
Weekend ini adalah berkumpul di rumah Bara. Kita semua duduk di teras rumahnya, sebagian memainkan basket. Ada Sandi, Reyga, dan Putra yang memainkan basket di lapangan kecil rumah Bara.
Rumah ini adalah tempat di mana biasanya kita memang berkumpul. Rumah kosong milik orang tua Bara adalah tempat terbaik untuk berkumpul, liburan, dan kita semua di sini sepanjang hari.
Sandi sehabis bermain basket, keringatnya mengucur dari dahi sampai ke dagunya, dia hanya mengelap asal dengan sikutnya itu. Lalu dia berjalan ke arahku dan duduk di sebelahku.
Dia meraih segelas orange jus yang berada di nampan, lalu meminumnya sampai habis. Hingga aku yang melihatnya pun menyeletuk, “Lo haus apa begimana dah? Itu segelas gede loh, San, sengaja biar kagak bolak-balik dapur, lu malah minum segelas gedenya meni enteng pisan.”
“Aelah, gue aus, abis kelar main basket tuh gak cukup minum segini sebenernya, butuh ya kira-kira dua galon lah,” kelakarnya.
“Ebuju buset dah, itu mah bisa kembung dodol, gile aja lu!” pekikku pada Sandi.
“Yang minum siapa?” tanya Sandi padaku.
Aku pun menunjuk Sandi dan membalas tanyanya, “Lu lah, yakali gue yang gemoy binti imut bin aduhai trulala gini.”
“Lah kok gue?” Sandi mengelaknya, membuatku menjitak kepalanya dengan tangan entengku ini.
“Emang elu ya dodol, gue mana ada minum dua galon!” sewotku pada Sandi.
Hingga perdebatanku dengan Sandi pun terhenti sampai di situ, dikarenakan gerbang dibuka oleh seseorang. “Wey siapa lu!” teriak Putra yang bersiap dengan bola basket ditangannya, dia hendak melempar kalau-kalau orang yang masuk adalah penjahat.
__ADS_1
Pintu gerbang terbuka setengah, menampakkan sosok yang selama ini sangat sulit untuk diluluhkan hatinya, Rio. Dia hadir di sini, berjalan perlahan masuk, lalu berhenti di tengah lapangan basket rumah Bara.
Putra menjatuhkan bola basket yang dia pegang, semuanya menatap ke arah Rio yang berdiri di depan pasang mata.
“G-gue ... ganggu ya?” tanya Rio kepada aku dan teman-teman semuanya.
Putra mendekat ke Rio, lalu menepuk pundaknya. “Lo gak ganggu kok, justru lo datang pada waktu yang tepat,” ujar Putra pada Rio.
Aku mengangguk, menyetujui ucapan Putra yang sedang berada di mode warasnya. Teman-teman lainnya pun mengikuti.
Aku bangkit dari duduk, menghampiri Rio, lalu saat tepat berada di hadapannya aku berkata, “Lo dateng ke sini adalah sebuah gerakan hati lo yang bikin kita semua di sini bahagia atas kehadiran lu, Rio.”
Rio menatapku, memegang tanganku dengan genggaman hangatnya. “Makasih udah buat gue sadar waktu di rooftop waktu itu. Maafin juga kalau gue terlalu egois dengan perasaan gue sampai gue gak sadar bahwa pertemanan jauh lebih indah. Pemikiran ini dibuka sama elu, Can,” jelas Rio panjang lebar.
Rio menunduk, dia pun berkata dengan suara lirihnya, “Kalau gue diizinkan gabung lagi, gue mau banget, tapi kalau semisal kehadiran gue bener-bener mengganggu, gue minta maaf dan akan pergi sejauh yang gue bisa.” Rio mengatakannya, meski suaranya lirih, tetapi semuanya mampu mendengar perkataan Rio itu.
Sandi tiba-tiba bangkit, dia berjalan ke arah Rio, dan tiba-tiba menarik kerah baju Rio. “LO GILA HAH! LO UDAH NINGGALIN KITA, TERUS LO BALIK LAGI, DAN LO MASIH BERPIKIRAN KALAU KITA-KITA SEMUA GAK MENGHARAPKAN KEHADIRAN LO SAMPAI LO JUGA BERPIKIRAN KITA GAK AKAN BISA NERIMA LO LAGI! LO WARAS HAH?!” Di titik ini tiba-tiba Sandi melepaskan tarikan dikerah baju Rio, lalu tiba-tiba memeluk Rio dengan erat.
“Kita nerima lo, Rio, bahkan kita semua selalu cari cara biar lo gabung lagi, jadi gak perlu berpikiran aneh-aneh lagi!” Sandi hendak melepaskan pelukannya, tetapi ditahan oleh Rio dengan membalas pelukan yang begitu erat.
“Makasih San, maaf udah ganggu hubungan lo sama Cantika waktu itu, gue egois banget ya ....” Rio menyalahkan dirinya lagi.
__ADS_1
Saat pelukan Rio dan Sandi melonggar, aku pun berkata, “Gue sama Sandi itu temen, sahabat, geng’s, jadi nggak ada cinta-cintaan, karena gue gak mau menjalin hubungan cinta bersama seorang teman atau pun sahabat yang berada di lingkup gue sendiri.” Rio mengangguk, matanya memerah, air mata yang seharusnya jatuh tertahan di sana membuat efek memerah dengan sendirinya.
Teman-teman lainnya pun mendekat ke tempat di mana aku berada dengan Rio, Sandi, dan Putra. Reyga yang tak jauh menghampiri lebih dulu.
Saat semuanya berkumpul, kita membentuk sebuah lingkaran yang saling menggenggam tangan di sebelahnya masing-masing.
“Gue mau memanjatkan harapan, semoga gue dan kita semua bisa saling menggenggam sampai genggaman itu menghilang bukan atas kepergian karena adanya permusuhan, tetapi kepergian karena takdir yang mengatur ke depannya bagaimana,” ujar Tara tiba-tiba.
“Gue juga mau memanjatkan harapan, kalau suatu hari nanti, kita akan terus menggenggam tanpa harus benar-benar menggenggam, tetapi kita semua menggenggam sebuah kepercayaan, terjalinnya tali pertemanan sampai kapanpun.” Kini Reyga yang mengatakannya.
“Kalau gue ... gue punya harapan besar buat The Geng’s, gue berharap The Geng’s bisa menjadi geng yang saling support, saling ada disaat gelap datang, gue mau kita bisa selamanya, meski ke depannya mungkin bakal ada rintangan. Tapi di tangan, digenggaman tangan kita masing-masing memiliki kekuatan saling menopang, saling membantu dengan genggaman tangan masing-masing,” kataku dengan mengedarkan pandangan ke semua teman-temanku.
Mereka menampakkan senyuman manis. Harapan itu sebagai wujud permintaan kita disaat kebersamaan kita masih lengkap.
Jujur, aku merasa sakit disaat kita semua tidak saling bersama, saling mengandalkan egoisnya masing-masing, saling beradu dengan pendapat yang berbeda. Tetapi saat kita bersama-sama, aku adalah orang yang mengucapkan rasa syukur berkali-kali, aku merasakan kebahagiaanku meningkat, bahkan semua masalah yang selalu mengikat kita seakan menghambur bersamaan dengan angin yang menghempaskan debu-debu, mungkin begitulah saat ini keadaanku.
“Gue berharap, apapun harapan kalian untuk kita semua terwujudkan, meskipun cara memanjatkan harapan kita berbeda-beda tapi kita masih memiliki aamiin yang sama,” ujar Sandi yang menatap dengan penuh harap ke arah kita semua.
Lingkaran yang kita buat ini pun perlahan-lahan menciut, semakin menciut hingga kita saling berpelukan satu sama lainnya.
“Aamiin ...,” ujar aku dan teman-teman semuanya serentak, mengaminkan ucapan Sandi yang menjadi jembatan diantara kita semuanya.
__ADS_1
Harapan itu membawa kita pada sebuah pertemanan yang lebih baik, ditambah Rio sudah luluh hatinya. Aku bersyukur atas semua yang terjadi hari ini.