
Pertemanan aku, LorezQ, dan CaPaMud, semuanya berjalan dengan baik. Apalagi, seminggu yang lalu kita menghabiskan uang kemenangan untuk memesan baju kembar dengan aksesoris yang sama juga, sedangkan sisa uangnya sudah kita belanjakan makanan, tinggal menunggu makanan itu datang ke rumah Sandi.
Hari ini aku dan mereka semua akan makan-makan di rumah Sandi. Semua persiapan sudah diletakkan di alas saung. Rumah Sandi memiliki saung di belakang rumahnya dan di situlah tempat berkumpulnya kita semua, termasuk aku.
Semuanya duduk melingkar, hanya Sandi dan Bara saja yang berada di pintu utama sana, karena mereka berdua yang akan menunggu kurir makanan datang.
Aku mengobrol dengan semua yang berada di sini, terlebih kepada LorezQ yang sedang membahas salah satu geng yang bernama ‘Jaguar Squad’.
“Lo tahu geng Jaguar nggak Can?” tanya Alya tiba-tiba, aku menggelengkan kepala secara refleks.
“Pantes dari tadi kagak paham mulu setiap bahas geng Jaguar,” celetuk Tara.
“Ya gimana dong, gue nyimak aja dah, abis kagak tahu juga bentukkan makhluknya kayak gimana,” balasku pada mereka berdua.
“Iya juga sih, soalnya geng Jaguar ini belum pernah lawan geng kita, padahal target gue tuh mereka.” Tara mengepal tangannya kuat-kuat, kepalan itu terlihat dari mataku yang menatap tangannya.
“Lo ada masalah ya sama mereka?” tanya Devi yang tiba-tiba pada Tara, aku mengangguk menyetujui pertanyaan Devi.
“Iya nih. Lo ada dendam?” Aku hanya menimpali pertanyaan Devi, membuat Tara menatap lurus.
“Gue ada dendam sama ketuanya, dia pernah bully gue sama Via waktu SMP.” Penuturan Tara menarik perhatian geng CaPaMud alias keempat cowok yang tadinya membahas masalah game.
Mereka berempat membalikkan badan, berpindah posisi jadi ikut merumpi di sekitar kita. “Lanjut dong Tar,” pintaku pada Tara untuk menceritakan kejadian di masa lalu.
Waktu SMP, di mana kita tidak saling kenal maupun satu kelas. Hanya saja beruntung sekali Tara dan Via sudah sejak lama berteman dari masa kelas dua SMP. Makanya mereka terlihat akur, mungkin itu juga faktor dari sifat mereka yang bertolak dan kadang memiliki kesamaan.
Tara menatap kita satu per satu, lalu mulai melanjutkan ucapannya, “Dulu itu sebenernya mereka bully Via, tapi berhubung gue temen Via, gue belain dong. Terus gue baku hantam sama mereka, gue nonjok dia sampe babak belur, sedangkan dia alias si kampret Junita itu cuman bisa adu tarik rambut doang.” Tara berhenti, mengambil napas panjang.
__ADS_1
“Terus-terus?” Reyga mulai keponya pun bertanya kelanjutan cerita Tara.
“SABAR! GUE NAPAS DULU EGE!” Tara sewot pada Reyga yang tidak sabaran.
“Maap Ayang, Bebeb Reyga lupa, Ayang lagi peemes,” gurau Reyga.
“Kok lu tahu kalau gue PMS, lu ngintip ya!” tuduh Tara membuat Reyga menggelengkan kepala dengan cepat, “Kagak woilah, gini-gini gue masih menjunjung tinggi kehormatan perempuan,” jawab Reyga yang menjelaskan bahwa dia tidak mengintip.
“Halah alasan!” Tara tidak percaya dan memutar bola mata malas. Sedangkan Reyga yang menjadi korban tuduhan Tara, hanya bisa menghela napas pasrah.
Tara pun membuka obrolan kembali dengan melanjutkan ceritanya, “Terus sejak kejadian itu, gue dibawa ke ruang BK, masuk ke ruang kepala sekolah gara-gara si cemen babak belur gara-gara tonjokkan gue, alhasil gue di skors dong, mana kagak kira-kira sebulan coba.” Tara mukanya memerah, amarahnya kembali lagi ke masa kini.
“Terus pas gue udah kelar skors, gue lihat muka Via babak belur mulu, dari situ gue mulai berusaha jebak si Junita, tapi gagal terus, ntahlah.” Tara mendengus kesal.
“Jadi lo dendam nih? Mau dibales?” tanya Devi pada Tara.
“Boleh deh, kapan maunya?” Aku menatap Tara dengan wajah serius, aku juga ikut tersulut saat Tara dan Via menjadi korban mereka di masa lalu. Dendam memang tidak baik, tapi geng mereka atau pun Junita, harus mendapatkan efek jera.
“Gue cari tahu mereka dulu, kalau udah ketemu, gue share ke elu Can, secepatnya kok,” sahut Tara, aku mengangguk.
“Gue demen nih kalau udah begini, mereka harus dapetin efek jera!” geramku yang menggertakkan gigi.
Putra yang melihat pun sedikit memundurkan tubuhnya ke belakang. “Gue ngeri kalau Cantika udah gini, serem aja gitu hawanya,” ujar Putra yang membuatku menatap Putra dengan tatapan garang, siap menerkamnya kapan saja.
Berhubung makanan datang, aku jadi sedikit mereda. Pembahasan pun berganti dengan Sandi yang berseru, “HEYYOW, INI MAKANANNYA, DI ANTAR SAMA DUA COGAN, YAITU SAIYA DAN DUBI-DUBI, EH, BARA API.” Sandi meralat panggilan Bara dengan menggantinya menjadi Bara Api.
“Panas dong,” sahut Rendy.
__ADS_1
“Iya, kan, calon-calon neraka ya, Bar?” Pertanyaan Sandi sambil menoleh ke arah Bara hanya mendapatkan tatapan tajam dari Bara.
Aku tidak kuat dengan itu semua pun, langsung refleks tertawa melihat ekspresi Sandi yang langsung menampilkan cengiran ke arah Bara, tetapi tak dibalas olehnya sama sekali.
“HAHAHA ANJIR, KASIAN BAT MUKANYA SANDI JADI KECUT.” Aku menunjuk wajah Sandi, membuat teman-teman lain pun ikut menertawakannya.
“Sumpah ya, San, kocak!” pekik Alya yang melanjutkan tawanya.
“Astaghfirullah temen gue, mukanya kaya sayur cuka,” ujar Reyga yang juga diselingi tawa kencangnya.
“DIEM SEMUANYA! AELAH MUKA GANTENG GINI DI SAMAIN SAMA SAYUR CUKA, GAK RELA GUE.” Sandi merajuk, tetapi rajukannya itu malah membuat semua orang tertawa.
Bara meletakkan makanannya di depan kita, menata bersama dengan Via dan Devi yang manusia normal. Sedangkan sisanya malah ikut tertawa seperti diriku. Sandi mendekatiku yang memang duduk di bagian ujung masuk saung.
“Awas ya lu, Can, gue bales!” ancam Sandi dengan wajah kesalnya.
Aku mencebikkan bibir, meremehkan dia, lalu berkata, “Coba aja kalau berani.” Sandi yang mendapatkan remehan itu pun, langsung menarik kepalaku ke ketiaknya, aku menutup hidung seketika, mencubit pinggulnya, sesekali menaboknya.
“SANDI LEPASIN, JOROK IH, BAU TAHU!” pekikku yang membuat Sandi kini tertawa puas.
“Salah sendiri, lu duluan yang ngeledek gue ya, nih gue kasih ketiak gue, biar lo rasain sayuk cuka gue,” ujar Sandi yang diselingi tawanya.
“WASYEM, LEPAS IH!” Aku memukul-mukul Sandi, membuat semua orang di sini tertawa, hanya saja salah satu suara tidak terdengar, Rio, dia sepertinya tidak terdengar suara maupun tawanya hari ini.
Mungkin dia masih sedikit badmood pada hari di mana berantem dengan Sandi dan juga aku saat selesai pentas, hanya karena berdebat masalah minumku saja padahal.
Entahlah, tapi setidaknya hari ini mengundang tawa, cerita, serta hal-hal seru lainnya. Membuat kesan yang akan melekat di dalam ingatan siapa pun.
__ADS_1