The Geng'S

The Geng'S
Berteman Kembali (Part 1)


__ADS_3

Di bawah pohon belakang taman di belakang sekolah, aku berkumpul bersama The Geng’s. Kita menyantap jajan bersama di sana sambil mengukir canda dan tawa. Tak terasa semuanya sudah seperti semula, ditambah ujian akhir sekolah pun hadir di saat-saat pertemanan sedang berjalan kembali dengan baik.


Aku meluruskan kedua kakiku ke depan, merubah posisi duduk yang tadinya tegak menjadi bersandar ke batang pohon yang kokoh.


Sandi dengan santainya tidur di pahaku, membuatku memekik kencang, “Weh San, apa-apaan nih, buruan pergi sana, enak aja main tidur di paha gue, berat lu!” Aku mengusir Sandi, meski detakan jantung berpacu, tapi aku tutupi sekuat yang aku bisa agar tidak menimbulkan masalah lain lagi.


Sandi yang aku usir pun malah sengaja memejamkan matanya. “Kampret lu San!” umpatku pada Sandi yang tidak di dengar olehnya.


“Gue juga mau bobo di elu, Can,” ujar Devi yang menidurkan kepalanya di pahaku juga, berbagi dengan Sandi yang sedikit menggeserkan kepalanya agar Devi juga bisa mendapatkan bagiannya.


“Gue mau tidur di Devi aja,” ujar Reyga. Lalu selanjutnya kalian bisa menebak, kalau The Geng’s bukanlah geng warss yang hanya diikuti satu manusia abnormal, tetapi semuanya jadi mengikuti hingga menjadi cabang yang banyak.


“WOI GUE YANG PEGEL! KRAM NIH!” pekikku yang membuat Putra menatapku dalam rebahannya.


“Berbagi itu indah, lo bakal jadi indah kalau berbagi, karena berbagi itu indah,” ujar Putra yang sudah di mode absurdnya.


“Apa sih nyet! Gak jelas lu, harusnya tuh gini, Cantika yang cantik, izinkan aku bobok, beramal kek sekali-kali sama kita-kita, begitu Put, paham kagak lu?” tanya Reyga pada Putra.


“Gak paham, lu tadi ngomong sama gue apa Cantika?” Putra bertanya pada Reyga yang membuat Reyga menggaruk kepalanya yang teuing gatal, teuing hente.


“Keknya Reyga ngomong sama gue sama elu juga, ya gak sih?” Aku malah membuatnya semakin rumit, tujuannya agar Reyga dan Putra saling berdebat satu sama lainnya.


“Kenapa lu harus ngomong sama gue juga, Rey?” Pertanyaan Putra mengundang kegemasan dari Alya sendiri.


Alya menonyor kepala Putra. “Ini otaknya kudu gue servis dulu, Can. Nah kalau udah ditonyor pasti bener nih Putra.”


“Mana ada ege, kepala gue yang ada sakit!” omel Putra yang kesakitan akibat ditonyor oleh Alya.


“Ya saha suruh maneh teu boga otak! Noh beli di warung Mbok Minah, otak-otak original.” Alya yang sewot pun mengatakan itu kepada Putra, reaksi dari cowok itu adalah matanya langsung berbinar-binar.

__ADS_1


“Asli ada otak-otak original di Mbok Minah?” tanya Putra tuk meyakinkan dirinya.


“Iye, yakali gue bohong. Bohong itu dosa, dosa itu nanti masuk neraka, neraka itu tempatnya setan, setan itu-“ Ucapan Alya terhenti akibat Putra membekap mulutnya dengan tangan kanan.


“Setannya elu, gue tahu, udah nyok sekarang gue mau ke Mbok Minah bareng ama lu, takut-takut lu bokong sama gue,” ujar Putra yang melepaskan bekapannya dari Alya.


Alya ekspresi ingin muntah setelah dilepaskan bekapannya oleh Putra, “Najong, tangan lo bau apaan anjir! Mau muntah gue!”


“Tangan gue bau surgawi alias bau terasoy kaki gue, mwhehehe.” Putra menampakkan cengiran tak berdosa setelah mengatakannya, sedangkan Alya langsung mendelik dan menahan mulutnya dengan menutup mulut.


“ANJIR LO PUT!” amuk Alya yang setelahnya dia berlalu pergi dengan setengah berlari.


“Wey Al, tunggu!” pekik Putra yang bangkit lalu menyusul Alya yang entah tujuannya pergi kemana.


Aku melihat adegan gila hari ini pun hanya bisa menggelengkan kepala dan tertawa, teman-teman lainnya pun juga menertawakan kegilaan antara Alya dan Putra yang sudah kembali seperti semula.


Ditambah kini kita semakin memiliki ikatan pertemanan satu sama lainnya, tidak ada jaim atau pun hal semacam cemburu lagi, entahlah jika di hatinya masih begitu, tapi sejauh ini sudah kembali membaik pertemanan antara aku dan mereka semua.


Lalu aku pun menjawab pertanyaan Reyga, “Kalau menurut gue sih, punya temen kayak mereka itu sebuah anugerah, pemeriah pertemanan dan so pasti mereka bikin kita gak bisa bedain antara sedih dan bahagia, karena dengan cara mereka kita dibuat bahagia juga, kan?!” Ucapanku diangguki Bara.


“Yoi, gue beruntung.” Bara hanya mengatakan itu, lalu disahuti oleh Via, “Gue juga.”


“Dasar couple irit!” desis Tara yang mencebikkan bibirnya.


“Lu sama gue, kita couple apaan dong?” Rendy bertanya pada Tara.


“Kita couple ....” Tara mengetuk dagunya seakan berpikir.


“Couple edanz,” sahutku pada perbincangan mereka berdua.

__ADS_1


“Mana ada anzem gue edaz?!” Tara tak terima.


“Ada kok, buktinya kemaren lu main-main sama orgil depan rumah gue,” celetuk Rendy yang setelahnya menutup mulutnya dengan kedua tangan.


Tara bangun dari rebahannya, lalu mencubit pinggul Rendy yang masih di posisi rebahan. Kelakuan mereka mengundang tawa untuk semua yang melihatnya.


“Mana ada ya gue main sama orgil, lu kali orgilnya! Ngaku lu! Ngaku buruan!” ancam Tara pada Rendy yang tertangkap dalam indra penglihatan aku dan teman-teman The Geng’s.


“Ampun bebi hunny sweety babik kyuti uwu-uwu, sakit aelah dicubit gini, diancam pulak, udah,” rengek Rendy yang semakin berteriak kesakitan, mungkin itu semua efek dari cubitan Tara yang semakin kencang di pinggul Rendy.


“Babik, lu pikir gue ini babik! Nih gue tambahin lagi deh cubitan anti badai.” Tara mencubit Rendy semakin menjadi hingga Rendy teriak sekuat tenaganya.


Aku yang melihat itu tertawa, sedangkan Sandi berusaha menghentikan aksi Tara yang takut-takut malah berbahaya.


“Udah-udah weh, jangan berteman,” cegah Devi yang malah semakin runyam, membuat Reyga mengecek suhu tubuh Devi dengan memeriksa dahinya.


“Pantes nih anak ngaco, rupanya lu sawan, Dev,” ujar Reyga.


“Mana ada gue sawan, Wawan kali yang sawan!” elak Devi yang tak terima.


“Aelah ngapa pada ribut sih, sini bantu gue buat ngademin amukan Tara. Kasian Rendy bisa mampus asli dah,” ujar Sandi yang langsung bangkit untuk melerai


Antara Tara dan Rendy.


Namun, tindakan dari Sandi mendapatkan amukan dari Tara. “Lu ikut-ikutan, gue ikutin lu ya dalam cubitan maut gue!” ancam Tara pada Sandi.


“Ampun suhu!” Sandi mengepalkan kedua tangan dan pergi dari hadapan Tara, sedangkan Rendy kembali disiksa.


Kita semua melihat itu hanya tertawa tanpa ada niatan untuk melerainya sama sekali, karena Tara dan Rendy adalah pasangan aneh yang sangat lucu di mataku.

__ADS_1


The Geng’s memiliki caranya tersendiri untuk melepaskan semua kebosanan, semua yang kita lalui dengan sebuah titik-titik mulai lelah dengan semuanya. Kini kita kembali untuk menghibur satu sama lain, meskipun caranya dianggap aneh oleh orang lain, but inilah kita dengan cara kita yang berbeda-beda. Namun, masih satu tujuan yang sama.


__ADS_2