
Saat aku masih asyik mencubit Reyga, tak lama Putra dan Alya naik ke atas, mereka bercanda tawa, hingga membuat aku dan semuanya menoleh ke arah mereka.
Kesempatan itu dipakai untuk Reyga yang kabur dari cubitanku. Aku sudah tidak memperdulikan Reyga, beralih menatap Putra dan Alya yang sepertinya sedang mengalami kasmaran, terlihat dari aura wajah mereka.
“Angzayy, keknya ada aroma-aroma pajak jadian nih,” goda Rendy pada mereka berdua.
Alya samar-samar tersenyum malu-malu, tapi mengelaknya dengan berkata, “Kagak weh, gue sama Putra abis bahas yang sama aja.”
“Halah masa.” Kini giliranku yang melakukan serangan mengejek pada mereka berdua.
“Kagak aelah, Can, kita semua ini bestie, yakan Alya?” Putra menoleh ke Alya, Alya pun mengangguki ucapan Putra.
Aku terkekeh pun berkata, tidak tega jika mereka sama-sama memiliki rasa tetapi harus terhalang dengan pemikiranku. “Al, Put, gue sama yang lain gak masalah kalau kalian mau jadian. Tuh Rendy sama Tara, mereka sampai sekarang masih pacaran, gak apa-apa, itu hanya untuk berlaku di dalam diri gue aja,” ungkapku di depan semuanya.
“Tapi gue sama Alya bener-bener gak mau jalin hubungan, kita bestie semua, gue gak mau ada perbedaan sama kayak lainnya. Kalau jodoh ya gak akan kemana, yagak Al?” Putra menaik turunkan alisnya dengan sebuah cengiran bahagia.
“Yoi Put, biar gak membedakan satu sama lainnya. Kalau Rendy sama Tara pacaran ya mungkin mereka mau jalin hubungan dengan serius, kalau kita berdua masih mau berteman, best friend, biar kita semua jadi best friend,” sahut Alya dengan panjang lebar.
Aku tersenyum ke arah mereka, mungkin itulah pilihan mereka. Mereka mengikuti jejakku, meski aku menyukai Sandi, tapi ada hal yang memang harus aku perhatikan, yaitu sebuah pertemanan, persahabatan.
Aku tidak mau egois dengan perasaan sendiri, terhanyut dalam sebuah rasa adalah sesuatu yang memang hampir dimiliki oleh semua perempuan, tapi sebagian perempuan menahan batas dalam hanyutnya perasaan.
“Kalian mau bahas pacaran terus atau bantu gue ambil bahan yang dibawa sama Mbak?” Via dengan wajah datarnya pun memberikan pilihan.
Aku meneguk saliva. “Bantu elu kok, yuk gais bantu!” seruku yang disetujui semuanya.
Aku membawa teh hangat yang memang diletakkan dalam sebuah kantung plastik, aku membawanya dengan hati-hati, takut kalau nantinya ada yang bocor.
Saat sudah hendak mencapai puncak atas tangga, aku serahkan pada Alya yang nantinya akan dioper ke teman-teman lainnya.
__ADS_1
Aku kembali turun dan mengambil bahan yang diberikan Mbak. “Ini ya, Neng Cantika.” Mbak menyerahkan sekantung plastik hitam berisi bahan-bahan, tapi saat aku memegangnya, tiba-tiba tanganku lemas.
“Eh ... hampir aja jatuh, kalau Neng Cantika gak kuat biar Mbak aja ya,” ujar Mbak yang melihatku kasihan.
“Eh jangan Mbak, biar Cantika aja, nanti Mbak keberatan loh,” cegatku pada Mbak.
“Tapi Neng Cantika juga gak kuat,” jawab Mbak padaku.
Aku pun mulai berpikir untuk memanggil salah satu dari mereka aja yang mau membantuku.
Aku menaiki tangga sampai di atas, aku hanya menunjukkan sebagian kepalaku, lalu berkata, “Weh yang cowok, sini bantu gue satu orang, berat!”
“Oke gue aja, Can,” ujar Rio yang langsung bangkit.
Aku pun hanya memberikan kode oke dan kembali turun ke bawah. Rio menyusul, dia langsung mengangkat plastik yang berat tadi.
“Ini doang, kan, Mbak?” Rio bertanya pada Mbak.
“Eh jangan-jangan, udah biar Rio aja, sini.” Rio pun mengambilnya dan memasukkan dalam satu kantong plastik, dia mulai menaiki tangga gantung dengan hati-hati.
Sesampainya di atas, dia pun berseru, “Can, cepetan naik ya!” Aku pun mengangguki ucapannya.
“Makasih ya Mbak, Cantika naik dulu,” pamitku pada Mbak, lalu mulai naik ke atas, sedangkan Mbak mungkin sudah berlalu pergi.
Sesampainya aku di rumah pohon bagian teras, hujan pun turun dengan derasnya. Alya masuk bersamaku, kita dihidangkan dengan menu yang sudah dengan cepat dimasak oleh Via, Tara dan Devi.
Sudah ada yang bagian menata tempat makan. Ada Sandi, Bara, Reyga, Rendy, dan Putra yang menghandlenya. Sedangkan minuman ada aku, Rio, dan Alya.
Aku membuka bungkusnya plastik teh hangat satu per satu dan memasukkannya ke dalam wadah minuman.
__ADS_1
“Ini makanan udah selesai semua,” ujar Devi yang meletakkan ramyeon di tengah-tengah tempat, diikuti dengan Tara yang meletakkan satu panci teobboki di tengah-tengah.
“Teobboki juga udah mateng juga,” tambah Tara pada ucapan Devi.
“Iya ini minuman juga udah disediain kok,” sahutku pada ucapan mereka.
“Tempat makan juga udah,” timpal Rendy yang memang sudah menyelesaikan penataannya bersama Sandi, Reyga, Bara, dan Putra.
Aku setelah selesai meletakkan minuman ke tempatnya pun langsung menyajikannya di tengah-tengah. “Minuman juga udah ya,” ujarku pada mereka semua.
Aku pun duduk diantara mereka, kita semua mulai memakan masakan siap saji yang dibuat oleh Via, Devi, dan Tara tadi. Melahapnya secara bersamaan.
Tak hanya itu saja, kita memakan beberapa cemilan seperti snack ringan yang biasanya kita makan bersama-sama.
Ditemani oleh minuman teh hangat. Hingga tiba-tiba Rio pun berkata, “Kalau nanti kita naik kelas, terus kelas kita beda semuanya, nanti kumpulnya di sini lagi ya seru soalnya, buat lepas kangen juga.”
Aku jadi berpikir, jika nanti LorezQ berpencar, CaPaMud juga berpencar, apakah kita bisa mengulang momen-momen keseruan bersama-sama lagi nantinya.
“Iya nih bentar lagi kita bakal naik kelas, kalau kelas yang sekarang masih bisa kita bareng-bareng, kayak ya okelah CaPaMud beda jurusan sama kita, tapi kalau nanti CaPaMud mencar bakal sulit ketemu dan ditambah kalau LorezQ juga mencar bakal susah,” ungkapku pada mereka semua.
“Jangan dipikirin sekarang, berat, otak kita mana mampu,” ujar Putra yang menatap aku dan Rio.
“Kampret, tapi lo mikir gitu juga, kan?” Aku menatap Putra lekat-lekat.
“Gue rada berpikir, tapi gak dipikirin, karena otak gue gak bisa mikir, sekian terima Asad jadi saudara ipar gue,” jawab Putra yang membuatku eneg setengah mati.
“Sialan lu Put!” pekikku yang jengkel karena Putra.
“Hahaha, udah weh capek gue hari ini liat kelakuan edan kalian,” ujar Sandi yang akhirnya kembali bersuara.
__ADS_1
“Lu juga ngapa dah Can, udah jangan dibawa jengkel omongan kosongnya Putra, gue tahu lo pasti ovt mikirin kita-kita, tapi nanti kita juga bakal sering-sering ngumpul di sini, diusahakan,” lanjut Sandi sebagai penengah diantara kericuhan antara aku dan Putra.
Setelah itu tidak ada pembahasan lain selain keseruan sambil menyantap makanan yang kita makan.