storm. Kalian bisa memanggilnya Dahlia." Kata RPG. "Hai semuanya...." Kata Dahlia malu-malu. "Senang bisa bertemu denganmu Dahlia. Kau bisa menganggap kami keluarga." Jawab Akimura. "Terimakasih teman-teman. Aku tidak pernah mendapatkan teman sebaik kalian." Kata Dahlia. Dimana Jeremy dan Zorg?!" Tanya Xicko geram. "Sudahlah Xicko. Ini sudah berakhir. Kita sudah bebas sekarang." Kata Olimphia sambil menenangkan Xicko. "Terimakasih sudah menyelamatkan kami." kata Xicko. "Tidak masalah." Jawab RPG. RPG pun mendekati Olivia dan berbicara dengannya. "Olivia ada apa? Kau kelihatan sedih." Tanya RPG. "RPG, aku punya satu pertanyaan. Apa aku yang paling lemah diantara kalian semua?" Tanya Olivia sedih. RPG pun merasa ada yang aneh dengan Olivia karena menurutnya Olivia tidak pernah menanyakan hal itu. Ia pun terdiam sejenak. "RPG, jawab pertanyaanku!" Kata Olivia sedikit membentak. "Apa? Tentu saja tidak. Kau tahu apa yang membuatmu kuat?" Tanya RPG sambil membersihkan air mata Olivia. "Apa itu?" Tanya Olivia. "Semangat dan percaya dirimu." Kata RPG. "Kurasa kau benar. Terimakasih sudah menyelamatkanku." Kata Olivia sembari memeluk RPG. "Teman-teman, kita punya masalah. Lihat ini!" Kata Dahlia sambil menunjukkan radarnya. "Jeremy dan Zorg sedang melakukan penyerangan disebuah desa." Kata Shirata. Olivia pun terkejut melihat radar milik Dahlia. "Itu... Desaku! Desa Moshuka. Oh tidak!!!" Kata Olivia. "Kita harus segera kesana." Kata Xicko. "Tunggu apalagi? Ini waktunya melakukan pembalasan kepada Jeremy dan Zorg, serta menghentikan semua kegilaan ini! Sekarang atau tidak sama sekali! FREEDOM FIGHTERS.... AYO PERGI!!!" Kata RPG sambil menyemangati. "BAIK!!!" Kata mereka semua.


Sesampainya mereka didesa Moshuka.....


"Lihatlah semua kekacauan ini!" Kata Xicko. "Jeremy benar-benar serius kali ini!" Kata Olimphia. "Dimana orang-orang? Yang kita lihat disini hanya reruntuhan desa." Kata RPG. "Olivia? Kau...." Kata Shirata. "Apa yang terjadi padanya?" Tanya Yasora. "Olivia ada apa?" Tanya RPG. "RPG.... Kurasa lebih baik kau menjauhi Olivia sekarang." Kata Akimura. "Apa yang.... Olivia.... Kau...." Kata RPG. Hal yang aneh terjadi pada Olivia, energi dan aura gelap pun mengelilinginya. Ia juga mengeluarkan sayap hitam besar serta mengeluarkan air mata darah. "Aku....sudah....tidak tahan......LAGI!" Teriak Olivia. "Aku akan mencari Jeremy dan Zorg dimanapun mereka berada dan menghancurkan mereka untuk selamanya!" Kata Olivia. "Olivia! Tenanglah. Kita bahkan tidak tahu mereka ada dimana, jadi tenangkan dirimu, Olivia!" Kata RPG. "RPG! Jangan mencoba untuk menghentikanku atau aku akan menghabisimu juga!" Kata Olivia. Ia pun langsung terbang melesat dan pergi untuk mencari Jeremy dan Zorg. "Olivia tunggu!" Teriak RPG. "Biarkan dia pergi RPG." Kata Shirata. "Apa-apaan itu tadi?" Tanya RPG. "Aku sudah menduga hal ini akan terjadi. Olivia.... Ia.... Sudah berubah menjadi Dark Olivia." Jelas Shirata. "Teman-teman, maaf mengganggu pembicaraan kalian tapi aku menemukan tempat tersembunyi yang dipakai masyarakat desa ini." Kata Yasora. "Baiklah, kita akan membicarakan Olivia nanti, sekarang kita bantu dulu masyarakat Desa Moshuka." Kata RPG.


Sesampainya mereka di gua persembunyian.....


"Halo! Ada orang disini?!" Teriak RPG. Tiba-tiba ada seseorang yang mendekati RPG. "RPG? Apa itu kau?" Tanya kepala desa. "Kepala desa! Lama tidak bertemu. Apa masyarakat desa baik-baik saja?" Tanya RPG. "Ya, kami terpaksa melarikan diri dari serangan Doctor Jeremy. Ngomong-ngomong siapa mereka?" Tanya kepala desa. "Ini teman-temanku. Akimura, Shirata, Xicko, Olimphia, Yasora, dan Dahlia." Jelas RPG. "Senang bertemu dengan anda, Pak." Kata Akimura. "Teman-teman, kita punya masalah besar. Radarku mendeteksi adanya energi besar di arah timur." Kata Dahlia. "Itu pasti Jeremy! Baiklah, Akimura, Shirata, Yasora, Dahlia, dan Olimphia tetap disini, aku dan Xicko akan pergi kesana." Kata RPG. "Baguslah, waktunya pembalasan!" Kata Xicko semangat. "Satu pertanyaan. Bagaimana caranya kalian pergi kesana?" Tanya Shirata. "Aku bisa mengantarkan kalian kesana." Kata Dahlia. "Kau bisa? Bagaimana caranya?" Tanya Xicko. "Aku punya helikopter otomatis yang akan segera sampai disini dalam beberapa menit. Aku sudah memprogramnya dari tadi," Kata Dahlia.


Beberapa saat kemudian....


"Ini dia. RPG, Yasora, ayo naik." Kata Dahlia. "Hati-hati kalian disana." Kata Shirata. "Pasti." Kata RPG. Mereka langsung terbang memggunakan helikopter Dahlia menuju arah timur. Beberapa lama kemudia mereka pun akhirnya tiba disebuah kota yang dipenuhi oleh robot lengkap dengan karnaval dan lintasan roller coaster. "Kita sudah sampai dimarkas Jeremy. RPG, Yasora bersiaplah untuk melompat. Semoga beruntung kalian berdua." Kata Dahlia. "Terimakasih Dahlia." Kata RPG. "Ya, kau bisa mengandalkan kami berdua." Kata Xicko. Mereka berdua pun langsung melompat dari helikopter menggunakan parasut dan sampai dimarkas Jeremy.


"Whoa.... Tempat apa ini sebenarnya?" Tanya Xicko. "MUAHAHAHA! Selamat datang di Thundertropolis! Ini adalah kekaisaranku yang luar biasa, dibangun melalui kejeniusanku dan kekuatan tak terbatas dari Phantom Stone. RPG! Aku tahu kau ada disana, jika kau mempunyai keluhan, datanglah kepadaku secara pribadi. Jika kau bisa tentunya! Hehehahaha!" Kata Jeremy melalui pengeras suara. "Tempat ini benar-benar gila!" Kata Xicko. "Aku tidak pernah mengerti selera Jeremy." Kata RPG. "Ayo, kita harus segera mengalahkan Jeremy dan Zorg sebelum mereka berbuat masalah lagi." Kata Xicko. "Baiklah, ayo cepat." Kata RPG. Mereka pun langsung memasuki Thundertropolis dan bersiap untuk melakukan petualangan berikutnya.

__ADS_1


THE END


__ADS_2