
Pagi cerah menyapa, hari ini semoga aja menjadi hari bahagia. Sudah lebih dari satu Minggu pertemanan antara The Geng’s dengan Rio pun terpecah.
Kita semua sudah berencana mengatur pertemuan antara The Geng’s dengan Rio, aku sudah mengirim pesan pada Rio untuk datang ke lokasi di mana itu adalah tempat Via.
Rumah kayu, menjadi lokasi pertemuan The Geng’s dan Rio, aku menjadi jembatan penengah agar Rio mau datang. Aku dan semuanya sudah menunggu, tak lama Rio datang dengan memakai hodie berwarna hitam dan celana jins sobek miliknya.
Rio menatapku dengan tatapan kesal, karena menjebaknya ke tempat di mana terdapat semuanya. “Lo ngapain ngajak gue ke sini, kalau ada mereka.”
Aku menghentikan amarah Rio dengan mendekat perlahan, lalu berkata, “Rio, kita harus akur semuanya, jangan ada marah-marahan lagi.”
Rio menolak saat aku hendak menggenggam tangannya. “Gue gak mau, gue mau ketemu sama lu, tapi gak dengan mereka semua!” Rio menunjuk semuanya.
“Yo, kita pengen tanya kenapa lo bisa begini,” serobot Sandi yang membuat Rio semakin menampakkan wajah memerahnya, aura marah terpancar jelas di wajahnya yang tegas.
“Rio, kita cuman mau tanya, kita mau nyelesaiin apa masalah lu sama kita-kita semua,” ujarku pada Rio.
“Lu nggak akan paham, lu nggak akan peka, dan lu gak akan bisa menyelesaikannya Can!” pekik Rio, membuatku memundurkan langkah, baru kali ini Rio bisa seperti itu padaku.
Rasa sedih bercampur kebingungan karena Rio pun menjadi sangat dominan berperang di dalam batinku. “Lo sama kalian semua nggak akan paham sama gue Can, nggak akan.” Rio memelankan kata ‘nggak akan’.
“Gimana kita nggak akan paham, kalau lu aja nggak bilang sama kita Rio,” sahut Reyga yang mengatakannya dengan gemas.
“Ucapin aja Yo.” Kini Bara ikut menyeru agar Rio mau mengatakannya.
Namun, Rio diam, dia hanya diam membisu tanpa adanya kata-kata yang terucap. Aku bingung, semua pun begitu, Rio telah membuat sebuah jalur teka-tekinya terhadap kita semua.
__ADS_1
Hingga Devi pun berkata. “Kalau lu terus diam, kita tanya dan lu selalu bilang bahwa kita nggak tahu apa-apa, lantas siapa Rio yang bisa bikin kita tahu lo kenapa. Sedangkan kita aja nggak ngerti awal mula lo bisa begitu dari apa.” Devi menghela napas kasar.
“Sekarang gue dan semuanya, cuman minta lo katain apa yang sebenarnya lo mau, apa yang lo pendam, apa yang membuat lo pergi, apa kesalahan kita semua, biar jelas, nggak ada tanya lagi nantinya di dalam pikiran kita masing-masing,” jelas Devi.
“Jadi tolong katakan, jangan buat sesuatu yang memiliki tanya dibuat terus bertanya.” Devi menitikkan air mata karena mungkin ada beban di hatinya yang keluar bersamaan dengan kemarahan akibat Rio.
Rio terdiam, tidak bergeming sama sekali, dia menunduk, seolah dia mau dan tidak mau mengatakannya. “Rio, ayo jawab,” ujar Putra.
“Gue gak bisa, Put.” Rio masih di dalam pendiriannya, dia kekeuh untuk tidak mengatakan apa masalah yang membuat dia seperti itu.
“Rio, gue mohon.” Kini aku menyuarakannya, napasku saja sudah menghela napas pasrah, terserah apa yang nantinya akan diambil olehnya.
Hingga tiba-tiba Sandi berdiri di hadapan Rio. “Lo mau apa-apaan?” Sandi menarik kerah Rio.
Rio mendorong tubuh Sandi. “Lo yang apa-apaan!” pekik Rio pada Sandi.
“Lo kenapa sih lama banget cuman bilang apa alasan lo kenapa marah sama kita aja nggak bisa, Yo!” Sandi naik pitam.
“BCT! LO AKAN PAHAM SAMA APA YANG GUE ALAMIN, LO GAK AKAN!” Rio mendorong tubuh Sandi.
“GIMANA KITA MAU PAHAM ANJ, KALAU LU AJA DIAM! **** YO!” Reyga kini tersulut emosinya, aku hanya menyaksikan sesuatu yang tidak pernah diinginkan dalam hidupku.
“GUE NGGAK BUKA ALASANNYA JUGA ADA SEBAB YA ANJ, LO GAK AKAN PAHAM!” balas Rio pada Reyga.
“DAN BUAT LU SANDI, GUE KALAU BUKA DI SINI, APA LO BAKAL TERIMA NANTINYA? ENGGAK JUGA, KAN? JADI MENDING KALIAN DIEM DAN BIARIN INI JADI RAHASIA GUE SELAMANYA!” ujar Rio panjang lebar, hendak pergi tetapi dicegat Sandi.
__ADS_1
“Gue gak bisa biarin lo pergi gitu aja! Kita semua belum selesai!” Rio dan Sandi cukup lama bertatap-tatapan.
Tatapan lama itu saling bertumbuk satu sama lain, semuanya menjadi saksi antara kedua orang yang saling menampakkan aura emosinya, di mana keduanya sama-sama memiliki kesamaan dalam sifat.
“Yo, coba lo ungkapin aja, biar semuanya clear,” ujar Bara pada Rio.
Rio menatap Bara lama, “Kalau gue bilang, ada yang gak terima nantinya atau mungkin terkejut sama apa yang gue bakal bilang, Bar. Lo ngertikan maksud gue apa.”
Bara mengangguk. “Gue terserah lu aja gimana maunya, cuman gue kasih saran kalau lo mau ngomong seenggaknya lo bakal mendapatkan keringanan dari beban yang lo pikul dan kita jadi tahu gimana untuk memperbaikinya.”
Rio kembali terdiam, dia tidak bisa berkata apa-apa. Aku pun mulai mendekat ke arahnya. Memegang pundak Rio, lalu berkata, “Rio ... coba lo ngomong aja, sekali aja, abis itu lo bebas mau apa.” Aku berusaha membujuknya.
Tetapi Sandi menepis tanganku dari pundak Rio. “Can, gosah kayak gini, biarin aja dia mau ngomong atau enggak, capek gue sama dia!” ujar Sandi yang kembali menyulutkan sumbu amarah.
“ANJ LO SAN, JADI GINI LO SAMA GUE!” Rio tak terima pun sudah bersiap untuk menyerang Sandi. Namun, aku mencegatnya.
“Udah-udah, jangan ribut-ribut, nanti akhirnya panjang lagi!” Cegahanku mampu memisahkan kedua cowok itu.
Kedua cowok itu saling menghela napas kasar, meredam amarahnya masing-masing. Saat amarah itu sudah mulai stabil, barulah aku kembali mengatakannya pada Rio.
Rio masih berada dipendapatnya, aku menyerah, menarik lengan Sandi untuk mundur saja. Karena Rio juga sepertinya sudah tidak mau lagi dipancing untuk membuka apa masalahnya.
Teman-teman lainnya masih begitu. Semuanya terdiam, hening sekali, hanya ada tatapan yang mengikuti arah pergerakan setiap hendak melakukan apapun.
Rio mulai perlahan mundur, dia menjaga jarak perlahan, dia benar-benar mundur selangkah demi selangkah sambil menatap kita semua.
__ADS_1
Putra pun memekik sebagai percobaan sekali lagi, siapa tahu ada perubahan dari ucapan Rio kali ini. Namun masih saja, hingga aku bertanya dengan suara lirihku, “Rio ayok kasih tahu, biar semuanya selesai.” Rio berbalik, menatap wajahku lama.
Entah dia menatapku karena apa, mungkin iba, atau mungkin dia tidak memperdulikan itu selain keegoisannya.