
Di lorong sekolah, masih sedikit siswa dan siswi yang berangkat. Aku berjalan sendirian, hingga saat hendak berbelok berpapasan dengan Rio.
Aku langsung inisiatif mencegatnya. Lalu menariknya ke sisiku sekuat tenaga. “Gue mau ngomong sama lu Rio,” ujarku yang menariknya ke rooftop.
Melewati banyak anak tangga kulalui dengan membawa Rio ke atap sekolah. Sesampainya di sana, aku menghirup napas yang banyak sebagai pasokan udara yang membuatku engap sedari tadi.
Aku melepaskan tangan Rio, lalu berbalik menatapnya, aku dan Rio pun bertatap-tatapan. Hingga aku pun langsung to the point membahas hal yang membuatnya sedikit menjauh kemarin-kemarin.
“Rio, lo masih mempermasalahkan soal gue sama Sandi?” tanyaku pada Rio.
“Lo udah tahu, terus kenapa nanya ke gue?” Rio meninggikan ucapannya.
Aku sedikit takut sebenarnya, tapi aku tetap menunjukkan sikap di mana harus tegas dan kuat dihadapan Rio. Kalau-kalau dia bermain fisik, aku harus mengeluarkan jurus patok ayam.
“Gue tanya lagi karena gue mau kasih tahu lo, bahwa gue sama Sandi itu teman. Nggak lebih, kita sahabatan, gue gak mau punya hubungan lebih dari sahabat dalam sebuah pertemanan yang udah dijalani selama ini,” jelasku pada Rio.
Dia hanya menatapku remeh, memutar bola matanya malas, dia seakan malas dengan apa yang aku ucapkan. “Kalau lu gak percaya gak apa-apa, Rio. Gue ucapin apa yang sebenarnya.” Aku langsung mengatakan itu di depan Rio sendiri.
Dia pun langsung menatap tajam ke arahku. “Lo harusnya sadar Rio, pertemanan bagi gue itu lebih penting daripada sebuah perasaan. Gue sendiri harus buang rasa cinta sama Sandi, karena gue lebih menginginkan kita semua teman, gue gak mau lo kecewa, gue juga gak mau liat pertemanan kita semua hancur cuman karena cinta ....” Aku tidak tahan untuk tidak menitikkan air mata, dititik ini aku merasakan amarahku sudah tidak terbatas, rasa sedih sudah menjadi puncaknya.
__ADS_1
“Gue ... mau semuanya menjadi teman gue, gue gak mau ada rasa lebih diantara kita semua, gue gak mau kehilangan lo, gue gak mau kehilangan teman-teman lainnya, karena kalian bagian di dalam diri gue.” Aku meneteskan kembali buliran air mata.
“Gue sayang sama lo, Rio, gue sayang sama teman-teman semuanya, gak ada secuil pun di dalam diri gue yang membedakan diantara kalian,” lanjutku.
“Kita The Geng’s, selamanya akan menjadi The Geng’s, coz kalian adalah sesuatu yang berharga kedua setelah keluarga gue. Gue lebih baik menikmati momen pertemanan sampai akhir hidup gue daripada gue menghabiskan akhir hidup gue dengan sebuah rasa cinta bersama orang yang gue cinta, meskipun itu juga menjadi bagian yang gue baru rasakan Rio.” Aku menangis sejadi-jadinya.
“G-gue menghapus semua rasa di diri gue buat Sandi adalah keputusan yang menyakitkan, gue pertama kali jatuh cinta, tapi gue harus dihadapkan oleh sebuah pertemanan yang retak akibat saling mencintai. Lo ....” Aku tidak bisa melanjutkan kata-kata kepada Rio.
Aku mengusap air mata, menahan napas yang memburuku. “Gue gak ngerti sama lo, terserah lo, mungkin ini adalah hal tersulit bagi gue untuk mempertahankan pertemanan hanya karena lo terlalu egois dengan perasaan lo, udahlah gue capek, intinya cinta dalam kasta tertinggi adalah merelakan demi kebahagiaannya.”
Aku meninggalkan Rio yang terdiam di tempat, tidak berkutik sama sekali. Aku menuruni tangga, menghapus jejak air mata, dan langsung berlari ke kamar mandi saat sudah berada di lantai bawah.
Aku menatap kaca kamar mandi. “Lo kenapa keras kepala banget sih Rio!” Aku yang kesal pun mencipratkan air ke kaca yang ada di hadapanku.
Aku mencuci muka sekali lagi, mengelapnya sampai kering, lalu kembali ke kelas. Di sepanjang pelajaran, aku hanya melamun, bahkan sampai di titik di mana istirahat di mulai pun aku tidak sanggup keluar dari kelas.
Aku menidurkan diriku di meja, hingga Sandi di duduk di hadapanku, mengusap surai rambut dengan lembut, lalu memanggil namaku, “Cantika, bangun yuk.”
Aku yang mendengar suaranya pun mendongak, menatap Sandi dan semua teman-temanku yang berada di sisiku. Lalu tiba-tiba Putra mengeluarkan roti isi dan susu yang di letakkan di meja.
__ADS_1
“Makan, Can, you hungry-hungry club, tadi gue denger sama temen-temen lainnya,” ujar Putra yang masih dengan apa yang nyaman dia katakan.
“Diem lu Put, jangan bikin orang sedih jadi kesel anjrit!” gumam Reyga yang menyikut Putra, aku melihat itu pun sedikit menampakkan senyum.
“Lo tadi bilang bakal kesel, lo kagak liat, noh Cantika ngakak,” balas Putra yang saling bergumam dan berbalas-balasan untuk berdebat dengan Reyga.
“Itu senyum bege, bukan ngakak, lo kira dia ngakak dalam hati, emang lo buka hatinya?” Reyga menanggapi selalu apa yang dikatakan Putra, aku pun mengalihkan pandangan ke hadapanku.
“Are you okay?” tanya Sandi padaku, aku menatap Sandi lalu menatap yang lainnya.
“Im okay, but tadi gue keluarin semua apa yang gue rasain, gue kesel sama Rio, dia egois banget, so sorry kalau semisal gue bertindak semau gue.” Aku menundukkan kepala. Tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang memaki, melainkan pelukan hangat dari Alya, Devi, Tara, dan Via yang aku dapati, sedangkan Sandi mengelus punggung tanganku.
“Lo udah tepat ambil keputusan itu Can, gue salut, lo berani ambil langkah ini, kita gak berhak untuk memarahi elu, sebab lo lebih tahu apa yang seharusnya lo lakuin, sebagai sahabat kita harus mendukung satu sama lain.” Devi mengatakan itu dengan bijak, membuat semuanya mengangguki.
“Gue juga gak kesel lo ketemu sama Rio kok, karena di sini untuk kebaikan pertemanan kita. Lo berhasil membuat suatu keputusan tepat,” ujar Alya yang menyandarkan kepalanya di pundak kananku.
Aku mendongak dan menampakkan senyuman bahagia, “Thanks semuanya, gue bersyukur bersama kalian, penguat terbaik, support terbaik, pendengar dan penasihat terbaik.” Aku mengatakan itu kepada semuanya.
Mereka pun merangkul satu sama lain, membentuk sebuah kehangatan diantara persahabatan yang sudah terjalin daripada sebuah rasa cinta yang tak lain hanyalah pemicu sebuah masalah. Kita harus berusaha menepis semua rasa yang seharusnya tidak ada dalam sebuah pertemanan diantara kita semua.
__ADS_1
Biarkanlah Tara dan Rendy saja yang menjalani hubungan asmara di dalam pertemanan, karena aku yakin, mereka tidak akan melakukan hal bodoh di dalam pertemanan hingga membuatnya sampai hancur, semoga saja begitu.
Rio? Biarkan dia beepikir sekali lagi atas tindakannya, aku tidak mau berkomentar banyak untuk Rio, hanya saja aku harap dia kembali ke dalam The Geng’s, di mana LorezQ dan CaPaMud bersatu.