The Geng'S

The Geng'S
Best Friend (Part 1)


__ADS_3

Di bawah guyuran hujan, aku bersama The Geng’s berjalan kaki menuju belakang rumah Via yang terdapat rumah pohon.


Aku berlarian bersama mereka, mengelilingi rumah pohon yang lahannya luas sekali. Aku dan mereka tertawa di bawah guyuran hujan.


“Hujannya deras banget!” teriakku pada mereka.


Tetapi, mereka tidak mendengarnya. Hanya Sandi yang berada tidak jauh di dekatku pun membalas ucapanku, “Iya nih deras, nanti abis ini neduh dulu biar gak sakit!” Sandi berteriak ke arahku.


Aku mengangguki ucapan Sandi, lalu membalas kembali ucapannya, “Kasih tahu yang lainnya juga.” Sandi mengangguk dan memberitahu Putra dan seterusnya.


Guyuran hujan ini membuat mataku perih sekali, aku berlari ke tempat rumah pohon, menaiki tangga yang menggelantung itu satu per satu, saat sudah di atas aku memeluk tubuh.


Ide konyol dari Alya yang ingin bermain hujan itu sebenarnya menyenangkan, tapi besok masih ada ujian akhir sekolah. Di mana akan menjadi penentu apakah kita akan naik kelas atau tidaknya.


Hari ini sepulang sekolah, aku dan mereka niatnya hanya akan duduk-duduk di sini sambil bercerita hal-hal menyenangkan. Tetapi, rasanya hal itu tidak dilakukan oleh aku dan mereka. Aku dan mereka malah asyik bermain tanpa henti.


Aku yang kini memeluk diri pun, sesekali membuat tangan hangat dengan menggosokkan tangan atau ditiup.


Aku menatap dari atas teman-temanku yang masih asyik bermain, mereka semua layaknya anak kecil yang diberi sebuah wahana air, tidak mau berhenti, dan malah asyik di dunianya masing-masing.


Hingga saat aku sedang menatap dari atas. Wajah Devi muncul, dia pun naik, dan mulai duduk di sebelahku.


“Gila itu si Reyga masih aja main hujan, dah gue bilang udah nanti pas ngaso juga bakal kedinginan, tapi gak mau,” oceh Devi yang didengar olehku.


“Ya mungkin, mereka lagi rindu gitu sama momen kayak gini Dev,” sahutku yang menoleh ke sebelah kananku, di mana Devi duduk.


Devi menoleh dan menjawab, “Ya tapi, Can. Kalau sakit nanti pada gak bisa ujian akhir dong, kalau nggak naik gimana?”


Pemikiran Devi terlalu dewasa dibandingkan aku bahkan teman-teman lainnya, mungkin hanya Via dan Bara yang memiliki satu frekuensi dengan Devi, sepertinya.


“Udah-udah lo kejauhan mikirnya, bentar lagi juga pada ngaso, kita masuk duluan yuk!” ajakku pada Devi agar masuk ke dalam dan tidak duduk diteras rumah pohon.


“Ayok,” balas ajakanku.

__ADS_1


Aku bangkit dari duduk, berjalan masuk yang diikuti oleh Devi. Sebenarnya aku juga sedikit khawatir dengan yang lainnya, sebab mereka bermain hujan terlalu lama.


Hingga saat aku dan Devi tepat baru saja duduk, Bara dan Via naik ke atas, mereka berdua duduk di teras sebentar, lalu masuk ke dalam dan duduk bersama Devi dan aku.


“Kalian nanti mau makan apa?” tanya Via pada aku, Devi, dan Bara tentunya.


“Teobokki aja gimana?” Aku memberikan sebuah ide untuk memakan makanan ala korea yang sedang hits dikalangannya semenjak semua lagu k-pop dan k-drama booming diberbagai negara, termasuk negara Indonesia.


“Ide bagus, sama ramyeon juga gimana?” tambah Devi yang memberikan request tambahan.


“Boleh-boleh,” jawabku yang antusias.


“Oke deh kalau gitu, gue pesenin, minumnya no debat, harus teh anget!” ancam Via pada aku, Devi, dan Bara.


“Gue ngikut aja,” ujar singkat Bara.


“Iya,” tanggapan singkat Via pada Bara.


Lalu Via mulai mengambil ponselnya yang memang semua barang-barang kita di simpan di sini sebelum bermain hujan.


“Udah ya Mba, cuman itu aja, nanti dibawa ke sininya pas ujannya udah reda, makasih.” Via mengakhiri teleponnya.


Lalu Via bangkit, membuka sebuah kain merah yang menutupi sesuatu di ujung ruangan rumah pohon ini. Saat Via sudah membukanya, aku dapat melihat sebuah kompor beserta gas, ditambah beberapa alat memasak dan alat makan pun ada.


“Lo nyimpen di sini?” tanya Devi yang mungkin juga sama terkejutnya dengan aku.


“Iya, buat jaga-jaga.” Via dengan santainya pun mengambil air dari galon, lalu dimasukkan ke dalam sebuah panci.


Bertepatan dengan itu. Rio, Rendy, Tara, dan Sandi pun menaiki rumah pohon. Mereka duduk di sisi ruangan rumah pohon yang masih kosong.


“Mau buat apaan Via?” tanya Rendy pada Via.


Via menoleh. “Mau nyiapin buat masak,” jawab singkat Via yang membuat Rendy terdiam.

__ADS_1


“Via, gue sama Devi mau buat ramyeon sama teobokki, kalian doyan, kan?” Aku bertanya pada semuanya.


“Gue sih apa aja yang penting gratis,” ujar Rendy dengan menampilkan sebuah cengiran tak berdosa.


“Lu mah mentinginnya gratisan mulu,” desis Tara kepada Rendy.


Rendy menanggapinya dengan sebuah cengiran yang ditambahi tangan membentuk V. Sedangkan Tara hanya mencebikkan bibirnya.


Hujan tak lama berhenti. Hingga tiba-tiba Reyga pun mulai mengoceh, “Itu mereka berdua ngapa kagak ngaso-ngaso sih! Ujannya dah berhenti juga.”


“Lagi prikitiw kali,” jawab Sandi dengan asal yang diakhiri dengan tawa nakal.


“ASTAGHFIRULLAH SANDI, OTAK KAU! ASTAGHFIRULLAH, ASTAGHFIRULLAH, BISA-BISANYA GUE PUNYA TEMEN MACAM BEGINI, ASTAGHFIRULLAH!” pekikku yang membuat Sandi melempar serpihan ke arahku.


“Udah diem ege, maksud gue ya siapa tahu mereka mau pacaran gitu. Otak lu ngadi-ngadi Can, gue tahu nih, lo pasti mikirnya adegan 1821, ngaku lu!” Sandi menuduhku.


“Idih mana ada ya, otak gue pikirannya Alhamdulillah waras. Apa itu 1821? Orang ini udah tahun 2022,” jawabku pada tuduhan Sandi.


“Halah pura-pura gak tahu, nih ya San, gue kasih tahu, di apk wp Cantika banyak bacaan 1821nya!” sahut Tara yang mengatakan itu pada Sandi, membuat aku geram saja.


“Mana ada ya, Tar, gue gak baca aneh-aneh!” Aku terus mengelak ucapan dari Tara dan Sandi.


“Kok tahu kalau aneh-aneh, katanya nggak tahu 1821,” ujar Sandi dengan senyuman liciknya itu.


Sial, dia menjebakku. Ditambah Tara dan teman-teman lainnya tertawa melihat ekspresi kalahku.


“Udahlah Can, ngaku aja, lagian sama kita-kita doang kok,” goda Reyga yang menoel tanganku.


Aku menepis toelan dari Reyga. “Gosah noel-noel, gue gak suka ditoel sama elu!” amukku pada Reyga yang membuat bocah itu tertawa nyaring.


“San, nih lu yang noel, katanya gak mau ditoel sama gue, berarti sama elu mau.” Reyga membuatku geram dan tak tahan untuk tidak mencubitnya.


Aku mencubit pinggang Reyga sampai dia menjerit kesakitan, bahkan memohon ampun, tapi aku tidak melepaskannya. Biar dia merasakan sakit.

__ADS_1


“Rasain!” Aku menatap Reyga puas karena mendapatkan cubitan maut dariku.


__ADS_2