
Alya dan Putra menghampiri aku beserta teman-teman The Geng’s, mereka membawa banyak camilan termasuk jajanan dari Mbok Minah alias otak-otak original.
“Ebuset, kalian beli beneran dong,” tutur Rio yang diikuti oleh pandanganku ke kantong plastik berwarna putih transparan itu.
Putra memamerkannya dengan menenteng plastik itu tinggi-tinggi dan berkata dengan bangganya, “Oh iya dong, gimana, kalian mau?” Putra menaikkan satu alisnya ke atas.
“Hilih sombong, gue juga bisa beli kale,” ejekku pada Putra, padahal itu hanyalah sebuah gertakan saja.
“Sana coba beli, kayak bisa beli satu warung Mbok Minah aja,” cebik Putra padaku.
“Tenang aja, gue bakal beli satu warung Mbok Minah, satu sekolahan juga bisa, nanti gue tinggal kasbon atas nama elu, gampang gue mah,” jawabku.
“Curang lu Can, apa-apa bawa gue mulu, mentang-mentang gue ganteng, baik hati dan tidak sombong, ya udah total berapa sini!” Putra menyahuti jawabanku tadi.
“Kalem aja, nanti gue chat lu total keseluruhannya, Put.” Aku mengiyakan ucapannya.
Aku mengeluarkan ponsel dan bersiap untuk membuat Putra semakin masuk ke dalam dunia perannya sendiri. Dalam hati aku berseru kegirangan melihat ekspresi Putra yang tidak karuan.
Aku mulai mengetikkan jumlahnya, hingga Putra pun berseru kepadaku, “Anzem beneran dong, kampret, Cantika. Jangan! Weh jangan!”
Aku tertawa kencang. “ Makanya jangan nantangin wasyem, lu nantangin gue ya gue ladenin,” balasku pada Putra.
“Anjim lu, Can, bikin jantungan!” oceh Putra yang aku tulikan sementara.
Alya sudah berada di posisi duduk, dia juga membuka bungkus plastiknya yang menampilkan jajanan cakwe beserta cocolan sausnya.
Putra juga mengambil posisi duduk dan mulai membuka bungkus plastik yang berisi otak-otak original beserta cocolan saus sambalnya.
Aku dan kita semua berebut untuk mendapatkan jatahnya masing-masing, menghabiskan jajanan itu hanya dalam waktu singkat.
Perut sudah kenyang pun membuat aku merekahkan senyuman lebar. “Lain kali kalau punya jajan tuh bagi-bagi kek gini, jadi enak gue tuh, soalnya duit jajan gue seenggaknya awet,” kataku membuat Alya melemparkan bola-bola kertas kecil yang digulung dari bekas wadah gorengan.
__ADS_1
“Ada minyaknya itu anjir!” pekikku yang terkena bola kertas kecil itu, akibat Alya melemparnya ke arahku.
“Siapa suruh lu rese banget, Can. Masa kita berdua suruh apes gara-gara duit dihabisin buat beli jajan lu pada, itu namanya curyang sekaleh breder,” ungkap Alya yang menjelaskan alasan ketidakterimaan atas ucapan yang aku tuturkan tadi.
“CURANG ANJIR! Lagian gue tuh lagi usaha dulu nyet, ya sapa tahu aja gitu, lo bisa dapet duit milyaran abis traktir gue.” Aku masih berusaha menepis pemikiran Alya tadi.
“Idih ogah, mending gue sumbangin ke yayasan daripada sumbangin ke perut lo!” balas Alya.
“Kan bisa dibagi dua, Alyak. Sisanya ke gue juga gak apa-apa, aelah, emang dasarnya elu medit ke gue nih.” Aku mencebikkan bibir ke depan.
“Udah aelah, kalian mau makan apa debat?” Devi menengahi perdebatan.
“Biarin aja mereka debat, Dev, jajannya buat kita, makan jajan sambil liat orang debat itu makjos,” ujar Tara.
“Oh gitu ya, ya udah deh, gue makan dulu ye.” Devi memanas-manasi aku dan Alya dengan memakan otak-otak original yang dicocol ke saus yang sudah disediakan.
“Wasyem!” umpatku yang menjadi akhir dari sebuah perdebatan, lalu mendekat ke jajanan dan mulai memakannya.
“Weh gue juga mau kali!” pekik Alya yang mengambil jajanan yang tadi dia beli bersama Putra.
Hingga tiba-tiba Reyga menyeletuk, “Gue bahagia kalau liat kita ngumpul semua.” Celetukkan dari Reyga itu mengundang atensi semuanya.
Aku dan teman-teman menatap Reyga, lalu Sandi menyahuti celetukkan Reyga, “Udah jangan dibahas, apa yang sekarang ini kita semua nikmati, kita rasakan kebahagiaannya, nggak perlu mengingat yang dulu-dulu. Nanti atit hatinya.”
“SAKIT EGE!” protes Rendy yang tidak terima dengan bahasa alay yang sudah menular ke Sandi juga.
“Diem dulu napa, gue lagi bener nih ngomongnya. Timbang ngalay dikit kagak boleh,” cicit Sandi pada Rendy.
“Geli wanjer!” pekik Rendy pada Sandi.
“Lah kok kalian jadi ribut?” tanya Rio pada kedua manusia yang mau meneruskan perdebatan unfaedah seperti aku dan Alya tadi.
__ADS_1
“Siapa yang ribut?” Sandi dan Rendy menanyakannya secara berbarengan kepada Rio.
“Ya Tuhan, kenapa punya teman macam begini sih,” keluh Rio yang mulai mendrama karena lelah menghadapi dua temannya itu.
“Tuhan menolak keluhan lu, soalnya lu juga sama kek mereka, makanya lo dapet temen semacam mereka gini,” ujar Bara yang membuat semua orang tertawa bersamaan, kecuali Via.
Hingga tiba-tiba saat tawa sudah mereda, Via pun berujar, “Berarti lu sama kayak mereka juga dong, Bar?” Pertanyaan dari Via membuat Bara bungkam, hanya melirik sekilas lalu mengalihkan pandangannya.
Momen itu tertangkap aku dan semua teman-teman, kita tertawa bersama. Lagian bisa-bisanya Via memiliki pemikiran polos seperti itu, bahkan aku saja tidak terpikirkan untuk memberikan tanya itu.
“Anjir Via, Hahaha ....” Tara tertawa terbahak-bahak.
“Gue baru tahu kalau Via bisa ngelucu anjir,” ungkap Reyga.
“Nah sama anjir, Ga.” Putra pun menyetujui ucapan Reyga.
“Emang gue ngelucu?” Wajah Via masih datar, tidak ada tawa atau senyuman tipis yang diukir di wajahnya, melainkan wajah datar dan tatapan serius.
Via mengedarkan pandangan, membuat aku dan teman-teman lainnya pun dia seketika. Ekspresi dari Via sangat mematikan, mau tidak mau, lebih baik diam daripada nantinya Via mengamuk akan lebih bahaya.
“Emang lo nggak ngelucu?” tanya Putra dengan keberanian penuhnya.
“Nggak,” jawab singkat Via membuat Putra terdiam kembali.
Hening suasananya, hingga akhirnya bel masuk pun berbunyi. Aku bangkit dari duduk lebih dulu daripada yang lainnya.
“Udah-udah gais, kita masuk kelas aja yuk, ujian mata pelajarannya Bu Pio nih,” ucapku pada semuanya, terutama untuk LorezQ, karena memang kita sekelas.
Geng LorezQ mengangguki ucapanku, lalu bangkit dari duduknya, hingga Sandi pun mengatakan, “Kalian nggak mau bolos kek kita nih?” Sandi bertanya sambil menunjuk gengnya CaPaMud.
Aku menggelengkan kepala, “Nggak deh makasih, gue mau nilainya makin bagus, kalau bolos yang ada nilai bagus kagak, rugi iya.” Sandi dan gengnya terdiam.
__ADS_1
“Udah ya kita duluan,” lanjutku yang melambaikan tangan ke geng CaPaMud, gerakan itu diikuti oleh semuanya. Saling melepas kepergian.
Setelahnya aku melangkah panjang, berjalan menyusuri lorong sekolahan bersama geng LorezQ untuk sampai ke kelas.