The Geng'S

The Geng'S
Pengakuran


__ADS_3

Awan dan langit cerah membuatku terus menatapnya bersamaan dengan Via da Tara. Kita berdua sedang menunggu Devi dan Alya.


Kehadiran mereka sudah kita rencanakan, menggunakan surat yang diletakkan di loker masing-masing pun sudah kita lakukan. Rencana ini sudah dipikirkan olehku sejak kemarin, tetapi aku baru memberitahu mereka pada hari ini dan dilaksanakan hari ini juga.


Sungguh rumit bukan? Ya mau bagaimana lagi, mengirim pesan lewat online itu sangat ribet, jikalau nantinya dibaca, jika tidak?


“Langit hari ini cerah banget,” gumaman Tara yang masih bisa aku dengar.


Aku pun menyahuti gumaman Tara tadi, “Secerah pertemanan kita semua, Tar, Vi. Gue cuman mau pertemanan kita membaik, gak ada saling jatuh cinta, gak ada dendam diantara semuanya, karena gue cuman pengen kita selalu bersama sampai kesuksesan ada di genggaman tangan kita masing-masing.” Setelah aku menyelesaikan ucapan, aku menoleh ke Via dan Tara yang memang berjajar di sisi kiriku.


Mereka menatapku penuh dengan haru, lalu mereka berdua mengangguk bersamaan. “Kita bisa kok berbaikan, kita juga bisa kayak dulu lagi, masih ada waktu buat memperbaiki keadaan yang retak sebab kesalahpahaman satu sama lainnya,” ujar Via.


Aku mengangguk. “Gue cuman berharap kayak gitu, Vi, Tar. Semoga mereka datang ke sini.”


“Aameen, semoga mereka datang ke sini, meskipun nggak dicantumkan siapa si penulisnya,” balas Tara pada ucapanku.


Rencana ini sangat simpel, pertama aku dan teman-teman cewek menulis surat untuk Reyga dan Rio, sedangkan teman-teman cowok menulis surat untuk Devi dan Alya. Karena dengan begitu mereka tidak akan mengenali tulisan kita.


Surat itu diletakkan juga di pagi hari, lalu kita menjalankan misi sesuai dengan geng kita terdahulu. The Geng’s dibagi dua antara CaPaMud dan LorezQ, untuk memperbaiki keadaan semula, lalu setelah kembali, barulah kita menjadi satu.


Tara tiba-tiba mendapatkan pesan dari Rendy dan pesan itu diperlihatkan pada aku dan Via. “Gais ini gue dapet pesen dari Rendy.” Kita pun dengan rasa penasaran langsung mengintip pesan dari Rendy di ponsel Tara.


Rendy:3


Tar


Sayang


Beby


Ayang ...


Hellow


Adakah orang di pesan ini.

__ADS_1


Bales Beb!


Tara Cute


Apa Ren?


Apa?


Rendy:3


Reyga udah mau baikan, sekarang kita lagi kumpul di kantin ey.


Bilangin sama Cantika sama Via juga ya, wkwk, seneng bat gue kalau akur begini.


Nanti kita jalan-jalan ya, Ayang.


Ceeyu:3


Tara Cute


Udah?


Kapan?


Heem, dasar manusia aneh, dateng cuman begitu.


Gue kira lo lepas kangen.


PAKYU REN!


Setelah aku dan Via membaca chat itu, kita terdiam sejenak, lalu aku mengucapkan, “Alhamdulillah kalau gitu, seenggaknya satu orang udah berhasil dikembalikan ke mode normalnya.”


“Iya satu doang, Can, berarti Rio gak mau dibujuk,” ucap Via yang membuatku baru menyadarinya.


Satu orang yang sulit untuk dibujuk, yaitu Rio. Dia sungguh benar-benar masih berada di pedomannya sendiri, bahwa aku dan Sandi ada sesuatu yang menjalin diantara kita. Padahal aku dan Sandi, layaknya teman biasa pada umumnya, bahkan kita tidak seperti Tara dan Rendy yang memiliki jalinan hubungan satu sama lainnya.

__ADS_1


Aku menggaruk tengkuk yang sedikit gatal, bingung harus seperti apa lagi membujuk agar Rio kembali pada kita semua.


“Gue bingung sama Rio,” ujar Tara tiba-tiba, aku mengangguk, menyetujui ucapan Tara.


“Iya nih, kenapa sih sama dia?” Via mulai mempertanyakan kenapa Rio bisa sesulit itu.


“Mungkin karena ada gue sama Sandi kali ya, apa gue sama Sandi misah aja?” Pertanyaanku membuat Tara mendelik, sedangkan Via menjitakku.


“Lo gak usah gila ya, Nyet!” umpat Tara yang mengamuk kepadaku.


Saat Via sudah menunjukku dan hendak melanjutkan umpatan Tara kepadaku, tetapi suara derap langkah di belakang membuatku menoleh bersamaan dengan yang lainnya.


“Dev ...,” panggilku dengan suara lirih sambil bangkit dari duduk bersamaan dengan Via dan Tara. Devi menatapku dengan tatapan meratapi kita bertiga yang sama-sama berjejeran.


“Dev, maafin gue kalau ada salah.” Aku membuka pembicaraan dengan meminta maaf lebih dulu, diikuti dengan Tara dan Via.


Tanpa kata-kata yang keluar dari mulut Devi, dia pun langsung menghambur ke pelukanku, meraih juga tangan Via dan Tara yang ditarik ke dalam pelukanku, kita berempat berpelukan.


Hari ini rasanya melegakan, setidaknya Devi kembali ke dalam pertemanan kita semua. Saling meminta maaf jika ada salah atau pun tidak ada salah sama sekali. Berpikiran terbuka dan saling introspeksi diri satu sama lain adalah hal yang jauh lebih baik daripada merenggang tanpa sebuah penyelesaian.


Langit cerah, terik matahari menjadi teman kita berempat di atap sekolah. Pelukan kita tiba-tiba terganggu saat ada suara yang menghentikan kita.


“Ternyata kalian yang kirim surat ke gue?” Pertanyaan itu keluar dari mulut Alya. Dia menatap ke arah kita berempat, aku menatap Alya hingga merenggangkan pelukan diantara kita berempat.


Aku berjalan ke arahnya, berdiri tepat di depan Alya. “I’m Sorry Al, karena kalau gue dan teman-teman lain bilang ke elu langsung, kita takut kalian berdua gak akan datang,” jelasku yang menundukkan pandangan dari Alya.


“Gak usah minta maaf, Can, gue yang salah. Seharusnya gue gak cemburu sama elu dan Sandi, gue bodoh, bisa-bisanya cemburu dan ninggalin kalian semua.” Tiba-tiba Alya mengatakan itu, membuatku sedikit terkejut.


Jadi selama ini Alya jatuh cinta pada Sandi, dia cemburu juga padaku yang bersama Sandi. Masih terkejut, padahal Alya yang selalu mendukung hubungan aku dengan Sandi kala itu, tapi ini apa? Mendadak sekali.


“Gue sadar, pertemanan jauh lebih berharga dari rasa cinta, gue salah, gue ngerasa kehilangan kalian banget,” lanjut Alya yang kini memegang kedua tanganku, kita saling bergenggaman tangan.


Kepala saling menunduk satu sama lain, menyalahi diri masing-masing. Hingga Tara mendekat, lalu berkata, “Udah jangan saling menyalahkan, jadilah kesalahan itu sebagai batu rintangan yang sekarang udah bisa kita lalui, jadi besok-besok pertahankan pertemanan yang udah dibangun, jangan egois karena hati, tapi pikirkan semuanya juga, saling support aja satu sama lain.”


Perkataan Tara mampu membuka pikiran kita, termasuk aku yang baru menyadari bahwa rasa yang hadir antara aku dan Sandi cukup sampai sini, tidak perlu lebih daripada pertemanan hancur ke depannya.

__ADS_1


Aku dan semuanya kembali dalam satu pelukan yang saling menghangatkan satu sama lainnya. Dengan begini, panas yang terik pun akan kalah dengan kehangatan pelukan pertemanan kita, persahabatan yang takkan pernah tergantikan.


Pengakuran ini memuaskan, meski masih ada satu yang belum diluluhkan hatinya, kekerasan kepalanya, dan jarak yang dibuat olehnya begitu sulit disatukan.


__ADS_2