
Mereka berdua kembali setelah berganti baju milik Bara. Devi sudah menginformasikan ke grup, agar semuanya kembali ke rumah Bara, termasuk Bara sendiri.
“Gimana Dep? Ada respon dari mereka semua?” tanyaku pada Devi.
Devi menoleh. “Belum nih, baru Bara yang katanya iya doang,” jawab Devi.
“Ck, kampret yang punya rumah malah ngilang, mana bawa lari si Via,” omelku yang bingung kenapa jadi kita semua yang berada di sini jadi repot akibat kepergian mereka semua.
Kalau pun mau pulang, nantinya bagaimana dengan rumah ini, tidak mungkin juga, kan, aku pergi dari rumah ini bersama teman-teman tanpa mengunci balik rumah ini.
Hari libur yang seharusnya seru-seruan bersama malah berpencar tidak jelas. Devi dengan sikap tenangnya pun kembali memberitahu aku dan lainnya.
“Kata Rio dia lagi ke sini, kalau Sandi gue nggak tahu sih, soalnya dia belum ada respon,” ujar Devi yang memberitahu aku dan lainnya.
Aku mengangguk, lalu membalas ucapan Devi, “Sandi biar gue aja deh kalau gitu, kudu ditempeleng dulu biar balik otaknya kali ya.”
“What’s is tempeleng?” Putra bertanya.
“Tempeleng is ngapruk, you know?” Aku membalas ucapannya, membuat teman-teman lain tertawa.
“Astaghfirullah, temen gue,” ujar Alya dengan nada pasrah sambil mengelus dadanya.
“Emang gue temen lu?” tanyaku pada Alya.
“Iya emang kita temen lu?” timpal Tara.
“Nah-nah, gue sama nih kek yang lainnya, emang lu temen gue, Al?” Kini Reyga bersuara.
“Kalian berdua gak mau gitu kek yang lainnya? Apa kalian berdua temen gue?” Alya yang jengkel pun memberi pertanyaan pada Rendy, Putra, dan Devi.
“Kita?” Devi mengulangi kata kita kepada Alya.
“Jadi duta teman Alya, HAHAHAHAHA,” tawa Putra melanjutkan ucapan Devi yang sebenernya bertanya pada Alya.
Aku melihat tawa Putra pun ikut tertular tawanya. Kelakuan Putra seperti box hitam yang tidak diketahui apa yang ada dipikiran bocah satu itu. Apalagi dia selalu membuat semua orang tertawa dengan apa yang dia katakan.
Aku pun mulai terdiam, baru menyadari bahwa aku belum mengirim pesan pada Sandi. Aku mengambil posisi duduk bersila di bawah. Membuka ponsel, room chat dengan Sandi.
^^^Sandi
^^^
^^^Lo ada di mana, San?
^^^
Ada di rumah. Kenapa?
^^^Sini atuh, ditunggu sama temen-temen.
^^^
Nggak mau.
^^^Kenapa sih?
^^^
__ADS_1
Gak apa-apa.
^^^Ck aelah, ngambekan.
^^^
^^^(Read)
^^^
^^^SANDI
^^^
^^^SANDI
^^^
^^^SANDI
^^^
^^^GUE MAU KASIH TEBAK2AN
^^^
^^^Angka selanjutnya 830 berapa?
^^^
831
^^^Too
^^^
Oh paham-paham.
^^^Apa coba?
^^^
831 paling serius.
^^^(Stiker Agus teriak)
^^^
Aku menutup mulut. Setengah berteriak di dalam hati, berjerit, karena ternyata Sandi juga mengerti apa yang kumaksud.
Jantungku berdebaran di depan umum, sial, akibat menjaili Sandi, malah diri sendiri kena getahnya. “Shit!” umpatku dalam hati dengan perasaan berbunga-bunga.
Tak lama setelahnya, semua orang sudah berkumpul. Bahkan Rio, Bara, dan Via sudah kembali ke sini. Semuanya mengambil posisi duduk. Tiba-tiba Devi pun bangkit.
Di saat Devi berdiri, pintu berderit, membuat semua orang menoleh. Sandi masuk dengan santainya, lalu duduk di dekatku, meminta Putra bergeser sedikit untuknya.
Suasana kembali hening, kini Devi pun mulai berbicara dihadapan kita semua. “Gais! Ini ada permintaan tadi dari Reyga dan Tara buat mainin permainan game, yaitu game Truth To Truth. Nah siapa pun yang saat putaran botol berhenti ke arahnya, dia harus jujur sama pertanyaan yang dikasih oleh kita semua, gak boleh rahasia-rahasiaan, gimana?” Devi bertanya pada kita semua.
__ADS_1
“Gue sih oke-oke aja.” Jawabanku membuat semuanya mengangguk, termasuk Sandi yang berada di sebelahku.
“Oke kalau gitu kita mulai ya.” Devi kembali duduk di tempat, mulai memutar botol yang tadi dia tunjukkan.
Putaran pertama berhenti tepat di Putra. “Anjim kenapa ke gue sih!” umpat Putra yang tidak suka dengan botol yang berhenti tepat di depannya, mau tidak mau, Putra harus menerima pertanyaan dari kita semua.
“Hayo loh Put, oke pertanyaan dari gue sih simpel. Lo kapan waras?” Pertanyaan Alya diangguki oleh semuanya, aku dan teman-teman lainnya pun setuju dengan pertanyaan itu, jadi tidak ada lagi yang bertanya hal lainnya.
“Nunggu Asad nikah sama Nazwa, puas lo?!” Putra mengatakannya dengan nada kesal, menatap dengan tatapan malasnya.
“Nazwa saha sih anjir?” tanya Reyga.
“Kepo lu kek lambe lemes!” Putra membalas ucapan Reyga.
“Dih gue cuman nanya aja ya nyet!” Reyga pun membalasnya, aku sudah muak pun menghentikan aksi debat mereka semua.
“Diem ye, Nazwa itu titisan Putra, udah mereka satu ibu, satu bapak, cuman dia lagi di dunia lain.” Aku memisahkan kedua makhluk itu dengan jawaban asalku.
“Kok lu tahu?” Putra keheranan menatapku.
“Iya, soalnya gak tempe,” jawabku yang membuat bocah itu terdiam.
“Put, lanjut aja muterinnya,” ujarku yang meminta Putra untuk memutar botol itu.
Aku dan semuanya menatap botol itu yang berputar di tengah-tengah kita semua. Botol itu perlahan mulai sedikit memelankan putarannya, hingga saat tepat di depan Sandi, barulah putaran itu benar-benar berhenti.
Kita semua bersyukur karena pertanyaan dari yang lain setidaknya masih bisa diulur-ulur waktunya. “Oke Sandi, gue mau tanya,” kata Alya dengan senyuman nakal menatap diriku tiba-tiba.
“Lo ... suka nggak, eh sorry, lu cinta nggak sama Cantika?” Pertanyaan itu membuat yang lainnya setuju.
Sandi menoleh ke arahku dengan senyuman manisnya. “Gue suka sama Cantika, kenapa emangnya?” Sandi berbalik menanyakan pertanyaan itu pada Alya membuat Alya memekik girang.
“ASIKKK WEH, GUE BAKAL DAPET PJ NIH.” Alya senang, teman-teman lain pun merasa senang, dan mulai meledek aku dengan ledekan percintaan.
Sandi masih menatapku, aku menutupi wajah Sandi dengan telapak tangan kananku. “Bisa gak sih, gosah liatin muka gue!” ujarku yang kesal dengan Sandi, di mana dia malah senang diperlakukan seperti itu olehku.
“San ...,” rajukku pada Sandi.
“Apa?” tanya Sandi meskipun wajahnya ditutupi oleh telapak tangan kananku.
“Ish gosah liatin lah!” rengekku yang membuat Sandi terkekeh renyah, membuat jantungku dibuat berantakan olehnya, debaran jantung ini seakan tak terkendali.
Sandi memegang pergelangan tangan kananku, dia perlahan melepaskan telapak tanganku dengan lembut dari wajahnya. Lalu tiba-tiba mencium punggung tanganku dengan manis.
“AANJIR, ADEGAN APA INI?” Tara memekik girang.
“GUE NGONTRAK DI BUMI NIH!” Putra mulai mengalay kembali.
Aku mendapatkan banyak ejekan dari teman-teman, karena Sandi. Aku menutup wajahku dengan kedua tangan.
“Udah ih!” Aku mengatakannya pada semuanya, tetapi dasar mereka yang sudah gilanya stadium empat itu malah tertawa.
Hanya Rio saja yang diam tanpa ekspresi, kalau Bara dan Via, mereka tertawa tetapi memang hanya menampilkan senyuman dan cengiran saja.
Rio bangkit dari duduknya, aku menatap Rio yang hendak pergi tanpa berpamit, lalu bertanya, “Lo mau kemana Rio?” Pertanyaanku sukses membuat semua orang menoleh ke arah Rio, semuanya baru menyadari kalau Rio hendak pergi.
“Iya, lo mau kemana Yo?” Reyga pun bertanya juga.
__ADS_1
Semua terdiam, tapi Rio pergi tanpa sekatah kata apapun, dia langsung pergi. Melangkah tanpa menoleh kembali ke arah kita semua.
Aku kebingungan dibuatnya, bertanya-tanya di dalam pikiranku, apa yang membuat dia jadi begitu, tidak biasanya Rio seperti itu, bahkan Rio orang yang terbilang bisa diajak bercanda juga, lebih enak bercanda dengan Rio dibandingkan dengan Bara yang super diam seperti Via.