
Hari libur membuat aku merebahkan diri di kasur seharian, “Huh, damai banget kalau begini terus mah.” Aku bergumam sambil menutup mata, menikmati dinginnya ruangan yang diberikan air conditioner/ac hawa sejuk.
Dret ....
Bunyi getaran ponselku di atas meja pun terdengar, aku membuka mata demgan malas, lalu menoleh ke arah meja belajarku. Aku bangkit dari kasur membawa rasa malas itu berjalan, memgambil ponsel, menatap nama si penelepon.
“Aelah, pagi-pagi gini ngapain dah Sandi pake telepon segala.” Aku berdecak, lalu mengangkat telepon dari Sandi.
“Halo, Can.” Sandi menyapa dari seberang sana dengan nada suara yang bersemangat.
“Hm, halo, ape?” Aku langsung bertanya pada Sandi, malas sekali hari ini rasanya hanya mengucapkan kata-kata saja.
“Lu lemes bener dah, sakit?” Sandi langsung bertanya, mendadak khawatir padaku.
“Kagak, gue ngantuk!” tuturku. “Lu malah nelepon gue coba, argh,” lanjutku yang menggeram.
“NGANTUK? UDAH JAM 11 SIANG LOH, CAN!” Sandi memekik, membuatku menjauhkan ponsel dari telinga, lalu kembali mendekatkannya saat dirasa Sandi sudah tidak memekik.
“Masih pagi coeg!” balasku pada ucapan Sandi.
“Astaghfirullah, lo, mau marah tapi kagak bisa, dahlah seterah lu aja.” Sandi pasrah dari seberang sana.
“Marah mah tinggal marah aja, kagak ada yang ngelarang marah juga, kan?” Sandi dari seberang sana hanya menyahutinya dengan berdeham saja.
“Lu ngapain nelepon gue? Kangen yak?” tebakku asal, tak disangka Sandi malah meng-iyakan pertanyaanku.
“Iya gue kangen banget elu, ini mau ngajak jalan, mau nggak?” Sandi memberikan pertanyaan itu padaku, membuat diriku langsung bangkit dari kursi belajar.
Berlari ke arah jendela, menyibakkan gorden, menatap langit cerah, sedangkan jantungku terus berdetak dengan cepat. Aku menjauhkan ponsel dari telingaku, lalu menarik napas dalam-dalam, mataku tak henti-hentinya berkedip dan melotot akibat reaksi tubuhku pada ucapan Sandi.
Aku mendekatkan kembali ponsel ke telingaku. “Halo, Can? Lo denger nggak?” tanya Sandi padaku.
“Denger, lo kira gue budeg apa!” protesku pada Sandi.
__ADS_1
“Ya siapa tahu ye, kan?” Sandi malah membalasnya dengan seperti itu, membuat diriku kembali ke mode abnormal.
“Jadi gimana?” Sandi bertanya kembali.
“Gimana apanya?” Aku malah sengaja memperumit jawaban yang sebenarnya sudah aku setujui.
“SUMPAH CAN, TERNYATA LO LEBIH ANEH DARIPADA PUTRA!” Sandi yang mulai kesal pun mengomel tidak jelas.
“Kok disamain sama kutu beras sih!” pekikku yang membuat Sandi mengumpat karena telinganya mendadak terisi penuh suaraku.
“Ya lu emang kutu juga,” sahut Sandi yang membuatku menggeram dan mengancamnya. “Awas lu San!” Ancamanku ini membuat Sandi terkikik.
“Udahlah Can, to the point aja, lu mau gue ajak keluar apa kagak?” Sandi bertanya sekali lagi.
“Iya, bentar gue siap-siap mau mandi dulu sama sarapan,” jawabku pada pertanyaan Sandi.
“Ngapain sarapan? Udah siang juga, nanti aja makan di luar sama gue!” perintah Sandi.
Aku bersiap-siap mandi, berganti pakaian, memoleskan wajah dengan sedikit alat make up ala remaja, sekaligus menyiapkan beberapa barang yang dibawa di dalam tas.
Setelah semuanya sudah, aku bergegas pergi ke bawah, memakai snickers putih yang cocok dengan atasan putih dan overall selutuh berwarna hitam. Rambut sengaja aku ikat sedikig dan menggeraikan sisanya.
Aku memakai tas selempang mini agar tidak terlalu ribet nantinya, takut-takut nantinya malah kerepotan sendiri. Sandi menjemputku dengan membawa sepeda motor sport miliknya.
Aku menatap Sandi yang tertutup helm full face. “Lo mau ngajak gue biar aurora gue keliatan gitu sama orang-orang, hah!” Aku mengomeli Sandi, membuat Sandi membuka helmnya.
“Ck, makanya jangan pake rok mini, biasanya tak seperti ini, aku cemburu, aku curiga, jreng, takutnya ada main di sana, gonjreng-gonjreng jos! Dupatitik jos!” Aku hanya menampilkan senyum aneh yang diangkat sedikit sudut bibirnya.
“San, lo sebenarnya aslinya tuh cool atau gila kayak Putra sih?” Pertanyaanku membuat Sandi tertawa. “Ya gue waras lah, cool, ganteng, calon jodohnya elu di masa depan juga,” tutur Sandi yang membuatku menepuk dahi.
“YOU CRAZY PEOPLE PEL PEL PEL!” ujarku seucap-ucapnya menggunakan bahasa Inggris.
“Pel apa yang paling bisa di dapatin sama gue? Coba jawab.” Sandi memberikan teka-teki padaku, membuat aku berlagak berpikir, padahal memang tidak tahu.
__ADS_1
“Alah lama lu, Can, jawabannya tuh peluang mendapatkanmu, hiyahiyahiya,” ujar Sandi yang menjawab pertanyaannya dia sendiri.
“Udahlah lo gila, mendingan gue naik jok motor elu.” Aku pun menaiki jok motor Sandi dengan memegang kedua bahu Sandi yang hampir saja tidak seimbang karena aku mendadak naik.
“Udah siap?” tanya Sandi, saat posisi diriku sudah duduk dengan manis.
“Udah.” Aku menjawabnya dengan lantang sekali.
“Turun dong, kan, katanya udah,” ujar Sandi yang tertawa, sambil menyalakan motornya.
“Oh gitu, ya udah nih, gue turun yak!” ancamku yang memegang kedua bahu Sandi kembali untuk turun, tetapi dicegah olehnya.
“Jangan dong, nanti gimana guenya, masa jomblo naik motor begini,” bujuk Sandi padaku.
“Halah, tadi katanya suruh turun, lu kagak konsisten Sandi!” tuturku pada Sandi, membuat Sandi terdiam dan hanya menghela napasnya yang pasrah.
Sandi menutup helm full facenya, sebelumnya dia memberikan aku helm yang sekiranya tidak membuatku berat. Setelah itu, motor sport merah milik Sandi pun melaju dengan kecepatan cepat, membelah kota yang sudah lama aku tinggali.
Aku dan Sandi berjalan ke sana, kemari, menikmati suasana kota dengan membeli jajanan yang berada di pinggir jalan.
Kita juga menonton film di bioskop, bermain time zone, duduk di taman sambil melihat senja yang kian memenuhi kota Bandung. Aku dibuat tawa, bahagia, ceria, dan tidak terbesit rasa bosan duduk serta berjalan-jalan bersamanya.
“Lo suka liat senja?” tanya Sandi padaku saat kita berdua berada di taman sambil menatap ke langit-langit yang menampakkan warna jingga.
Aku menatap Sandi lama, lalu kembali menatap langit jingga di kota Bandung. “Gue suka banget-banget sama senja, kalau elu suka apa?” Aku bertanya pada Sandi, cowok itu hanya tersenyum simpul.
“Gue dari kecil suka banget sama hujan, duduk di bawah pohon besar sambil berkhayal kalau gue suatu saat bisa menjadi seorang bintang di kehidupan banyak orang.” Jawaban Sandi cukup membungkam diriku.
Aku jadi tahu, bahwa yang diinginkan Sandi bukan ketenaran, tapi dia mau menjadi seseorang yang berharga di mata semua orang atau beberapa orang. Peribahasanya memang susah untuk dijabarkan maksud tujuannya, tapi secara tidak langsung sesuatu itu tersirat lewat beberapa kata yang aku simpulkan dengan sendiri.
Bersama Sandi, aku duduk menatap langit itu sampai benar-benar gelap. Sandi bangkit dari duduk, mengajakku untuk makan malam bersamanya di salah satu tempat langganan Sandi sendiri.
Penutup hari ini bersama Sandi sungguh menyenangkan, seru, dan memberikan sebuah ketenangan bagiku saat melihat kembali senja yang kurindukan.
__ADS_1