
Di kantin sekolah aku dan teman-teman The Geng’s berkumpul, meskipun beberapa dari anggota The Geng’s tidak hadir bersama-sama. Mereka semua memisah, karena ada trouble yang disebabkan saling menyukai satu sama lainnya.
Semua mendadak berubah, biasanya aku dan teman-teman lainnya berkumpul semua, kini hanya ada beberapa saja.
“Sepi ya, nggak ada Rio, Alya, Devi, Reyga,” ujar Putra yang meratapi kesepian di geng kita semua.
Aku merasakan hal yang sama dengan Putra, seperti ada yang kurang dari dalam diri kita semua. Tapi aku pendam dalam diam, pilihan mereka membuat diriku terdiam tak berkutik secuil pun.
“Iya sepi banget, Put, lo jangan pergi ya,” tutur Rendy yang meminta Putra tetap stay di dalam geng kita semua.
“Ogah, kalau gue mules yakali kagak ke wc terus kudu di sini mulu, lu ngadi-ngadi Ren!” jawab Putra yang membuat Rendy gemas dan langsung menjitak kepala Putra.
“Maksud gue stay di geng anjir, bukan stay di sini, Putra-Putra, kau ini punya otak tidak?” Ucapan Rendy mampu membius dan kita pun semuanya tertawa.
“Lu copas lawakan Koh Ali ya,” tuduhan Sandi yang malah membuat suasana semakin dihiasi oleh tawa yang menggelegar.
“Kok kamu tahu sih!” sahut Rendy yang sudah terkena virus dubi-dubi.
“Tahu dong, karena gak tempe jadinya aku tahu,” balas Sandi yang sama gilanya.
Suasana mencair, Tara tertawa dibuat oleh lawakan kedua manusia ini, bahkan biasanya Putra yang hobi melawak pun jadi ikutan tertawa karena lelucon dari kedua makhluk Atlantis ini.
Via dan Bara hanya menampilkan cengiran, dua orang ini sungguh mirip sekali, bagai pinang dibelah dua. Di suasana sedang seperti ini, tiba-tiba Alya lewat dengan tatapan sinis.
Aku menangkap tatapan Alya itu pun langsung terdiam, sedangkan lainnya masih tertawa, tak menyadari kehadiran Alya yang lewat tadi.
Saat Alya sudah berlalu. Sandi menoel tanganku membuat diriku menoleh ke arah Sandi. Sandi bertanya, “Lo kenapa, Can?” Sandi menatapku dengan kebingungan.
“Gak apa-apa, emangnya gue kenapa?” Aku balik bertanya pada Sandi, menutup apa yang tadi kulihat jauh lebih baik daripada menyulutkan sebuah api pertikaian.
“Lah kok nanya saiya? Saiya nanya loh,” ujar Sandi yang membuatku gemas untuk tidak mencubit tangannya.
__ADS_1
“ISTIGHFAR LO!” Aku memekiknya saat berada dekat di depan Sandi, membuat cowok itu menutup matanya dengan menahan telinganya yang sakit mendengar suaraku.
“Can suara lo macam toa nyaho teu?” tanya Tara yang kesal karena pekikanku mampu membuat Tara sakit telinga juga sepertinya.
“Mana ada suara gue kek toa ya, suara gue ini macam ....” Aku menjedanya cukup lama, karena memikirkan suaraku seperti apa.
Hingga Putra pun menyeletuk, “Kaya keledai mau beranak tuh suara Cantika.” Aku yang dikatai mirip suaranya dengan keledai yang mau beranak pun melotot menatap Putra dengan tatapan berperang.
Aku mengambil botol kosong dan langsung melemparkannya, tetapi yang terkena bukan Putra melainkan Rio yang tak sengaja lewat.
Aku melihat Rio yang langsung menoleh ke arah aku dan teman-teman pun menutup wajah dengan kedua tangan. “Ini ulah siapa?” tanya Rio ke arah aku dan teman-teman.
Aku menunjukkan telapak tangan ke atas, tetapi tanpa melihat ke arah Rio, takutnya akan memicu pertikaian lagi.
“Sorry Rio, gue gak sengaja.” Aku pun menurunkan tangan, menarik tanganku untuk menutup wajah kembali. Aku tak berani menatap wajah Rio, karena aku telah membuat kesalahan yang mengakibatkan botolnya mengenai dia.
“Iya.” Suara respon dari Rio hanya itu, hingga Via mengelus pundakku.
“Rio udah pergi, udah jangan takut, dia juga udah maafin kok,” ujar Via dengan lemah lembutnya.
“Thanks ya Vi.” Senyuman dari bibirku pun merekah, sedikit melega apa yang telah terlalui begitu tegang.
Aku menunjuk Putra. “Awas ya lu, Put, coba aja lu kagak ngehindar botol tadi dah kena elu!” ancamku pada Putra, membuat cowok itu meremehkannya dengan bibir dimajukan, mata yang disipitkan dan gaya tubuh yang seolah menantang.
“Lu nya aja yang lemparannya salah, kok jadi gue yang kena sih,” elak Putra yang tak terima.
“Pokoknya di mana-mana cowok bakal selalu salah,” ujarku yang mendapatkan jitakan dari Bara.
“Nggak semua cowok selalu salah! Teori jadul lu dari mana sih?” Bara mengomeliku dan memberikan sebuah tanya pada pertanyaanku.
“Suka-suka gue dong, lagian emang salah, nih buktinya gue di aniaya sama elu ye, Bar!” celotehku membuat semua atensi manusia menatap ke arahku.
__ADS_1
Aku melihat ke sekitar dengan canggung, lalu berdesis, “Ngapain pada ngeliatin coba ish, gue salah apa dah.” Suara desisanku yang didengar oleh Putra pun dibalas olehnya.
“Ya elu pake teriak segala,” ujar Putra.
“Ya tapi gak usah sampe segitunya juga kali, gue mendadak berasa jadi cewek famous nih.” Aku dengan pedenya pun berkata demikian.
“Gila, minta dinikahin sama dubi-dubi nih elu Can, masih aja pedenya ketinggian, sadar Can, kalau umur itu nggak liat dari pede loh.” Putra bak seolah seseorang waras yang menasehatiku.
Aku meraup wajah Putra, lalu membalas perkataan Putra, “Mana ada gue mau dinikahin sama dubi-dubi, adanya juga elu ya woi! Btw umur diliat kok dari tingkat kepedean, semakin pede seseorang maka ... maka semakin edan teman-temannya.” Aku sengaja menjeda ucapan agar membuat sebuah penasaran di dalam jiwa makhluk semacam Putra.
“Lah kita-kita ke bawa dong,” timpal Rendy.
“Lu ngerasa?” tanya Sandi pada Rendy.
Rendy menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Nggak lah, gila aja,” jawab Rendy pada Sandi.
“Ya udah nggak usah rempong, biarin aja itu Putra ngelawan calon masdep gue.” Nasihat dari Sandi pun diterima oleh Rendy, membuat suasana jadi tertuju padaku dan Putra lagi.
“Udah napa jangan begini, aelah kembali normal!” pekikku yang sudah bosan dengan suasana aneh, tidak bisa dijabarkan bagaimana rasanya, bagaimana suasananya.
Hening, lalu kita kembali membahas masalah pengakuran antara The Geng’s dan beberapa anggota yang memisahkan diri mereka masing-masing.
“Gue ada ide gais, gimana kalau semisal nanti pengakurannya lewat sesuatu, lewat dari pesawat kertas atau apa gitu sebagai komunikasi kita ke mereka, gimana?” tanyaku pada mereka semua, aku memberikan sebuah solusi yang sekiranya gampang dan bisa menjadi jembatan komunikasi antara kita dan mereka yang memisahkan diri.
“Gue sih setuju aja ya,” ujar Sandi yang dibarengi anggukan.
“Sama gue juga.” Bara dan Rendy pun ikut menyetujui
“Gue juga,” ujar Putra yang diangguki Via serta Tara.
“Jadi ini kapan mulainya?” tanya Putra dengan bersemangat.
__ADS_1
“Besok aja.” Ucapan Sandi pun kita setujui semuanya. Besok akan ada adegan pengakuran diantara satu sama lainnya.
Aku berharap pengakuran ini bisa mengubah semua kondisi kerenggangan diantara The Geng’s dan beberapa anggota yang memisahkan diri itu.