The Geng'S

The Geng'S
Akar Permasalahan


__ADS_3

“Lo nggak ngerti perasaan gue, Can!” Rio mengeluarkan amarahnya, aku terdiam di tempat, Sandi memegang kedua bahuku agar kuat menghadapi itu semua.


“Kalian nggak ngerti sama apa yang gue rasain, kalian egois, memikirkan apa yang kalian rasakan aja, sedangkan gue?” Rio bertanya pada aku dan teman-teman lainnya.


“Keluarin aja Yo, jangan dipendem, biar semuanya tahu,” ujar Putra sebagai penengah kali ini.


“Gue cinta sama Cantika, tapi ternyata .... Sandi juga suka, terus gue bisa apa? Gue cuman bisa menjauh demi menjaga perasaan gue!” jelas Rio pada kita semua, dia menyukaiku.


Jikalau aku tahu dia menyukaiku, mungkin aku tidak akan mau memiliki perasaan yang sama dengan siapa pun dari anggota The Geng’s, sebab aku cuman takut pecahnya pertemanan hanya karena rasa cinta.


“Rio, please jangan kayak gitu, gue sama Sandi biasa aja, kita semua temen,” ujarku pada Rio, agar dia tidak merasa bahwa rasanya tertolak oleh hatiku.


“Can, gue tahu lo juga suka sama Sandi, gue paham betul, jadi gue bakal pergi dari The Geng’s.” Rio mengatakannya demgan tegas dan tenang, dia pun pergi menjauh dari aku dan teman-teman lainnya.


“Rio dengerin dulu,” tutur Devi yang hendak mengejar, tetapi tangannya sudah tertahan oleh Reyga.


“Gak perlu, Dev, jangan ambil resiko!” ujar Reyga yang mencegah Devi.


“Rey, dia itu temen kita, masa kita gini sih sama dia, biarin gitu aja, nggak solid itu namanya!” Devi memarahi Reyga dengan nasihatnya.


“GUE TAHU DEV, LO NGEJAR DIA, KARENA BERHARAP LO YANG BAKAL DILIRIK SAMA RIO, INGAT DEV, DIA CINTA SAMA CANTIKA, LO ENGGAK DICINTAI SAMA DIA! DAN BUKAN ELU YANG DIA HARAPKAN! SEJAUH INI NGERTI?” Reyga mengatakannya dengan nada tinggi, membuat Devi menatapnya tajam dan dalam waktu dekat suara tamparan terdengar di telinga semua anggota The Geng’s.


“Gue nggak butuh dicintai sama dia, karena hati gue tercipta buat mencintai, bukan dicintai.” Devi pun pergi dari hadapan Reyga.


Reyga, cowok yang biasanya melakukan hal gila bersama Rendy, Sandi, dan Putra, kini dia terdiam di tempat, lalu pergi berlawanan arah dari jalan di mana Devi pergi.


Rumah kayu menjadi saksi, bagaimana kita bertengkar, bagaimana semuanya pergi menjauh. Kini Rendy berdiri di tengah-tengah, “Siapa lagi yang mau pergi cuman gara-gara masalah percintaan?” Pertanyaan Rendy membuat semuanya diam, hingga Alya pun berjalan menjauh.


“Alya!” pekikku, tetapi tak di dengar olehnya.

__ADS_1


“Shit!” umpat Sandi.


“Kalian semua saling jatuh cinta satu sama lain?” Sandi bertanya pada semuanya.


Aku menggenggam tangannya dan berkata, “Saling jatuh cinta itu wajar, San, cuman gimana mereka melawan semua itu demi pertemanan kita.”


“Gue harap The Geng’s bisa sukses bareng, bersama bareng, kalau ada masalah dipecahkan bersama-sama.” Semuanya terdiam.


Bara memegang tangan Via, “Gue cinta sama Via, ada nggak yang cinta sama Via juga?” Bara bertanya pada semuanya, terutama pada rombongan cowok-cowok atau CaPaMud.


“Gue gak cinta sama Via, gue sama Cantika.” Sandi menggenggam tanganku.


“Gue sama Rendy aja deh ya,” ujar Putra yang mendapatkan jitakan dari Rendy.


“Amit-amit gue sama elu, gue udah jadian sama Tara,” elak Rendy yang spontan mengatakannya, membuatku dan lainnya langsung bersorak.


“ANJAY GAK BILANG-BILANG WEH!” Putra memekik heboh, suasana yang tadinya tegang, kini mencair seperti es yang terkena hangatnya sinar mentari.


Saat menikmati itu semua, waktu telah semakin lambat laun mulai menampakkan gelapnya. Hujan pun turun dengan deras, kita semua mau tidak mau bermalam di rumah kayu milik Via.


Dalam duduk melingkar kita pun terdiam, merasakan anggota yang hilang di sekeliling kita semua. Aku juga merasakan kehilangan semuanya.


“Gue kangen banget sama guyonannya Alya,” ucap Via tiba-tiba.


Aku mengangguk dan berkata, “Sama kok, Vi, gue juga kangen banget sama Alya, tapi dia tiba-tiba pergi gitu aja, bahkan gue aja gak tahu dia suka sama siapa.”


“Mungkin dia suka sama salah satu antara Bara, Sandi atau Rendy deh, kalau semisal dia pilih Putra, nggak mungkin dia pergi,” sahut Tara.


“Setuju sama pemikirannya.” Putra pun menyetujui ucapan Tara.

__ADS_1


“Terus kira-kira yang bermungkinan itu siapa?” tanya Sandi ke semuanya.


“Elu,” jawabku tanpa ekspresi. Mungkin saja Cantika menyukai Sandi, karena sedari awal aku bersama Sandi hanya dialah yang heboh, mungkin saja dibalik kehebohannya ada rasa yang sedang dia tutupi, ada luka yang sedang dia pulihkan, dan ada cinta yang dipendam serta dimatikan.


Namun, rasa itu tidak bisa dihilangkan, hanya bisa ditutupi dengan diamnya kini, membawa rasanya dengan kepergiannya dari kita semua.


Diamnya seorang humoris adalah sesuatu yang mematikan. Mematikan suasana, mematikan segalanya, hingga dibuat hampa tanpa kehadirannya.


“Kok elu bisa langsung nebak begitu Can?” tanya Via dengan penasaran.


“Ya elu liat aja dari gelagatnya,” sahut Tara yang memang mungkin juga melihat apa yang aku lihat.


“Tapi gue kok ragu ya.” Sandi berkata itu pada kita semua, lanjutnya, “Soalnya Alya gak pernah menunjukkan rasa sukanya sama gue, kecuali nih bocah di sebelah gue, keliatan banget sih demen guenya.” Sandi terkikik.


“Ye si oncom, adanya juga elu yang demen sama Cantika!” Rendy tak terima sampai menjitaknya.


“Anjir, lu dibelain nih sama Rendy,” ujar Sandi yang cemberut.


“Bodo.” Aku tidak peduli dan lebih baik kembali mendengarkan ucapan lainnya.


“Ish ngambek, maap, Beby.” Sandi meminta maaf padaku, hanya aku angguki saja tanpa menoleh sedikit pun.


Sandi merajuk dengan bermanja-manja, aku yang geli pun hendak memukul, tetapi menatap wajahnya saja membuatku lemah seketika, awalnya ingin memukul pun berubah jadi elusan di wajahnya.


“Kita ngontrak gais!” pekikkan Putra membuatnya memilih bergelantungan ke pundak Rendy.


“Najong Put, gue berasa ngegay asem!” omel Rendy yang melepaskan kepala Putra dari pundak Rendy, sedangkan Tata yang sudah menjadi pacar Rendy pun hanya bisa tertawa geli.


Semuans ikut tertawa, suasana di luar bersedih, sedangkan di dalam menahan rasa sedih dengan setiap tawa yang kita lepaskan. Memecahkan keheningan dan jarak yang hampir saja merenggang begitu saja.

__ADS_1


Hujan memakan malam, derasnya tak henti-hentinya berhenti, kita menginap dan tertidur di sini. Lampu dimatikan, tetapi aku tidur berdekatan dengan Sandi. Dia mengelus dahiku sampai ke hidung, lalu mengecup dahiku. “Selamat tidur, Cantikaku, semoga esok ada hari yang baik buat kita semua, i love you.”


Aku memejamkan mata, menikmati ucapan hangan Sandi. Lalu suasananya hening, tidak ada apapun lagi yang kudengar.


__ADS_2