The Geng'S

The Geng'S
Search Part 2


__ADS_3

“Tara mulu di otak lu ye,” ejekku yang membuat Doni tersipu malu, wajahnya mulai memerah.


“E-enggak,” elak Doni.


“Alesan bae lu, Don.” Alya menepuk bahu gempal Doni.


“Udah-udah elah kenapa jadi berantem!” leraiku pada perdebatan mereka berdua ini.


Perdebatan di antara mereka berdua pun berhenti. Aku pun kembali memulai percakapan, “Eh gue mau nanya nih.”


“Tanya naon?” tanya Doni yang menatapku.


“Jadi gue tuh pengen nanya, itu yang rombongan cowok pas lo chattingan sama Tara yang mana?” tanyaku pada Doni.


“Oh! Yang lo maksud mungkin geng CaPaMud kali,” tutur Doni


“Ya pokoknya itu, Don,” sahut Alya dengan menatap wajah Doni yang memiliki pipi chubby.


“Oh ....” Doni berdiam sebentar, lalu dia kembali melanjutkan kata-katanya, “Kalian liat di pojok kelas, di situ ada enam cowok yang gerombol, nah itu geng CaPaMud.”


“ANJIR!” Alya tiba-tiba memekik, membuat semua orang menatp ke arah kita bertiga, aku hanya bisa nyengir menahan malu. Sedngkan si empunya alias Alya hanya bisa tertunduk malu.


Hingga tiba-tiba rombongan enam cowok yang dimaksud Doni tadi menghampiri ke arah kita bertiga. Salah satu dari mereka membuka pembicaraan, “Lu berdua anak mana? IPS?” Aku dan Alya seraya menggeleng bersamaan, menatap wajah mereka satu per satu.


“Lah terus?” Cowok itu menatap kita bingung.


“Lu ....” Cowok itu hendak berbicara kembali, dia menunjuk diriku. Untung saja dia kembali terdiam dan berpikir sejenak.


Aku pun tersadar akan sesuatu dan segera menarik tangan Alya untuk pergi. Sebelum itu aku menoleh ke belakang dan berteriak, “Don, nanti kita bicara lagi! Awas lu macem-macem!” Lalu aku setengah berlari bersama Alya menuju kelas.


Sesampainya di kelas, tak lama bel berbunyi sangat nyaring. Aku berlari karena cowok tadi itu adalah cowok yang pernah memergokiku saat mengintipi mereka waktu latihan dance.


“Sial! Kenapa mereka deketin ke arah kita bertiga sih, ARGHHH!” Aku mengacak-acak rambutku karena kesal.

__ADS_1


Alya mendekati mejaku dan berkata, “Udahlah Can, jangan dipikirin.” Aku menatap Alya dengan tatapan bingung.


“Tapi Al,” ucapanku terpotong karena guru memasuki kelas. Sebelum Alya kembali ke mejanya, dia berbisik kepadaku, “Udah jangan dipikirin, kalem aja.”


“Alya duduk!” perintah Bu Tuti pada Alya, membuat gadis itu segera menuruti perintahnya itu.


Bel istirahat berbunyi, geng LorezQ berkumpul di kantin, tepatnya di meja panjang. Menunggu bakso kami datang.


Devi memulai percakapan, “Lo tadi kemana aja sama Alya, Can?” Devi bertanya membuat diriku menatapnya.


“Abis dari kelas IPS,” jawabku dengan malas.


Aku masih sedikit takut, jikalau nantinya bertemu cowok itu lagi. Tapi, aku harus bertemu dengannya juga untuk memberikan penawaran.


Aku memegang kepala yang sedikit berkedut. Kini giliran Tara bertanya, “Lo kenapa Can? Ada masalah? Sakit?” Aku menggelengkan kepala.


“Enggak, Cantika tuh cuman lagi mikirin cowok yang waktu itu pernah mergokin dia ngintip latihan dance, nah tadi kebetulan banget dia nyamperin kita dong, mungkin Cantika demen atau dia takut kalau tuh cowok nyadar ni temen kita kang ngintip,” jelas Alya yang super duper lemes membeberkan pada geng LorezQ.


Aku menghela napas pasrah sambil mengurut kepala yang semakin pening, “Kagak suka juga kali Al, lo berlebih-lebihan banget dah.”


“Udah-udah elah malah debat kusir, daripada kalian debat, mending kita pikirin buat ke depannya. Rencana kita kasih penawaran ke mereka aja gimana?” tanya Devi pada kita semua.


Aku mengangguk, “Urus aja deh Dev, gue pusing.” Aku merasakan kepala yang masih terasa sakit dan berkedut tanpa berhenti sejenak.


Bakso pun tak lama datang bersamaan dengan minuman yang kita pesan masing-masing. Aku mengambil bakso dan minuman es jeruk yang tadi dipesan, lalu menyantapnya dengan hikmat.


Sedangkan yang lain masih berdiskusi masalah pertanyaan Devi, saran darinya bagus. Tapi untuk saat ini aku tidak bisa ikut membahas, karena kepalaku rasanya pusing berdenyut, mungkin migrain biasa.


Selesai memghabiskan makanan, aku mendengarkan perdebatan mereka berempat. Devi yang masih kekeuh dengan sarannya pun tetap bersikeras untuk memikirkan itu, sedangkan Via dia mau to the point tanpa adanya harus melalui step-step buatan Devi sendiri.


“Vi keuntungan kita kalau pakai step nggak akan ketahuan langsung maksud dan tujuan kita,” ujar Devi.


“Dev, percuma pakai step, nanti mereka bakal salah paham lebih lama. Mending to the point aja,” sanggah Via.

__ADS_1


“Gak bisa Vi, nanti susah di kitanya, astaga.” Devi mulai geram dengan pemikiran Via dan begitu pun sebaliknya.


Aku sepertinya harus buka mulut dan berpendapat, “Udah gak usah debat, ini nanti gue bakal ikutin saran Devi sama Via. Jadi tetep pakai step tapi to the point bilang ke mereka tujuannya apa, udah ye.” Aku melerai mereka berdua.


Ucapanku membuat Devi dan Via sedikit tenang, mereka mengangguki jawaban penengahku.


“Udah aelah, ngapain ngangguk-ngangguk kek boneka dasbor aja,” ucapanku membuat Alya menyemburkan bakso bulat dari mulutnya.


Lalu Alya terbatuk-batuk, dibantu oleh kita yang memberikan air mineral kepadanya. Alya meminumnya sampai habis, hingga dia mulai tenang.


“Anjir lo Al, dikit lagi aja itu bakso kena muka gue,” umpat Tara yang mengelap meja yang terkena semburan Alya.


Alya mengelap bibirnya dan mulai menjawab umpatan Tara, “Ya jangan salahin gue dong, salahin noh si Cantika. Lagian ada-ada aja kalau ngomong suka bikin gue nggak tahan pengen ketawa.”


“Lo kira gue pelawak?” Aku menatap Alya garang.


“Ya sebelas dua belas sama Petrik,” tutur Alya yang malah menjawab pertanyaanku itu.


“KAMPRET!” umpatku.


“Kampret itu kalau kentut bunyinya kampret ya?” tanya Tara.


“Mana ada bunyinya kampret, adanya juga bunyinya dut dut dutttttttttttttt, pret, dut, pesssss, gitu Tar,” sahut Alya yang menjelaskannya pada Tara.


“ALYA HATAM BANGET ANJIR!” Devi tertawa terbahak-bahak, disusul dengan gelak tawa daru aku dan kedua temanku lainnya.


Si korban atau Alya yang menjadi bahan tawa juga malah ikutan. Sialnya aku memiliki teman segila seperti mereka. Rasa sakit di kepalaku seakan terhempas jika sudah melakukan ke gilaan bersama dengan mereka semua.


“Ya gue sebagai manusia dari planet bumi ini ya hatam dong, orang gue begitu, kan, kalian semua jadi korbannya juga,” ujar Alya.


“Korban naon?” tanyaku pada Alya.


“KORBAN TUDUHAN!” Kini Alya tertawa terbahak-bahak, bercandanya dia sendiri membuat kita berempat tertawa renyah.

__ADS_1


Semua makanan di meja sudah habis, tak terasa waktu begitu cepat. Bel masuk berbunyi, pelajaran berikutnya akan di mulai, aku dan keempat geng LorezQ memasuki kelas kembali untuk memulai mengikuti mata pelajaran.


__ADS_2